Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Miscalculation


__ADS_3

Menjelang siang, Edward datang ke pondok kayu itu dengan membawa beberapa macam makanan. Pria tua tersebut tampak terkejut karena ada wajah-wajah asing di sana. Namun, dia dapat mengakrabkan diri dengan cepat, termasuk kepada Miabella yang membuatnya teringat kepada sang cucu.


Ada perbincangan kecil tapi hangat di antara mereka. Adriano pun mengungkapkan jika dirinya akan pulang bersama Mia pada hari itu juga. "Aku sangat berterima kasih atas semua yang telah kalian berdua lakukan selama beberapa hari ke belakang. Rasanya menyenangkan bisa berada di tempat seperti ini, tapi kebahagiaanku adalah berada dekat dengan mereka," pria bermata biru itu menoleh kepada Mia dan juga Miabella.


"Tentu saja, Adriano. Keluarga adalah segalanya. Mereka tempat kita kembali dan berkeluh-kesah untuk segala rasa lelah. Aku hanya berharap mudah-mudahan setelah ini, kau ataupun keluargamu selalu dijauhkan dari segala macam keburukan dan kejahatan dunia. Kau memiliki putri yang cantik. Kelak dia akan menjadi gadis yang luar biasa," Edward mengakhiri kata-katanya dengan sebuah senyuman lebar.


"Terima kasih, Tuan. Aku harap kau juga selalu sehat dan panjang umur," ucap Mia menimpali dengan senyuman ramah. Sementara Coco hanya terdiam dan menyimak obrolan demi obrolan, hingga tak terasa waktu sudah beranjak siang. Mereka pun akhirnya berpamitan.


Sebenarnya, Edward telah menawarkan diri untuk mengantarkan hingga ke tempat tujuan. Akan tetapi, Adriano menolaknya dengan halus. Dia tak ingin lagi merepotkan siapa pun. Menapaki jalan yang kemarin dilalui, Miabella tampak riang ketika Adriano menuntunnya. Rona bahagia pun terlihat jelas di wajah Mia. Begitu pula dengan Coco yang sudah melakukan banyak perenungan.


Sebuah taksi online, sudah dipesan dan menunggu mereka di pos satu. Setelah semua masuk dan duduk dengan tenang, kendaraan itu melaju meninggalkan tempat tersebut. Selama dalam perjalanan, Miabella begitu asyik melihat lalu lintas yang dilewati. Tak berselang lama, mereka pun tiba di rumah sewaan yang masih di jaga oleh empat orang anak buah Adriano.


Melihat sang majikan telah kembali, keempat pria berpostur tinggi besar itu segera menghampiri dan mengangguk hormat. "Bos, bagaimana kabar Anda?" sapa salah seorang dari mereka.


Adriano yang saat itu menutupi tubuhnya dengan selembar kain, mengangguk pelan. "Sudah jauh lebih baik," jawabnya dengan nada yang biasa saja. "Apa yang terjadi selama kami tidak ada?" tanyanya dengan raut wajah yang terlihat lain, saat di hadapan anak buahnya.


"Tuan Corbyn menghubungiku. Dia menanyakan kabar Anda. Katanya, nomor milik Anda tidak dapat dihubungi," lapor pria dengan luka gores di bagian bawah mata sebelah kirinya.


"Ada lagi selain itu?" tanya Adriano kembali.


"Rekan bisnis Anda yang bernama tuan Herrera datang kemari. Dia mengatakan akan datang sore ini." lapor sang anak buah.


Adriano tidak berkata apa-apa. Dia hanya menanggapi laporan dari pria itu dengan sebuah anggukan. Setelah itu, pria berpostur 187 cm tersebut melanjutkan langkah ke dalam rumah.


"Aku ke kamar dulu," Coco segera berpamitan. Dia berlalu menuju kamarnya. Sementara Mia kembali menggandeng lengan sang suami menuju tempat peraduan mereka.


"Bella, kau harus berganti pakaian," ucap Mia kepada gadis kecil yang tengah asyik memainkan kuku. Sedangkan Adriano segera mengenakan kaos round neck yang Mia berikan padanya.


"Ibu, sakit," rengek Miabella seraya menunjukkan kuku jari telunjuknya yang hampir patah.

