
Sebuah ciuman mesra kembali mendarat di bibir Mia. Namun, tak lama segera Mia hentikan, ketika Adriano sudah mengisyaratkan untuk melakukan sesuatu yang lebih dari itu. Mia menahan tangan sang suami yang bermaksud untuk menaikan bagian bawah mini dressnya. "Tidak Adriano," tolak Mia pelan.
Adriano menatap penasaran kepada Mia yang saat itu dalam posisi duduk di atas meja kerjanya. "Kenapa, Mia?" tanyanya.
"Aku tidak bisa bercinta denganmu saat ini," jawab Mia membuat Adriano menaikan sebelah alisnya. "Aku sedang menstruasi," ucap Mia lagi diakhiri senyum terpaksa. Dia tahu jika Adriano pasti kecewa, karena tak bisa mendapatkan pelayanannya.
Namun, anggapan Mia salah. Adriano tersenyum seraya mendekatkan bibirnya ke dekat telinga wanita itu. "Puaskan aku dengan cara yang lain," bisiknya dengan hembusan napas yang menghangat di pipi Mia. Pria itu kemudian duduk di kursi kebesarannya. Dia menatap Mia dengan penuh isyarat. Tanpa harus diberi intruksi lagi, Mia turun dari atas meja. Dia lalu setengah berdiri dengan melipat kaki dan menjadikan lutut sebagai tumpuan. Dilepaskannya sabuk dan juga pengait celana panjang Adriano, setelah itu Mia lalu menurunkan resleting.
Adriano tersenyum puas. Kedua matanya terpejam, ketika merasakan dirinya berada di dalam genggaman Mia. Tak lama, pria itu membuka mata dan mengelus rambut panjang sang istri. Disibakannya rambut yang berada di atas pundak Mia ke belakang. Adriano pun berkali-kali mengempaskan napas beratnya. "Kau pintar sekali, Sayang," ucapnya kembali memejamkan mata dan meresapi pelayanan sederhana dari sang istri.
Adegan seperti itu terus berlangsung, hingga Adriano menyudahi hal tersebut. Dia mengisyaratkan kepada Mia agar membuka kancing blouse yang dikenakannya. Wanita bermata cokelat itu pun menurut. Dia melepas beberapa kancing bagian atas dan membiarkan Adriano menurunkannya. Setelah itu, pria bertubuh tegap tersebut melepaskan pengait bra yang Mia pakai. Kini, bagian atas tubuh istrinya sudah terekspos sempurna.
Adriano yang masih dalam posisi duduk, sedikit membungkuk dan mendekatkan wajah kepada Mia. Dia memegangi dagu wanita cantik itu kemudian menciumnya untuk sesaat, sebelum menarik tubuh Mia agar semakin mendekat. Sedangkan dirinya sudah kembali dalam poisisi duduk tegak.
Antara ragu dan penasaran, Mia melakukan apa yang Adriano isyaratkan. Dia mengapit lambang keperkasaan pria itu di antara dadanya yang padat berisi. Mia kemudian bergerak naik turun. Sebuah helaan napas berat yang dalam kembali meluncur dari bibir pria bermata biru tersebut. Namun, Adriano tak melakukan apapun. Dia duduk dengan penuh wibawa dan memperhatikan Mia yang sesekali menatap dan tersenyum padanya.
__ADS_1
Dia lalu menyentuh wajah Mia dengan lembut. Ibu jarinya kemudian mengusap bibir sang istri perlahan, dan mendiamkannya di sana. Adriano membiarkan Mia memainkan itu di dalam mulut. Lagi, pria dengan kemeja hitam tersebut menyunggingkan sebuah senyuman penuh kepuasan. Namun, tatapan nakalnya segera teralihkan ketika ponsel yang dia letakan di atas meja mulai berdering. Pria itu menatap ke arah benda persegi tersebut untuk sesaat. Adriano membiarkannya hingga suara dering itu berhenti. Dia kembali memperhatikan Mia yang semakin memanjakan dan membuat dirinya seperti seorang raja.
Tak berselang lama, ponsel itu kembali berbunyi. Mia yang merasa terusik, menghentikan sejenak apa yang sedang dia lakukan. Diraihnya benda tersebut lalu disodorkan kepada Adriano yang segera mengarahkan Mia untuk melanjutkan yang terjeda.
Adalah sebuah panggilan masuk dari Don Vargas. Pria itu menghubungi Adriano di saat yang tidak tepat. Namun, pada akhirnya Adriano memutuskan untuk menjawabnya. "Hallo," sapanya dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan, ketika dirinya harus menahan perasaan nikmat atas permainan Mia. Sesekali Adriano memejamkan matanya seraya menelan ludah. Dia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara-suara yang mencurigakan.
