Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Liontin Tua


__ADS_3

Helikopter yang membawa Adriano beserta keluarganya, telah mengudara dan membelah langit kota Brescia. Miabella berdiri terpaku, hingga sebuah tepukan lembut kembali menyadarkan gadis cantik tersebut. Miabella pun menoleh.


Carlo yang sejak tadi berdiri sedikit di belakang, tampak tersenyum. "Kau ingin ikut pulang ke Monaco, Nona?" tanyanya setengah menggoda Miabella.


"Tidak, Carlo. Casa de Luca adalah rumahku yang sebenarnya. Kurasa itulah alasan kenapa aku ingin pergi. Bukan karena diriku tak menyayangi daddy zio, tapi ini sebuah panggilan agar aku kembali," ucap Miabella lirih.


"Apa kau sedih, Nona?" tanya Carlo lagi.


Miabella tak segera menjawab. Tatapannya menerawang jauh, kemudian beralih pada paras tampan sang pengawal pribadi. "Kau bisa menebak apa yang membuatku sedih?" Gadis itu balik bertanya. Dia menaikkan kedua alisnya yang terbentuk rapi dan sangat indah.


"Seingatku, kau akan sedih ketika perutmu lapar ... itu yang kau katakan dulu saat di Inggris," gurau Carlo diakhiri tawa, terlebih karena saat itu Miabella memukul lengannya karena gemas. Sementara Coco yang melihat hal itu hanya mengempaskan napas panjang seraya berdecak pelan.


"Kalian ini seperti pasangan kekasih saja," ujar Francesca melirik nakal kepada Miabella.


Sedangkan Miabella maupun Carlo hanya saling pandang untuk sejenak, lalu sama-sama tertawa. "Mana mungkin aku mau berpacaran dengan Carlo. Aroma parfumnya sangat murahan," ejek Miabella sambil menjulurkan lidahnya kepada pria itu. Dengan tanpa rasa bersalah sama sekali, gadis cantik tersebut berlalu begitu saja dari sana. Sementara Carlo hanya tersenyum simpul saat menanggapinya.


......................


Ini adalah pagi kedua bagi Carlo. Semalam, orang suruhan Adriano sudah mengirimkan beberapa pakaian dan barang-barang pribadinya ke Casa de Luca.


Setelah sarapan, Miabella mengikuti Coco ke perkebunan. Pria itu harus memperkenalkan dulu gadis cantik tersebut, pada setiap sudut ladang subur dengan hamparan pohon anggurnya yang menghijau. Miabella harus mengetahui terlebih dahulu tentang seluk-beluk perkebunan yang sudah turun-temurun sejak ratusan tahun lalu tersebut.


Coco pun memberikan penjelasan dengan detail. Namun, tentu saja tak akan cukup satu hari saja untuk bisa memahami dengan jelas apa yang harus Miabella lakukan dengan lahan seluas ribuan hektar itu.


"Aku akan di sini hingga akhir pekan sebelum pindah ke Roma. Kuharap kau bisa memahami apa saja yang menjadi tugasmu selama kurun waktu tadi. Aku yakin nanti juga kau akan terbiasa. Namun, jika ada kesulitan apapun, maka jangan sungkan untuk menghubungiku," jelas Coco terdengar sangat serius.


"Apa kau akan langsung datang kemari, Paman?" tanya Miabella.


"Enak saja. Kau pikir aku robot yang tidak punya rasa lelah. Untuk apa aku menempuh perjalanan selama lima jam hanya sekadar demi meberimu pelajaran sederhana. Alat komunikasi sekarang sudah canggih. Masa kau tidak tahu hal itu." Coco berdecak tak percaya.


"Astaga. Aku pikir kau sudah berubah menjadi jauh lebih dewasa, Paman. Ternyata dirimu masih sama saja," balas Miabella. "Jangan khawatir, Paman. Aku berjanji tak akan merepotkanmu. Aku bisa mempelajari semuanya sambil lalu. Belajar sambil praktik, itu akan jauh lebih baik daripada terlalu banyak teori," ujar gadis itu lagi seraya menyunggingkan senyuman manis.

