Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Calmati


__ADS_3

Setelah selesai mengarahkan kedua anak buahnya, Adriano kemudian berbincang sebentar dengan Zucca yang baru tiba dari Palermo. Namun, tak berselang lama dia segera kembali ke kamar dengan wajah lelah. Rupanya, Mia juga sudah menunggu di sana. Wajah cantik wanita dua puluh sembilan tahun itu tampak diliputi kekhawatiran, saat melihat sang suami yang tengah berjalan ke arahnya.


“Bagaimana Miabella? Aku belum sempat melihat dia ke kamarnya. Badanku terasa lengket dan kotor,” Adriano mengangkat bagian bawah kemeja dan menunjukkannya kepada Mia.


“Tidak apa-apa. Dia sudah tertidur nyenyak,” sahut Mia seraya tersenyum lembut. Tak lupa, dia juga membelai pipi Adriano dengan penuh perasaan. “Mandilah dulu. Sudah kusiapkan air hangat untukmu,” ucap Mia lagi. Dengan telaten, dia membuka kancing satu per satu kemudian melepas kemeja yang dikenakan oleh sang suami. Dirabanya tubuh atletis dengan beberapa bekas luka itu. Hati Mia selalu teriris setiap kali melihat hal tersebut. Namun, sesaat kemudian sentuhan tangan Mia lalu berpindah pada resleting celana. Dia pun menurunkannya dengan perlahan.


“Sayang,” desah Adriano ketika Mia juga membantu melepaskan pakaian dalamnya. Adriano sama sekali tak menolak ketika Mia menuntun dia masuk ke kamar mandi. Setelah itu, Mia meminta sang suami agar masuk dan berendam di dalam bathub. Perlakuan istimewa yang dilakukannya telah membuat Adriano begitu terkesan. Sang ketua Tigre Nero tersebut menatap wanita cantik itu dengan penuh arti. Senyuman lembut pun tak lupa dia berikan kepada sang istri tercinta.


Pelan dan begitu luwes gerak tangan Mia saat membasahi pundak, punggung, serta dada Adriano. Usapan yang disertai pijatan lembut mengiringi acara mandi sang penguasa daratan Eropa tersebut. Adriano terlihat begitu tenang, dengan kedua tangan yang terulur lurus pada pinggiran bathub berisi air hangat. “Mia ...,” dia tak mampu berkata-kata. Sedari tadi, pria bermata biru itu tak melepaskan perhatiannya dari wajah cantik sang istri.


“Bersantailah sejenak di sini, sementara aku akan menyiapkan baju ganti untukmu,” Mia yang saat itu setengah berlutut di sebelah bathub tadi, mengecup lembut bibir Adriano sebelum beranjak dari sana.


“Grazie, Mia,” ucap Adriano yang masih terpana atas perlakuan istrinya. Dia lalu menyandarkan kepala sambil terpejam. Angannya melayang jauh entah ke mana untuk beberapa saat.


Tak berselang lama, Mia kembali masuk ke kamar mandi. Dia mengambil handuk dari dalam laci meja wastafel. Setelah itu, dikaitkannya handuk putih tadi pada gantungan di dekat bathub. “Jadi, apakah semuanya baik-baik saja?” tanya Mia setengah berbisik. Dia kembali dalam posisi setengah berlutut di dekat Adriano sambil memperhatikan sang suami yang tengah menenangkan diri.


“Akan kupastikan semuanya baik-baik saja, Sayang. Kau tidak usah khawatir,” sahut Adriano tenang. Iseng, tangannya yang penuh dengan busa, terulur lalu menyentuh pangkal hidung Mia. Adriano pun tertawa.


Demikian pula dengan Mia. Dia tak henti-henti menatap paras rupawan suaminya. Merasa tidak puas hanya demikian, Mia kemudian mencium pipi Adriano dengan lembut. “Terima kasih, Sayang. Aku tak bisa membayangkan pada saat-saat diriku berada dalam keterpurukan waktu itu. Andai saja diriku tidak bertemu denganmu, mungkin saat ini aku sudah mati bunuh diri,” ujar Mia penuh sesal seraya tertunduk.


“Tidak ada satu hal pun yang merupakan kebetulan di muka bumi ini, Sayang. Tuhan mempertemukan kita kembali karena satu alasan. Kau sudah tahu apa yang menjadi alasannya,” jelas Adriano. Paras tampan dengan tatapan sayu pria itu, tertuju langsung kepada sang istri dan membuat luluh siapa pun yang memandang jauh ke dalam bola mata berwarna biru miliknya.


“Adriano,” desah Mia pelan. Dia tak kuasa untuk tidak mencium bibir suaminya lagi dan lagi. Akan tetapi, ciuman itu harus terhenti ketika mereka mendengar sebuah ketukan pelan di pintu kamar. Mereka berdua pun saling pandang untuk sejenak, sebelum akhirnya Mia berdiri dan memutuskan keluar dari kamar mandi. Dia berjalan ke dekat pintu, lalu membukanya sedikit. Sementara Adriano kembali memejamkan mata.


“Ada apa, Ricci?” sayup-sayup terdengar suara Mia, membuat Adriano kembali membuka matanya serta menajamkan pendengaran, “Adriano sedang mandi, akan kusampaikan nanti,” tutupnya. Untuk beberapa saat, suasana pun kembali hening. Tak terdengar suara percakapan lagi di sana.

__ADS_1


“Mia,” panggil Adriano yang tak sabar ingin mengetahui isi perbincangan antara sang istri dengan Coco. “Apa ada masalah?” tanyanya sedikit nyaring.


