Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
La Casa Di Papà


__ADS_3

Senyuman hangat dan penuh haru dari Damiano, menyambut kedatangan mereka yang baru turun dari helikopter. Miabella tampak berlari ke arah Damiano dan segera menghambur ke dalam pelukan pria paruh baya itu. Tak henti-hentinya, pria dengan rambut dan janggut yang sudah memutih itu menciumi wajah sang cucu kesayangan.


"Apa kabar, Paman?" sapa Mia dengan mata berkaca-kaca sambil merangkul Damiano.


"Tidak pernah sebaik ini, Nak," Damiano membalas pelukan Mia untuk sejenak. Setelah itu, dia menyalami Adriano.


"Kau tidak rindu padaku, Damiano?" Coco yang merasa diabaikan langsung protes.


"Ah, iya. Tentu saja aku sangat merindukanmu," Damiano menepuk pundak Coco. Dia lalu membawa para tamu untuk masuk.


Tadinya, Adriano ingin menginap di apartemen yang telah sekian lama tidak dia kunjungi. Akan tetapi, Miabella tampak sangat merindukan Casa de Luca. Akhirnya, Adriano mengalah dan ikut menginap di sana, hingga tanpa terasa dua hari pun telah berlalu dengan menyenangkan.


Miabella juga tak henti-hentinya melepas rindu dengan Damiano. Gadis kecil itu bercerita tentang banyak hal, terutama pengalamannya saat berjalan-jalan ke Amerika. Damiano begitu antusias mendengarkan cerita dari cucu kesayangannya. Dia tak juga menurunkan Miabella dari atas pangkuan, meski gadis kecil itu kini terasa semakin berat. “Apa kau selalu makan banyak selama tinggal di Monaco, Bella?” tanya pria tua itu lembut.


“Ya, Kakek. Daddy zio selalu memaksaku agar menghabiskan makanan yang sudah disediakan oleh bibi berambut hitam,” jawab Miabella polos. “Kakek tahu? Aku punya gaun Cinderella yang sangat cantik, tapi kata ibu gaun itu tidak usah dibawa kemari. Padahal aku ingin menunjukannya kepada Kakek,” ujar gadis itu lagi.


“Nanti saat kau memakai gaun cantik tadi, mintalah kepada ibumu agar dia mengambil foto sebanyak mungkin. Setelah itu, kirimkan foto-fotonya padaku,” ucap Damiano menanggapi ocehan Miabella dengan diiringi senyuman hangat.


“Aku ingin Kakek ikut ke rumah daddy zio. Di sana halamannya sangat luas. Kakek bisa menanam anggur yang banyak,” ucap Miabella lagi yang seketika membuat Damiano tertawa lucu. Celotehan polos gadis kecil itu, sungguh membuatnya merasa terhibur.


“Mungkin kapan-kapan, Nak. Aku baru bisa pergi andai saja ada seseorang yang bersedia untuk mengawasi urusan perkebunan,” balas pria dengan rambut dan janggut yang sudah memutih itu seraya melirik kepada Coco.


Coco tak memedulikan perbincangan mereka berdua. Pria bermata cokelat tersebut tampak sedang asyik menonton video melaui layar ponselnya. Namun, dia dapat memahami makna dari ucapan Damiano. Pria paruh baya tersebut sudah sering kali meminta Coco, untuk menggantikannya mengurus perkebunan dan segala hal yang berkaitan dengan produksi anggur. “Jangan melihat ke arahku, Kakek,” ujar Coco tanpa menoleh, membuat Damiano hanya dapat mengempaskan napas seraya menggeleng pelan.


“Paman Coco memang menyebalkan. Aku akan mengadukannya jika ayah pulang nanti,” ucap Miabella yang seketika membuat Coco tertegun. Dia lalu mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel kepada Miabella. Setelah itu, dirinya kemudian saling pandang dengan Damiano.


“Memangnya kau akan mengatakan apa kepada ayahmu, Bella?” tanya Coco dengan nada bicara yang terdengar berbeda dari sebelumnya.

__ADS_1


“Aku akan mengatakan jika Paman tidak suka membantu kakek,” jawab Miabella seraya turun dari pangkuan Damiano.