__ADS_1


"Oh, kedengarannya jauh lebih bagus. Dengan begitu, kau tak perlu merepotkanku, Nona de Luca," sahut Coco dengan enteng.


Miabella tadinya akan menanggapi ucapan Coco. Namun, dia segera mengurungkan niat tersebut saat melihat Carlo yang tengah berjalan gagah ke arah mereka.


"Kau akan pergi, Carlo?" tanya Coco menoleh kepada pria tiga puluh empat tahun yang sudah siap dengan setelan khas anak motor.


"Iya, Tuan. Aku akan ke Milan sebentar," jawab Carlo. Sesaat kemudian, dia menatap kepada Miabella. "Aku tidak akan lama, Nona. Kuharap kau tetap berada di Casa de Luca. Kecuali jika dirimu ingin melihat wajah Benigno setiap saat," ucapnya kemudian. Sedangkan Miabella hanya mendengus kesal.


"Kau tidak perlu khawatir. Pengawas CCTV jauh lebih jeli sekarang. Lagi pula, kurasa gadis cantik ini sudah jera setelah kejadian kemarin malam," sahut Coco seraya melirik Miabella yang tak tertarik untuk menanggapi ucapannya. Gadis itu berlalu begitu saja tanpa permisi sama sekali.


"Astaga. Bagaimana kau bisa tahan berdekatan lama-lama dengannya?" Coco menggeleng tak mengerti.


"Nona Miabella adalah gadis yang baik. Sebenarnya dia sangat menyenangkan, tapi ... lebih seringnya menyebalkan." Carlo terkekeh sendiri atas ucapannya.


"Aku senang karena teryata kau masih normal," balas Coco yang ikut tertawa.


Setelah dari perkebunan dan berbincang sebentar bersama Coco, Carlo bergegas menuju motor yang sudah dia parkirkan di halaman depan Casa de Luca. Dia segera menaiki kuda besinya yang berharga fantastis. Motor besar itu diperoleh dari menyisihkan uang penghasilan yang dia dapatkan dari Adriano.


"Aku akan ikut denganmu," ucap Miabella tanpa meminta persetujuan sang pengawal terlebih dahulu. Dia langsung saja mengenakan helm full face lalu duduk di belakang pria itu.


"Helm siapa yang kau pakai?" tanya Carlo seraya menoleh ke samping.


"Aku meminjamnya dari bibi Francy. Dia mengatakan bahwa ini adalah helm bersejarah yang sudah lama tersimpan di dalam museum pribadi," sahut Miabella seraya terkikik pelan.


Sedangkan Carlo tak menanggapi lagi. Dia membetulkan letak kaca mata tadi, kemudian segera melajukan motornya hingga melewati gerbang pertama dan kedua Casa de Luca.


Selama dalam perjalanan menuju rumah singgah yang berada di pinggiran kota Milan, Miabella terlihat sangat ceria. Dia melingkarkan tangan dengan erat pada perut Carlo, dan terkadang mengganggu konsentrasi pria itu dalam berkendara. Akan tetapi, Carlo tetap berusaha untuk fokus meskipun Miabella tak jarang bersikap iseng padanya. Carlo hanya membalas kelakuan nakal putri dari majikannya tersebut, dengan cara membenturkan helmnya pelan pada helm yang Miabella kenakan.


Adegan manis itu terus berlangsung selama kurang lebih satu jam perjalanan dari Brescia menuju Milan. Namun, semua itu harus mereka sudahi ketika motor yang dikendarai oleh Carlo telah tiba di halaman rumah singgah yang sudah banyak mengalami perubahan. Sejak beberapa tahun terakhir, bangunan tersebut telah direnovasi sehingga menjadi tampak jauh lebih indah dan juga rapi.


Carlo dan Miabella turun dari motor, kemudian berjalan masuk. Sebaian besar teman-teman terdahulu Carlo sudah meninggalkan tempat itu dan memilih jalan mereka sendiri. Namun, Adriano selalu memantau apakah mereka telah hidup layak dengan penghasilan pribadi atau tidak, karena kebanyakan dari mantan anak-anak rumah singgah tersebut kerap datang setiap kali Adriano berkunjung ke Italia. Dari sanalah mereka bercerita tentang segalanya kepada pria yang telah banyak berjasa.

