
Adriano mengakhiri perbincangan bersama Jacob. Pria rupawan itu kembali melangkah ke dekat jendela kaca. Sepasang mata birunya memandang tajam ke luar, pada suasana malam kota Monte Carlo yang dihiasi oleh gemerlap lampu-lampu. "Di mana kau brengsek!" geram Adriano pelan.
"Bagaimana, Tuan?" tanya Pierre yang telah berdiri di dekat Adriano.
"Bagaimana menurutmu?" Adriano balik bertanya.
"Sepertinya, pria bernama Jacob itu tidak berani jika berhadapan langsung dengan Anda. Karena itulah dia melakukan semua trik kotor seperti ini," pikir Pierre. Pria asal Perancis itu juga ikut merasa jengkel atas semua yang telah Jacob lakukan.
"Harus kuakui bahwa dia cerdik dan juga licik. Jika bajingan itu tak ingin menemuiku secara langsung dan hanya bermain-main seperti ini, maka dengan terpaksa aku akan mengikuti permainannya hingga rekaman CCTV yang kuinginkan bisa kita dapatkan. Aku tak ingin ambil risiko. Aku yakin pria itu pasti akan membuktikan ancamannya, andai diriku tak mengikuti apa yang dia inginkan," tutur Adriano dengan tatapan menerawang. "Saat ini, dia pasti sedang mengawasiku dari suatu tempat. Sialnya aku tak bisa mengendus keberadaannya!"
"Bagaimana jika kita coba melacak di mana dia berada, saat nanti pria itu kembali menghubungi Anda?" usul Pierre.
"Aku sudah memikirkan hal itu, Pierre. Aku rasa Ricci bisa diandalkan untuk hal ini. Sayangnya dia masih terbaring di rumah sakit," sahut Adriano menanggapi. "Sementara menunggu dia pulih, maka aku akan sedikit bermain-main dengan Jacob. Akan kulayani keinginannya," ucap sang ketua Tigre Nero itu lagi.
"Lalu, apa yang akan Anda lakukan setelah ini?" tanya Pierre lagi. "Aku juga ingin meminta izin kepada Anda."
"Izin untuk apa?" Adriano mengalihkan pandangannya kepada sang ajudan setia.
"Kemarin aku mendapat kabar bahwa ayahku sedang sakit. Beliau sudah berusia senja. Lagi pula, aku sudah lama tidak melihat keadaannya," jawab Pierre dengan pelan dan sendu.
"Astaga, kenapa kau baru mengatakan hal itu? Pergi saja. Sampaikan salamku untuk tuan D'aurville. Sudah seharusnya kau menjenguk ...." Adriano tertegun sejenak. Pria berparas rupawan itu tak melanjutkan kata-katanya saat teringat akan pesan dari Gianna, yang meminta agar dia melihat keadaan Emiliano. "Aku akan kembali ke Italia setelah ini. Lebih baik sekarang kita beristirahat saja, karena besok pagi kita akan pulang ke mansion." Adriano menepuk pundak sang ajudan, sebelum dirinya berlalu ke bagian lain kamar tersebut.
Keesokan paginya, Adriano dan Pierre segera meninggalkan hotel itu. Mereka kembali ke mansion, karena sesuai rencana semalam bahwa Adriano akan bertolak ke Italia. Dia tak ingin membuat Mia khawatir, meskipun saat itu pikirannya pun sedang kalut karena memikirkan rekaman CCTV yang masih berada di tangan Jacob.
Setelah semua siap, Adriano langsung saja menuju landasan helikopter. Dia berpamitan kepada Pierre yang juga akan pergi ke Perancis. "Apa kau sudah memastikan keamanan mansion selama dirimu pergi?" tanya Adriano sebelum naik ke atas helikopter yang akan membawanya terbang ke Italia.
"Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Aku sudah menyiapkan keamanan berlapis. Mansion pasti akan terlindungi. Lagi pula, aku tidak akan pergi terlalu lama," sahut Pierre dengan yakin.
