Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Fiore Della Vita


__ADS_3

“Kau berdandan untuk siapa, Mia? Mau ke mana?” hangat napas Adriano menerpa telinga Mia. Pria bermata biru itu kemudian mengecup lembut leher jenjang sang istri yang tak tertutup rambut sehelai pun.


Siang itu, Mia masih mengenakan dress yang sama dengan yang dia kenakan tadi pagi. Rambut cokelatnya yang panjang, dia sisir rapi kemudian dibuat sanggul tinggi. Tak lupa, Mia mengenakan anting berlian dengan bentuk memanjang.


“Aku akan mengajak Miabella berjalan-jalan,” Mia membalikkan badan dan melingkarkan tangannya ke leher Adriano.


“Kau tidak ingin mengajakku?” pria rupawan itu memiringkan kepala sembari mengamati bibir indah istrinya yang begitu menggoda. Ujung telunjuknya menyentuh dan mengikuti bentuk permukaan bibir dengan polesan lipstik warna red cherry yang tampak ranum.


“Bukankah kau tadi mengatakan bahwa dirimu akan kedatangan tamu penting hari ini?” Mia balik bertanya.


“Ya, kau benar. Benigno akan datang siang ini bersama teman lamanya dari Italia. Dia menjanjikan kerja sama untuk mengembangkan klub malam milikku yang berada di Roma. Kau tentu masih mengingat tempat itu kan, Mia?” selesai berkata demikian, Adriano segera melu•mat bibir ranum sang istri. Tak tahan rasanya jika dia hanya memandang tanpa menikmati. Sementara Mia hanya pasrah menerima perlakuan memabukkan dari Adriano.


“Aku masih ingat dengan mini dress hitam yang kau pakai malam itu. Kau tampak sangat cantik. Ah, tidak ... bukan, maksudku kau yang tercantik,” ralat pria itu seraya kembali mengecup bibir Mia sekali lagi.


“Padahal waktu itu aku datang bersama Matteo. Aku masih menjadi istrinya dan kau sudah berani menatapku dengan nakal,” ujar Mia sambil mende•sah pelan, membuat Adriano terkekeh.


“Maafkan aku. Itu semua karena pesonamu yang sungguh luar biasa. Kau sangat istimewa, dan aku masih merasa jika ini semua adalah mimpi. Terkadang aku masih merasa tidak percaya karena dapat menyentuhmu dengan leluasa seperti ini. Kau benar-benar telah membuatku gila,” ucap Adriano dengan setengah berbisik. Tak ingin melewatkan kesempatan emas, dia kembali melu•mat bibir Mia. Pria itu baru berhenti, ketika suara Miabella terdengar di sana.


“Ibu, ayo," ajak gadis kecil dengan rambut panjangnya yang diikat dua, serta diberi hiasan pita cantik. "Aku sudah tidak sabar untuk memetik bunga,” Miabella terlihat begitu antusias. Dia memasuki kamar Adriano dan Mia dengan membuka pintunya begitu saja.


“Baiklah, kalau begitu selamat bersenang-senanglah kalian,” Adriano mengecup bibir Mia sekali lagi, kemudian beralih menggendong putri sambungnya. “Bawakan aku bunga yang banyak ya, Principessa,” ujarnya seraya mencium pipi gembul Miabella.


“Tentu! Ibu sudah mengajariku caranya merangkai bunga,” sahut Miabella dengan cadel. Gadis itu menurunkan dirinya dari gendongan Adriano, kemudian menghambur ke arah Mia.

__ADS_1


“Apa kau sudah siap, Sayang?” tanya Mia lembut.


Miabella menjawab dengan sebuah anggukan kuat, lalu berlari mendahului Mia. Wanita itu tertawa renyah melihat tingkah putrinya yang semakin aktif. “Aku pergi dulu,” Mia menoleh kepada Adriano. Sebekum berlalu, dia sempat mencium pipi sang suami.


“Ti amo, Mia,” ucap Adriano sebelum mereka melangkah ke arah yang berbeda. Pria rupawan tersebut berjalan menuju ruang kerja, sedangkan Mia mengikuti Miabella menuju taman yang terletak di titik paling belakang dari mansion itu.


