Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Miljana Manduzic


__ADS_3

Francesca masih belum mengerti alasan Coco yang tiba-tiba menolak untuk menikah dengannya. Hingga hari berganti, dia tidak juga mendapatkan penjelasan dari sang kekasih. Namun, gadis bermata hazel itu tak ingin terlalu memaksakan kehendaknya. Francesca sadar atas kondisi Coco. Karena itu, dia memilih untuk tidak membahas hal tersebut, hingga dirinya mendapat kabar dari Adriano bahwa Coco akan segera dibawa pulang ke Italia. Rasa bahagia kembali hadir dalam hati Francesca. Setidaknya, Coco akan terhindar dari Monique yang tak pernah absen menjenguk kekasihnya itu selama berada di rumah sakit. Terus terang saja, Francesca merasa terganggu dengan sikap berlebihan wanita berambut merah tersebut.


Semua persiapan untuk kepulangan menuju Italia telah selesai. Dua orang perawat sengaja Adriano sewa untuk menemani mereka selama di perjalanan. Coco yang hingga detik itu masih terbaring lemah, harus terus menumbuhkan semangatnya. Dia yang terbiasa melakukan segala sesuatu seorang diri, kini bahkan untuk meneguk minuman dari dalam gelas saja harus mendapatkan bantuan dari orang lain.


Dua orang perawat yang Adriano sewa tadi, telah selesai menyiapkan segala perlengkapan medis. Adriano begitu berterima kasih kepada Pierre yang telah mengurus segala sesuatunya dengan baik. Adriano mempercayakan semuanya kepada sang ajudan. Dia lebih memilih pulang pergi Italia-Serbia, karena tak ingin berjauhan dengan istrinya. Sementara Mia tak mungkin meninggalkan Miabella dalam waktu terlalu lama. "Kerja bagus, Pierre," puji Adriano sambil terus melangkah menuju kamar rawat Coco.


"Bukan hal yang sulit, Tuan," sahut Pierre sopan seraya terus mengekor langkah tegap majikannya hingga tiba di tempat yang dituju. Di sana, mereka mendapati Coco yang tengah ditemani oleh Francesca.


"Hei, Ricci. Bagaimana kabarmu hari ini?" sapa Adriano seraya mendekat ke ranjang di mana Coco terbaring.


"Buruk, Amico. Aku ingin segera bangun. Punggungku rasanya sangat panas," sahut Coco lemah. Dia memang belum bisa berkomunikasi seperti biasa. Keadaannya masih cukup lemah. Namun, tak lama kemudian pria berambut ikal itu menyunggingkan sebuah senyuman. "Luka bekas operasiku jadi bertambah banyak," ujarnya.


Seperti yang telah diketahui sebelumnya, bahwa dulu Coco pernah menjalani operasi dan perawatan di rumah sakit Palermo. Waktu itu, dia mengalami hal serupa ketika membantu Matteo saat menyerang mansion milik Silvio Moriarty. Tak disangka, kini dia harus mengalami hal yang sama saat membantu Adriano menyerang markas Nenad Ljudevit.


"Kau akan segera membaik, Ricci," ucap Francesca dengan seutas senyuman di wajahnya.


"Terima kasih, Francy," sahut Coco menoleh sesaat kepada gadis itu.

__ADS_1


Sesaat kemudian, terdengar suara dering ponsel milik Adriano. Nama Mia tertera di sana. Ibunda dari Miabella tersebut meminta agar bisa berbicara dengan sang adik. Adriano pun menyodorkan ponselnya kepada Francesca. "Aku permisi sebentar," ucap gadis bermata hazel itu seraya berlalu menuju pintu keluar. Namun, langkahnya sempat terhenti, ketika dia berpapasan dengan Monique. Wanita cantik berambut merah itu datang lagi untuk melihat keadaan Coco. Tanpa berbasa-basi, Francesca yang harus menerima telepon dari Mia kembali melanjutkan langkah. Sedangkan Monique masuk ke kamar perawatan.


"Selamat siang. Apa aku mengganggu?" suara lembut nan manja wanita cantik dengan rok span ketat itu telah berhasil membuat Adriano dan Pierre segera menoleh ke arahnya.


"Nona Monique," sapa Adriano tersenyum kalem saat wanita yang pernah menjadi asisten sekaligus kesayangan Nenad tersebut menghampiri mereka.


