Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Sincerity


__ADS_3

“Mia!”


“Mia. Bangunlah, Sayang." Sayup-sayup terdengar suara Adriano di telinga Mia, yang baru saja tersadar dari pingsan. Wanita cantik itu langsung saja membuka mata seraya mengedarkan pandangan ke sekitar. Akan tetapi, tak ada sosok sang suami di sana. Mia hanya mendapati Damiano dan Coco yang memandanginya dengan was-was.


"Adriano? Di mana suamiku?" tanya Mia setengah sadar.


"Jangan pikirkan dia dulu. Apakah kau baik-baik saja, Nak?” tanya Damiano lembut.


“Kau pingsan cukup lama. Aku sampai khawatir. Francy dan Dani pun sama cemasnya, tapi aku sudah menjelaskan pada mereka bahwa kau dan bayimu baik-baik saja. Kondisi kalian cukup stabil,” terang Coco tanpa diminta.


Mia hanya terdiam tak menanggapi. Mata indahnya terus mengamati Coco yang masih memakai tuksedo putih. Baju yang dia kenakan dalam pesta pernikahan bersama Francesca. Pandangan Mia kemudian beralih kepada Damiano yang tampak sedikit tenang saat melihat Mia mulai sadar. “Di mana Adriano?” tanyanya lagi dengan suara bergetar sambil melirik selang infus yang sudah menempel di tangan kirinya.


“Juan dan Adriano baik-baik saja, Nak. Mereka baru saja selesai menjalani operasi,” jawab Damiano seraya tersenyum.


“Paman tidak sedang berbohong, ‘kan?” Mia berusaha untuk duduk. Dia juga mencoba melepas selang infus yang tertancap di punggung tangannya.


“Hei, Mia! Apa yang kau lakukan! Tenanglah!” tegur Coco. Namun, Mia tak menurut. Kali ini dia berusaha turun dari ranjang. Hentikan, Mia!” sentaknya.


“Jangan halangi aku, Ricci! Aku hanya ingin melihat suamiku! Lepaskan!” Mia berusaha memberontak dari Coco dan bersikap sedikit histeris. Tampaknya dia masih terguncang atas segala hal yang telah terjadi dengan begitu tiba-tiba.


“Mia, Anakku.” Damiano berusaha membantu Coco yang mulai kewalahan. “Dengarkan, Nak. Dengarkan aku,” pinta Damiano sembari mengusap-usap lengan Mia. “Kau ingin melihat suamimu, bukan? Baiklah. Aku akan mengantarmu. Akan tetapi, kau harus tetap bersikap tenang. Ingatlah, Tuhan tengah menitipkan satu nyawa di dalam tubuhmu,” tuturnya bijak.


“Kau boleh melihat keadaan Adriano. Namun, jangan melepas infusannya. Benda itu harus tetap berada di sana,” tegas Damiano yang kemudian menuntun Mia keluar dari ruangan. Coco pun seakan mengerti apa yang harus dia lakukan. Suami Francesca itu siaga mengembalikan kantong infus ke tiangnya, lalu mendorong agar tetap sejajar dengan tubuh Mia.


Mereka bertiga lalu melangkah pelan menuju ruang observasi yang terletak sedikit jauh dari kamar perawatan Mia, meskipun masih berada dalam satu lantai. Damiano lalu berhenti di sebuah ruangan berdinding kaca dan mengarahkan telunjuknya ke dalam sana. “Lihatlah, Nak. Itu suamimu. Operasinya berjalan lancar dan sekarang dia masih berada dalam pengawasan sampai kondisinya benar-benar stabil. Begitu pula dengan Juan Pablo. Mereka berdua benar-benar tangguh, padahal luka-luka yang dialami sungguh parah dan mengerikan,” jelas Damiano dengan pandangan lurus tertuju ke dalam, menembus pembatas kaca.

__ADS_1


Saat melihat keadaan suaminya dengan mata kepala sendiri, barulah Mia dapat bernapas lega. Sorot matanya terus tertuju pada layar monitor yang terletak di samping ranjang Adriano. Di sana menunjukkan tanda-tanda vital yang normal. “Aku ingin memeluknya,” ucap Mia lirih dengan tatapan nanar.


“Ya, ampun. Nanti saja, Mia. Suamimu masih dalam keadaan antara sadar dan tidak. Tenang saja, kalian masih memiliki banyak waktu untuk bermesraan,” sahut Coco. “Tidak seperti aku yang harus terpisah dari Francy, padahal kami baru saja sah menjadi pasangan suami istri,” imbuhnya seraya berdecak pelan.


“Casa de Luca dengan Milan itu tak terlalu jauh, Nak. Katakan saja bahwa kau ingin pulang dan bertemu Francy,” ujar Damiano terkekeh sambil tetap memegangi lengan Mia.


“Kau memang sangat pengertian, Damiano. Aku titipkan Mia padamu,” sahut Coco menepuk pundak Damiano. Dia berlalu dari sana. “Oh, ya. Di mana Marco?” Coco kembali membalikkan badan pada pria tua itu.


“Marco sudah lebih dulu pulang untuk mengkoordinasi anak buahnya yang telah membuat kerusakan besar-besaran di markas klan Herrera,” jawab Damiano sambil menggelengkan kepala. “Kusarankan agar kalian menghentikan semua kebodohan ini,” lanjutnya penuh sesal. "Kasihan sekali Juan. Dia sama menderita. Aku dapat memahami segala amarah yang dia rasakan, meskipun tak bisa memaafkan apa yang dilakukannya. Selalu ada sebab untuk sebuah akibat. Itulah hukum alam," ucap pria tua itu lagi kembali mengarahkan pandangan ke dalam. Damiano melihat kepada Adriano, lalu beralih pada Juan Pablo yang sama-sama masih terbaring.


