Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Terhalang Peraturan


__ADS_3

Carlo seketika tertegun. Dia lalu menoleh. "Kenapa?" tanyanya.


"Kau mau ke mana? Apa kau akan pergi?" tanya Miabella. Sikapnya yang aneh, membuat pria si pemilik banyak tato itu kian menjadi heran. "Aku perintahkan agar kau tetap berdiri di sebelahku," titah Miabella.


"Aku hanya bermaksud untuk mengambilkanmu minum, Nona," ucap Carlo yang kemudian menurut. Dia berdiri di sisi sebelah kiri Miabella, berjaga layaknya sorang ajudan. Sementara gadis itu mulai mencicipi masakan yang dibuat sang pengawal pribadi.


Seperti biasa, masakan buatan Carlo selalu bersahabat di lidah. Pria itu memang terbiasa melakukan aktivitas dapur, berhubung selama tinggal di rumah singgah dia kerap membantu Miranda.


Ya, pada waktu itu penghuni rumah singgah tidak seperti sekarang. Mereka semua layaknya satu keluarga besar. Miranda pun hanya mempekerjakan satu orang untuk membantunya mengurusi segala hal, sehingga ada beberapa anak yang dianggap mampu untuk diserahi tugas ikut diperbantukan. Alhasil, saat ini Carlo tidak terlalu kesulitan jika hanya sekadar memasak atau mencuci piring.


Perhatian pria tampan dengan t shirt round neck hitam tadi, terus tertuju kepada Miabella yang menyuap makanannya dengan lama sekali. Gadis itu bahkan cenderung lebih banyak mendiamkan sendoknya, setelah satu kali suapan. Carlo kemudian mengambil piring berisi makanan di hadapan Miabella, lalu menarik tangan si gadis agar mengikutinya.


"Hey, apa-apaan kau?" Miabella bermaksud untuk protes, meskipun suaranya cukup pelan. Dia tak ingin membangunkan para pelayan yang ditempatkan tidak seberapa jauh dari dapur.


"Menyantap makanan di meja makan akan jauh lebih baik," sahut Carlo menuntun gadis itu menuju ruang makan.


"Aku tidak mau makan di sana," tolak Miabella dengan segera, membuat Carlo menghentikan langkah lalu menoleh.


"Lalu, kau ingin makan di mana?" tanyanya. "Akan kuturuti apapun keinginanmu jika itu bisa membuat kau makan dengan normal, bukan hanya memainkannya dengan sendok. Terus terang saja bahwa aku sangat tersinggung, Nona. Apakah itu artinya masakanku tidak enak?" tukas Carlo.


"Aku perlu waktu untuk mengunyah serta menelan makanan. Kau pikir aku ini kuda nil!" protes Miabella sekenanya.


Carlo yang saat itu baru saja menegur sang nona dengan raut serius, langsung saja mengulum senyumnya. "Andai saja ada kuda nil bertubuh ramping seperti dirimu," celetuknya menimpali ucapan Miabella.

__ADS_1


"Apa kau akan mengencaninya?" Miabella menatap aneh kepada sang pengawal yang hanya mengusap-usap tengkuk kepala.


"Daripada aku kesepian," celetuk Carlo. Sedangkan Miabella segera memalingkan wajah, karena tak ingin jika Carlo sampai melihat senyum kecil atas jawaban menggelikan dari sang pengawal. "Baiklah. Jadi, kau ingin makan di mana?" tanyanya kemudian. Miabella langsung saja menunjuk pada bukaan yang berada di ruang tamu.


Tanpa banyak protes, Carlo membawanya ke sana. Mereka berdua lalu duduk bersila di lantai dengan saling berhadapan. Carlo yang masih memegangi piring dan sendok, tak merasa sungkan untuk menyuapi Miabella. Gadis itu pun tak menolak. Carlo memang kerap melakukan hal seperti itu, setiap kali Miabella sedang merajuk hingga tak mau makan.


"Kau tahu, Carlo?" tanya Miabella menatap pria di hadapannya. "Andai kau memilih untuk tidak menikah demi terus menjagaku, maka aku juga akan melakukan hal yang sama," ucap gadis itu sambil mengunyah makanannya.


"Maksudmu?" Carlo tak mengerti.


"Aku tidak tahu apakah akan ada seeorang yang bisa menjaga serta mengerti diriku sebaik dirimu. Kau begitu memahami segala yang kuinginkan tanpa harus kukatakan," sahut Miabella menjelaskan.


"Kau pikir tuan dan nyonya D'Angelo akan membiarkan putri mereka yang cantik untuk tidak menikah seumur hidup, hanya demi seorang pengawal sepertiku?" Carlo tersenyum kelu. Dia kembali menyendok makanan, lalu menyuapi Miabella. "Lagi pula, jika memang aku bisa mengerti dirimu dengan baik tanpa harus kau ucapkan, mengapa saat ini aku sama sekali tidak mengerti kenapa kau sampai bersikap aneh. Kurasa, ini bukan hanya karena siklus bulanan," pikir Carlo seraya menggeleng pelan.