Ketika sudah tiba di tempat yang telah dijanjikan, Arsen ternyata lebih dulu berada di sana. Pria itu terlihat sangat tampan, dengan mengenakan kemeja putih yang dipadu setelan jas serta celana berwarna navy. Dia berdiri ketika Mia dan juga Miabella menghampirinya. “Apa kau sudah mengatakan kepada Olivia, bahwa kita akan bertemu di sini?” tanya Arsen memastikan. Sorot matanya tampak cemas saat itu.


Sementara Miabella memilih untuk menyembunyikan tubuh mungilnya di belakang sang ibu.


“Iya, tentu. Aku juga telah mengatakan padanya bahwa jika Olivia menolak, maka dia tidak perlu datang kemari. Akan tetapi, kita tetap harus menunggu dirinya sampai pukul lima. Lewat dari jam tersebut, itu artinya Olivia tidak menerima pinanganmu,” jelas Mia.


Arsen mengempaskan napas panjang seraya meraup wajah tampannya yang terlihat bersinar. “Haruskah aku bersedih atau bahagia jika dia menolak?” sebuah pertanyaan terlontar begitu saja dari bibirnya. “Aku yang terbiasa hidup bebas, kini harus memutuskan untuk mengakhiri kesenangan dunia demi mempertanggungjawabkan perbuatanku pada Olivia. Aku hanya ingin membuktikan padanya bahwa diriku bersungguh-sungguh, Mia,” ujar Arsen dengan raut yang terlihat datar. Namun, nada bicaranya terkesan meyakinkan. Itulah kelebihan seorang Arsen Moras. Dia dapat mempositifkan pandangan orang-orang yang diajaknya bicara.


“Itulah harga yang harus dibayar atas kesalahanku, Mia. Aku siap menanggung semuanya, meskipun artinya aku harus mengubah arah hidupku dengan drastis,” tegas Arsen mantap. Tak ada keraguan sedikit pun pada jawabannya.


“Namun, kau juga harus siap jika Olivia menolakmu. Kau tahu ini semua pasti tak mudah bagi gadis itu,” tutur Mia hati-hati.


“Jika dia menolak, maka aku membawa rasa bersalah ini sampai mati. Sudah kukatakan bahwa aku tidak pernah berbuat begitu,” ujarnya lagi seakan ingin meyakinkan Mia. Arsen lalu kembali ke bangkunya dan duduk terpekur di sana.


Mia sudah akan mengikuti langkah pria asal Yunani itu, tapi Miabella lebih dulu menarik bagian bawah dressnya. “Ibu ... Ibu berjanji akan memetik bunga bersamaku,” ucap balita itu mengingatkan Mia.


“Ah, ya tentu saja. Aku hampir lupa, Sayang. Ayo, kita ke sana dulu,” alih-alih menuju bangku taman, Mia justru berjalan menggandeng Miabella ke lapangan bunga. Mereka tampak bersemangat ketika memilih berbagai jenis tanaman hias tersebut, kemudian memetiknya. Kegiatan itu tak berhenti, meskipun kedua tangan Miabella sudah penuh dengan banyak kuntum bunga cantik dan beraneka warna.

__ADS_1


Dari kejauhan, Arsen hanya dapat memperhatikan kegiatan ibu dan anak tadi. Perasaannya kini amat gelisah, terlebih ketika jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul lima. Dia mengaku kalah saat itu.


Dengan gontai, Arsen berdiri dan berjalan menjauh. Pria itu berniat untuk kembali ke kamarnya, dan mempersiapkan kepergian ke Inggris esok hari. Namun, baru beberapa langkah saja, Arsen harus tertegun ketika terdengar Miabella berseru riang. “Bibi berambut hitam!” teriak gadis kecil itu antusias.


Seketika Arsen menoleh. Dilihatnya Olivia berjalan dengan anggun mendekat ke arahnya. Gaun pendek berbahan satin dengan desain polos, yang dia belikan khusus untuk gadis cantik itu, kini melekat sempurna di tubuh Olivia. Arsen pun terpaku menatapnya. Sejenak, pria asal Yunani tersebut tak mampu berkata apa-apa. Olivia terlihat sangat berbeda. Dia menjalin rambutnya sehingga membentuk sebuah kepang samping yang meskipun tampak sederhana, tetapi membuatnya tampil menawan dan anggun.