Coco tercenung. Dua sisi hatinya kembali berperang. Haruskah dia tetap mengumbar segala amarah yang menumpuk setelah sekian tahun lamanya, atau melepaskan itu dan mulai melangkah maju meninggalkan bayangan gelap kematian Matteo di belakang. “Aku harus pulang,” ucapnya kemudian tanpa menanggapi ucapan Damiano. Dia merupakan pria dewasa yang sudah bisa menimbang rasa dan memahami setiap masalah. Coco sadar bahwa apa yang Damiano katakan memang tidaklah keliru. Pria berambut ikal itu pun membalikkan badan kemudian berlalu dari sana.


Coco berjalan gontai menuju tempat parkir. Dengan malas dia membuka pintu mobil, kemudian melajukan kendaraannya pelan menuju Casa de Luca. Di sana, Francesca yang juga masih memakai gaun pengantinnya tampak menunggu di halaman depan sambil menggendong Miabella.


“Mereka masih di rumah sakit, Sayang. Dokter harus mengobati ayah dan ibumu,” sahut Coco seraya mengusap pipi gembul Miabella yang terlihat begitu menggemaskan. Itu juga menjadi sesuatu yang mengherankan, ketika Miabella tak menolak saat disentuh olehnya.


“Apakah mereka baik-baik saja?” tanya bocah bermata abu-abu itu lagi dengan tatapan polos.


“Tentu, Sayang. Namun, mereka harus beristirahat. Kau tahu bukan, di perut ibumu sedang ada seorang adik kecil yang tengah tertidur. Sedangkan ibumu merasa lelah. Jadi, dia harus beristirahat dulu dengan ditemani oleh daddy zio-mu,” jelas Coco sambil tersenyum kalem. Sebisa mungkin dia tak memperlihatkan segala keresahan yang dirinya rasakan, kepada putri dari mendiang Matteo.


Miabella memperhatikan wajah Coco dengan saksama dari gendongan Francesca. Balita cantik tersebut seakan tengah menilik apakah pamannya itu berbohong atau tidak.


“Ayo. Kau harus beristirahat dulu, Bella. Besok kita akan menjenguk ayah dan ibumu bersama-sama, ya?” bujuk Francesca sambil melangkah masuk ke bagian dalam rumah, bersama Coco yang melingkarkan tangan di bahunya. Mereka terus berjalan menuju kamar Miabella.


Francesca berniat untuk menidurkan keponakan kecilnya itu di sana dengan ditemani oleh Coco. Merdu suaranya saat bersenandung, membawakan sebuah lagu pengantar tidur untuk balita cantik itu hingga terlelap.

__ADS_1


“Apakah mereka sungguh baik-baik saja, Ricci?” tanya Francesca setengah tak percaya. “Mia juga baik-baik saja, ‘kan?” tanyanya lagi.


“Aku bersumpah mereka semua berada dalam kondisi yang stabil, Francy. Begitu pula dengan bajingan itu.” Kalimat terakhir Coco terdengar begitu lirih, tapi penuh penekanan.


“Siapa? Tuan Herrera?” tebak Francesca.


“Ya. Damiano melarang kami membunuhnya, karena dia juga adalah putra dari signore Roberto. Pria itu adalah kakak tiri Matteo,” jawab Coco sembari menunduk dalam-dalam.


“Apa? Bagaimana bisa?” Francesca membelalakkan mata. Dia sangat terkejut akan penjelasan suaminya itu.


“Nanti saja kuceritakan, Sayang. Aku benar-benar merasa lelah.” Coco mendekatkan wajahnya pada Francesca, wanita yang kini telah sah menjadi istrinya. Dia mencium dan melu•mat bibir ranum itu dengan kasar, lalu melepaskannya begitu saja. “Apa yang harus kulakukan, Francy?” Coco mulai menitikkan air mata. Kepedihan pelan yang lambat laun berubah menjadi sebuah tangisan dengan cukup nyaring.


Coco seakan tengah meluapkan segala kesedihan yang memenuhi dadanya. Dia tak lagi malu menunjukkan sisi lemah di hadapan Francesca, karena kini mereka berdua telah menjadi satu.


“Apakah yang mengganggu pikiranmu, Ricci? Katakan padaku,” tanyanya dengan nada bicara yang lembut. Hal itu telah berhasil menenangkan Coco yang sedang dilanda kegundahan.


“Theo mati sia-sia di tangan seseorang yang seharusnya turut menyayanginya, dan aku tak bisa membalas orang itu atas semua yang telah dia lakukan pada hidup kami. Aku tak bisa membunuhnya. I-ini tidak adil, Francy. The-Theo ....” ucap Coco terbata, lalu berhenti begitu saja.


"Kenapa kau memiliki pemikiran yang sangat mengerikan seperti itu, Ricci? Apakah setiap perbuatan jahat seseorang harus dibalas dengan hal yang sama jahatnya. Tuan Herrera telah menghabisi Matteo dan meninggalkan rasa sakit yang teramat dalam bagi kita semua. Lalu, apa bedanya antara kau dengan dia? Kematian orang terkeji sekalipun, pasti akan meninggalkan bekas luka yang menyakitkan bagi kerabat dekatnya," tutur Francesca mengingatkan Coco.


🍒 🍒 🍒


Satu lagi rekomendasi novel keren yang ceuceu persembahkan untuk semua.


__ADS_1


__ADS_2