Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Bon appétit, Camaro


__ADS_3

"Aku menikahi Mia karena memang mencintainya!" sentak Adriano. Dia merasa tersinggung atas ucapan Sergei yang kini kembali tertawa puas.


"Bukankah pada awalnya kau yang memintaku untuk melakukan itu? Kau ingin menghancurkan Matteo de Luca hingga benar-benar remuk sebelum menghabisinya. Aku heran padamu. Seharusnya kau berterima kasih pada mereka yang telah mempermudah pekerjaanmu," ujar pria asal Rusia itu lagi.


"Kau tahu jika aku sudah mengurungkan niat untuk membalas dendam kepada Matteo de Luca!" nada bicara Adriano kian meninggi.


"Ya! Aku tahu itu!" Sergei membalasnya dengan tak kalah tinggi. "Kau memutuskan hal tersebut setelah aku menjual senjata-senjata hasil rakitan Matteo kepada Nenad. Aku rasa kau juga pasti sudah mengetahui aturan mainnya. Semua barang yang telah masuk ke bandar, tak bisa ditarik lagi," jelasnya.


"Lalu kenapa mereka menjualnya dengan harga yang jauh lebih murah?"


"Aku tidak peduli dengan hal itu. Namun, belakangan kudengar jika Nenad membuat tiruannya. Dia menjual senjata yang asli pada orang-orang tertentu saja dengan harga yang berbeda. Sementara yang beredar luas di situs gelapnya adalah senjata tiruan. Namun, ternyata di luar dugaan. Nenad berhasil meraup keuntungan yang sangat tinggi dari menjual senjata palsu tersebut. Akan tetapi, hal itu ternyata memancing kemarahan seorang penyuplai senjata yang menguasai perdagangan Amerika dan sekitarnya. Mereka tidak ingin ada saingan," terang Sergei lagi.


"Lalu kenapa justru Matteo de Luca yang menjadi sasaran?" desak Adriano.


"Alasannya karena memang aku yang meminta Nenad agar dia menjual senjata-senjata itu atas nama Matteo. Aku tidak tahu, jika hal itu akan menuntun mereka yang merasa tersaingi, pada kematian tragis mantan ketua Klan de Luca tersebut," Sergei kembali menyeringai, kemudian tertawa.


"Bukankah itu yang kau inginkan, Adriano? Kematian tragis dan menyakitkan untuk Matteo de Luca. Pikirkanlah baik-baik. Kau melakukan semua ini, menghabisi satu per satu yang merupakan eksekutor Matteo demi mengungkap kasus kematiannya. Padahal, secara tidak langsung kaulah awal mula dari tragedi berdarah itu," dengan perasaan yang sangat puas, Sergei seketika membuat perasaan Adriano menjadi tak menentu.


"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk berbisnis dengan bandar di situs gelap!" bantah Adriano tegas. Dia mengesampingkan perasaan yang mulai berkecamuk dalam hatinya.


"Lalu, ke mana aku harus menjual sisa senjata dalam jumlah sebanyak itu? Apalagi ternyata Nenad menawarkan harga yang jauh lebih tinggi dari pelangganku yang lain. Dia tahu kualitas dari senjata rakitan Matteo de Luca," jelas Sergei.


"Apa itu artinya kau juga mengetahui tentang kelompok Tangan Setan?" selidik Adriano lagi.


"Tidak!" bantah pria berambut pirang itu dengan segera.


"Jangan berbohong padaku!" bentak Adriano kembali mendekatkan wajah Sergei pada kerangkeng.


"Aku memang tidak mengetahuinya!" Sergei tetap membantah, bahkan kali ini dengan suaranya yang terdengar lantang.


"Lalu kenapa tim penyidik kepolisian Inggris bisa menemukan bukti percakapanmu dengan Marcus Bolt. Mereka mengatakan bahwa kalian membahas tentang Tangan Setan," Adriano tak henti-hentinya mengorek informasi dari pria asal Rusia itu.

__ADS_1


"Itu hanya obrolan biasa. Tangan Setan adalah kelompok radikal yang sering menebar teror. Semuanya sudah mengetahui hal tersebut, meskipun tak banyak yang tahu siapa sebenarnya Tangan Setan yang asli."


"Jangan bermain kucing-kucingan denganku!" sergah Adriano. Dia kembali meraih tombol yang menempel pada dinding, lalu menekannya. Jeruji besi yang mengurung Camaro kembali terangkat lebih tinggi dari sebelumnya. Hewan buas yang berada di dalam, terdengar menggeram lagi kepada mereka.


