Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Painful Heart


__ADS_3


Adriano patut berbangga hati. Pesta yang dia persiapkan dalam jangka waktu yang teramat singkat itu, berjalan dengan lancar. Tak sia-sia dirinya mengeluarkan sejumlah uang dengan nilai fantastis, untuk menyewa wedding organizer ternama di Kota Milan. Dia begitu puas dengan pesta yang kini telah berakhir dan meninggalkan kesan mendalam baginya.


Namun, meskipun pesta telah usai sejak beberapa jam yang lalu, suasana di Casa de Luca yang sudah lama sepi bagaikan tak berpenghuni, masih terdengar ramai. Kedua putra Daniella begitu aktif. Mereka tak bisa diam, sehingga membuat sang ibu begitu kewalahan.


Sementara, Marco hanya duduk santai sambil berbincang dengan Damiano yang juga tengah menjaga Miabella. Sesekali, dia menoleh kepada sang istri yang terus-menerus melotot tajam pada kedua putra mereka. Akan tetapi, anak-anak itu seakan sudah kebal dengan ancaman dari sang ibu, sehingga hal tersebut tak mereka indahkan sama sekali.


Lain halnya dengan Adriano. Dia baru keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana tidur. Mia yang sedang sibuk membersihkan riasan di depan cermin, segera menundukkan wajah, karena tak ingin melihat pria itu dalam keadaan bertelanjang dada dan kembali memamerkan tato di punggungnya. “Apa Miabella sudah tidur?” tanya Adriano sambil mengenakan kaos hitam polos. Dia membiarkan rambutnya yang biasa tersisir rapi ke belakang, terlihat acak-acakan.


“Bella sedang bersama Paman Damiano di ruang keluarga,” jawab Mia seraya beranjak dari duduknya. “Paman Damiano ingin agar kita tinggal beberapa hari di sini. Dia mungkin merasa berat karena harus berpisah dengan Miabella,” ucap wanita itu lagi.


“Tak masalah. Lagi pula, ada urusan penting yang harus kulakukan di sini,” balas Adriano. Dia lalu duduk di ujung tempat tidur dengan setengah membungkukkan badan. Pria itu tampak sedang memikirkan sesuatu. “Mia,” panggil Adriano pelan. “Apa Matteo memiliki pengacara pribadi?” tanyanya.


Mia yang saat itu tengah menata bantal, tertegun untuk sejenak seraya menatap pria yang kini telah menjadi suaminya. “Setahuku ada. Kalau tidak salah dia bernama Guido Aquillani. Namun, aku tidak terlalu mengenalnya,” jelas Mia.


Mia terdiam sejenak sebelum kembali berkata, “Aku rasa, Paman Damiano pasti jauh lebih tahu tentang hal itu. Semasa hidupnya, Theo tak pernah membahas hal-hal yang berkaitan dengan organisasi atau apapun denganku, kecuali jika aku yang bertanya atau memang itu merupakan sesuatu yang harus kuketahui."


"Sama seperti dulu saat kedua orang tuanya terbunuh karena bom mobil yang salah sasaran. Apa kau tahu jika itu merupakan rencana Vincenzo Moriarty yang bekerja sama dengan Antonio? Aku yakin kau pasti tak mengetahui hal itu, bukan?” Mia kembali menata bantal untuk dirinya dan juga Adriano. Sesuatu yang sudah biasa dia lakukan, saat masih bersama Matteo dulu sebelum tidur.


Adriano tidak menjawab, karena dia memang tak mengetahui hal tersebut. Terlebih, sekian lama dirinya tak bertemu dengan kakak-beradik Moriarty. Adriano memilih untuk menetap di Monaco. Sementara, Vincenzo berdomisili di Amerika, dan hanya Silvio yang masih berada di Italia. Adriano hanya mendengar kabar kematian Silvio yang kemudian disusul dengan tewasnya Vincenzo.


Pria bermata biru itu memilih untuk beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah pintu. “Aku akan melihat Miabella dulu,” ucapnya seraya berlalu dari dalam kamar. Dia berjalan menuju ruang keluarga.


Adriano sudah sering bertandang ke Casa de Luca, sehingga dirinya telah mengetahui hampir setiap bagian dari bangunan megah khas rumah perkebunan tersebut. Sambil terus melangkah dan sesekali merapikan rambut, Adriano akhirnya tiba di ruangan yang dia tuju.


