Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
A Memory


__ADS_3

“Ah, ternyata kalian semua sudah berada di sini. Cepat sekali.” Coco mengalihkan pembicaraan sembari tertawa untuk menutupi rasa kikuknya.


“Adriano menghubungiku satu jam yang lalu. Dia menyampaikan bahwa Bella akan menginap di sini selama beberapa hari,” sahut Francesca dengan kedua tangan terlipat di dada.


Miabella yang menatap tajam kepada Coco, kini mengalihkan pandangan pada sang ayah. “Beberapa hari? Aku sudah memutuskan akan tinggal di sini untuk selamanya,” ralat gadis cantik itu, membuat semua yang ada di dalam ruangan itu terbelalak kaget.


“Ada apa, Nak? Kenapa kau tiba-tiba saja ingin tinggal di sini?” Damiano berdiri dari duduknya dengan bantuan tongkat. Pria itu sudah berusia lebih dari delapan puluh tahun, sehingga kekuatan fisiknya telah jauh berkurang. Melihat sang kakek kesulitan melangkah, Enzo segera membantu memapahnya.


“Aku hanya ingin mencari suasana baru. Itu saja,” jawab Miabella sembari menunduk.


“Aduh, gawat!” Coco menepuk kening membuat semua orang menoleh padanya. “Ah ehm ... maksudku ... kasihan sekali Adriano. Seperti yang kalian tahu, dia begitu menyayangi dan melindungi Miabella. Apa jadinya jika anak itu tinggal di sini? Bagaimana jika Adriano merindukannya?” kilah Coco sambil meringis.


"Aku bukan anak-anak lagi, Paman!" protes Miabella dengan segera.


“Aku sudah terbiasa, Ricci. Tenang saja. Tiga tahun dia kuliah di Inggris. Aku sudah belajar untuk menahan rindu terhadap putriku,” sahut Adriano seraya memamerkan senyumnya.


“Apa kau yakin tidak ada hal lain yang sedang dirimu sembunyikan, Adriano?” tanya Damiano untuk memastikan.


“Kau bisa bertanya langsung kepada Bella, Damiano,” jawab pria bermata biru itu kalem.


Setelah semua mata memandang pada Adriano, kini perhatian mereka beralin kepada Miabella. “A-apa? Aku sudah mengatakan bahwa diriku hanya ingin mencari suasana baru. Itu saja!” kilah gadis cantik tersebut mencoba seolah dirinya tak peduli.


“Baiklah. Tak masalah apapun alasanmu, Bella. Aku hanya berharap kau tidak datang kemari hanya untuk melarikan diri dari sesuatu,” celetuk Francesca.


“Kami senang jika Miabella ada di sini. Dia akan mengajak kami berpetualang,” sela Neve, putri kedua Francesca dan Coco.


“Terakhir kali Miabella kemari, dia mengajak kami menjelajah hutan,” sambung Lilla, putri bungsu Coco.


“Ya, dan mereka kembali dengan gatal-gatal di sekujur tubuh." Coco menunjuk ke arah Neve serta Lilla.

__ADS_1


“Benarkah itu? Kenapa aku baru tahu tentang hal ini?” tanya Adriano dengan mimik serius.


“Aku yang melarang mereka dan juga Carlo untuk memberitahukannya padamu. Kami tak ingin kau khawatir, mengingat betapa kau sangat menjaganya, Adriano,” tutur Damiano.


“Astaga.” Adriano benar-benar terkejut saat itu. Dia sama sekali tak menyangka bahwa Miabella akan berbuat demikian. Pikirannya langsung tertuju kepada Carlo. Sesampainya di Monaco nanti, dia akan langsung menginterogasi pengawal pribadi Miabella tersebut. Adriano yakin, pasti ada banyak hal yang pria itu dan putrinya sembunyikan.


“Apa kau akan menginap di sini, Paman? Aku akan menyiapkan kamar untukmu,” tanya Enzo yang masih menatap Adriano.


Adriano sendiri menoleh terlebih dulu kepada Miabella, berharap anak gadisnya akan mengatakan sesuatu. Namun, Miabella memilih diam. Dia lalu kembali pada Enzo dan tersenyum. “Aku akan segera pulang malam ini. Aku sudah berjanji pada Mia untuk mengajaknya ke pacuan kuda besok pagi,” tolak Adriano halus.


“Setidaknya, makan malamlah dulu di sini, Nak,” ajak Damiano sedikit memaksa.


“Iya, Paman. Makan malamlah bersama kami.” Neve dan Lilla menghambur serta mengerubungi pria yang masih terlihat gagah dan atletis di usianya yang tak lagi muda tersebut.


“Masakanku mungkin tak selezat buatan Mia, tapi aku melakukannya dengan penuh cinta,” ujar Francesca diiringi tawa pelan.


“Bene, bene. Aku akan makan malam bersama kalian sebelum pulang,” putus Adriano. Neve dan Lilla segera bersorak setelah mendengarnya. Semua orang terlihat berbahagia, kecuali Miabella.


“Aku akan membantu Bella sebentar. Setelah itu, kami akan bergabung di meja makan,” pamit Adriano beberapa saat setelah Miabella meninggalkan ruangan.


Diam-diam, Coco beringsut mendekat ke samping Damiano. “Jelas ada sesuatu di antara mereka,” bisiknya.


“Aku juga berpikir seperti itu,” timpal Francesca yang ikut berbisik sambil mendekat pada suaminya.


