
Keesokan harinya.
Adriano kembali ke Casa de Luca untuk menjemput Mia dan Miabella. Sesuai rencana, mereka akan pergi ke Milan untuk mencari gaun pengantin bagi Mia. Namun, sebelum Adriano masuk dan bertemu dengan calon istrinya tersebut, Coco telah terlebih dahulu menghadang di pintu depan sambil melipat kedua tangan di dada. Raut wajah pria berambut ikal tersebut tampak tidak bersahabat sama sekali. Padahal, Coco cukup terkejut melihat Adriano dalam kondisi yang baik-baik saja.
“Adriano D’Angelo,” sapa Coco dengan nada bicaranya yang terdengar begitu sombong. Dia melangkah ke hadapan pria rupawan bermata biru itu sambil terus melipat tangannya di dada.
Coco berjalan mengelilingi Adriano yang hanya berdiri mematung dan membiarkan sahabat kental Matteo tersebut melakukan apa yang diinginkannya. “Bagaimana kau bisa bertahan hidup? Apakah kau diselamatkan seekor lumba-lumba?” tanya Coco heran. Dia berhenti memutari Adriano dan berdiri tepat di hadapan pria yang lebih tinggi beberapa inci darinya.
“Tuhan yang menyelamatkanku,” jawab Adriano tenang dan tanpa rasa takut sama sekali.
“Ah, tentu saja. Tuhan membiarkanmu tetap hidup agar kau bisa segera bertaubat,” ledek Coco.
“Ya, dan Mia akan membawaku ke jalan pertaubatan. Sama seperti yang dilakukannya terhadap Matteo. Aku harap kau sudah mengetahui rencana pernikahan kami,” balas Adriano dengan senyuman puas di wajah tampannya.
Coco tertawa lebar mendengar ucapan Adriano yang menurutnya terlalu percaya diri. Dia menggeleng seraya berdecak pelan. “Mia menikahimu hanya agar kau bisa membantunya mengungkap kasus kematian Matteo. Jangan terlalu percaya diri dan berharap lebih, Sobat,” bantah Coco seraya menepuk lengan Adriano, dengan sikapnya yang penuh ejekan pada pria itu.
Sementara, Adriano sendiri masih tetap terlihat tenang dengan senyuman yang menawan. Ekor matanya mengikuti gerak-gerik Coco, yang menandakan bahwa dia pun berada dalam sikap waspada.
“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, Tuan Ricci. Sama seperti kejadian yang menimpaku. Siapa sangka bahwa aku dapat bertahan hidup setelah terombang-ambing di lautan. Oh, tentu saja itu akan menjadi berita besar, seandainya aku mengungkapkan hal tersebut ke publik. Kau dan semua yang berada di sana malam itu … aku tak bisa membayangkan akan jadi seperti apa reputasi kalian nantinya.” Tenang tapi bernada penuh ancaman ucapan yang Adriano lontarkan kepada Coco.
Coco terdiam sejenak. Pria itu menghela napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. “Aku takut sekali mendengar ancamanmu,” balasnya dengan wajah mengiba. Namun, sesaat kemudian pria itu tertawa. “Jika memang kau ingin membeberkan hal itu ke publik, maka seharusnya kau malakukan hal tersebut sejak beberapa tahun yang lalu. Rasanya menggelikan jika kau baru membahasnya saat ini."
"Kasus itu sudah terlalu lama terkubur. Jasad Matteo pun bahkan saat ini pasti sudah tinggal tulang belulang saja. Begitu juga dengan kasus malam itu. Sama seperti sebuah makanan yang sudah terlalu lama disimpan dan menjadi basi.” Kali ini, Coco menanggapi ucapan Adriano dengan nada dan mimik wajah yang cukup serius.
“Tidak ada kasus yang menjadi basi, Tuan Ricci. Apalagi untuk seorang Adriano D’Angelo. Sudahlah. Aku masih ada urusan penting sekarang. Jadi, jika kau ingin melanjutkan perdebatan kecil ini, maka kita teruskan saja lain kali. Itu juga jika aku memiliki waktu luang. Ah, tapi sayangnya aku selalu sibuk.” Adriano tersenyum lebar.
