
Gianna terus mengamati sosok jangkung yang berdiri membelakanginya. Jantung wanita muda tersebut berdegub kencang, ketika sosok asing itu membalikkan badan dan tersenyum ke arahnya. Gianna masih dapat mengingat dengan jelas, bahwa pria itu adalah seseorang yang beberapa hari lalu sempat mengikutinya dan hampir ditembak mati oleh Juan Pablo. “Mau apa kau kemari? Suamiku sedang tak ada di rumah,” ujar Gianna ketus.
“Aku sedang ada perlu denganmu, Nyonya Herrera,” sahut pria yang tak lain adalah Jacob. Dia tersenyum lebar pada Gianna.
“Aku tidak bisa. Juan melarangku untuk bertemu denganmu,” tolak gadis cantik berambut pirang tersebut.
Jacob menanggapinya dengan melengkungkan bibir. Sambil menggaruk ujung hidungnya, dia mendekat ke arah pintu yang hanya terbuka sedikit. “Kalau begitu, aku ingin meminta bantuan padamu,” pintanya pelan, berharap agar Gianna membuka kunci grendel yang masih menempel.
“Sudah kukatakan bahwa aku tidak bisa! Pergilah!” tolak Gianna lagi kemudian membanting pintu. Dia lalu berlari kembali ke kamar. Sekadar berjaga-jaga, wanita muda tadi bahkan menggunakan selot pintu kamar untuk mengunci. Tak hanya itu, dia juga mengganjal pegangannya dengan kursi.
Gianna mondar-mandir dengan gelisah. Dia harus berpikir cepat di saat seperti itu.
Ingatan wanita muda bermata biru tersebut langsung saja tertuju kepada Mia. Gianna segera meraih ponselnya, lalu mencoba menghubungi sang kakak ipar. Namun, sayang sekali karena panggilan yang dia lakukan tak juga tersambung. Sepertinya Mia sedang menggunakan ponsel untuk menghubungi orang lain. Gianna pun kembali mondar-mandir dengan ekspresi yang tampak begitu gusar.
"Untuk apa dia kemari? Seharusnya aku tak mencegah Juan Pablo saat hendak menghabisinya malam itu," sesal wanita yang tengah mengandung tersebut. Namun, sesaat kemudian Gianna terdiam. "Astaga, apa yang kukatakan?" Dia seakan ingin meralat kata-katanya.
Sementara itu, ponsel milik Mia memang sedang dipakai oleh Adriano untuk berbicara dengan Benigno. Tak berselang lama, Adriano pun mengakhiri perbincangannya. “Sayangku,” panggil pria bermata biru tersebut dengan suara pelan. “Tanyakan pada Juan Pablo, di mana Gianna berada saat ini,” suruhnya.
“Baiklah. Tunggu sebentar." Mia mengecup kening Adriano dengan lembut sebelum beranjak dari kamar rawat sang suami. Dengan langkah tergesa, dia memasuki ruang perawatan Juan Pablo. Di sana, Mia mendapati pria itu sedang terdiam dengan tatapan menerawang ke langit-langit kamar. “Tuan Herrera,” panggilnya pelan.
Juan Pablo segera menoleh ke arah suara, kemudian tersenyum samar. “Bagaimana, Mia? Apakah ada kabar dari Gianna?” tanyanya.
“Anak buah kepercayaan suamiku, memeriksa keberadaan Gianna di apartemennya. Namun, istrimu tak berada di sana,” jawab Mia hati-hati.
“Kenapa anak buah Adriano yang memeriksa keadaan istriku?” tanya Juan Pablo seraya memicingkan mata.
“I-itu karena … um … sesaat setelah kau menjadikanku sebagai sandera beberapa hari yang lalu, Adriano memerintahkan anak buahnya untuk … um … untuk .…” Mia tak berani melanjutkan kata-katanya. Akan tetapi, Juan Pablo tampaknya sudah memahami maksud dari wanita cantik itu.
“Adriano sudah menumpas habis seluruh anak buahku. Betul begitukah?” tebak Juan Pablo sambil tersenyum kecil.
