Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Vita Per La Vita


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang dari pemakaman menuju mansion, Adriano ataupun Arsen tak banyak bicara. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Terutama Adriano, yang saat itu fokus pada jalanan yang dilaluinya. Wajah tampan pria itu seakan tengah menyiratkan beban yang telah berhasil menyita perhatian. Diam-diam, Arsen memperhatikan perubahan raut pria yang berada di belakang kemudi tersebut.. “Apa yang kau pikirkan?” tanyanya.


“Menghabisi Nenad secepatnya. Instingku mengatakan bahwa pria itu berbahaya. Aku yakin Don Vargas tidak mati di tangan Nenad sendiri, melainkan di tangan anak buahnya,” jawab Adriano dengan tangan yang lihai memutar kemudi.


“Lalu, bagaimana? Apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Arsen lagi.


“Entahlah. Saat ini aku masih belum bisa pergi ke manapun. Mia melarangku keluar terlalu jauh dari mansion,” keluh Adriano yang membuat Arsen seketika terbahak. Pria tampan berambut gelap itu terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya.


“Astaga, aku tak bisa mempercayai ini,” ucap Arsen seraya mengusap matanya yang berair. “Kau, ketua klan Tigre Nero yang terkenal dan berkuasa. Sekarang kau harus tunduk pada istrimu. Setakut itukah kau pada sosok bernama ‘istri’?” ledeknya enteng.


“Kau lupa jika kau juga sekarang sudah mempunyai seorang istri?” dengus Adriano kesal. Saat itu, kendaraannya sudah memasuki halaman depan mansion. Di teras bangunan megah itu, tampaklah Mia yang sudah menunggu. Wanita cantik itu berdiri pada undakan anak tangga terakhir dengan wajah cemas. Di samping Mia, berdiri pula Olivia yang tengah menggandeng Miabella.


“Jangan samakan aku dengan dirimu, Adriano. Meskipun sekarang aku telah menikah, tapi aku tidak pernah tunduk pada istriku. Istriku lah yang tunduk padaku,” balas Arsen pongah. Tanpa menunggu Adriano, Arsen segera membuka pintu mobil dan turun lebih dulu. Dia berniat untuk merengkuh dan memeluk Olivia setelah sebelumnya menyapa Mia.


Akan tetapi, Arsen tak menduga jika Olivia malah mundur sambil merengut. “Kenapa kau tak membawa ponsel? Aku jadi tidak bisa menghubungimu. Sudah kukatakan berapa kali bahwa kau harus membawanya ke manapun,” omel Olivia tanpa segan, walaupun di sana ada Mia dan juga Adriano.


Kini giliran Adriano yang tertawa mengejek, sementara Arsen hanya mampu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Setelah itu, Adriano beralih pada Miabella yang berusaha menyambutnya. “Daddy Zio, aku tadi menggambar lebah bersama bibi berambut hitam,” ucap balita cantik itu.


“Oh, ya? Bolehkah aku melihatnya,” Adriano mengangkat tubuh mungil Miabella lalu menggendongnya. Sementara satu tangan lainnya dia lingkarkan di pinggang ramping Mia seraya berbisik, “Kenapa lagi, Sayang? Apa yang kau cemaskan?”


“Aku takut kau menyelinap pergi dengan diam-diam,” Mia balas berbisik.


“Memangnya aku mau menyelinap ke mana?” Adriano terkekeh sambil menuntun isrinya masuk ke dalam mansion. Hal itu tak lepas dari perhatian Olivia yang berjalan di belakang pasangan suami istri tersebut.


Ketika mereka sudah melewati pintu masuk, Arsen segera menarik tangan Olivia dan membawanya ke taman samping. Sedangkan Adriano memilih untuk menuruti ajakan Miabella yang ingin menunjukkan gambarnya di ruang baca.


“Rupanya kau masih menyimpan perasaan padanya,” ucap Arsen.

__ADS_1


Seketika Olivia terkejut dan menoleh pada sang suami. Mata indahnya membulat sempurna, tak menyangka jika Arsen akan berkata demikian.


“Apa maksudmu? A-aku tidak mengerti,” Olivia tergagap.


“Sudahlah, jangan ditutup-tutupi, Olive. Sejak awal aku tahu jika kau memiliki perhatian lebih pada Adriano,” Arsen menunduk. Matanya menerawang menatap tanah berumput yang dia pijak.


“Ya, itu benar. Akan tetapi, itu dulu saat aku belum … aku belum .…” tenggorokan Olivia tercekat, padahal sedikit lagi dia akan mengungkapkan perasaannya.


“Belum apa?” Arsen tertawa getir. Tanpa menunggu jawaban istrinya, dia berniat untuk branjak dari sana.


“Tunggu!” cegah Olivia. Tangan kanannya menarik samping blazer Arsen, membuat pria itu tertegun seraya mengempaskan napas pelan.


“Ka-kau salah! Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya. Memang, kuakui jika dulu … aku ….” Olivia kembali terbata. Wajah cantiknya dia sembunyikan dari Arsen dengan cara menunduk.


“Sudahlah, tak perlu kau paksakan, Olive. Tidak apa-apa. Aku bisa memahaminya,” sahut Arsen pelan sambil melepaskan tangan Olivia dari blazernya secara perlahan. Dia juga bermaksud untuk melanjutkan langkah dan berlalu dari sana.