Senyuman yang tentu saja bukan dia tujukan kepada Coco, melainkan pada seorang gadis kecil yang tengah menuju ke arahnya.
“Bella,” panggil pria itu hangat. Dia menurunkan tubuh saat menyambut Miabella yang segera menghambur dan memeluknya dengan erat.
Gadis kecil tersebut bahkan mencium pipi kiri dan kanan Adriano.
Sikap Miabella membuat Coco terbelalak. Pasalnya, gadis kecil tersebut, tak pernah melakukan hal seperti itu terhadap dirinya. Miabella selalu bersikap dingin dan biasa saja.
Tak berselang lama, Mia muncul dengan dress hitam sebatas lutut. Rupanya, dia telah bersiap untuk pergi. Wanita cantik itu menoleh kepada Coco untuk sesaat. “Hai, Ricci,” sapanya ramah.
__ADS_1
“Kau akan pergi, Mia?” tanya Coco.
“Kami akan ke Milan untuk mencari gaun pengantin,” sela Adriano yang berdiri sambil menggendong Miabella. “Kita harus bergegas, Mia,” lanjutnya sambil berlalu begitu saja, tanpa berpamitan kepada Coco. Adriano berjalan menuju mobil sport mewahnya terparkir.
Sementara, Coco yang saat itu menatap kepergian Adriano dan Miabella, kini mengalihkan pandangannya kepada Mia. “Aku sudah menghubungi Dani dan Francy, untuk mengabarkan bahwa kau telah kembali. Sepertinya, mereka akan datang kemari,” ucap Coco.
“Aku tidak akan lama,” balas Mia pelan. “Aku pergi dulu. Sampai nanti, Ricci.” Setelah berpamitan, Mia segera menyusul Adriano yang telah menunggu di dekat mobil. Sementara, Miabella sudah duduk manis di jok belakang.
Coco hanya memperhatikan mereka dari teras. Rasa hatinya berkecamuk, melihat Mia harus melakukan hal itu dengan Adriano. Akan tetapi, dia tidak bisa mematahkan semangat istri dari mendiang sahabatnya tersebut, untuk dapat mencari keadilan bagi sang suami.
Tak berselang lama, mobil sport mewah Adriano pun melaju pelan meninggalkan halaman luas Casa de Luca.
Ferarri Portofino milik Adriano, berhenti tepat di depan sebuah butik mewah yang berada di pusat kota Milan. Dengan hati-hati, dia membantu Miabella turun dari kendaraannya.
“Aku bisa berjalan sendiri, Daddy Zio,” tolak bocah kecil itu saat Adriano hendak menggendongnya.
“Baiklah, Principessa (Tuan Putri),” balas Adriano seraya tertawa.
Sementara, Mia melihat keakraban itu dengan sorot sendu. Hatinya teriris, ketika Adriano memanggil putrinya dengan nama panggilan yang sama, seperti yang diberikan oleh Matteo pada putri kesayangannya itu.
Diam-diam, Mia menyeka air matanya yang meleleh di pipi. Dia juga harus memperlihatkan senyuman palsu, saat seorang pegawai butik ramah menyapa dirinya dan Adriano.
“Apa ada yang bisa kami bantu, il signor e la signora (Tuan dan Nyonya)?” tanya pegawai itu sopan.
“Baiklah. Ikuti aku, Tuan dan Nyonya.” Pegawai itu mengarahkan mereka ke bagian dalam butik. Di sana, ada berbagai koleksi gaun pengantin yang terlihat sangat indah dan elegan.
“Pilihlah mana yang kau suka, Mia. Kau juga boleh mengambil lebih dari satu,” ujar Adriano yang membuat Mia terbelalak.
“Apa kau ingin menikahiku berkali-kali, Adriano? Untuk apa aku mengambil lebih dari satu gaun pengantin?” protes Mia.
“Bukankah kita akan membutuhkan banyak gaun untuk acara pemberkatan dan resepsi?” Adriano mengernyitkan keningnya.
“Dulu, aku ... dulu aku hanya memerlukan satu gaun.” Mia menundukkan wajahnya dalam-dalam. Kembali teringat saat pesta pernikahan dengan Matteo yang berlangsung dengan tidak begitu lancar.
