Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Find the Trace


__ADS_3

“Entah kata apa yang mampu menggambarkan betapa bahagia dan bersyukurnya perasaanku saat ini, Nak.” Emiliano mengusap air matanya yang jatuh tanpa diduga.


“Tidak perlu berlebihan, Padre. Cukuplah dengan menjaga kesehatanmu dan hidup sebaik-baiknya,” balas Adriano tulus seraya memegangi kedua lengan sang ayah. “Kami pergi dulu. Bella ingin jalan-jalan keliling kota Milan,” pamitnya.


“Oh, tentu, Nak. Doaku selalu menyertaimu,” ucap Emiliano penuh haru.


Adriano kemudian membalas lambaian tangan Emiliano ketika hendak memasuki kendaraan mewahnya. Dia melajukannya perlahan dan meninggalkan halaman kediaman Moriarty. Akan tetapi, ketika mobil itu sudah mencapai pintu gerbang, Adriano terpaksa menginjak pedal rem saat dirinya melihat bayangan Agustine dari kaca spion tengah. Anak kedua Emiliano itu seperti tengah memanggil namanya dan meminta Adriano untuk berhenti.


“Ada apa, Adriano?” tanya Mia saat melihat Agustine berlari ke arah kendaraan yang mereka tumpangi.


“Entahlah, Sayang. Mungkin dia ingin membicarakan sesuatu,” jawab Adriano. Mata birunya yang indah terus mengawasi gerak-gerik Agustine yang kini sudah berdiri di samping pintu mobilnya. Sedangkan Emiliano masih terus mengawasi dari teras rumah.


Perlahan, Adriano menurunkan kaca mobil dan setengah mendongak menatap wajah saudara tirinya itu. “Ada apa?” tanya Adriano datar.


“Adriano.” Agustine terengah-engah sebelum mengutarakan maksudnya. “Maafkanlah sikap ibu dan diriku tadi. Aku menyesal,” ucapnya dengan wajah menyesal.


“Apa ada sesuatu yang kau inginkan?” terka Adriano tanpa basa-basi, membuat Agustine tertegun sejenak. Pria itu kemudian tersenyum samar.


“Ya. Aku tak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa. Aku tak punya banyak teman atau kenalan. Ilario … aku hampir putus asa mencarinya. Sedangkan madre selalu menangis setiap malam. Aku … aku .…” Agustine seolah kehilangan kata-kata tatkala berhadapan langsung dengan Adriano.


“Aku akan membantu mencarikannya untuk kalian,” sahut pria rupawan itu. “Instingku mengatakan bahwa hilangnya Ilario masih ada hubungannya dengan kejadian dulu, ketika aku menemukan bahwa dia telah menyembunyikan sekotak besar narkoba,” jelas Adriano.


“Madre akan sangat berterima kasih padamu, Adriano,” ucap Agustine lirih. “Tolong temukan dia,” pintanya dengan penuh harap.


Adriano menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, lalu tersenyum pada Agustine. “Akan kuusahakan. Tunggu saja kabar dariku. Untuk saat ini, aku ingin mengajak istri dan putriku untuk berjalan-jalan lebih dulu,” ujar pria bermata biru itu sembari menutup kaca jendela.


“Akan kutunggu kabar darimu, Adriano!” seru Agustine, bersamaan dengan mobil mewah Adriano yang melaju meninggalkan halaman rumah sang ayah. Dia tak akan mungkin membatalkan rencananya bersama Mia dan Miabella yang sudah memasang wajah ceria.


Beberapa jam lamanya Adriano menghabiskan waktu untuk menemani Mia berbelanja, serta mengajak Miabella bersenang-senang sampai puas di taman bermain. Mereka baru kembali ke Casa de Luca ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Adriano segera menggendong Miabella yang sudah tertidur pulas menuju kamar dan membaringkannya. Dia juga mengantarkan Mia ke kamar yang mereka tempati selama tinggal di Casa de Luca.