__ADS_1


"Astaga, Sayang. Kenapa bisa begini? " Mia segera merogoh ke dalam tasnya. Dia bermaksud mengambil gunting kuku dari sana. Akan tetapi, dirinya kesulitan menemukan benda tersebut. Dengan terpaksa, Mia mengeluarkan seluruh isi tas. Seketika, wanita berambut cokelat itu menautkan alis ketika menemukan sebuah benda aneh yang bercampur dengan barang-barang yang lain. Mia kemudian mengambil benda tersebut dan mengamatinya. Dia tak tahu apa itu. "Adriano, apa kau tahu ini apa?" tanyanya seraya menyodorkan benda kecil tadi kepada sang suami yang telah selesai berpakaian.


Adriano menghampiri Mia dan menerima benda kecil tersebut. Sejenak dia mengamati dengan saksama. "Dari mana kau dapatkan ini, Mia?" tanyanya.


"Dari dalam tasku," jawab Mia segera. "Memangnya itu apa?" tanya Mia penasaran.


"Ini adalah semacam alat pelacak," sahut Adriano terus mengamati. "Apa ini milik Ricci?" tanya Adriano penasaran. Sedangkan Mia hanya mengangkat bahunya. "Akan kutunjukan padanya," Adriano kemudian bergegas keluar dari sana, lalu menuju kamar yang ditempati oleh Coco.


Di dalam, Coco tengah berbincang dengan Francesca lewat sambungan video call. Walaupun telah terbiasa menjalani hubungan jarak jauh, tetapi kali ini rasanya begitu berbeda bagi mereka. Namun, kehadiran Adriano di sana telah membuat Coco dengan terpaksa harus mengakhiri percakapannya dengan sang kekasih. "Ada apa? Kau ini mengganggu sekali," dengus Coco sedikit kesal.


Sementara Adriano tidak menanggapi kekesalan pria berambut ikal itu. Dia langsung menunjukkan benda kecil yang diperoleh dari dalam tas Mia. "Apa ini milikmu?" tanya Adriano seraya menyodorkannya kepada Coco.


Tanpa banyak bicara, Coco turun dari tempat tidur. Dia lalu menghampiri Adriano dan memerima benda yang diyakini sebagai alat pelacak itu. "Dari mana kau mendapatkan ini?" tanyanya dengan mimik cukup serius. Namun, sepertinya Coco tidak terlalu menyimak ucapan dari pria bermata biru itu, sehingga dia bertanya kembali pada Adriano.


"Mia menemukan benda tersebut dari dalam tas miliknya. Aku pikir itu milikmu," jelas Adriano mulai terlihat aneh, terlebih ketika dirinya memperhatikan sikap Coco yang tampak tidak biasa.


"Tidak. Ini bukan milikku," bantah Coco yang semakin membuat Adriano terlihat gusar. Namun, pria itu tetap berusaha menguasai diri dengan memperlihatkan sikap yang tenang. "Terus terang saja, jika alat pelacak ini berada satu tingkat di atas punyaku. Aku yakin siapa pun pemiliknya pasti bukanlah orang sembarangan," jelas Coco.


"Bisa siapa saja. Kau pikir aku ini peramal," jawab Coco dengan nada protes dan terlihat jengkel. "Namun, bagaimana bisa ada di dalam tas Mia? Seingatku, Mia tidak pernah ke mana-mana. Sekalinya keluar pun aku menemani istrimu dan tidak membiarkannya sendiri. Bagaimana tiba-tiba ada alat pelacak di dalam tasnya?" Coco mengautkan alis dengan bola mata yang bergerak ke kiri dan kanan secara beraturan.


Adriano menyugar rambutnya yang mulai memanjang dengan kasar. “Kita tidak aman di sini. Aku telah salah langkah. Seharusnya aku membawa dan mempersiapkan pengamanan berlebih sebelum memutuskan untuk datang kemari,” pria itu mendengus kesal, lalu duduk dengan setengah membungkuk di tepi ranjang Coco.


“Inggris bukanlah wilayah kekuasaanku, tapi aku malah meremehkan negara ini,” sesalnya sambil menggeleng pelan. Dia meraup kasar wajahnya dengan janggut yang mulai tumbuh tak beraturan.