__ADS_1
“Se-seperti itulah. Kurang lebih,” jawab Mia lirih. Ada rasa tak enak dalam nada bicaranya. Mia pun tampak kikuk karena insiden tersebut.
“Seandainya aku menjadi Adriano, maka diriku pun pasti akan melakukan hal yang sama,” ujar pria asal Meksiko yang masih tetap terlihat menawan, meskipun dalam keadaan tak berdaya. “Maafkan semua kesalahanku, Mia. Terima kasih atas kebaikanmu,” lanjut Juan Pablo. “Aku akan merepotkanmu sekali lagi dengan meminta tolong. Sampaikan pada Adriano bahwa Gianna tengah beristirahat di villa milikku. Kau bisa mencatat alamatnya.” Juan Pablo menyebutkan alamat lengkap, sementara Mia mengetik dan menyimpannya di ponsel.
“Baiklah. Beristirahat dan tunggu saja kabar selanjutnya dariku,” ucap Mia sembari melangkah cepat keluar dari kamar Juan Pablo. Dia kembali lagi ke kamar rawat Adriano. “Aku akan mengirimkan alamat ini pada Benigno. Di sanalah, Gianna berada saat ini,” tuturnya pada sang suami.
“Lakukan apa yang harus dilakukan, Sayang.” Adriano tersenyum lembut sambil berusaha untuk menggapai pipi sang istri. Mia seakan paham apa yang suaminya inginkan, sehingga dirinya mendekatkan wajah sampai tangan Adriano yang penuh luka berhasil mengusap lembut pipi Mia. “Semoga Benigno tidak terlambat,” ujarnya lagi.
“Kita tunggu saja kabar darinya. Hanya itu yang bisa kita lakukan selain berdoa.” Mia yang sudah berada pada posisi duduk di kursi dekat ranjang, segera meletakkan kepala dengan hati-hati di dada kanan Adriano yang tak terluka. Jemarinya bergerak pelan menyusuri dada bidang sang suami yang dibebat perban.
“Satu lagi, Mia,” ucap Adriano beberapa saat setelah keheningan sempat hadir di antara mereka berdua.
“Apa?” Mia mengangkat kepalanya dan memandang lurus pada wajah tampan sang suami.
“Tolong hubungkan aku dengan detektif Ignazio. Sepertinya hanya dia yang bisa menghentikan pergerakan Jacob di negara ini,” jawab Adriano yakin. Mia pun mengangguk seraya tersenyum lembut.
Sementara di tempat lain. Sesaat setelah mendapatkan alamat dari Mia, Benigno bersama beberapa anak buahnya bergegas menuju villa milik Juan Pablo. Keadaan di sana begitu sepi. Tak terlihat seorang pun yang berjaga di tempat sebesar itu. “Ke mana semua orang?” gumamnya seraya turun dari kendaraan. Dia melenggang masuk menuju bagian depan bangunan. Dipencetnya bel di samping pintu sampai beberapa kali.
“Anda mencari siapa? Tuan Herrera sedang tidak ada di sini,” jelas wanita itu.
“Apakah villa ini tidak memiliki penjaga?” Benigno malah balik bertanya. Dia juga mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman.
“Anda bicara apa? Jelas-jelas di depan gerbang ada Cedro dan .…” Wanita itu menghentikan kalimatnya. Dia membuka pintu lebar-lebar, lalu memeriksa keadaan di luar. “Kenapa tidak ada siapa pun di gerbang?” gumam wanita itu mulai was-was.
“Itulah yang ingin kutanyakan. Tak ada siapa pun saat kami datang kemari,” Benigno kembali menegaskan.
“Baru setengah jam yang lalu aku membawakan camilan untuk mereka. Ada lima orang yang berjaga di gerbang depan, lima orang di samping, serta tujuh orang di bagian belakang villa. Tuan Herrera sengaja menempatkan mereka di sini untuk memberikan penjagaan bagi istrinya,” terang pelayan itu, yang seketika membuat Benigno mengernyitkan kening.