"Hallo, tuan D'Angelo," terdengar suara Don Vargas membalas sapaan Adriano dari ujung telepon. "Aku hanya ingin memberitahukan bahwa kami sudah berada di Inggris," ucap pria yang berusia hampir sama dengan Emiliano itu.
"Oh, ya. Lalu?" Adriano tidak bisa berkonsentrasi.
"Juan Pablo sudah menyiapkan hunian untuk anda selama berada di sini. Jadi, anda tidak perlu mencarinya lagi," ujar Don Vargas.
"Oh, jadi nyonya D'Angelo juga akan turut serta? Ya, itu tidak masalah. Namun, kami menyiapkan tempat tinggal sementara untuk anda yang berjarak tidak terlalu jauh dari lokasi proyek pembangunan. Itu akan mempermudah mobilitas dan pastinya mempersingkat waktu," ucap Don Vargas lagi. "Akan kukirimkan fotonya nanti untuk Anda. Juan Pablo sengaja mencarikan tempat yang pastinya akan membuat anda merasa nyaman selama berada di Inggris," jelas pria itu lagi terus membujuk Adriano, yang saat itu tanpa sengaja mengeluarkan erangan tertahan. "Anda tidak apa-apa, tuan D'Angelo?" tanya Don Vargas menanggapi suara Adriano.
"Oh, ya tentu. Aku tidak apa-apa. Baiklah, kirimkan saja fotonya. Istriku yang akan memutuskan, karena kenyamannya adalah kenyamananku juga," sahut Adriano seraya menahan napas ketika permainan Mia semakin membuatnya tak kuasa menahan perasaan bergejolak yang ingin segera dia tuntaskan. Adriano kemudian mengeluarkan dirinya dari dalam mulut Mia, lalu berdiri. Dia menyelesaikan permainan itu dengan tangannya sendiri.
__ADS_1
"Baiklah, tuan D'Angelo. Aku akan kukirimkan, dan kutunggu kedatangan anda di sini secepatnya. Aku sangat bersemangat dan tak sabar untuk dapat menggenggam Eropa," Don Vargas tertawa renyah.
"Baiklah. Aku akan berangkat besok," tutup Adriano bersamaan dengan tercurahkannya seluruh sisa-sisa permainan kecil tadi di atas permukaan dada Mia. Adriano terengah seraya meletakan ponselnya di atas meja. Dia lalu membantu Mia untuk berdiri. Diambilnya selembar tisu dan dia gunakan untuk membersihkan permukaan dada Mia.
"Terima kasih," ucapnya. Dia kembali mengecup bibir istrinya dengan lembut.
"Siapa yang menghubungimu?" tanya Mia sambil memasangkan kembali bra yang tadi terlepas. Sementara Adriano pun sudah merapikan celananya.
"Don Vargas. Dia sudah menungguku di Birmingham. Katanya Juan Pablo telah menyiapkan satu hunian yang akan kita tempati di sana," terang Adriano memperhatikan Mia yang selalu terlihat cantik di matanya.
"Bukankah kau sudah mempersiapkan semuanya?" Mia mengernyitkan kening.
"Kita akan ke London dulu sebentar. Aku baru akan pergi ke Birmingham esoknya. Maaf jika nanti kau kutinggalkan untuk beberapa urusan," Adriano menangkup wajah Mia. Tak bosan-bosan dirinya menikmati bibir sang istri. "Jujur saja jika sebenarnya aku tidak berniat untuk menginap di Birmingham, karena itu aku tidak menyiapkan tempat tinggal selama di sana," ucap Adriano lagi setelah puas mencium Mia.
"Lalu, sekarang bagaimana?" tanya Mia.
__ADS_1
"Aku akan menyelesaikan urusanku di London dengan cepat. Setelah itu kita akan ke Birmingham. Aku akan membawamu dan Miabella ke sana. Jangan khawatir, Ricci akan menjaga kalian berdua," Adriano tersenyum lembut seraya mengelus pipi Mia dengan punggung tangannya. Dia tahu jika Mia sangat khawatir. Adriano dapat melihatnya dengan jelas dari sorot mata sang istri.
"Hilangkan semua kecemasanmu, Mia. Aku ingin kau dan Miabella bersenang-senang dan menikmati perjalanan kita kali ini. Setelah dari Inggris, aku pasti akan merencanakan perjalanan lainnya. Adriano D'Angelo selalu memegang teguh kata-kata yang sudah dia ucapkan," penuh keyakinan, Adriano mengakhir kata-katanya, bersamaan dengan sebuah pesan masuk dari Don Vargas.