Di sana tampak Marco yang masih berbincang dengan Damiano. Sementara, Daniella dan kedua putranya sudah masuk kamar untuk beristirahat. “Selamat malam,” sapa Adriano dengan gaya bicara dan sikapnya yang selalu terlihat kalem.


Serentak, kedua pria itu menoleh. Damiano menyambut kehadiran Adriano di sana dengan sikapnya yang hangat. Sementara, Marco hanya mengangguk pelan.

__ADS_1


Sebelum duduk dan bergabung dengan kedua pria tadi, Adriano sempat melihat Miabella yang tertidur di atas pangkuan Damiano. Gadis kecil itu memeluk sang kakek dengan cukup erat. Pemandangan tersebut membuat Adriano tersenyum kecil. Wajar, jika Damiano merasa berat untuk berpisah dengan cucu kesayangannya tersebut.


“Kau boleh datang ke Monaco kapanpun kau ingin, Damiano. Jika perlu, aku akan menjemputmu agar kau dapat leluasa bertemu dengan Miabella saat nanti dia kubawa ke sana." Lembut, tutur kata Adriano. Membuat Marco cukup terkesan.


“Menurutku kau aneh sekali, Tuan D'Angelo,” celetuk Marco tiba-tiba.


“Aneh bagaimana?” Adriano segera mengalihkan perhatiannya pada sepupu Matteo tersebut, dengan sorot keheranan.


“Perlakuan terakhir kami padamu dulu sungguh tak manusiawi. Namun, kenapa kau bersikap seolah tak terjadi apapun di antara kita?” tanya Marco seraya mencondongkan badannya.


“Aku juga tidak tahu. Padahal, biasanya aku bukanlah seorang pemaaf." Adriano mengangkat kedua bahunya. “Akan tetapi, sedikit banyak aku mengerti keputusan yang dibuat oleh Matteo. Aku mungkin akan melakukan hal yang sama, untuk melindungi orang yang sangat kucintai,” sambung pria itu lagi. Matanya terlihat menerawang, dia arahkan kepada Miabella yang terlelap dalam dekapan Damiano.


Suasana hening hadir untuk sejenak di antara ketiga pria itu. “Ah, sudahlah. Aku kemari bukan untuk membicarakan hal itu.” Adriano memilih salah satu kursi dan duduk dengan gagah di sana.


“Dengarkan aku. Terlepas dari apapun niat kalian untuk menikah, maka ketahuilah satu hal, Nak. Menikah bukanlah permainan. Hal itu seharusnya menjadi sarana pertautan dua hati yang saling mencintai,” ucap Damiano sambil terus mendekap tubuh mungil Miabella.


“Sejak dulu hatiku sudah tertaut pada Mia, Damiano. Namun, hingga saat ini hatinya memang belum menjadi milikku. Aku tak pernah menganggap pernikahan ini sebagai sarana untuk bermain-main,” sahut Adriano terlihat serius.


“Aku akan segera menghubungi pengacara Keluarga de Luca, untuk menanyakan sampai sejauh mana kasus ini berjalan,” jawab Adriano lugas.


Namun, jawaban serius Adriano justru membuat Marco tertawa pelan. “Kasus ini hanya jalan di tempat sejak dulu. Aku sudah melakukan segala cara. Termasuk menyewa detektif swasta terbaik dan mengerahkan seluruh anak buah pilihan. Akan tetapi, mereka semua tak mendapatkan titik terang sama sekali."


"Tempat kejadian perkara sudah ditata dan ditutupi sedemikian rapi, sampai tak ada satu pun bukti yang bisa kami dapatkan di sana. Sementara, untuk bergantung pada polisi pun percuma. Mereka tak boleh menyelidiki terlalu dalam pada kasus ini, atau organisasi hitam yang telah berjalan selama ratusan tahun akan terbongkar. Sia-sia saja perjuangan kami selama ini jika sampai hal itu terjadi," tutur Marco.


Pria itu kini telah banyak berubah. Dia yang dulu semaunya sendiri dan terkesan malas untuk dibebani sebuah tanggung jawab, ternyata mampu mengemban tugasnya sebagai ketua klan pengganti Matteo.