Sergei paham dengan gertakan itu. Dia pun kembali bicara. "Ada yang mengatakan padaku bahwa Tangan Setan bertopeng yang selama ini selalu menebar teror, hanyalah sebuah kelompok berandalan kampung yang sengaja direkrut untuk membuat keonaran," terangnya.


"Apa tujuannya?"


"Tujuannya untuk pengalihan isu," jelas Sergei lagi.


"Maksudmu," tanya Adriano tak mengerti.


"Ada beberapa yang meyakini bahwa Tangan Setan sebenarnya bukan hanya sekelompok pecundang yang hanya bisa mengacungkan senjata untuk menakut-nakuti semua orang. Tangan Setan yang asli jauh lebih dari itu. Namun, hingga kini tak ada yang bisa membuktikannya. Begitu juga dengan Marcus Bolt yang merasa penasaran," tutur Sergei sambil terus berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman Adriano.


"Marcus Bolt sudah mati," ucap Adriano tepat di dekat telinga Sergei, membuat pria itu terdiam sejenak.


"Apa kau juga menghabisinya?" tuding pria bermata hijau itu dengan ketus.


Sergei kembali terdiam saat mendengarnya. Sesaat kemudian, saudara tiri dari Alex tersebut kembali bersuara. "Kau benar-benar gila, Adriano! Kau bertindak dengan membabi buta tanpa tahu siapa yang seharusnya kau habisi!"


"Aku hanya mengikuti petunjuk. Sama sepert saat ini ketika aku mendapatkan namamu dalam deretan yang ternyata ada kaitannya dengan kematian Matteo de Luca!"


"Kau adalah orang pertama yang seharusnya disalahkan dalam kasus ini, Adriano!" sentak Sergei. "Kau yang mengawali dan memberikan jalan pada para pembunuh itu. Andai aku tidak mengikuti perintahmu untuk membuat siasat licik terhadap Matteo, maka hal seperti ini pasti tidak akan terjadi! Kaulah yang seharusnya bertanggung jawab, bukan Thomas ataupun yang lainnya!" cerca Sergei tanpa henti.


Adriano yang merasa tidak tahan dengan ucapan pria itu, kembali menekan tombol sehingga jeruji besi tadi kian terangkat. Dia lalu mendorong tubuh pria asal Rusia tersebut semakin maju, sehingga masuk ke dalam kerangkeng.


"Adriano kau lebih biadab dari para pembunuh Matteo!" Sergei yang sudah berada di dalam kerangkeng mencoba untuk meraih tombol agar jeruji besi yang menutupinya kembali terbuka. Namun, sayangnya dia tak dapat meraih tombol tersebut. Terlebih karena Adriano mulai menekan tombol lain yang berfungsi untuk menutup kembali pintu besi pelapis luar.


Perlahan pintu besi itu tertutup, diiringi seringai jahat Adriano. "Bon appétit, Camaro," ucapnya bersamaan dengan Camaro yang mendekat kepada Sergei. Dia segera menghindari hewan buas tersebut. Namun, Camaro sudah sangat kelaparan saat itu. Dia terus mengincar seonggok daging segar untuk makan malamnya.


Adriano hanya terdiam mengawasi ketika Sergei berteriak ketakutan, saat hewan itu mendekat. Tak dihiraukannya pria Rusia yang kini tengah memohon-mohon pada dirinya agar segera mengeluarkan dia dari sana. “Seharusnya kau tidak panik,” seringainya, “kucing besar sangat pandai mencium aroma ketakutan,” ucap Adriano dengan nada datar dan dingin.

__ADS_1


“Kau tidak bisa melakukan ini padaku! Kaulah yang bersalah! Kau yang pertama kali memiliki niat untuk membalas dendam!” kalimat Sergei terhenti ketika macan hitam peliharaan Adriano melompat dan menerkam lehernya. Darah segar menciprati jeruji besi dua lapis itu, bahkan hingga mengenai dada bidang Adriano. Pria itu hanya tersenyum getir sambil mengusap noda darah dari tubuhnya. Dia lalu berbalik meninggalkan Sergei yang sudah tak terdengar lagi suaranya.


Setelah itu, Adriano berjalan ke bagian lain ruangan dan meraih kaos hitamnya. Dia lalu keluar dari bunker bawah tanah. "Suruh Thiery untuk membersihkan kerangkeng," titah pria itu dengan dingin kepada Pierre yang sejak tadi berdiri di depan pintu. Bagi sang ajudan, hal seperti yang terjadi di dalam tadi bukanlah sesuatu yang aneh. Ketika Adriano menyuruh untuk membawa seseorang ke ruangan bawah tanah, maka itu berarti dia akan memberi makan Camaro, peliharaan kesayangannya. Walaupun hukuman mengerikan tersebut kerap digunakan, tapi Adriano tak selalu melakukannya kepada setiap pembuat kesalahan.