"Anda ada di sini juga?" Monique yang sudah berdiri di sebelah ranjang Coco, kembali memamerkan senyuman indahnya terhadap Adriano. Dia juga sempat mengangguk sopan kepada Pierre. Namun, tentu saja perhatiannya akan lebih tertuju kepada pria yang masih terbaring di atas ranjang. "Hai, Ricci. Bagaimana kabarmu hari ini?" sapanya seraya menyentuh punggung tangan Coco dengan lembut.


"Seperti yang kau lihat, Monique. Aku merasa sangat bosan," sahut Coco.


"Kau tidak usah khawatir. Zaman sudah sangat modern. Jarak antar negara tidak ada pengaruhnya sama sekali," sahut Coco diiringi senyuman kecil. Kondisinya yang belum terlalu fit, membuat Coco malas untuk bersikap konyol seperti biasanya.


Monique tersenyum lembut saat menanggapi ucapan Coco. Seperti yang selalu dia lakukan tiap kali menjenguk pria itu di rumah sakit, dia pasti akan memandangi paras rupawan Coco dengan sepuas hatinya. Tak terkecuali saat ini. Sikapnya telah membuat Adriano merasa heran. Pria itu menaikkan sebelah alis, lalu melirik Coco.


"Bolehkah aku bicara berdua saja dengan Ricci?" pinta Monique kepada Adriano. Namun, pria bermata biru itu tak segera menjawab. Dia kembali melirik Coco, seakan meminta pendapatnya. Coco memberi isyarat dengan mengedipkan mata seraya mengangguk pelan. Setelah melihat itu, Adriano dan Pierre pun beranjak keluar dari ruangan tersebut.


Kini, hanya ada Monique dan Coco di dalam sana. Monique memilih untuk tetap berdiri di sebelah ranjang. Namun, posisinya semakin mendekat kepada Coco. "Aku yakin, setelah berada di Italia nanti kau pasti akan melupakanku dengan cepat," ujarnya. Dia meletakkan bunga chamomile yang dibawanya di dekat tubuh pria itu.

__ADS_1


"Kenapa kau berkata begitu?" suara dan nada bicara Coco masih terdengar cukup lemah.


"Tentu saja, karena di sampingmu ada Francesca yang selalu setia merawat serta menemani. Dia kekasih yang baik, ya?" Monique mengakhiri ucapannya dengan sebuah senyuman getir. Sementara Coco hanya tersenyum kecil.


"Setelah kedatangan beberapa petugas kepolisian yang langsung menyegel Menara Hitam beberapa hari yang lalu, aku memutuskan untuk kembali ke lab. Rencananya kami akan melakukan penelitian untuk mencari penawar, bagi yang telah terpapar morphin hasil percobaan yang gagal kemarin. Rasanya sangat menyedihkan melihat orang-orang tak berdosa itu, ketika harus dikorbankan untuk menjadi kelinci percobaan Nenad. Aku semakin merasa jijik terhadap diriku sendiri," Monique yang tadi terus memperlihatkan senyuman lembutnya, kini tampak murung dan diliputi banyak penyesalan.


"Kau tidak harus merasa seperti itu, Monique. Apa Monique adalah nama aslimu?" tanya Coco.


Wajah murung Monique kembali berangsur sirna ketika mendengar pertanyaan tadi. Wanita cantik itu pun menggeleng pelan. "Namaku Miljana Manduzic. Monique adalah nama yang diberikan oleh Nenad. Menurutnya aku adalah wanita yang berprinsip, teratur, dan bisa memberikan pelayanan dengan tanpa batas," terang wanita itu seraya menyibakkan rambut merahnya.


"Ya, dan kau berambut merah," gurau Coco yang membuat Monique seketika tertawa renyah.


Sesaat kemudian, Monique menghentikan tawanya. Dia kembali menatap Coco dengan lembut dan penuh perasaan. "Mungkin kapan-kapan aku akan berkunjung ke Italia, jika semua urusanku sudah selesai. Aku selalu ingin pergi ke sana dan menikmati pantainya yang indah," ucapnya lagi.


"Datang saja. Italia negara yang ramah bagi siapa pun. Kau pasti akan menyukainya," balas Coco.


"Ya, aku pasti akan menyukai Italia," sahut Monique seraya menyentuh rahang berjanggut tipis Coco yang terlihat sangat kokoh. Dia juga mengusap-usapnya dengan lembut. Tanpa diduga, Monique membungkukkan tubuh indahnya hingga wajah cantik itu semakin mendekat. Aroma parfume yang lembut dan eksotis pun tercium dengan jelas di hidung Coco. Namun, semua itu menjadi tak berarti bagi pria tersebut, ketika dia merasakan sentuhan lembut bibir Monique.

__ADS_1


__ADS_2