“Apa kau akan pergi lagi, Adriano?” tanya Mia ketika melihat sang suami buru-buru melepas kemejanya tanpa membersihkan diri terlebih dulu, lalu menggantinya dengan T-shirt putih dan celana jeans. Dia juga memakai penutup kepala yang terbuat dari wol rajut berwarna gelap yang menutupi telinga, serta jaket bomber sebagai pelengkapnya.

__ADS_1


Adriano tak menjawab pertanyaan Mia. Dia malah menghampiri sang istri, lalu mencium bibirnya lembut untuk beberapa saat lamanya. “Aku akan mencari informasi tentang Ilario,” jawabnya kemudian. Setelah Mia mengembalikan kebebasannya, Adriano tak lagi berbohong saat hendak keluar rumah.


“Haruskah malam ini?” tanya Mia lagi setengah memprotes keputusan sang suami.


“Lebih cepat lebih baik, Sayang. Aku ingin semua masalah sudah beres sebelum pesta pernikahan Ricci dan Francesca,” jawab Adriano lagi sambil mendekatkan bibirnya dan melu•mat kembali bibir Mia.


“Termasuk masalah Jacob?” tanya Mia lagi dengan intonasi yang sedikit bergetar.


“Ya, termasuk dia. Aku akan mencari cara untuk menemukan Jacob dan menyelesaikan semuanya,” ucap Adriano seraya tersenyum menggoda sembari mengecup pipi Mia yang mulai merona.


“Kalau kau tidak keberatan, aku ingin membangunkanmu nanti saat aku pulang. Rasanya sudah lama kita tidak bercinta,” ujarnya nakal.


“Astaga, Adriano. Baru juga kemarin kita ….” Mia menutup mulutnya dengan kedua tangan untuk menahan tawa atas permintaan suaminya. “Kita lupa melakukan tes kehamilan tadi pagi,” lanjutnya.


“Besok saja, setelah aku puas menikmatimu,” ujar Adriano, kembali memamerkan senyumnya yang menawan. Dia lalu mencium bibir Mia sekali lagi, sebelum dirinya keluar kamar dan meninggalkan area Casa de Luca dengan menggunakan mobil pribadinya.


Adriano mengendarai mobil mewahnya dengan kecepatan tinggi, hingga dirinya tiba di pelabuhan Genova. Pria tampan itu memarkirkan kendaraannya di depan deretan pertokoan dan memasuki salah satu bangunan yang terlihat lengang. Tanpa memberi tanda apapun, dia langsung membuka pintu yang terbuat dari kaca dan segera masuk ke dalamnya. Tampak beberapa orang tengah duduk mengitari meja sambil bermain kartu. Adriano mengenali salah satunya sebagai Giuliano.


“Tuan D’Angelo,” gumam Giuliano dengan mata terbelalak. Dia refleks berdiri, kemudian ragu-ragu menghampiri Adriano. “Angin apa yang membawa Anda kemari malam-malam begini?” tanya pria itu mencoba berbasa-basi meskipun terlihat gugup.


“Apakah ada yang tengah kau sembunyikan dariku?” tanya Adriano seraya memicingkan matanya ketika merasakan ada sesuatu yang tak beres.


“Ti-tidak ada, Tuan,” jawab Giuliano terbata.


“Kalau begitu, jawab pertanyaanku dan jangan coba-coba berbohong,” desak Adriano.


“Di-dia … sudah mati, Tuan,” jawab Giuliano. Tampak peluh bercucuran di keningnya.


“Mati?” Adriano meraih kerah kemeja Giuliano, sampai badan pria itu sedikit terangkat. Sementara teman-temannya yang lain malah mundur dan menjauh. Mereka seakan tak mempunyai keinginan untuk membantu, karena terlalu takut akan sosok Adriano. “Katakan siapa yang membunuhnya,” geram Adriano.


“Dulu Anda mengatakan bahwa kami boleh berbuat apa saja kepadanya,” dalih Giuliano. Tangannya berusaha melepaskan cengkeraman tangan Adriano dari bajunya.

__ADS_1


“Boleh berbuat apa saja bukan berarti kalian boleh membunuhnya.” Adriano melepaskan kerah kemeja Giuliano, lalu mendorongnya mundur. “Siapa yang bertugas mengeksekusinya?” Sorot mata biru Adriano terlihat berkilat karena menahan emosi.


