Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Ancaman Serius


__ADS_3

Adriano meremas surat itu, lalu membuangnya ke tempat sampah. Dia lalu menyusul Mia ke dapur dan mendapati istrinya tengah menyajikan hidangan makan siang bersama Miabella yang dibantu oleh beberapa orang pelayan. "Apakah ada yang bisa kubantu, Sayang?" tanyanya.


"Tidak ada. Semua sudah siap, Adriano," jawab Mia. "Duduklah," suruh wanita cantik itu menggeser kursi agar Adriano dapat duduk di sebelah Miabella.


"Grazie, Mia," ucap Adriano menatap istrinya penuh cinta, lalu berfokus pada Miabella yang asyik memotong pasta dengan sendok. "Apa kau bisa, Sayang? Apa kau mau kupotongkan untukmu?" tawarnya.


"Tidak usah, Daddy Zio. Aku bisa sendiri. Aku sudah besar," celoteh Miabella seraya memasukkan sesendok penuh pasta ke dalam mulutnya. Adriano lalu tersenyum dan membelai rambut anak itu penuh kasih.


Selesai makan siang, Mia segera berkemas dan kembali lagi ke rumah sakit bersama Adriano. Sesampainya di kamar perawatan Coco, dia memberikan semua barang-barang yang dipesan oleh Francesca. "Terima kasih, Mia," ucapnya. "Oh ya, Adriano. Jacob tadi datang kemari," ujar Francesca saat dia melihat Adriano hendak keluar dari kamar perawatan.


"Siapa?" Adriano segera berbalik dengan sorot tajam.


"Jacob. Sahabatmu yang pernah berbincang denganku dan Mia melalui panggilan video," jelas Francesca. "Dia juga memberikan ini untukmu." Gadis itu menyerahkan sebuah amplop putih pada kakak iparnya.


Seketika tubuh Adriano menegang. "Di mana dia?" tanyanya dengan intonasi dingin dan datar.


"Tadi dia menemuiku kemari. Dia pulang sesaat sebelum kalian datang," jawab Francesca.


Adriano langsung menyambar amplop putih di tangan Francesca. Dia lalu berlari keluar area rumah sakit. Tentu saja hal itu membuat Mia dan Francesca terheran-heran.


Tujuan Adriano adalah mengejar sosok Jacob. Jika berdasarkan keterangan Francesca, maka tentunya pria misterius itu belum pergi terlalu jauh. Ternyata, tebakan Adriano benar adanya. Di tepi jalan raya yang berada tepat di depan rumah sakit, dia melihat Jacob tengah melambaikan tangan dari seberang.


Tak ingin membuang waktu, Adriano melintasi jalan raya yang ramai itu untuk menghampiri Jacob. Sayangnya, sosok itu telah menghilang ketika Adriano tiba. "Sialan!" umpatnya. Hampir saja dia meremas amplop itu. Namun, Adriano sadar bahwa dia belum mengetahui isinya.


Dengan kasar, Adriano menyobek bagian pinggir amplop. Jantungnya berdegup kencang, ketika dia melihat isi dari amplop tersebut yang penuh dengan foto Miabella. Anak itu sedang asyik bermain dengan kedua sepupunya. "Brengsek!" gerutu Adriano dengan kencang. "Di mana kau, Jacob!" serunya. Ini adalah pertama kalinya Adriano kehilangan kontrol emosi. Selama ini dia tak pernah menunjukkan amarah yang menggebu-gebu. Sikapnya yang tenang dan kalem, sama sekali tak tampak saat itu.


Di tengah kekalutannya tersebut, ponsel yang dia simpan di saku celana berdering. Adriano membaca deretan angka yang tak dikenal pada layar. Dengan segera, dia menjawabnya. "Pronto!"


"Halo, sahabatku. Langkahmu kurang cepat. Untuk mengejarku, kau harus lebih gesit dari ini," ledek Jacob entah dari mana.

__ADS_1


"Apa maumu, brengsek? Untuk apa kau mengambil foto Miabella! Dia tidak ada hubungannya dengan urusan kita!" maki Adriano.


"Aha, sekarang aku tahu kelemahanmu, gadis kecil itu." Jacob terkekeh pelan.


"Kau ...."


"Datanglah ke Hotel Trevi besok jam delapan malam tepat, jika kau tak ingin aku memotret putri kecilmu lagi atau mungkin bisa lebih dari itu," tegas Jacob yang memotong perkataan Adriano, lalu menutup panggilannya begitu saja.


"Apa-apaan ini!" geram Adriano. Belum selesai permasalahan Coco, sekarang muncul lagi masalah baru yang harus dia selesaikan. Adriano membeku tiba-tiba. "Mungkinkah?" pikirnya seraya kembali memasuki area rumah sakit dan terus menuju kamar Coco. Beruntung, saat itu pria berambut ikal tersebut tidak sedang tertidur. Dia tengah disuapi oleh Francesca. "Francy," panggil Adriano. "Di mana Mia?"


"Ah, dia tengah pergi ke kantin. Mia sedang membelikanku makan siang," jawab Francesca sambil tersenyum ramah.


"Francy, bisakah kau susul Mia? Tolong temani dia sebenar saja. Biar aku yang menyuapi Ricci," pinta Adriano.