"Olivia, akhirnya kau datang juga. Syukurlah," ucap Mia yang langsung menghampiri kedua calon mempelai dadakan itu. Tak ubahnya dengan Arsen, Mia pun terlihat lega.


"Bibi cantik sekali," sanjung Miabella. "Ibu, besok aku ingin agar rambutku dibuat seperti rambut bibi hari ini," gadis kecil itu mengalihkan perhatiannya kepada Mia.


"Oh, itu bukan hal yang sulit, Sayang," sahut Mia dengan senyuman lembut. "Baiklah, aku rasa pendeta sudah menunggu sejak tadi. Sebaiknya kita jangan membuang-buang waktu," saran Mia membuat kecanggungan yang terlihat dalam diri Arsen kian bertambah. Perasaan tak menentu mulai berkecamuk dalam dada lajang yang gemar berpetualang dengan banyak wanita tersebut. Sebelum melangkah ke arah gereja kecil yang ada di sana, Arsen sempat hendak meraih tangan Olivia. Dia mungkin ingin menuntun gadis itu agar berjalan bersamanya. Akan tetapi, Olivia segera menarik tangannya dan membiarkan pria itu.


Arsen dapat memahami sikap gadis bergaun putih tersebut. Dia tak ingin memaksanya. Pria berparas rupawan itu pun melangkah terlebih dahulu menuju gereja.


"Tidak apa-apa, Olivia. Yakinkan dirimu bahwa kau telah mengambil keputusan yang paling tepat. Untuk gadis manapun, hal seperti itu pasti akan terasa amat menakutkan. Namun, kau mendapat nilai lebih, karena Arsen bersedia menikahimu. Dia bisa saja melarikan diri dan bersikap tak peduli. Lihatlah kenyataannya saat ini. Pria itu menunggumu di dalam sana. Ayo, temui dia dan buat dirimu menjadi seseorang yang layak untuk dipertahankan. Tunjukkan bahwa Olivia memiliki hal istimewa, yang membuat seorang pria seperti Arsen tidak akan menyesal karena telah mengakhiri petualangan cintanya denganmu," Mia terus meyakinkan gadis yang sejak tadi hanya membisu. Semua keceriaan yang menjadi ciri khas Olivia, memang telah sirna. Namun, Mia yakin bahwa tak lama lagi senyuman indah nan ramah serta celotehan gadis muda itu akan segera kembali pada dirinya.


Mia dan Miabella duduk pada salah satu bangku yang berderet di dalam gereja kecil tadi. Mereka memperhatikan prosesi pemberkatan pernikahan. Miabella yang belum memahami hal itu, lebih memilih merangkai bunga-bunga yang sudah dia petik bersama Mia. Gadis kecil tersebut tampak asyik sendiri. Sementara Mia tersenyum kecil memperhatikan Arsen yang terlihat kaku, ketika pendeta mempersilakannya untuk mencium mempelai wanita. Mia teringat pada prosesi tiga pernikahan yang pernah dia lakukan. Sungguh sesuatu yang luar biasa dan tak pernah terbayangkan sama sekali, bahwa dirinya akan berada dalam posisi seperti itu. Kini, Mia hanya berharap agar Adriano menjadi pria terakhir dalam hidupnya, meskipun dia sempat begitu kesulitan melepaskan diri dari bayangan Matteo de Luca.


"Bibi!" seru Miabella yang menyambut Olivia bersama Arsen. "Ini untukmu," gadis kecil bermata abu-abu itu menyodorkan bunga yang sudah dia rangkai secara alakadarnya.


Olivia memaksakan dirinya untuk tersenyum seraya menerima bunga tersebut. Dia lalu menurunkan tubuh, kemudian segera memeluk Miabella dengan erat. Air mata kembali menetes di pipi gadis yang kini telah kehilangan kepolosannya.


"Selamat untuk kalian berdua," Mia turut bahagia. "Olivia, mulai saat ini kau sudah resmi menjadi nyonya Moras. Manjakan Arsen dengan masakanmu yang enak, agar dia tidak harus membeli makanan dari luar," ucapnya lagi penuh dengan kata kiasan bernada peringatan untuk Arsen.

__ADS_1


__ADS_2