“Itu hal yang sangat wajar. Kau adalah pengantin baru. Bunga-bunga cinta yang diberikan oleh Mia telah mengalihkan duniamu, sehingga kau menjadi kurang fokus,” sahut Coco menanggapi santai sambil tetap berdiri di hadapan Adriano, membuat pria yang awalnya menunduk segera mendongak dan mengernyitkan kening karena keheranan.


“Mia dan Miabella sangat berharga dan lebih dari istimewa bagiku. Aku tidak akan membahayakannya terlalu lama di sini,” ujar Adriano pada akhirnya.


“Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Coco.

__ADS_1


“Tidak ada jalan lain, selain membawa kalian semua pulang ke Monaco,” jawab Adriano seraya berdiri. "Mansionku akan jauh lebih aman bagi Mia dan juga Miabella. Jika begini terus, aku tidak akan bisa fokus dalam menghadapi proyek kerja sama yang sedang kujalani dengan Don Vargas," ujarnya seraya mengeluh pelan.


“Lalu, bagaimana dengan bisnismu di sini?” tanya Coco lagi.


“Aku akan bicara dengan Don Vargas. Mungkin aku akan menempatkan satu perwakilan di sini. Sekarang bersiaplah, Ricci. Nanti akan kuhubungi anak buah yang berada di Monaco. Sepertinya aku membutuhkan banyak orang untuk memastikan keamanan Mia dan juga Miabella,” tegasnya. Setelah itu, Adriano lalu keluar dari kamar Coco begitu saja.


Pria bermata biru itu kembali ke kamar yang dia tempati bersama Mia. Terlihat sang istri tengah membereskan beberapa helai pakaian Miabella yang berserakan. Sementara balita cantik itu masih asyik bermain di atas ranjang. “Bersiaplah, Sayang. Kita akan pulang ke Monaco,” ucap Adriano tiba-tiba, membuat Mia menghentikan aktivitasnya. Begitu pula dengan Miabella yang langsung bersorak kegirangan.


“Kita akan pulang, Daddy Zio?” gadis kecil itu melompat dari atas ranjang dan menghambur ke pelukan Adriano. Pria itu terpaksa menahan rasa sakit yang kembali menderanya demi memeluk dan menggendong Miabella. Dia tidak ingin putri kecilnya kecewa.


“Ya, kita akan pulang dan bertemu bibi berambut hitam,” bisik Adriano sembari tersenyum lebar.


“Maksudmu Olivia?” sela Mia dengan nada ketus. Tampak raut ketidaksukaan yang terpancar dengan begitu jelas dari wajah cantiknya.


“Astaga, apakah kau mendengar ucapanku, Sayang?” Adriano terkekeh dan menurunkan kembali Miabella di atas ranjang. Dia lalu menghampiri Mia yang kembali cemberut seperti hari kemarin.


“Kenapa kau tiba-tiba mengungkit gadis itu?” Mia melipat kedua tangannya di dada dan menatap tajam pada sang suami.


“Karena aku bermimpi .…” Adriano tidak melanjutkan kata-katanya.


“Tentang Olivia?” potong Mia dengan segera.


“Bukan," bantah pria itu. "Aku bermimpi Miabella yang mengajak pulang ke mansion. Di dalam mimpiku, dia mengatakan ingin bertemu bibi berambut hitam. Kemudian .…” kalimatnya tertahan karena membayangkan akhir dari mimpinya yang mengerikan.


“Kemudian?” ulang Mia.


Adriano tak mampu menjawab. Dia tak mungkin menceritakan kepada Mia tentang mimpinya. “Aku akan menghubungi Arsen dan meminta bantuannya untuk mewakiliku di sini,” pria rupawan itu berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Apa kau merindukan gadis itu, Adriano?” tukas Mia.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Mia, Adriano tergelak. Tawanya demikian nyaring, lalu berhenti dan menangkup wajah pujaan hatinya. “Akhir-akhir ini kau selalu bersikap cemburu padaku. Namun, aku sangat menyukainya. Rasanya begitu menyenangkan ketika melihatmu bersikap demikian. Apakah itu artinya kau sangat mencintaiku?” goda Adriano.


"Kau sangat menyebalkan. Dasar mata keranjang," gerutu Mia.


__ADS_2