"Baiklah. Kau memang selalu bisa kuandalkan," balas Adriano seraya menepuk lengan sang ajudan setia. Setelah perbincangan singkat itu, Adriano pun segera masuk ke helikopter. Tak berselang lama, alat transportasi udara itu pun terbang membelah langit Monaco hingga tak terlihat lagi dari pandangan Pierre. Setelah Adriano pergi, pria bermata hijau tersebut kembali ke dalam mansion untuk mempersiapkan keberangkatannya.
Tak banyak waktu yang dibutuhkan oleh Adriano untuk tiba di Italia. Kurang dari satu jam saja, helikopter yang membawanya telah tiba di landasan Casa de Luca. Namun, tak ada yang menyambut kedatangannya, karena Adriano tak memberitahu siapa pun bahwa dia akan kembali pada hari itu. Setelah turun dari helikopter, sang ketua Tigre Nero melangkahkan kaki dengan gagah menuju bagian dalam bangunan Casa de Luca.
"Daddy Zio!" seru Miabella yang saat itu tengah bermain bersama Tobia dan Romeo, dengan ditemani para pengasuh. Gadis kecil tersebut segera berlari, menghambur ke dalam pelukan sang ayah. "Aku senang akhirnya kau pulang juga. Aku, Romeo, dan Tobia ingin makan es krim seperti yang waktu itu kau belikan, Daddy Zio," ucap anak bermata abu-abu tersebut dengan tangan yang masih melingkar di leher Adriano.
__ADS_1
"Oh tentu, Principessa," balas Adriano seraya mencium pipi putri sambungnya. "Apa ibumu ada di rumah?" tanya pria itu kemudian.
"Ibu masih di rumah sakit. Kata kakek, paman Ricci akan pulang besok. Kalau begitu ayo telepon ibuku dan suruh dia pulang," pinta Miabella setengah merengek.
"Aku akan menghubunginya nanti. Kau lanjutkan saja bermain dengan sepupumu. Aku harus bicara dengan paman Marco sebentar," balas Adriano. Setelah mencium pipi dan kening Miabella, pria bermata biru itu kemudian menegakkan tubuhnya. Namun, sebelum beranjak dari ruangan tadi, Adriano sempat berpesan pada kedua pengasuh yang menemani anak-anak bermain. "Tetaplah di dalam rumah. Sebisa mungkin kurangi bermain di luar," ucapnya.
Kedua pengasuh itu pun mengangguk tanda mengerti, saat menanggapi perkataan dari Adriano. "Baik, Tuan," jawab salah seorang dari mereka yang diketahui bernama Enrica.
Tanpa banyak bicara lagi, Adriano melanjutkan langkah menuju ke kamar yang ditempati oleh Marco. Kebetulan, saat itu dia berpapasan dengan Daniella. "Hai, Adriano. Kapan kau kembali?" tanyanya.
"Aku baru saja tiba," jawab Adriano. "Apa Marco sedang tidur?" tanyanya.
"Tidak. Dia sedang membaca. Kakinya sudah diperiksa oleh dokter dan suamiku harus beristirahat untuk beberapa hari. Beruntung karena demamnya sudah reda," terang Daniella. "Masuk saja. Lagi pula, aku harus melihat anak-anak dulu," suruhnya. Wanita bertubuh sintal itu pun berlalu dari hadapan Adriano, yang segera mengetuk pintu kamar Marco.
"Ada apa lagi, Sayang? Aku tidak turun dari tempat tidur," ucap Marco tanpa menoleh ketika ada seseorang yang masuk ke kamarnya. Pria itu terlalu sibuk dengan buku yang sedang dia baca.
"Apa Daniella juga membuatmu takut, Marco?" Adriano menanggapi ucapan sang ketua Klan de Luca sambil melangkah tenang ke dekat tempat tidur.
"Aku baru tiba beberapa saat yang lalu, tapi ternyata Mia masih berada di rumah sakit," jawabnya seraya mengambil kursi kayu yang berada di sudut ruangan, lalu dia letakkan di dekat tempat tidur. "Bagaimana lukamu?" tanyanya kemudian.
"Dokter mengatakan aku harus istirahat," jawab Marco.
"Ya, semua dokter mengatakan hal seperti itu," sahut Adriano.
