
"Sudah beberapa minggu ini aku tinggal sendiri. Bajingan tengik itu telah menyekap istri dan anak gadisku yang berusia dua puluh satu tahun. Entah ke mana dia membawa mereka," Timothy memulai ceritanya dengan wajah sendu. Raut kesal, marah, dan juga sedih bercampur menjadi satu dalam hatinya.
"Siapa yang melakukan itu semua? Thomas Bolton?" Coco tampak penasaran.
"Ya," Timothy mengangguk. "Awalnya, ini semua karena ulah John, adikku. Entah ada masalah apa antara mereka berdua. Aku juga tidak mengerti, kenapa penjahat itu harus menyangkutpautkan diriku dan keluarga dalam masalah organisasi mereka," terang pria berambut pirang itu nampak kecewa.
"Jadi, Thomas Bolton adalah bagian dari Tangan Setan?" selidik Coco semakin penasaran.
"Sepertinya memang begitu. Setahuku, Thomas Bolton dulu adalah seorang pemburu yang kemudian beralih profesi menjadi pembunuh bayaran. Dia biasa disewa oleh orang-orang tertentu. Keahlian dan keberaniannya menjadi sebuah modal yang sangat menguntungkan bagi pria itu dalam menjalani profesi barunya, terlebih karena bayaran yang dia dapat pun berkali lipat daripada hanya dengan menjual hewan-hewan hasil buruan yang tidak seberapa," tutur Timothy.
"Bagaimana kau bisa mengetahui dengan begitu detail?" Coco memicingkan kedua matanya. Ada rasa tidak percaya pada sorot mata cokelat pria Italia itu.
“John yang memberitahukan semuanya kepadaku. Anak itu, sejak kecil memang sudah menyusahkan. Dia yang bermasalah dengan organisasi milik Thomas, tapi malah aku yang terkena imbasnya,” keluh Timothy kembali memperlihatkan kekesalannya.
“Memangnya ada masalah apa antara John dengan Thomas?” cecar Coco semakin tertarik dengan cerita pria paruh baya itu.
Timothy mengembuskan napas panjang sebelum menjawab. Dia juga nampak berpikir untuk beberapa saat. “Sejak remaja, John memang sudah menunjukan gelagat yang kurang baik dalam pergaulannya. Dia kerap kali berurusan dengan beberapa geng kecil dan juga memiliku teman-teman berandalan. Orang tuaku sampai angkat tangan dalan menghadapinya. Mereka mengusir John agar pergi dari rumah. Aku juga sebenarnya malas harus berurusan dengan anak itu dan berusaha untuk terus menghindar. Namun, puncaknya adalah seminggu yang lalu ketika dia tiba-tiba menyergapku setelah sepulang kerja. Dia memohon-mohon agar diriku dapat membantunya,” tutur Timothy.
“Membantu dalam hal apa?” Coco semakin serius dalam mendengar penjelasan Timothy.
“Dia meminta agar diriku bersedia menyerahkan identitas kepada Thomas Bolton sebagai harga yang harus dia bayar. Alasannya, karena John mengkhianati Thomas tapi entah dalam hal apa, sebab aku pun tidak terlalu mengerti,” jelas Timothy lagi. “Namun, tentu saja aku menolak hal konyol itu dan langsung mengusir John. Hingga keesokan harinya, tiba-tiba saja istri dan anakku sudah menghilang. Belakangan aku tahu ternyata Thomas yang membawa mereka. Dia mendatangi rumah sekaligus mengancam. Thomas mengatakan jika diriku tidak menuruti keinginannya, maka bajingan itu akan membunuh keluarga kecilku,” tuturnya kemudian.
“Hingga saat ini, masih belum dapat dipahami untuk apa dia sampai harus meminta identitasku. Sementara waktu itu tuan Matias Vargas sudah menyewaku untuk mengerjakan proyeknya. Thomas malah menyekap dan menyamar sebagai diriku,” lanjut Timothy.
__ADS_1
“Apakah itu artinya Don Vargas tidak mengetahui bahwa Thomas menyamar sebagai dirimu?” sela Coco seraya berpindah ke dekat Timothy.
“Sepertinya begitu,” sahut pria paruh baya itu singkat.
“Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Apa Don Vargas tidak pernah melihat fotomu? Tidak masuk akal rasanya jika sampai dia tidak tahu,” sanggah Coco dengan raut setengah tak percaya.
“Alasannya mungkin karena aku mewakili perusahaan, sehingga Tuan Vargas tidak terlalu memperhatikan hal itu. Dia menyewa jasa perusahaan arsitektur dan aku yang terpilih. Tuan Vargas hanya melihat profil perusahaan, tapi tidak melihat profilku. Menurutku begitu,” jelas Timothy.
Coco sudah hendak bertanya lagi ketika ponsel yang dia simpan di dalam saku, berbunyi. Layarnya menunjukkan aplikasi radar yang berkerlap-kerlip. Dia segera membuka aplikasinya dan melihat titik merah bergerak berputar sebelum menghilang. “Sialan!” Coco segera berdiri melihat hal itu.
“Ada apa?” Timothy Dixon tampak keheranan.
“Sepertinya Thomas tahu jika Adriano memasang alat pelacak di tubuhnya,” gumam Coco sembari melangkah keluar dari tempat itu.