Arsen terperanjat atas pengakuan sang istri. Pria itu langsung berbalik menghadap kepada Olivia. “Benarkah itu, Olive? Kau sudah mulai jatuh cinta padaku?” tanyanya dengan raut tak percaya.


“Astaga! Tentu saja! Kau suamiku! Meskipun awalnya kita … kita ….” Olivia kembali kesulitan mengungkapkan perasaannya.


Namun, Arsen tak memedulikan hal itu. Dia terlalu bahagia karena Olivia sudah mulai jujur padanya. Dia meraih tubuh Olivia dan memeluknya erat. “Terima kasih, Olive. Terima kasih. Aku berjanji akan menjadi yang terbaik untukmu." Selesai berkata demikian, Arsen mengurai pelukan dan memindahkan kedua tangannya pada pipi Olivia. Ditangkupnya wajah sang istri dan ditatapnya lekat-lekat. “Sebenarnya aku juga baru menyadari satu hal,” ungkap Arsen.


“Apa itu?” Olivia tersipu saat wajah Arsen bergerak semakin dekat padanya.


“Sepertinya aku telah jatuh cinta padamu, sejak kau bersedia menerima lamaranku,” jawab Arsen lirih. Dia lalu mencium bibir istrinya dengan begitu lembut dan juga hangat.


“Ehm, apakah aku mengganggu?” suara berat Adriano seketika membuyarkan suasana romantis pasangan suami istri itu.

__ADS_1


Olivia buru-buru melepaskan tautannya. Dia lalu menunduk dan bersembunyi di belakang tubuh sang suami.


“Astaga, kenapa kau selalu saja mengganggu di saat yang tidak tepat?” keluh Arsen.


“Maaf, aku sama sekali tidak bermaksud mengganggu kalian. Miabella ingin agar aku memanggilkan Olivia untuknya. Dia mengatakan ingin menggambar boneka bersama istrimu,” jelas Adriano.


“Baiklah, aku akan segera ke sana,” dengan wajah yang masih menunduk, Olivia bergegas pergi meninggalkan suaminya. Tanpa kata, dia melewati Adriano begitu saja.


Kedua pria itu terus memperhatikan langkah Olivia, hinggasosok cantik tadi tak terlihat lagi. Adriano baru mengalihkan perhatiannya ketika Arsen menyadarkan dengan cara menepuk pundak sambil betkata, “Jangan memandang istriku seperti itu atau aku akan cemburu!” ujarnya mengingatkan.


“Ya, ampun. Aku hanya merasa heran kenapa tiba-tiba saja dia bersedia menikah denganmu,” Adriano tergelak, kemudian merengkuh pundak Arsen. “Ayo, ikutlah denganku. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu,” setengah memaksa, Adriano mengajak Arsen ke ruang kerjanya di lantai bawah.


Sesampainya di pintu masuk, Adriano menekan ibu jarinya di mesin pengunci otomatis. Beberapa detik kemudian, pintu itu terbuka. “Aku mempunyai koleksi sampanye baru,” ujarnya seraya mengarahkan Arsen pada rak minuman yang terlihat mewah di sudut ruangan. Dia lalu membuka tutup rak yang terbuat dari kaca dan mengambil sebuah botol yang berdesain cantik. Adriano juga mengambil sebuah gelas kristal, kemudian menyodorkannya kepada Arsen. Setelah itu, dia mengambil satu gelas lagi untuk dirinya.


Pelan-pelan, pria bernata biru itu menuangkan minumannya pada gelas yang dipegang oleh Arsen, kemudian menuangkan pada gelasnya sendiri. “Ini tentang Nenad,” Adriano mengulurkan tangan ke arah sofa, sebagai isyarat bagi Arsen agar duduk di sana. Dia lalu meletakkan botol di atas meja, kemudian duduk di dekat Arsen dengan gagah. “Seperti yang pernah kukatakan padamu sebelumnya, Nenad adalah awal penyebab Matteo terbunuh. Mengungkap siapa dia yang sebenarnya sama dengan mengungkap semua jaringan di belakangnya. Bisa saja hal itu dapat menuntunku pada sosok Elang Rimba,” tutur Adriano.


“Kenapa kau masih saja terobsesi pada sosok misterius itu, Adriano?” Arsen menggeleng pelan.


“Karena dia adalah kunci di balik kematian Matteo de Luca. Don Vargas sudah berjanji untuk mempertemukanku dengannya, tapi dia malah mati lebih dulu,” jawab Adriano datar.


“Bukankah Mia sudah mencabut perjanjian pra nikah kalian?” ujar Arsen.


“Ya, tapi .…” Adriano mengusap dagunya. “Entah kenapa, tiba-tiba aku tak bisa berhenti bergerak untuk mengungkap kasus kematian Matteo. Aku ingin memberikan sedikit keadilan baginya,” imbuh Adriano.


“Kau seharusnya tahu jika itu bukan tanggung jawabmu,” ujar Arsen lagi.


“Ya, aku tahu itu. Namun, aku merasa berutang budi padanya. Matteo seakan menjadi jembatan yang menyatukanku dengan Mia. Lagi pula, dengan mengungkapkan kasus ini, aku turut membantu penyelidikan seorang detektif yang juga tengah berjuang untuk mencari pembunuh ayahnya,” kilah Adriano. “Para pengecut itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Nyawa harus dibalas dengan nyawa,” raut ramahnya berubah menjadi dingin hanya dalam hitungan detik.

__ADS_1


__ADS_2