"Jika kau ingin terlihat seperti mereka bertiga, maka kau harus menikah lalu memiliki anak," celetuk Carlo memotong ucapan Miabella. Dia masih tampak sangat tenang dan hanya tersenyum simpul, saat Miabella melotot padanya sebagai bentuk protes.


"Sudah kukatakan bahwa aku tak akan menikah jika kau juga tidak," tegas Miabella.


"Lalu, jika aku menikah maka kau pun akan menikah. Begitukah?" Carlo menaikkan sebelah alisnya. "Keputusan macam apa itu?" pikirnya tanpa berhenti menyuapi Miabella hingga tanpa terasa sisa makanan tadi hanya tinggal beberapa sendok lagi.


"Ah, ya! Aku yakin setelah ini kau akan segera menikahi Delana," ujar Miabella kembali membuang muka.


"Kata siapa?" Carlo mengempaskan napas pelan.

__ADS_1


"Aku yang baru saja mengatakannya. Kalian terlihat dengan dan akrab. Kau terus tersenyum dan bahkan tertawa saat berbincang dengan wanita muda itu. Tidak bisa diragukan. Aku tahu bahwa dia menyukaimu, Carlo," ucap Miabella dengan begitu yakin.


Akan tetapi, Carlo hanya tertawa pelan saat menanggapinya. "Kami tidak mungkin menjadi seorang sahabat andai Delana tidak menyukaiku," sahut Carlo dengan enteng.


"Itu berarti kau juga menyukainya," ucap Miabella lagi masih membuang pandangannya dari Carlo.


"Itu sesuatu yang sangat berbeda, Nona," bantah pria tiga puluh empat tahun, yang menunggu Miabella untuk kembali mengarahkan perhatian padanya.


"Apanya yang berbeda? Kulihat Delana menyukaimu. Sorot matanya tampak sangat lain ketika menatap ke arahmu." Miabella tetap membenarkan pendapatnya.


"Aku tidak terlalu memperhatikan hal itu. Lagi pula, apa kau tidak memiliki pembahasan lain selain tentang Delana? Kita sudah membicarakannya sejak tadi siang. Ini sesuatu yang tidak biasa bagimu, Nona. Sebelumnya kau tidak pernah bersikap seperti ini."


Miabella kembali terdiam. Dia seperti tengah memikirkan sesuatu. Tak berselang lama, gadis cantik tersebut mengarahkan tatapannya kepada Carlo. Sorot mata gadis itu tampak sendu. "Aku merasa bahwa kau akan pergi jauh, sangat jauh hingga aku tak bisa mendengar suaramu lagi. Entah mengapa tiba-tiba pikiran seperti itu muncul dengan begitu saja dalam kepalaku," ucap Miabella lirih dan agak bergetar.


Kali ini, giliran Carlo yang terdiam. Dia menatap lekat gadis berparas cantik dengan sepasang matanya yang indah. Wajah itu teramat dia kenali untuk setiap lekukannya, meskipun hanya Carlo sentuh sesekali saja, dan dengan alasan yang sangat jelas. "Kenapa kau begitu takut kehilanganku, Nona?" tanyanya. Suara Carlo terdengar begitu dalam. Raut serta tatap mata pria tersebut, menyiratkan sebuah harapan agar Miabella bersedia memberikan jawaban.


Akan tetapi, ternyata Miabella lebih memilih untuk bungkam. Dia hanya menatap lekat pria tampan di hadapannya.


Melihat Miabella yang hanya terdiam, Carlo pun segera meletakkan piring di lantai. Tangan kekar dengan balutan tato yang menghiasinya, terulur dan langsung menyentuh pipi mulus Miabella. Carlo membelainya untuk beberapa saat. Gadis itu pun terbuai, hingga memejamkan mata, terlebih ketika tangan Carlo mulai menelusup ke belakang leher. Pria tersebut mere•masnya perlahan, kemudian mendekatkan wajah hingga Miabella dapat merasakan hembusan napasnya.


Miabella terus terdiam dengan mata terpejam. Dia tahu bahwa Carlo sudah sangat mendekat padanya. Bibir mereka bahkan kini hampir bersentuhan. Satu gerakan kecil saja, maka pertautan pun pasti akan terjadi.


Dalam suasana seperti itu, Carlo terlupa untuk sejenak dari memikirkan tentang jati dirinya. Dia pun ikut terbuai dan hampir menabrak batasan serta peraturan yang telah ditegaskan kepada dirinya.

__ADS_1


Peraturan? Tiba-tiba saja wajah Adriano muncul dalam ingatan Carlo, dengan ucapan tegasnya yang kembali terngiang di telinga pria itu. Seketika, si pemilik mata biru tersebut menyingkirkan tangannya dari leher Miabella. "Aku tidak bisa," ucapnya sembari menjauhkan wajah dari paras cantik Miabella. "Aku tidak bisa melakukannya." Pria itu menggeleng tegas.


__ADS_2