"Tapi ...." Francesca terlihat ragu.


"Kumohon, Francy. Aku tak ingin Mia sendirian," kilah Adriano.


Adriano terus menunggu sampai Francesca benar-benar tak tampak dari pandangan, lalu bergegas mendekati Coco.


"Ada apa lagi, Amico?" tanya Coco. Dia curiga dengan gelagat aneh yang diperlihatkan oleh Adriano.


"Dengar, Ricci. Sepertinya aku tahu siapa orang yang telah mengirim foto-fotomu bersama Monique kepada Francesca," bisik Adriano seraya meraih piring. Gerakannya begitu kaku saat menyuapi Coco, sampai-sampai pria yang tengah terbaring tak berdaya itu tersedak.


"Pelan-pelan, Adriano! Apa kau ingin membunuhku!" protes Coco. "Sudah, hentikan! Biar Francy saja yang menyuapiku nanti!" tolaknya. "Sekarang jelaskan siapa yang mengirim foto-foto itu?"


"Jacob! Tadi pria itu datang menjengukmu dan memberi titipan ini pada Francesca." Adriano mengeluarkan foto-foto Miabella dan menyodorkannya kepada Coco.


"Astaga! Kapan dia menjengukku? Aku sama sekali tidak tahu," elak Coco.

__ADS_1


"Mungkin saat kau tertidur. Yang jelas, dia sudah bertemu dengan calon istrimu dan memberikan foto-foto ini untuk ditunjukkan kepadaku," terang Adriano.


"Bagaimana caranya dia mendapatkan foto ini? Kau tahu sendiri bahwa pengamanan Casa de Luca teramat ketat. Apalagi sejak peristiwa waktu itu," pikir Coco dengan heran.


"Apakah menurutmu foto-foto itu diambil dari kamera drone, atau mungkin memakai kamera tele yang bisa menangkap gambar dari jarak jauh?" tanya Adriano setengah menduga-duga.


"Sepertinya ini diambil dari kamera tele, karena drone tak mungkin bisa terbang di atas kawasan Casa de Luca. Aku sudah memasang sensor khusus yang berbunyi seperti alarm ketika ada benda tak dikenal terbang di atas langit bangunan dan perkebunan," jelas Coco.


"Berarti dia sudah mengawasi semenjak kita bertiga pulang dari Kroasia," geram Adriano. "Aku tak pernah kecolongan seperti ini, Ricci," sesalnya.


"Jadi, dia juga yang iseng megirimkan foto-foto ciumanku bersama Monique?" terka Coco. "Lalu, untuk apa?" tanyanya ragu sembari menggeleng pelan.


"Aku tidak tahu apa tujuannya. Namun, dari awal dia memaksaku untuk membantunya mencari flashdisk," jawab Adriano.


"Lalu, bagaimana?" Coco mencoba untuk sedikit menegakkan tubuh, lalu kembali memandang serius pada Adriano.


"Dia memaksaku untuk bertemu di Monte Carlo besok. Kalau tidak ... Miabella ...." Adriano mengepalkan tangannya. Dadanya langsung bergerumuh hanya dengan membayangkan pria aneh itu tengah mencuri foto-foto putri kecilnya.


"Kalau begitu, temui saja dia dan segera habisi!" saran Coco. "Aku yakin kau memiliki kemampuan untuk itu."


"Begitukah?" Bimbang Adriano menerima masukan dari pria berambut ikal tadi.


"Ya, Amico! Sudah jelas bahwa dia berniat tidak baik pada kita. Entah apa tujuannya. Menurutku, segera pastikan lalu habisi dia!" tegas Coco yang segera membungkam mulutnya saat pintu kamar perawatan itu terbuka.


Mia dan Francesca memasuki kamar sambil membawa beberapa bungkusan makanan. "Kubawakan camilan untuk teman nanti malam, supaya Francy tidak mengantuk," ucap Mia dengan ceria.


Adriano dan Coco tak menanggappi. Mereka hanya diam sambil saling pandang. Walaupun Adriano tak mengucapkan sepatah kata pun, tetapi Coco seakan mengerti apa yang tengah pria bermata biru itu pikirkan. "Menurutku kau harus menyelesaikan urusanmu, Amico. Kau tahu, 'kan? Pria-pria beristri harus lebih banyak menghasilkan uang daripada pria lajang," ujar Coco tiba-tiba, membuat Mia dan Francesca mengernyitkan kening. Begitu pula Adriano yang tak paham maksud dari Coco. Namun, dia tetap berpura-pura mengerti.


"Apa maksudnya ini, Ricci?" tanya Mia yang mulai penasaran.

__ADS_1


"Oh, tidak apa-apa, Mia. Pierre tadi menelepon suamimu dan mengabarkan bahwa terjadi sedikit masalah pada klub malam Adriano di Monaco. Dia harus datang atau klubnya akan menderita kerugian. Kau tentunya tak ingin suamimu merugi, 'kan?" tutur Coco dengan senyuman lebar, membuat Adriano sedikit terbelalak dengan alasan yang baru saja dibuat oleh Coco. Dia segera saja mengangguk untuk meyakinkan Mia.


__ADS_2