"Istrinya?"
__ADS_1
"Ya. Nyonya Herrera berada di sini sejak beberapa hari yang lalu. Dia sedang mengandung, jadi tuan membawanya kemari," jelas pelayan tadi.
Benigno tak menanggapi lagi ucapan si pelayan tadi. Dia sudah memahami siapakah wanita yang wanuta itu maksud. Namun, satu hal yang tak dia pahami adalah hubungan Adriano dengan Juan Pablo yang tak terlihat harmonis. Sementara Gianna nyatanya menjalin asmara dengan pria asal Meksiko tersebut
“Apa ada yang datang kemari sebelum kami?” tanya Benigno kemudian untuk lebih memastikan.
“Ya. Beberapa saat yang lalu, ada seorang pria dengan wajahnya penuh luka. Dia juga berjalan menggunakan tongkat,” jelas wanita itu.
Benigno terkesiap. Ciri-ciri yang pelayan itu sebutkan sama persis dengan yang dijabarkan oleh Adriano. Tanpa membuang waktu, dia segera menyuruh anak buahnya untuk memeriksa seluruh sudut villa. "Menyebar!" seru Benigno memberi aba-aba dengan tangan. Tanpa harus diperintahkan dua kali, beberapa orang anak buah yang dibawa serta oleh dirinya pun segera memeriksa sekeliling villa, bahkan hingga radius beberapa meter.
"Pria itu pasti masih berada di sekitar sini, apalagi dia tidak akan bisa berjalan cepat dengan tongkatnya," pikir Benigno. Dia pun tak tinggal diam. "Bolehkah jika aku memeriksa ke dalam?" tanyanya. Sedangkan si pelayan tampak ragu untuk memberikan izin. Namun, Benigno meyakinkan wanita itu bahwa dirinya datang ke sana atas permintaan Juan Pablo.
"Gianna!" panggil Benigno saat dia sudah berada di dalam. "Gianna!" panggilnya lagi sambil terus berjalan semakin masuk.
Sementara Gianna yang tampak resah dan gelisah di dalam kamarnya, terkejut saat mendengar suara yang sudah dia kenal. Wanita muda itu bergegas menyingkirkan segala barang yang tadi digunakan untuk mengganjal pintu. Setelah semua bergeser, Gianna pun membuka kunci lalu segera keluar untuk menemui tangan kanan kakak tirinya tersebut. “Benigno! Aku tadi melihatnya!” seru Gianna dari ujung tangga. Dengan langkah hati-hati, dia menuruni undakan anak tangga dan menghampiri pria berkepala plontos yang dipenuhi tato itu.
“Tenanglah, Gianna. Siapa yang kau lihat?” Benigno memegang kedua lengan wanita cantik berambut pirang tersebut.
“Jacob. Pria aneh itu melompati balkon dengan tongkatnya dan memasuki kamar Juan. Letaknya tepat di samping kamar yang kutempati,” papar Gianna.
Mendengar hal itu, Benigno segera menoleh pada anak buahnya yang tak ikut memeriksa villa. Dia memberi isyarat agar mereka mengikutinya menuju kamar yang dimaksud oleh Gianna. “Kau tetaplah di sini bersama dia.” Benigno menunjuk pelayan wanita yang menyambutnya tadi.
“Jangan khawatir, Tuan. Aku akan menjaga nyonya Herrera,” sahut pelayan tadi seraya mengangguk dan melingkarkan tangan di lengan Gianna.
Benigno bergegas menaiki tangga ke lantai dua dan menuju kamar. Pintunya terkunci, sehingga dia harus mendobraknya menggunakan kaki. Saat pintu itu terbuka, baik Benigno maupun anak buahnya sama-sama tercengang. Kondisi kamar itu amat berantakan dengan beberapa benda pecah yang berserakan di lantai. Layar monitor pun retak dan kotak stainless dengan tutup terbuka di atas meja kerja.
🍒 🍒 🍒
Hai, semua. Yuk, masukin novel keren ini ke daftar favorit.
__ADS_1