
"Sudahlah, Mia. Bukankah kau telah mengetahui seperti apa perasaanku padamu. Kenapa kau masih saja meragukannya?" Adriano meraih pinggang ramping Mia ke dalam dekapannya dengan mesra. "Aku akan marah jika kau terus saja bersikap cemburu secara berlebihan seperti ini," ucap Adriano lagi dengan sikap yang tetap terlihat tenang.
"Aku tidak akan bersikap seperti ini andai saja kau tidak mengenal banyak sekali wanita dalam hidupmu," bantah Mia mencari alasan. Dia juga tak ingin jika dirinya disebut cemburu buta.
"Jadi, kau ingin diriku hanya mengenal pria saja?" ujar Adriano seraya menautkan alis. Sejujurnya jika saat itu Mia ingin sekali tertawa. Namun, dia masih bisa menguasai dirinya. Belum sempat Mia mengatakan sesuatu, Miabella telah lebih dulu menyela. "Ibu, aku ingin berpakaian," pinta gadis kecil tersebut dengan setengah merengek.
"Sebaiknya kau segera mendandani Miabella, agar kita bisa secepatnya berangkat ke Italia. Aku juga ingin mandi, karena ada banyak hal yang harus kubersihkan," ujar Adriano seraya tersenyum kalem. Tanpa berbasa-basi lagi, pria itu kemudian beranjak ke kamar mandi, sementara Mia membantu Miabella untuk bersiap-siap.
Selama perjalanan menggunakan helikopter, Mia sama sekali tak menghiraukan Adriano. Namun, demikian pria rupawan itu tetap mencoba menarik perhatian istrinya, seperti dengan menggenggam tangan ataupun mencuri-curi ciuman di pipi. Salah satu yang terhibur dengan pemandangan tersebut adalah Miabella. Dia bertepuk tangan dengan riang, ketika Adriano berhasil mencium paksa Mia. Kebahagiaan gadis kecil itu semakin bertambah ketika helikopter yang mereka tumpangi telah berhasil mendarat di landasan yang terletak di atap bangunan Casa de Luca.
“Apakah itu kakek Damiano? Di mana kakek Damiano?” Miabella sibuk menggerakkan kepalanya di jendela, mencari keberadaan Damiano.
“Tenanglah, Sayang. Kakek sudah menunggu di dalam rumah,” jawab Mia sambil memegangi Miabella. Mereka bertiga menunggu beberapa saat sampai anak buah Adriano melepaskan sabuk pengaman Mia dan Miabella, lalu membantunya turun. Sementara Adriano sendiri tengah sibuk memberi printah pada pilot helikopter yang juga merangkap sebagai ajudannya selama berada di Italia.
Setelah Mia dan Miabella beberapa langkah meninggalkan landasan, barulah Adriano turun dan setengah berlari menyusul mereka. “Sampai kapan kau akan terus merajuk, Cantik?” bisik Adriano mesra tepat di telinga Mia.
“Sampai kau bisa menjelaskan kenapa menyembunyikan kerja sama dengan Carina dariku,” jawab Mia dengan ketus. Saat itu, beberapa pelayan menyambut mereka bertiga. Beberapa di antaranya membawakan semua barang bawaan mereka yang cukup banyak.
“Aku tidak pernah menyembunyikan apapun. Aku hanya belum sempat menceritakannya padamu, Sayang,” elak Adriano sambil tertawa geli. Sekarang mereka tengah menuruni anak tangga menuju kamar.
Sesampainya di kamar tamu yang akan ditempati Mia dan Adriano selama di sana, pelayan-pelayan itu masuk terlebih dulu kemudian meletakkan sekaligus menata barang-barang bawaan Mia. Sedangkan Miabella sudah tak sabar hendak bertemu dengan sang kakek, sehingga gadis kecil itu memilih untuk berlari terlebih dahulu ke arah kamar Damiano dan meninggalkan pasangan suami istri itu.
__ADS_1
“Oh, Mia,” Adriano menarik tubuh Mia hingga berbalik dan berhadapan dengannya. “Sebesar itukah cintamu padaku, sehingga rasa cemburumu sangat menggebu-gebu seperti ini?” godanya sembari mendekatkan bibirnya pada Mia. Akan tetapi, Adriano terpaksa menghentikan gerakannya ketika beberapa pelayan beranjak keluar dari dalam kamar tamu.
“Hentikan, Adriano. Aku sedang tidak ingin bercanda,” tolak Mia. Dia mendorong tubuh atletis suaminya hingga mundur beberapa langkah ke belakang. Namun, Adriano tak menyerah. Dia kembali mendekat kepada Mia, lalu memeluk tubuh rampingnya erat-erat.
“Aku sudah mengatakan kepada Patrizio agar sebisa mungkin tidak mempertemukanku dengan Carina secara langsung. Aku akan menjaga jarak darinya, Sayang. Apapun akan kulakukan asal dapat membuatmu tenang,” bujuk Adriano. Dia lalu menangkup wajah cantik sang istri dan menatapnya lekat-lekat. “Jangan pernah berpikiran macam-macam padaku, Mia. Sejak dulu, semua adalah tentangmu. Oleh karena itu, ketika aku berhasil mengikatmu dalam pernikahan, maka aku tak menginginkan siapa pun lagi selain dirimu,” Adriano mencium bibir Mia demikian lembut dan penuh perasaan.