“Hei, kau hendak ke mana, Bella?” Damiano memegangi tangan gadis kecil itu.


“Aku ingin melihat ibu. Katanya hari ini dia akan mengajakku ke rumah ayah,” sahut Miabella sambil berlari dan melompat-lompat kecil menuju kamar yang Mia dan Adriano tempati.


Mia tak ingin melepas lelahnya di dalam kamar yang dulu menjadi tempat peraduannya bersama Matteo. Kamar tamu menjadi pilihan dari wanita bertubuh ramping itu. Dia merasa tak sanggup jika harus memasuki ruangan yang penuh kenangan tersebut. Lagi pula, Adriano pun sepertinya tak bersedia jika harus tidur di sana. “Aku tidak bisa menanimu, karena harus pergi ke Milan hari ini," ucap Adriano sesaat setelah dirinya mencium Mia. Pria itu telah bersiap dengan kemeja hitamnya.


“Tak apa. Zucca akan menemaniku. Kebetulan dia sedang ada di sini,” sahut Mia seraya merapikan kerah dari kemeja sang suami. Diraupnya wajah Adriano, kemudian kembali dikecupnya bibir pria itu dengan lembut. “Apa kau akan langsung pulang setelah dari Milan?” tanyanya.


Belum sempat Adriano menjawab pertanyaan Mia, Miabella telah lebih dulu menerobos masuk. Tidak biasanya anak itu tak mengeluarkan seruan nyaring, seperti yang selalu dia lakukan saat di Monaco. “Apa kita jadi pergi ke rumah ayah, Bu?” tanyanya dengan mata berbinar.


“Iya, Sayang,” jawab Mia mencoba menyembunyikan perasaan aneh dalam hatinya, dengan menunjukan senyuman manis terhadap Miabella. Gadis kecil itu mungkin dapat dia bodohi, tapi tidak dengan Adriano. Namun, Adriano sudah tak harus merasa cemburu lagi pada seseorang yang sudah tiada, terlebih karena Mia juga telah menyerahkan diri terhadapnya.


“Apakah Daddy Zio akan ikut?” Miabella mengalihkan pandangannya kepada Adriano yang sejak tadi hanya berdiri memperhatikan mereka berdua.


“Tidak, Bella. Aku masih ada sedikit urusan. Lain kali saja kita pergi berkeliling kota. Bagaimana?” tawar pria bermata biru itu.


Mia menoleh sesaat kepada Adriano, kemudian tersenyum. “Aku pergi dulu,” dia tak sempat berpamitan lagi, karena Miabella terus menarik tangannya.


Sementara Adriano terdiam untuk sejenak. Sesaat kemudian, pria itu tersenyum kecil. “Mia sudah kembali padaku, Matteo. Mia-ku yang selama ini hilang, dia telah kembali dan menjadi milikku sekarang,” gumamnya pelan. Adriano hanya ingin menguatkan hatinya. Dia tak berharap Mia akan meratap di depan pusara Matteo dan meminta pria itu untuk kembali.


Apa yang Adriano pikirkan memang tak sepenuhnya benar. Mia berdiri di depan pusara yang terlihat mewah dan berlapis marmer hitam dengan nama Matteo de Luca. Setelah meletakan buket bunga yang sengaja dia bawa, Mia kemudian memejamkan mata dan mulai berdoa.


Sementara Miabella tampak keheranan saat melihat apa yang dilakukan sang ibu. Gadis kecil itu juga tampak mengamati pusara sang ayah untuk beberapa saat. Setelah itu, dia mengedarkan pandangannya ke sekitar area pemakaman.


Tampak Zucca yang berdiri dengan jarak beberapa meter dari makam Matteo. Matanya awas memperhatikan Mia, yang berada di depan pusara sang majikan. Zucca sangat menghormati dan menjadikan Matteo sebagai panutan.

__ADS_1


Kepergian Matteo tak hanya meninggalkan luka bagi Mia, tapi juga bagi pria berpostur tinggi besar itu. Zucca adalah pengawal setia Matteo selama hidupnya. Pria itu begitu percaya padanya.


“Ibu, apa ini rumah ayah?” tanya Miabella polos.