Tak berselang lama, wajah cantik Mia muncul dari balik pintu kamar mandi. “Tidak ada, Adriano. Ricci hanya memberitahukan bahwa dia sudah menempatkan anak buahmu di kamar tamu yang berada tak jauh dari kamar ini. Ricci juga mengatakan bahwa dia ingin berkoordinasi denganmu sebelum kita kembali ke Monaco besok pagi,” jelasnya sambil berdiri tak jauh dari sang suami yang masih menikmati air hangatnya. Namun, tak lama kemudian Mia kembali berlalu dari sana tanpa menunggu jawaban sang suami.


“Baiklah. Terima kasih, Sayang,” ucap Adriano dengan setengah berseru, karena wajah Mia sudah tak terlihat lagi di sana. Dia terdiam sejenak, kemudian memutuskan untuk menyudahi acara berendamnya.


Tanpa terasa, siang yang melelahkan pun telah berganti. Malam itu, Adriano lalui dalam dekapan Mia yang membawa dia dalam kedamaian sesungguhnya. Sepasang suami istri itu bahkan terlelap hingga pagi menjelang. Namun, buaian mimpi indah yang menyelimuti mereka harus berakhir, ketika Miabella masuk ke kamar dan langsung naik ke atas ranjang. Dengan riang, balita cantik itu langsung merebahkan diri di antara Mia dan Adriano yang tidur dalam posisi berpelukan. Sontak, hal itu membuat Mia terperanjat kaget.


Mia memicingkan mata, kemudian menggeser badan agar Miabella bisa berbaring dengan nyaman. “Selamat pagi, Malaikat kecilku,” sapa Mia. Dengan gemas, dia mencium pipi serta kening putrinya. Sementara Adriano masih terlelap. Sesuatu yang tak biasa karena pria itu bangun kesiangan.


“Daddy Zio tidak mencium keningku tadi malam, Bu,” bisik Miabella. Tangan mungilnya memainkan pangkal hidung sang ibu.


“Nanti saja kau tanya sendiri jika dia sudah bangun,” balas Mia dengan setengah berbisik. Tanpa mereka ketahui, sebenarnya Adriano mendengar percakapan kecil ibu dan anak itu meski matanya masih terpejam.


“Ada apa, Sayang?” tanya Adriano yang diam saja ketika Miabella memainkan janggut tipisnya.


“Semalam aku mencarimu, Daddy Zio. Kau bahkan tidak mencium keningku saat aku hendak tidur,” ujar gadis kecil itu mengalihkan tangannya pada hidung sang ayah sambung.


“Maafkan aku, Principessa. Mulai nanti malam, aku tidak akan melewatkan lagi untuk memberimu ciuman selamat malam,” balas Adriano seraya merengkuh tubuh Miabella. Dia lalu mendudukkan gadis kecil itu di atas perutnya. “Kau tahu, Sayang? Hari ini kita akan pulang ke rumah bersama kakek Damiano,” ujarnya.


“Benarkah itu, Daddy Zio?” mata bulat abu-abu Miabella terbelalak.


“Iya,” Adriano tertawa melihat wajah lucu putri sambungnya.


“Hore!” seru Miabella riang. Dia bahkan mengangkat tangannya ke atas dan melompat turun begitu saja. Miabella kemudian berlari ke luar kamar, bermaksud mendatangi kamar Damiano.

__ADS_1


“Dia selalu penuh dengan semangat,” Mia tertawa pelan seraya turun dari ranjang. “Bersiaplah, Adriano. Bukankah kita kembali ke Monaco pagi ini?”


Adriano menanggapi ucapan Mia dengan senyuman, lalu mengikuti langkahnya menuju kamar mandi. Selesai merapikan diri, pria itu bergegas menuju ruang tengah di mana Coco dan kedua anak buahnya telah menunggu.


“Bos,” sapa Dante. Serafino juga turut berdiri saat Adriano muncul. Di ruangan itu juga ada Coco dan Zucca.


“Adriano,” Coco yang sebelumnya duduk, segera berdiri lalu menghampirinya. Dia juga meletakkan tangannya di atas pundak pria rupawan itu. “Zucca mengatakan bahwa kemungkinan ada drone-drone lain yang akan dikirim ke Casa de Luca, jika kita tidak melakukan sesuatu untuk mencegahnya,” tutur pria berambut ikal itu kemudian.


“Jadi, bagaimana?” perhatian Adriano beralih pada Zucca.


“Aku sudah memerintahkan semuanya untuk menembak jatuh apapun atau siapa pun yang melintas di atas wilayah Casa de Luca,” tegas pria tinggi besar tersebut. Sorot mata dan raut wajahnya terlihat amat garang.


“Bagus. Aku setuju,” sahut Adriano seraya mengangguk.


“Untuk keamanan di darat, aku juga sudah menyiapkan anak-anakku di tiap titik masuk wilayah Casa de Luca, Bos,” timpal Dante.


“Anak-anak?” kini giliran Zucca yang mengernyitkan keningnya.


“Ya, anak-anak,” Dante menoleh pada Zucca sembari tersenyum lebar. Kesan menyeramkan yang tergambar dari tato-tato di seluruh tubuhnya, menghilang saat pemuda itu tertawa hingga memperlihatkan lesung pipinya.


“Aku memiliki dua anjing berjenis Doberman, tiga jenis anjing Pitbull, dan dua anjing Rottweiler. Semuanya sudah aman berada di bawah pengawasanku,” terang Dante.


“Mereka bahkan jauh lebih cerdas daripada Dante,” imbuh Serafino seraya terkekeh.


Tersungging senyuman samar dari bibir tipis Adriano. “Kalau begitu, hatiku menjadi tenang meninggalkan tempat ini. Aku tidak ingin terjadi apapun di Casa de Luca. Aku tidak mau membuat Miaku kalut dan sedih,” ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2