Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Take A Breath


__ADS_3

"Astaga, nona Miabella! Aku sangat panik mencarinya ke mana-mana." Stellina, pelayan muda berusia dua puluh empat tahun terlihat was-was saat mendapati Miabella dalam keadaan seperti itu. Bagaimana tidak, Miabella sedang berada dalam pengawasannya.


"Kau yang bertugas menjaganya!" tegur Mia dengan keras, membuat Stellina segera tertunduk dan tak berani membantah sang nyonya.


"Sudahlah, Sayang. Sebaiknya kau hubungi dokter dan minta agar segera kemari," saran Adriano mencoba meredam kemarahan Mia. Dia merengkuh lengan sang istri. "Carlo, bawa Miabella ke kamarnya," suruh Adriano mencoba tetap tenang. Dia memapah Mia yang terlihat cemas, lalu berjalan di depan sebagai penunjuk bagi pemuda itu yang masih membopong gadis kecilnya


Sebelum membaringkan Miabella di atas tempat tidur, Mia terlebih dulu melapisinya dengan handuk. "Aku akan mengganti pakaiannya," ucap wanita itu masih tampak khawatir.


Sedangkan Adriano hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan. Dia lalu mengajak Carlo untuk keluar kamar.


"Terima kasih, Carlo. Beruntung kau datang tepat waktu," ucap Adriano tulus.


"Kolamnya cukup dalam, Tuan. Sangat berbahaya jika nona main sendirian di sana," ujar Carlo yang terlihat jauh lebih dewasa dari usianya.


"Seharusnya tadi Miabella bersama pelayan, tapi ...." Adriano menoleh kepada pemuda tujuh belas tahun itu. "Pakaianmu basah kuyup. Pergilah ke kamar dan segera ganti dengan yang kering. Jangan sampai kau sakit, apalagi besok kita akan berangkat ke Monaco." Adriano menepuk pundak Carlo sebagai tanda rasa terima kasihnya yang tak dia ungkapkan. Namun, Carlo pun dapat memahami isyarat itu dengan baik. Pemuda bertubuh jangkung tersebut segera mengangguk dan berlalu dari hadapan Adriano.


Sang ketua Tigre Nero terpaku untuk sesaat di tempatnya berdiri. Ditatapnya langkah tegap Carlo yang kini sudah tak terlihat. Remaja yatim piatu itu telah mengingatkan dia pada masa lalu yang terasa kelam. Sebisa mungkin Adriano tak akan membiarkan ada anak-anak yang mengalami nasib sama seperti dirinya.


Siapa Adriano D'Angelo? Mengapa dia seakan memiliki banyak sisi lain dari karakternya. Pada satu waktu, Adriano akan bersikap begitu manis, murah hati, dan hangat dengan senyum menawan yang selalu menjadi ciri khasnya. Akan tetapi, pada saat yang lain dia tak segan untuk menghabisi siapa pun dengan begitu bengis.

__ADS_1


Lamunan Adriano kemudian tertuju pada mendiang sang ibu, Domenica. Setelah itu, wajah Claudia hadir dengan segala sikap kasar yang selalu dilampiaskan terhadap dirinya. Tak lama kemudian, bayangan wajah Emiliano pun turut menghiasi benaknya saat itu.


Ya, ada masanya Adriano akan menjadi tua dan mungkin tak kuasa lagi untuk mengangkat senjata. Pada saat itulah, dia akan benar-benar menemukan dan memilih satu karakter yang paling dominan dalam dirinya. Lalu, andai segala tenaga itu telah berkurang dari tubuh tegap yang mulai ringkih nanti, siapa yang akan menjadi pelindung bagi orang-orang terkasihnya?


Lamunan Adriano pun harus terhenti, ketika Stellina muncul bersama seseorang yang merupakan dokter pribadi keluarga de Luca.


"Tuan, dokter Meazza sudah tiba," lapor Stellina yang masih terlihat merasa bersalah.


Adriano pun segera menyambut pria dengan rentang usia sekitar empat puluh ke atas itu. "Apa kabar, Dokter. Mari. Putriku ada di dalam kamar," ajak Adriano seraya mengulurkan tangannya ke arah kamar Miabella. Dia lalu menyertai sang dokter yang akan segera memeriksa gadis kecil tersebut.