Mia yang saat itu tengah khusyuk berdoa, seketika membuka mata dan menoleh kepada putri kecilnya. “Iya, Sayang,” jawab Mia dengan senyuman getir di bibirnya.


“Kenapa ayah tidak kelihatan? Apa dia tidak ingin menemuiku?” tanya Miabella lagi.


“Tentu saja tidak seperti itu, Bella,” bantah Mia. “Saat kau masih bayi, ayah sering sekali menggendongmu. Kau bahkan langsung berhenti menangis jika sudah berada dalam dekapannya. Ayah sangat menyayangimu,” tutur Mia lirih. Sebisa mungkin dia menahan agar air matanya tak jatuh di hadapan Miabella.


“Lalu, apa yang ayah lakukan di dalam sana? Apa dia tertidur?” lagi, Miabella mengajukan pertanyaan yang membuat Mia merasa enggan untuk menjawabnya.


“Ya,” jawab Mia singkat.


“Apa badan ayah tidak sakit tidur di dalam sana? Kenapa Ibu tidak membawakannya kasur yang empuk dan juga selimut. Ayah pasti kedinginan,” celoteh gadis kecil itu dengan begitu polos. Dia memang belum dapat memahami sepenuhnya apa yang terjadi kepada Matteo.


Mia memalingkan wajah untuk sesaat. Disentuhnya sudut mata yang mulai basah. Mia tak boleh memperlihatkan kesedihan di hadapan putri semata wayangnya. Sesuai pesan Matteo dalam mimpi waktu itu, Mia harus menunjukkan dan membuat Miabella bangga memiliki dirinya. Gadis kecil itu harus diajari untuk tetap terlihat kuat, dan tak mudah menyerah pada kerasnya hidup. “Ayahmu sudah berada di surga, Bella. Di sana seribu kali lipat jauh lebih indah dan nyaman jika dibandingkan dengan dunia yang sedang kita tempati saat ini. Ayahmu tak lagi membutuhkan kasur yang empuk ataupun selimut hangat untuk dapat membuatnya terlelap dan merasa nyaman. Kau tahu kenapa? Karena dia sudah berada dalam pelukan Tuhan yang mengasihinya,” jelas Mia dengan lembut seraya mengelus pucuk kepala Miabella.


“Tuhan itu siapa?” tanya Miabella lagi. Tak bosan-bosannya dia bertanya kepada sang ibu. Akan tetapi, sebelum Mia menjawab pertanyaanya, Miabella tampak melihat ke arah lain. “Ibu, orang itu dari tadi memperhatikan kita terus,” ujarnya.


“Siapa? Paman Zucca?” Mia mengalihkan pandangan kepada pria berpostur tinggi besar yang masih berdiri tegap tak jauh darinya.


“Bukan,” bantah Miabella. “Dia di sana. Bersembunyi,” tunjuk gadis kecil itu pada deretan makam yang terletak tak begitu jauh dari tempat mereka berdiri.


Dengan wajah yang agak was-was, Mia menoleh ke tempat yang Miabella tunjukan. Namun, dia tak melihat siapa pun di sana. Sementara Zucca yang mencium ada gelagat aneh dari Mia dan putrinya, segera mendekat kepada mereka. “Ada apa, Nyonya?” tanyanya.


“Putriku melihat ada seseorang yang mengawasi kami sambil bersembunyi di sebelah sana,” tunjuk Mia.

__ADS_1


Zucca seketika mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat yang Mia tunjukan. Tangannya sudah siap merogoh pistol yang tersimpan di balik punggung. “Sebaiknya Anda segera masuk ke mobil,” saran pria itu.


Mia mengangguk setuju. Dengan mendapat perlindungan dari Zucca, Mia dan Miabella akhirnya dapat masuk ke mobil dan segera menutup pintunya rapat-rapat. Sementara Zucca berdiri sejenak dan kembali mengawasi area pemakaman tersebut. Dia mencoba untuk menangkap setiap pergerakan yang mencurigakan. Namun, di sana tak terlihat ada siapa pun selain mereka. Pria itu bergegas masuk ke mobil dan mulai menjalankannya. Dengan segera mereka meninggalkan tempat tersebut.


__ADS_2