
Menjelang malam, Mia dan yang lainnya baru kembali ke rumah sewaan. Mobil SUV hitam yang dikendarai Juan Pablo pun sudah berhenti di halaman. Pria latin itu segera turun dan membukakan pintu untuk Mia. Wanita cantik tersebut masih nampak tidak nyaman atas insiden kecil tadi di lokasi penemuan bangkai mobil Adriano. Juan Pablo sendiri dapat memahami hal itu. Sebelum Mia beranjak masuk, dia sempat mencegahnya terlebih dahulu. "Maaf atas kejadian tadi," ucapnya. Dia selalu setia dengan raut wajah dingin dan datar, tanpa ekspresi sama sekali.
Sementara Mia tidak menjawab. Dia hanya menanggapi permintaan maaf Juan Pablo dengan sebuah anggukan pelan. Setelah itu, segera diraihnya tangan Miabella dan dia ajak masuk. Mia meninggalkan Juan Pablo yang masih terpaku menatap kepergiannya. Sedangkan Coco berjalan menghampiri pria latin tersebut. Dia seakan bisa menerka arti dari sikap dan tatapan Juan Pablo terhadap Mia. "Terima kasih atas tumpangannya. Namun, aku harap kau hentikan menatap calon kakak iparku dengan cara seperti itu, terlebih lagi karena jasad Adriano belum ditemukan," santai tapi terkesan penuh peringatan kata-kata yang dia tujukan kepada ajudan setia Don Vargas tersebut.
Juan Pablo segera mengalihkan perhatian kepada pria berambut ikal yang berdiri di sebelahnya. Dia menatap Coco untuk sejenak. Tanpa berkata apa-apa, Juan Pablo kembali ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya meninggalkan halaman rumah itu. Sedangkan Coco hanya menyunggingkan senyuman sinis yang mengiringi kepergian pria latin tersebut. "Dasar aneh," ucapnya seraya berdecak pelan.
Untuk sejenak Coco berdiri di halaman dan menatap sekeliling tempat yang dia tempati saat ini. Suasana di sana begitu asri dan juga tenang. Tampak beberapa anak buah Adriano yang berjaga dan tengah duduk-duduk di teras. Coco lalu menghampiri mereka. "Apa kalian tidak melihat ada sesuatu yang mencurigakan?" tanyanya, membuat mereka serempak menoleh.
"Kami sudah berkeliling di sekitar rumah, tapi tidak menemukan sesuatu yang aneh. Nanti akan kami periksa lagi," jawab salah seorang dari keempat pria berperawakan tinggi besar tadi.
"Baiklah. Kabari aku jika kalian melihat sesuatu yang mencurigakan," pesan Coco. Setelah itu, dia beranjak masuk. Dilihatnya Mia yang tengah duduk termenung di sofa. Sementara Miabella sudah tertidur dengan kepala di atas pangkuannya. "Mia," sapa Coco.
Mia tak segera menyahut. Dia segera menghapus air mata yang menetes di pipinya. Kembali diusap-usap kepala Miabella dengan lembut. Kepedihan itu muncul dan membuat wanita dua puluh sembilan tahun tersebut seakan kehilangan kekuatan. Jika kemarin-kemarin dia masih memiliki harapan atas Adriano, maka entah dengan hari ini setelah dirinya melihat kondisi mobil yang terbakar di dasar jurang tadi. Akan tetapi, entah mengapa bahwa hati kecil Mia terus mengatakan, agar dirinya jangan sampai terlarut dalam pemikiran negatif. Walaupun kegalauan itu terus bertahta, tapi dia semestinya terus berusaha untuk meyakinkan diri, bahwa Adriano masih hidup dan akan segera kembali.
"Mia. Seberapa besar keyakinanmu setelah melihat kondisi mobil yang ditumpangi Adriano?" tanya Coco seraya duduk di salah satu kursi yang berada tidak jauh dari Mia.
__ADS_1
"Entahlah, Ricci. Aku hanya berharap agar Tuhan berbaik hati dan tidak menjadikanku janda untuk ketiga kalinya," jawab ibu dari Miabella tersebut dengan lesu.
"Kalau begitu, berdoalah dan pegang teguh harapan yang ada di dalam hatimu. Semoga itu semua bisa membuat Adriano dapat bertahan. Suamimu itu seperti kucing yang memiliki sembilan nyawa," Coco tertawa pelan, seakan tengah menghibur diri. Dia lalu beranjak ke dekat Miabella. Tanpa diminta, pria itu menggendong tubuh mungilnya. "Aku tidak mengerti, kenapa Miabella jauh lebih dekat kepada Adriano yang baru dia temui daripada kepadaku," gumamnya seraya membopong gadis kecil itu menuju ke kamar.
Mia pun beranjak dari duduknya dan mengikuti Coco. Dia lalu menata bantal untuk Miabella yang sudah terlelap. "Terima kasih, Ricci," ucap wanita itu pelan.
"Sudah kewajibanku, Mia. Miabella adalah keponakan yang harus kujaga. Walaupun dia tidak terlalu menyukaiku, tapi aku menyayanginya," ujar Coco seraya memilih untuk segera berlalu. Dia tak ingin Mia tahu, bahwa dirinya kini tengah mengingat sahabat sejati yang telah lama pergi. Coco berjalan menuju kamarnya sambil sesekali menyeka sudut mata yang basah. Seberapapun tegar seorang Giovanni Francesco Ricci, nyatanya dia tak berdaya jika sudah teringat kepada sosok Matteo de Luca. "Aku akan menemukan mereka dengan segera, Theo. Akan kupatahkan tangan orang-orang yang telah merenggut kehidupanmu," Coco berjanji pada dirinya.