Selesai berkata demikian kepada Pierre, Adriano melanjutkan langkah untuk menuju lantai ruang kerja. Angannya yang ingin segera kembali ke sisi Mia, segera dia urungkan setelah Sergei menamparnya dengan sebuah pernyataan yang memang sebuah kebenaran. Tanpa suara, Adriano membuka kunci otomatis di ruang kerja dengan menggunakan sidik jari, lalu masuk ke sana. Dia berjalan lurus ke galeri lukisan dan duduk bersimpuh tepat di depan lukisan Mia.


Adriano lagi-lagi tersenyum samar sembari mengusap gambar wajah Mia yang berseragam sekolah. “Kau penyelamatku, Sayang,” gumamnya. “Kulakukan segala cara untuk membuatmu bahagia, tapi ternyata akulah penyebab kesedihanmu. Aku yang merenggut Matteo darimu. Jika saja saat itu aku tidak berniat membalas dendam padanya, mungkin saat ini dia masih hidup dan bercengkerama dengan Miabella,” Adriano meracau, lalu tertawa sendiri.


Pria bermata biru itu lalu terdiam, ketika teringat pada saat di mana dirinya bertemu dengan Mia untuk pertama kali. Tak terbayang betapa besar rasa bersalah yang dia rasakan untuk sang istri. “Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Mungkin aku tidak layak bersanding denganmu. Aku tidak pantas untukmu, Mia,” Adriano menunduk dalam-dalam. Napasnya memburu dengan tangan terkepal. Ditatapnya noda darah yang mengotori sebagian perban di tubuhnya.


Semua penyesalan itu berakhir ketika Adriano meneteskan air mata. Dia bangkit perlahan. Terbayang wajah ceria Miabella yang begitu terikat dengannya. Adriano dapat merasakan betapa besar rasa sayang yang diberikan oleh gadis kecil tersebut.


“Principessa,” desis Adriano seraya mengusap pipi. Dia memutuskan untuk keluar dari ruang kerja dan mendatangi kamar Miabella. Gadis kecil itu tengah tertidur lelap dengan posisi yang tak beraturan.


Seutas senyuman terbit untuk sesaat. Pria rupawan itu duduk di tepi ranjang dan mengusap lembut kepala Miabella. “Tidak seharusnya aku memasuki kehidupan kalian sejak awal,” ucapnya getir sebelum berdiri dan membalikkan badan. Adriano sangat terkejut ketika ternyata Mia sudah berdiri di belakangnya.


“Adriano? Dari mana saja? Aku menunggumu sejak tadi,” suara Mia terdengar sangat manja, membuat Adriano tertawa lirih, lalu menyentuh pipi halus sang istri.


“Mia, kau selamanya akan menjadi cinta dalam hidupku,” ucap Adriano dengan sorot penuh arti.


Mia mengernyitkqn kening karena keheranan melihat sikap aneh yang ditunjukkan oleh Adriano. “Apa kau sedang mabuk? Ayo, kita tidur. Sekarang sudah larut,” Mia bermaksud meraih tangan pria itu dan menggandengnya.


Namun, Adriano menolak. Dia menjauhkan jemari lentik itu, lalu mundur perlahan.


“Tidurlah dulu, Mia. Ada sesuatu yang harus kukerjakan,” bahasa tubuh Adriano jelas memperlihatkan bahwa dirinya menghindari Mia. Rasa tak pantas untuk memiliki wanita itu kembali hadir dan menguasai dirinya.


“Adriano, tunggu,” Mia tak berputus asa. Dia berusaha merengkuh suaminya sekali lagi. Akan tetapi, Adriano lebih dulu menghindar. Dia berjalan cepat meninggalkan kamar Miabella untuk kembali ke ruang kerjanya.


“Adriano!” seru Mia. Suaranya menggema di sepanjang lorong. Namun, Adriano seakan tak peduli. Dia memilih untuk menjauh dari cinta sejatinya dan bersembunyi di dalam galeri yang penuh dengan lukisan Mia.


Adriano mengurung diri di dalam sana entah untuk berapa lama. Dia meninggalkan Mia dalam kebingungan dan tak mengerti dengan perubahan sikapnya.

__ADS_1


__ADS_2