“Dia tidak berada di sini, Tuan,” jawab salah satu teman Giuliano.


“Aku menanyakan nama, bukan keberadaannya,” balas Adriano datar dan dingin.


Namun, orang-orang itu tak segera menjawab. Mereka hanya terdiam dan saling pandang. Melihat hal itu, kesabaran Adriano semakin habis. Dia pun mengeluarkan pistol dari balik pinggang dan bersiap menarik pelatuknya. “Katakan atau kulubangi kepala kalian satu per satu,” ancamnya.


“Stefanno, Tuan. Dia yang bertanggung jawab atas organisasi di atas kami. Stefano yang telah membunuh Ilario dengan membakar dia hidup-hidup, lalu membuang mayatnya untuk menghilangkan jejak,” terang Giuliano pada akhirnya.


“Brengsek!” Tangan kekar Adriano menggenggam pistol semakin erat sambil mengarahkannya pada Giuliano. “Katakan di mana dia sekarang!” paksanya.


“Biasanya tiap malam dia kemari, Tuan. Kalau dia tidak kemari, itu artinya dia sedang berada di rumah adiknya di pinggiran kota Milan,” jawab Giuliano. Dia bahkan membeberkan alamat tempat tinggal adik Stefano pada Adriano.


“Kalian sudah menantangku.” Adriano menurunkan pistol dan menyimpannya kembali ke balik pinggang. “Stefano sudah menantangku. Akan kulihat seberapa besar nyalinya.” Sudut bibir Adriano terangkat sambil menatap sinis pada setiap orang yang berada di sana, sebelum membalikkan badan dan tergesa-gesa meninggalkan bangunan pertokoan yang terletak di pelabuhan itu.


Dengan kecepatan penuh, Adriano mengendarai mobilnya menuju alamat yang sudah diberikan oleh Giuliano. Kendaraan itu berhenti di depan gedung apartemen tiga belas lantai. Dia membuka jendela mobil dan mengeluarkan kepala. Setengah mendongak, Adriano mengawasi lantai teratas apartemen. Lampu-lampunya terlihat masih menyala, sebagai tanda bahwa sang penghuni masih terjaga.


Tanpa membuang waktu, Adriano segera turun dari kendaraan dan menyebrangi jalan raya. Tubuh tegapnya tampak begitu gagah saat memasuki lobi dan mendekat ke meja informasi. “Aku ingin bertemu dengan nona Lucia Veratti,” ucapnya. Dia mendapat nama itu dari informasi yang telah diberikan Giuliano beberapa waktu lalu.


“Lantai tiga belas, kamar nomor 1309,” jawab pria penjaga apartemen itu dengan sikap acuh tak acuh, karena saat itu perhatiannya tertuju pada televisi yang menampilkan siaran berita.


“Grazie,” sahut Adriano sambil berlalu menuju lift dan memencet tombol yang akan dia tuju. Angannya sempat melayang pada Emiliano dan Agustine. Dia tak bisa membayangkan betapa sedihnya dua orang itu ketika mengetahui bahwa Ilario telah tiada. Adriano bahkan tak tahu bagaimana caranya untuk memberitahukan berita buruk tersebut.


Lamunan Adriano berhenti saat dirinya sudah tiba di lantai teratas. Dia bergegas keluar dari lift, lalu berdiri di depan pintu kamar 1309. Adriano kemudian mengetuk pintunya pelan sambil terus bersikap waspada. Tak berapa, pintu pun terbuka, memunculkan wajah seorang gadis muda yang memandangnya dengan tatapan terkejut sekaligus terpana. “Kau siapa?” tanyanya.


“Aku ingin bertemu dengan kakakmu. Katakan padanya, ketua Tigre Nero ingin berbicara penting,” ucap Adriano. Rautnya mendadak berubah menjadi bengis saat itu.


🍒🍒🍒


Hai, ceuceu datang lagi, bawa rekomendasi novel keren untuk dibaca.

__ADS_1



__ADS_2