Sementara itu di dalam sana, Mia telah selesai mengganti pakaian putrinya yang basah. Rambut panjang Miabella pun sudah disisir rapi. Namun, gadis kecil bermata abu-abu itu masih terlihat shock. Dia memang telah belajar berenang bersama Adriano. Akan tetapi, dalam kondisi seperti tadi dan tanpa pelampung, tetap saja tubuh mungilnya tak mampu mempertahankan diri untuk tetap berada di permukaan.


"Biarkan dokter memeriksa keadaanmu dulu," ucap Adriano lembut.


"Aku tidak akan mati, kan? Aku meminum banyak air kolam yang kotor, tapi aku tidak sengaja melakukan itu," isak Miabella yang memperlihatkan raut penuh kekhawatiran.


"Tidak apa-apa, Nak. Biar kuperiksa dulu," sahut sang dokter tersenyum ramah. Dia lalu duduk di tepian tempat tidur dengan posisi menghadap kepada Miabella. Menggunakan sebuah stetoskop, pria paruh baya tersebut mulai memeriksa gadis kecil tadi. Dia melakukannya dengan cermat untuk beberapa saat. "Coba tarik napas dalam-dalam," suruh dokter itu.


"Ayo, Sayang. Lakukan apa yang tuan dokter katakan," ucap Mia lembut.

__ADS_1


Miabella tampak ragu. Gadis kecil itu menoleh kepada sang ayah, seakan meminta persetujuan. Setelah Adriano memberi isyarat dengan matanya, Mibella pun kembali mengarahkan pandangan kepada dokter tadi. Namun, bukannya menarik napas dalam-dalam sesuai intruksi, dia malah membusungkan dada dengan dagu terangkat serta mata yang terbelalak sempurna. Tingkah polah Miabella sontak membuat tiga orang dewasa di dalam ruangan itu menjadi tak kuasa menahan tawa.


"Bukan begitu cara melakukannya, Nak," tegur sang dokter lembut. Sambil menahan rasa geli dalam hati, pria dengan jas putih yang menjadi pakaian kebesaran dari profesinya tersebut memberikan contoh agar Miabella dapat melakukan apa yang dia intruksikan dengan benar. Gadis kecil itu pun dapat langsung memahami apa yang dokter tadi contohkan.


Setelah dirasa cukup, sang dokter kemudian melepaskan stetoskop yang tadi dia gunakan untuk memeriksa Miabella. Dia melipatnya rapi kemudian memasukkan ke dalam saku jas. "Syukurlah, paru-parunya bersih. Nona kecil ini tidak apa-apa. Namun, sebaiknya pakaian baju hangat, apalagi saat ini cuaca sedang dingin," saran dokter itu seraya beranjak dari duduknya. "Satu hal lagi, anak seusia putri Anda memang sedang aktif dan penuh rasa ingin tahu. Jadi, sebagai orang tua kita diharapkan agar bisa mengawasi dengan lebih baik. Lengah sedikit saja, maka ...." Dokter itu tersenyum hangat. Dia yakin jika Adriano dan Mia pun sudah paham akan hal itu.


"Iya, Dok. Kami akan jauh lebih hati-hati setelah ini," sahut Adriano seraya menyelimuti tubuh Miabella yang masih terjaga. Dia lalu beranjak dari dekat putri kecilnya.


"Aku tidak mau tidur sekarang, Daddy Zio," rengek Miabella.


"Tidak apa-apa. Kau tidak perlu tidur, tapi tetaplah di atas ranjang sampai aku kembali. Aku akan mengantar tuan dokter sebentar hingga ke depan," pesan Adriano. Dia lalu mempersilakan dokter Meazza untuk keluar kamar, setelah sebelumnya berpamitan dulu dengan Mia.


"Kau dengar itu, Bella? Kenapa tadi kau bermain sendirian di dekat kolam? Bukankah ada Stellina yang menjagamu?" tanya Mia seraya kembali duduk di tepian tempat tidur.


"Aku menyuruh Stellina untuk mengambil bonekaku yang tertinggal di kamar, Bu. Jangan marahi dia," pinta Miabella. Dia bangkit dan duduk berhadapan dengan sang ibu.


"Kuharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi, Sayang. Besok kita akan kembali ke Monaco, dan dirimu pun akan segera masuk sekolah. Aku yakin di sana kau akan mendapat banyak teman baru," ucap Mia lembut seraya membelai pucuk kepala Miabella.


Sesaat kemudian, Mia terdiam ketika terdengar suara pintu yang diketuk. Wajah Carlo pun muncul dari baliknya. "Boleh aku masuk, Nyonya?" tanya pemuda itu sambil tersenyum hangat.

__ADS_1


__ADS_2