Adriano mengangguk-angguk. Pria bermata biru itu dapat memahami hal tersebut dengan sangat baik. Seperti dirinya yang selalu menjaga kerapian dari organisasi hitam, dan semua bisnis gelap berkedok kasino serta klub malam yang sudah berizin. “Ya. Itu ibarat memakan buah simalakama,” ujarnya.


“Seperti kasus yang menewaskan orang tua Matteo dulu. Sampai-sampai, kita harus merancang kematian Antonio yang memang sudah mati.” Pria bermata biru itu tersenyum samar. Senyumnya kemudian menghilang dan segera beralih kepada Damiano serta Marco secara bergantian.

__ADS_1


“Bisakah pengacara Keluarga de Luca membuat salinan tentang berita acara kasus kematian Matteo? Aku akan mencoba mempelajarinya lebih rinci lagi,” pinta Adriano.


“Tentu. Akan kukirimkan salinannya melalui email. Secepatnya!” tegas Marco.


“Bagus! Dari sana, aku akan memulai langkah pertamaku,” ujar Adriano sembari mengusap dagu perlahan.


Sesaat kemudian, Miabella tampak menggeliat pelan sambil mengigau. Wajahnya yang menggemaskan membuat Adriano tak tahan untuk tidak mengusap pipi gembul itu.


“Biar aku yang memindahkannya ke tempat tidur,” ucap Adriano. Dia langsung menggendong Miabella, sesaat setelah Damiano mengangguk setuju.


“Baiklah. Kita akan melanjutkan pembicaraan ini besok,” ucap Adriano lagi, sebelum berlalu dari ruangan itu menuju kamar Miabella.


Pria rupawan tersebut membaringkan gadis kecil itu perlahan. Tatapannya selalu penuh kelembutan, kala memandangi wajah polos dan lucu Miabella. Dia lalu mengecup kening putri sambungnya tersebut. Barulah, Adriano menyelimutinya. “Buona Notte, Principessa,” bisiknya lirih.


Adriano beranjak keluar dari kamar. Dia menutup pintu itu perlahan. Saat berbalik, Adriano sedikit terkejut mendapati Mia yang ternyata telah berdiri di belakangnya. “Mia? Kukira kau sudah tidur." Debaran jantungnya mulai tidak beraturan. Terlebih, karena Mia hanya mengenakan baju tidur tipis malam itu.


“A-aku tidak bisa tidur." Mia memalingkan muka, ketika Adriano menatap kepadanya tanpa berkedip.


“Apa kau mendengarkan percakapan kami di ruang keluarga tadi?” tanya Adriano menebak-nebak.


“Um, itu ... sedikit,” jawab Mia gugup. “Ayo, tidur. Sudah malam,” ajak wanita cantik tadi seraya melangkah cepat ke dalam kamar, yang akan mereka tempati selama berada di Casa de Luca.


Mia kembali merapikan ranjang sebelum berbaring di sana. Dia juga membetulkan letak bantal yang akan dipakai oleh Adriano.


Melihat hal itu, Adriano menjadi sedikit tersentuh. “Kau tidak perlu melakukan semua ini, Mia,” ucapnya pelan.


“Tidak apa-apa. Aku juga tidak pernah menganggap pernikahan ini sebagai permainan belaka. Akan tetapi, aku tidak yakin apakah aku bisa jatuh cinta lebih dari sekali,” sahut Mia pelan sambil menunduk. Sesekali tangannya mengusap pipi.


“Jangan terlalu memaksakan diri. Fokus saja pada apa yang menjadi tujuanmu." Tak terkira perih dan kecewa yang Adriano rasakan saat itu. Namun, seperti biasanya, dia selalu memendam di dalam hati. “Selamat malam, Mia." Adriano melepas kausnya, lalu berbaring begitu saja di samping wanita itu. “Biasakanlah melihatku tertidur tanpa baju,” ujarnya dengan mata terpejam.

__ADS_1


Mia mendengkus kesal, saat melihat pemandangan yang tersaji di sebelahnya. Adriano seperti sengaja memamerkan tubuh atletisnya kepada Mia, membuat wanita itu harus membalikkan badan. Mia tidur dengan membelakanginya.


__ADS_2