“Berhati-hatilah! Pria bernama Thomas itu sangat berbahaya,” pesan Timothy ketika Coco sudah berada di depan pintu.
Merasa tak bisa bekerja seorang diri, Coco kemudian menghubungi detektif Ranieri. Tak membutuhkan waktu lama sampai pria itu menjawab panggilan darinya. “Aku ingin agar kau segera mengirimkan bantuan. Saat ini juga,” pintanya serius.
“*Katakan di mana lokasimu*?” tanya detektif Ranieri.
Tanpa mematikan panggilan, Coco mengirimkan lokasinya saat itu lewat aplikasi pesan. “Bukala. Aku sedang berada di situ saat ini,,” ujarnya.
“Tunggu sebentar,” ucap detektif Ranieri lagi.
__ADS_1
Suasana sempat hening sejenak, sampai kembali terdengar suara berat pria itu. “Teman-temanku akan segera menuju ke lokasi tersebut. Bersiaplah jika ada mobil van berwarna hitam yang berhenti di depan apartemen,” jelasnya.
“Baiklah,” Coco mengakhiri panggilan, lalu menunggu selama beberapa menit. Setengah jam kemudian, sebuah mobil dengan ciri-ciri serupa seperti yang sudah disebutkan oleh detektif Ranieri, telah tiba dan berhenti di depan pintu masuk. Coco segera berlari kecil dan mengetuk pintu samping kemudi. Jendela terbuka perlahan, sehingga dia dapat melihat dengan jelas beberapa orang yang berada di dalam mobil.
Mereka semua memakai seragam lengkap dengan rompi anti peluru dan senjata. Orang-orang itu juga memakai helm pelindung, serta membawa senapan laras panjang. “Lantai berapa?” tanya salah seorang yang berada di dalam mobil pada Coco.
“Tak terlihat dari sini, bisa di lantai manapun,” Coco menunjuk pada layar radarnya, lalu kembali menatap serius ke arah pria yang tadi bertanya.
Mereka yang berada di dalam mobil, saling berpandangan. “Aku akan menanyakannya pada penjaga tempat ini,” tanpa menunggu jawaban, pria berambut ikal itu segera masuk dan bertanya pada seorang wanita yang duduk tenang sambil menonton televisi di meja yang berada tak jauh dari pintu masuk. “Thomas Bolton berada di kamar nomor berapa?” tanyanya tanpa basa-basi.
Wanita itu mengernyitkan kening seraya menoleh kepasa Coco. Dia lalu melihat catatannya dan mulai memeriksa. “Tidak ada yang bernama Thomas Bolton di sini,” jawabnya dengan jemari yang masih menggenggam remote televisi.
Coco memutar otaknya sejenak. Dia lalu menyebutkan nama lain, “Bagaimana kalau Timothy Dixon?”
Wanita itu kembali memeriksa catatannya dan menoleh pada Coco. “Lantai dua nomor tiga belas," jawabnya tanpa berbasa-basi sama sekali.
Coco pun segera berbalik ke mobil van yang masih terparkir di luar gedung. Dia menyebutkan nomor kamar yang dihuni oleh Thomas. Dengan segera, beberapa orang yang ada di dalam pun bergegas keluar dari kendaraan. Sambil mengokang senjata, mereka melangkah gagah menaiki anak tangga. Sementara wanita penjaga penginapan tadi terus memperhatikan hingga para pria itu menghilang di balik dinding penyekat.
Sesampainya di lantai yang dituju, mereka bersikap semakin waspada. Sambil mengendap-endap, mereka berjalan dari arah tangga berhenti di depan pintu bernomor tiga belas. “Kau di belakang saja,” ujar salah seorang pria berseragam kepada Coco.
Namun, dia tak ingin menuruti perintah orang asing tersebut, Coco malah berdiri di samping pintu sambil mengeluarkan senjatanya. “Kalian dobrak saja,” ujarnya.
Pria tersebut mengangguk, kemudian memberi aba-aba tanpa suara kepada teman-temannya. Ketika satu tangan pria itu memberi isyarat, Coco menembakkan senjatanya ke gagang pintu. Setelah itu, pria tersebut menendang pintu tadi. Akan tetapi, mereka tak segera masuk. Terlebih karena saat itu kedatangan mereka ternyata telah diketahui. Coco dan yang lainnya mendapat sambutan panas yang berupa berondongan tembakan dari dalam ruangan.
__ADS_1
Orang-orang itu memilih berlindung di balik dinding samping pintu masuk, sebelum salah seorang dari mereka membalas tembakan. "Alihkan perhatiannya! Lindungi kami berdua!" intruksi salah seorang lagi yang sepertinya merupakan ketua dari tim tersebut. Anggota yang lain mengerti dengan perintah itu, mereka terus membalas tembakan sementara Coco dan seorang dari anggota tim merangsak masuk sambil mengendap-endap.
Tanpa diduga, sebuah tembakan mengarah langsung ke arah Coco dan pria satunya lagi. Beruntung karena keduanya sempat menghindar. Keduanya segera berlindung di balik sofa. Pada akhirnya, mereka dapat mengetahui bahwa si penembak berasal dari arah sebuah kamar.