“Ibu. Aku juga mau itu,” tunjuk Miabella. Jemari mungilnya mengarah pada satu gaun pengantin berenda, yang terlihat sangat mewah dan indah.
Belum sempat Mia menjawab, Adriano langsung menghampiri gadis kecil itu, lalu menggendongnya. “Baiklah, Principessa. Kita akan mengambil gaun itu untukmu,” ucap Adriano seraya menoleh pada pegawai yang mendampingi mereka.
“Akan kucarikan model yang serupa, Tuan. Gaun yang sesuai dengan nona kecil ini tentunya.” Pegawai tadi mengangguk sopan seraya meninggalkan mereka untuk beberapa saat.
__ADS_1
Tak terkira gembira Miabella saat itu. Raut bahagia terus dia perlihatkan, sampai mereka keluar dari butik.
“Adakah yang kau inginkan lagi, Bella?” tawar Adriano.
“Sudah terlalu siang. Sebaiknya kita segera pulang,” ajak Mia sambil meraih pergelangan tangan Miabella.
Akan tetapi, gadis kecil itu segera menghentikan langkahnya dan bergeming, meskipun Mia sedikit menarik paksa.
Raut wajah Miabella yang tengah cemberut tadi terlihat sangat menggemaskan.
“Hei, ada apa?” Adriano segera berjongkok di hadapan Miabella.
“Aku haus, Daddy Zio. Aku tidak ingin pulang dulu. Aku ingin minum es krim,” jawab Miabella.
“Astaga, Sayangku. Es krim bukan diminum, tapi dimakan. Lagi pula, jika kau haus, seharusnya kau minum air,” tegur Mia lembut.
“Aku tidak suka Ibu!” sungut Miabella sembari membalikkan badan sambil melipat tangannya di dada. Hal itu membuat Adriano tersenyum. Dia berusaha menahan tawa.
“Baiklah. Kita akan mencari kedai es krim bersama-sama. Namun, aku ingin kita berjalan kaki saja sambil menikmati suasana di sini. Bagaimana? Apa kau mau?” tawar Adriano lembut.
Miabella segera membalikkan badan mendengar tawaran Adriano. Matanya yang indah terlihat berbinar. “Tentu saja, Daddy Zio. Aku tidak akan merasa lelah, karena kau yang akan menggendongku,” sahutnya ceria.
Kini, giliran Mia yang menahan tawa.
“Kalau begitu, aku setuju saja,” ucapnya terpaksa.
“Baiklah. Permintaan kalian adalah perintah bagiku.” Adriano mengangkat tubuh mungil Miabella dan meletakkan di bahu lebarnya.
Mereka berjalan menyusuri trotoar, hingga tiba di depan gereja tempat Matteo berdoa untuk terakhir kalinya. Tubuh Mia seketika membeku. Keringat dingin mulai mengucur deras dari pori-pori kulitnya.
“Ada apa, Mia?” Adriano memperhatikan gelagat aneh Mia. Dia menghampiri calon istrinya.
“Di sini ... di sini ....” Mia terbata. “Di tempat ini mereka menghabisi suamiku.” Tubuh Mia bergetar hebat. Hampir saja dia terjatuh jika Adriano tidak segera menangkap tubuhnya.
“Ibu!” seru Miabella. Adriano segera menurunkan gadis kecil itu, sehingga tangan Miabella dapat memegangi kaki Mia.
Sementara, Adriano sigap memeluk Mia erat dan menahannya. “Aku bersumpah akan mengembalikan senyuman di wajahmu, Mia. Akan kuberikan keadilan untuk Matteo, meskipun aku harus mengotori tanganku,” tegasnya.
Untuk beberapa saat, mereka saling berpelukan di depan gereja sampai Miabella merengek meminta es krimnya sebelum pulang.
__ADS_1
Adriano menuruti keinginan gadis kecil itu. Dibelikannya apa yang menjadi keinginan Miabella, sebelum mereka kembali ke Casa de Luca.
Sepanjang perjalanan hingga tiba di depan bangunan utama kediaman de Luca, Mia tak juga berhenti menangis. Tangisnya baru berhenti, ketika dia melihat Francesca berteriak-teriak memanggil namanya di depan halaman.