Coco lalu melepas jaket yang dia kenakan. Pria itu melemparkannya dengan begitu saja ke atas kasur. Sesaat kemudian, dia lalu naik dan duduk bersandar pada kepala tempat tidur dengan satu kaki yang ditekuk. Segera diraihnya ponsel dari atas meja sebelah tempat tidur tersebut. Coco bermaksud untuk menghubungi sang kekasih. Kesibukan selama beberapa hari ini, membuat dia tidak sempat menyapa gadis cantik pujaan hatinya. Namun, sebelum melanjutkan niat melakukan sambungan video call, Coco memilih untuk melihat kotak masuk yang belum sempat dia periksa. Di sana, dia menemukan salah satu pesan yang berupa sebuah pesan suara. Penasaran, Coco pun membukanya.
Diketuknya pintu kamar sang calon kakak ipar dengan pelan. Tak berselang lama, Mia membuka pintu tersebut. "Apa kau hendak pergi, Ricci?" tanya Mia dengan mata sembab. Sepertinya wanita itu habis menangis di dalam. Dia juga merasa heran ketika melihat Coco yang telah tampil rapi dengan jaket kulit kesayangannya. Nampak begitu jelas kesedihan menggelayut di wajah cantik Mia yang sejak tadi berusaha untuk dia pendam.
"Aku akan keluar sebentar. Tetaplah di dalam kamar. Kau tidak perlu khawatir, karena ada penjaga yang bersiaga di sini. Jika ada apa-apa, jangan segan untuk meminta bantuan," pesan Coco. Tak lupa dirinya mengeluarkan pistol yang tadi dia selipkan di pinggang dan menyodorkannya kepada Mia. "Ini peganglah untuk perlindungan seandainya ada sesuatu yang tidak diinginkan. Aku yakin kau bisa menggunakannya," ucap Coco lagi.
Gemetaran tangan Mia ketika harus kembali memegang sebuah senjata. Dia merasa takut untuk menyentuh benda itu. "Tidak, Ricci! Aku tidak mau!" tolaknya dengan segera.
__ADS_1
"Kumohon, Mia. Ambil dan jangan membuang-buang waktuku!" tegas kekasih dari Francesca tersebut. "Aku akan pergi sebentar, tapi aku harus memastikan dirimu dalam keadaan aman. Ingatlah kedua pria yang telah kau nikahi. Mereka orang-orang yang kuat dan hebat," tak memiliki banyak waktu, Coco segera berbalik dan bermaksud untuk pergi.
"Katakan kau hendak ke mana?" tanya Mia membuat Coco menghentikan langkah dan menoleh.
"Melakukan tugas yang Adriano berikan padaku," jawabnya sambil tersenyum.
"Adriano?" mata Mia kembali berkaca-kaca.
"Ya. Suamimu masih hidup, Mia. Karena itu, berusahalah untuk menjaga dirimu dengan baik hingga aku kembali," sahut Coco seraya melanjutkan langkah menuju pintu keluar. Dia berpesan kepada semua yang berjaga di sana agar terus waspada selama dirinya pergi.
Sedangkan Mia segera menutup pintu kamar rapat-rapat. Dia menguncinya dari dalam. Tak lupa, Mia juga memeriksa jendela dan memastikan bahwa semuanya dalam keadaan aman. Setelah itu, wanita tersebut duduk di sebelah Miabella sambil menggenggam erat pistol yang Coco berikan padanya. Tersungging seutas senyuman dari bibirnya. “Adrianoku masih hidup. Bella, Daddy Zio-mu masih hidup,” bisik Mia lembut sembari membelai rambut putri semata wayangnya dengan wajah sumringah.
Sementara itu, Coco berjalan menyusuri trotoar. Sesekali dirinya memeriksa layar ponsel. Tanda merah tadi masih menyala. Jaraknya pun tak seberapa jauh dari rumah sewaan yang dia tempati. Makin lama, Coco semakin dekat dengan tanda merah itu. Dia pun mempercepat langkahnya. Sesaat kemudian, pria itu tertegun. Tanda merah tadi berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Coco lalu memasukan ponsel pada saku jaket bagian dalam. Dia berdiri dan mengeluarkan kotak rokok dari saku yang lain. Pria itu menyulut satu batang lalu mengepulkan asapnya ke udara. Sementara matanya tajam mengawasi seseorang yang tengah berdiri di dekat sebuah mobil sedan, dengan jarak kurang lebih sepuluh meter dari tempatnya berada.
__ADS_1
Adalah seorang pria berperawakan tegap, dengan otot lengan yang terlihat kuat. Pria berambut cepak dan berjanggut cukup tebal. Dia nampak tengah berbincang dengan seseorang di dalam mobil yang wajahnya tidak dapat Coco lihat dengan jelas. Namun, mereka sepertinya berbicara dengan serius. Coco kembali memeriksa ponselnya. Tanda merah tadi bergerak, seiring dengan pria itu yang juga berlalu dari sana.