"Ya, kau benar," balas Marco seraya meletakkan buku yang tadi dia baca di atas meja sebelah tempat tidur. "Jadi, bagaimana urusanmu di Monaco?" tanya ayah dua anak itu.
"Kacau," jawab Adriano dengan segera.
"Apanya yang kacau?" tanya Marco lagi.
"Jacob mengajakku untuk bermain-main. Pria itu ternyata sangat cerdik. Kurang ajar," gerutu Adriano.
"Kau tahu apa yang dia inginkan?" tanya Marco lagi.
__ADS_1
Adriano terdiam sejenak. Sesaat kemudian, pria tampan itu pun menceritakan maksud dan tujuan Jacob mengganggu dirinya. "Aku tidak mengerti kenapa harus diriku yang dia incar, padahal masih ada orang lain yang bisa dia andalkan," pikir Adriano.
"Apakah masuk akal jika dia berpikir bahwa flashdisk yang sedang dicarinya itu berada di tangan seseorang yang dekat denganmu?" terka Marco.
"Maksudmu? Siapa? Aku sama sekali tak ada bayangan tentang hal itu," bantah Adriano yakin.
"Entahlah. Aku rasa bisa saja, bukan? Mungkin karena itulah dia mengincarmu. Itu hanya perkiraanku," ujar Marco tenang, tapi membuat Adriano kembali berpikir.
"Kira-kira, siapa orang di dekatku yang ada kaitannya dengan Killer X?" pikir Adriano. "Aku rasa Jacob hanya ingin memanfaatkan kekuatan serta reputasiku saja untuk mempermudah jalannya. Dia ingin membangun kembali Killer X yang sudah hancur oleh Juan Pablo ...." Adriano seketika terdiam. Dia berpikir untuk beberapa saat.
Sementara Marco yang mendengar hal itu jadi merasa heran. "Juan Pablo lagi? Siapa sebenarnya dia? Aku benar-benar penasaran terhadap pria itu," ucapnya.
"Juan Pablo telah menghabisi Lionel yang merupakan ketua dari Killer X. Apa menurutmu ...." Adriano mengangkat sebelah alisnya.
Marco baru saja hendak menanggapi ucapan Adriano. Akan tetapi, saat itu Daniella masuk dan membuat obrolan kedua pria tersebut harus terhenti. "Mia baru saja datang. Dia menanyakanmu, Adriano," ucap wanita itu sambil meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja.
"Baiklah. Nanti kita lanjutkan," pamit Adriano seraya beranjak dari duduknya. Dia melangkah keluar kamar untuk segera menemui Mia. Sambil berjalan, Adriano merogoh ponselnya. Dia tertegun sejenak untuk menghubungi seseorang. "Sayang, kau di mana?" tanya pria itu. Rupanya dia menelepon Mia dan menanyakan keberadaan sang istri.
"Aku ada di kamar Miabella. Dia langsung memintaku untuk menemaninya tidur siang," jawab Mia.
"Baiklah. Aku akan ke sana," balas Adriano lagi yang kemudian menutup sambungan teleponnya. Pria tampan itu pun melanjutkan langkah menuju kamar sang putri. Setibanya di sana, Adriano segera mengetuk pintu. Setelah itu, barulah dia masuk.
Tampaklah Mia yang sedang menemani Miabella di atas tempat tidur. Gadis kecil itu sudah memejamkan mata, sehingga Adriano memilih untuk menunggu sambil duduk di sofa dekat jendela kaca, hingga Mia selesai menidurkan putrinya.
"Kapan kau datang, Adriano?" tanya Mia seraya menghampiri sang suami. Dia lalu duduk di dekat pria itu.
"Aku baru tiba sekitar beberapa saat yang lalu dan langsung menemui Marco," jawab Adriano seraya menatap lekat istrinya.
"Bagaimana urusanmu di sana? Apakah sudah selesai?" tanya Mia.
"Belum, Sayang. Semuanya jusrtru menjadi sangat kacau," jawab Adriano yang kemudian mengempaskan napas berat.
Sebuah bahasa tubuh yang dapat dipahami dengan baik oleh Mia. Dia semakin mendekat kepada sang suami, lalu menatap lekat pria itu. "Apa yang terjadi, Sayang?" tanyanya lembut.
__ADS_1