Adriano sendiri dapat mengetahui ketika mereka membicarakannya. Akan tetapi, dia memilih untuk tidak terlalu memusingkan hal tersebut. Pria rupawan itu terus berjalan menyusuri lorong terbuka dan berbelok ke kiri menuju bangunan lain. Bangunan tadi terdiri dari kamar-kamar yang terletak berderet dan sejajar.


Adriano berhenti sejenak. Tepat di titik dia berada adalah tempat di mana dirinya kerap bermain kejar-kejaran tiap kali mereka berkunjung ke Casa de Luca. Masih terbayang dalam ingatan pria itu, sosok gadis kecil berambut cokelat yang menggemaskan dan kerap minta digendong olehnya. Adriano yakin jika ikatan batin antara dia dan Miabella, bukanlah suatu kebetulan semata.


“Hm.” Adriano menggumam pelan, lalu melanjutkan langkah dan kembali berhenti di depan satu pintu. Dia lalu mengetuknya pelan. Cukup lama pria itu menunggu sampai pintu tadi terbuka. Selang beberapa saat, wajah cantik Miabella menyembul dari baliknya. “Bolehkah aku masuk?” tanya Adriano lembut.

__ADS_1


“Tentu,” sahut Miabella seraya membuka pintu kamar itu lebar-lebar. Adriano terus memperhatikan mimik muka anak gadisnya yang tampak murung.


“Katakan apa masalahmu, Bella? Kenapa kau tak bersedia dihukum atas kesalahan yang telah dirimu lakukan?” Adriano memiringkan kepala dengan tatapan yang tak lepas dari putrinya. “Aku sudah berkali-kali menekankan agar kalian tak memasuki ruangan rahasiaku. Itu terlalu berbahaya dan akan membuat kalian tak nyaman," ujarnya.


“Aku menolak jika hukuman itu adalah menjauhkan Carlo dariku,” jawab Miabella sembari menunduk.


“Kenapa?” Adriano mengangkat satu alisnya.


“Karena hanya dia yang mengerti diriku di saat semua orang tidak bisa melakukannya.” Miabella mengangkat wajah dan balas menatap sang ayah.


“Justru karena itulah aku harus menjauhkanmu darinya. Sebagai seorang pengawal, seharusnya Carlo bisa menolak segala keinginan yang bisa membahayakan dirimu, bukannya terus mengerti dan memaklumi sikapmu lalu menuruti apapun yang kau mau. Dia harus berani berkata tidak, walaupun hal tersebut dapat membuatmu membencinya,” jelas Adriano panjang lebar.


“Aku tidak mungkin bisa membenci Carlo.” Miabella tertawa lirih, lalu terdiam.


“Hm. Jadi begitu,” gumam Adriano pelan. “Baiklah, aku akan meminta Dante untuk menjagamu selama di sini,” putus Adriano.


Miabella pun segera melayangkan sorot keberatan pada sang ayah. “Aku tidak menyukainya, Daddy Zio! Dia selalu membawa anak-anak asuhnya ke manapun dirinya pergi. Berisik sekali,” protes Miabella dengan tegas.


Adriano tertawa pelan ketika Miabella menyebut anjing-anjing peliharaan Dante sebagai anak asuh. “Lama-lama kau akan terbiasa, Principessa,” ucap pria rupawan itu seraya bergerak maju. Dia mulai luluh atas sikap menggemaskan putrinya. Adriano tak pernah bisa marah terlalu lama terhadap Miabella.


“Lihat ini.” Adriano merogoh sesuatu dari dalam saku jaket. Adalah sebuah potret berukuran postcard yang tampak licin dan mengkilap. “Aku sempat mengeluarkan foto ini dari bingkainya sebelum mengantarkanmu kemari." Pria itu menyodorkan gambar dirinya yang tengah merangkul Miabella dengan latar belakang salju. Mereka memakai kostum bermain ski dalam foto tersebut.


“Kau masih ingat ‘kan dengan liburan kita di Swiss tiga tahun yang lalu, sebelum kau berangkat ke Inggris?” tanya Adriano.


Miabella pun mengangguk sambil menerima foto itu. Dia tersenyum samar saat mengingat liburan terakhirnya bersama Adriano.


“Aku memiliki banyak fotomu dan Adriana. Mulai dari kalian bayi sampai sekarang. Bagiku itu adalah cara untuk mengabadikan kenangan. Potret adalah keajaiban. Dia dapat membekukan waktu dan membingkainya dengan indah,” lanjut Adriano lagi.


“Bella, tak masalah jika kau memaksa untuk terus menjauh dariku. Aku hanya ingin kau tahu bahwa daddy zio-mu masih dan akan tetap berdiri di sini. Aku akan selalu siap jika sewaktu-waktu kau membutuhkanku.” Adriano mengecup kening putri kesayangannya dalam-dalam.

__ADS_1


“Kau memang bukan darah dagingku. Aku hanyalah ayah pengganti bagimu, Principessa. Akan tetapi, kasih sayang yang kupunya untukmu lebih dalam dari sekadar detak jantung dan aliran darah yang sama. Jangan pernah ragukan hal itu,” tutur Adriano lagi. “Suatu saat nanti kau akan mengerti. Apapun yang kulakukan, semua itu hanya didasari oleh rasa kasih sayang ....”


Kalimat Adriano pun segera terhenti, ketika terdengar ketukan di pintu. “Amico! Apakah kalian masih lama? Kami semua sudah kelaparan menunggu kau dan Miabella di ruang makan,” seru Coco.


__ADS_2