“Meskipun setiap hari kau selalu dikelilingi wanita-wanita cantik berpinggul besar dan berdada montok?” ujar Mia seraya menautkan alis, membuat Adriano tertawa lebar.
“Astaga, Miaku. Jika mau, sudah dari dulu aku mengoleksi wanita seperti halnya Silvio, tapi aku tidak pernah menjalin hubungan secara serius dan mendalam dengan siapa pun. Setiap kali aku berusaha dekat dengan seseorang, saat itu pula aku selalu teringat akan sosokmu. Lihatlah, Sayang. Sebesar inilah pengaruhmu terhadapku,” kata-kata manis Adriano berhasil menghipnotis Mia, membuat wanita itu merasa begitu tersanjung.
“Kenapa, Adriano? Aku hanyalah wanita biasa dan sederhana. Aku bukan wanita karier seperti halnya Bianca, atau artis cantik dan terkenal macam Carina. Aku hanyalah penjaga kedai kecil di sudut kota Venice,” suara Mia terdengar bergetar.
“Ehm, sampai kapan kalian berdua akan berbuat mesum di sini? Damiano sudah menunggu kalian sejak tadi, sampai-sampai Miabella memaksaku untuk menjemput kalian berdua,” ucap Coco yang tiba-tiba sudah berdiri di depan mereka, menghentikan aktivitas mesra keduanya.
“Kami akan segera ke sana,” Adriano melepaskan ciumannya, tapi tak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari Mia. “Ayo,” pria tampan itu menyodorkan lengan agar Mia dapat menggandengnya dengan leluasa di sana. Mereka berjalan cepat menuju kamar Damiano.
0Benarlah apa yang dikatakan Coco, pria tua itu tampak was-was memandang ke arah pintu, lalu tersenyum lebar ketika Mia dan Adriano masuk. “Maafkan mereka, Pak Tua. Mereka sudah terlalu lama tidak singgah di sini, sehingga lupa jalan kemari,” gurau Coco.
Tampak pula, Miabella yang tengah memeluk manja sang kakek. Balita itu seakan tak ingin melewatkan waktu sedikit pun ketika bertemu dengan Damiano, yang terlihat lemah. Dia jauh lebih kurus dari saat terakhir kali bertemu dengan Mia.
“Astaga, Paman. Apa yang terjadi padamu?” Mia segera menghambur dan memeluk pria yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang. Isakannya mulai terdengar. Rasa sesal yang teramat sangat mulai menyeruak akibat beberapa hari terakhir, dia jarang melakukan panggilan video dengan pria yang sudah dianggapnya sebagai ayah sendiri itu. Selama ini, Mia hanya lebih sering berkirim pesan dengan pria tersebut.
__ADS_1
“Aku hanya kelelahan, Nak. Tenanglah. Tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan,” hibur Damiano.
“Jaga kesehatan, Damiano. Banyak yang masih membutuhkanmu. Tenagamu tak seperti dulu. Sudah saatnya kau beristirahat dan melepaskan pekerjaan berat di perkebunan,” Adriano yang sedari tadi terdiam, ikut buka suara.
“Ya. Semua sudah kuserahkan kepada Coco. Ayahmu juga turut membantunya dalam menjalankan semua pekerjaan,” sahut Damiano.
“Apakah dia bersikap baik selama ini?” tanya Adriano yang terdengar agak ragu.
“Dia pria yang sangat baik dan profesional dalam pekerjaan. Aku sungguh menyukainya,” jawab Damiano, sementara tangannya mengusap-usap lembut puncak kepala Miabella yang duduk di sampingnya.
“Syukurlah,” Adriano tersenyum seraya mengembuskan napas lega. Dia hendak mengatakan sesuatu lagi, ketika ponselnya berdering. “Maaf, aku harus menjawab ini,” dia mengarahkan layar ponselnya pada Mia agar istrinya itu dapat melihat dengan jelas siapa nama yang orang menghubunginya. “Pronto, Patrizio,” sapanya sembari melangkah menjauh dari ranjang Damiano. “Baiklah, aku akan ke sana,” tutupnya, lalu memandang Mia penuh arti. “Patrizio mengajak bertemu. Masalah pekerjaan,” jelasnya dengan mimik muka lucu.
“Pergilah,” Mia tersenyum lembut. Dalam hati dia ingin belajar untuk meredam rasa cemburunya yang berlebihan.
“Baiklah, kalau begitu. Aku akan kembali sebelum makan malam. Cepatlah sembuh, Damiano, karena aku sudah berencana untuk mengajakmu berlibur ke Yunani,” Adriano berjalan mendekati Damiano, lalu menepuk lengannya pelan.
“Aku baik-baik saja, Nak. Jangan khawatir,” balas Damiano. Matanya sedikit berbinar kala Adriano berjanji akan mengajaknya ke Yunani.
“Apa tawaran liburan itu hanya berlaku untuk Damiano saja, atau ….” celetuk Coco yang sedari tadi hanya diam dan mengawasi interaksi antara Adriano dengan Damiano.
“Semua boleh ikut. Tak ada salahnya sekali-sekali kita melepas penat dan melupakan rutinitas untuk sejenak,” jawab Adriano. “Aku pergi dulu,” pamitnya. Dia mengusap kepala Miabella, lalu mengecup kening Mia sebelum berbalik dan meninggalkan kamar Damiano.
__ADS_1