__ADS_1


"Carlo." Miranda yang sudah berusia senja begitu terharu saat melihat keberadaan salah satu anak asuhnya di sana.


"Miranda. Bagaimana kabarmu?" tanya Carlo segera memeluk wanita yang tengah duduk di atas kursi kayu dekat jendela kamar, sambil menghadap ke arah taman.


"Astaga, lama sekali kau tidak kemari. Padahal aku ingin sekali berbicara denganmu," ucap Miranda seraya menangkup paras tampan Carlo.


"Maafkan aku, Miranda. Aku sangat sibuk," sahut Carlo tersenyum lembut. "Lihatlah siapa yang datang bersamaku." Carlo menunjuk pada Miabella yang berdiri tak jauh dari mereka. Gadis itu tersenyum.


Miranda memperhatikan gadis cantik tadi dengan saksama. Sesaat kemudian, wanita yang seluruh rambutnya telah memutih itu segera tersenyum. "Apakah itu nona Miabella Conchetta?" tanyanya kepada Carlo.


"Ya, kau benar. Ingatanmu masih sangat tajam rupanya," sahut Carlo masih dengan senyuman lembut yang menjadi ciri khas pria rupawan tersebut.


"Dia adalah gadis cantik bermata indah. Aku akan selalu mengingat raut wajahnya yang lembut. Dia sangat mirip dengan nyonya Florecita Mia." Miranda tersenyum kepada Miabella, kemudian merentangkan tangan untuk menyambut gadis tadi.


Miabella yang awalnya merasa canggung, pada akhirnya mendekat dan memeluk Miranda untuk sesaat. Setelah itu, dia lalu berdiri di sebelah Carlo.


"Aku senang kau berkunjung kemari. Tadinya, jika kau tak datang juga, maka aku akan menitipkan barang itu kepada tuan D'Angelo," ucap Miranda pelan. Usia tua membuatnya tak bisa berbicara seperti dulu lagi.


"Barang apa, Miranda?" tanya Carlo penasaran.


"Saat kau meningalkan rumah singgah ini, aku segera merapikan tempat tidurnu. Dari sana aku menemukan sebuah bungkusan kecil berisi kalung dari platina dan juga sebuah pisau lipat. Aku tidak tahu sejak kapan bungkusan itu ada di sana. Namun, aku yakin jika benda tersebut adalah milikmu, karena di dalam liontin kalungnya terdapat foto saat kau masih bayi. Akan tetapi, nama yang tertera di sana bukanlah nama orang Italia," tutur Miranda yang kemudian menunjukkan raut penuh keheranan.


"Coba kau ambil bungkusan yang kumaksud tadi di dalam laci nomor dua dari atas," suruh Miranda seraya menunjuk ke arah tempat tidurnya.


Tanpa harus diminta dua kali, Carlo segera beranjak ke sana. Dia lalu membuka laci yang disebutkan oleh Miranda. Di dalam laci itu terdapat sebuah bungkusan dari kain yang diikat tali pada bagian atas.


Carlo segera mengambilnya dan kembali ke dekat Miranda. Dia lalu membuka tali yang terikat pada bungkusan kain tersebut. Di dalam bungkusan itu, Carlo mendapati sebuah pisau lipat beserta kalung. Sama persis seperti yang Miranda katakan tadi.


Pertama, Carlo memeriksa kalung berbahan platina dengan bandul berisi foto seorang bayi pada sebelah kanan, dan ukiran nama di sebelah kirinya. "Karl Mikhailov," gumam Carlo seraya mengernyitkan kening.


"Itu jelas bukan nama orang Italia," ucap Miabella yang sejak tadi hanya terdiam.

__ADS_1


"Kau benar, Nona," balas Carlo. Dia lalu mengambil pisau lipat dengan gagang berwarna merah dan berukir kepala serigala. Satu hal yang membuat Carlo terkejut ialah ukiran yang berada di sisi gagang pisau tersebut.


__ADS_2