
Suara tawa riang Miabella terdengar begitu nyaring, dan menjadikan sebuah pemandangan baru di dalam mansion. Gadis kecil itu berlari ke sana kemari dengan begitu aktif. Sementara, Olivia yang saat itu baru menyelesaikan pekerjaan, merasa tertarik untuk mendekati putri sambung dari pria yang menjadi pujaan hatinya.
Olivia bukanlah pelayan di mansion itu. Adriano tetap menganggapnya sebagai seorang tamu. Akan tetapi, gadis manis tersebut senang menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas kecil. Dia menganggap hal itu hanya sekadar untuk mengisi waktu.
"Hei, Nona Kecil. Kenapa berlari-lari?" tegur Olivia lembut. Membuat Miabella terdiam seketika. Gadis cantik bermata abu-abu itu menatap ke arahnya dengan sorot yang aneh. Miabella belum mengenal wanita muda di hadapannya.
Melihat Miabella yang terdiam karena teguran darinya, Olivia pun tersenyum seraya mendekat. Dia setengah membungkukkan badan ke depan. "Jika kau berlarian, nanti kau bisa jatuh. Sayang sekali karena gadis cantik sepertimu sampai harus terluka," ucapnya lagi. "Apa kau ingin makan buah?" tawar Olivia kemudian. Mendengar kata 'buah', Miabella seketika mengangguk tanpa menjawab. "Baiklah. Akan kuambilkan. Kau suka buah apa?" tanya Olivia lagi ramah.
"Uva (anggur)," jawab Miabella dengan gaya bicaranya yang menggemaskan.
"Oh, baiklah. Ayo. Kau harus duduk manis di sini. Akan kuambilkan anggur untukmu. Jangan ke mana-mana, karena aku akan segera kembali," pesan Olivia dengan senyuman hangatnya.
Miabella kembali mengangguk. Dia lalu duduk di salah satu sofa dengan tenang. Sedangkan Olivia berlalu menuju dapur.
Sepeninggal Olivia, Miabella mengedarkan pandangannya pada setiap sudut ruangan mewah di sana. Ada banyak hiasan dari kristal dan juga keramik yang terpajang sebagai pemanis ruangan. Satu hal yang menarik perhatian gadis kecil bermata abu-abu tersebut, yaitu sebuah tempat lilin dari kristal. Benda itu terlihat begitu mewah karena modelnya yang sangat unik dan tidak biasa.
Miabella merasa tertarik dan segera turun dari sofa. Dia mendekat ke arah meja kecil dari marmer yang tidak terlalu tinggi, sehingga dirinya masih dapat menjangkau tempat lilin tersebut.
Awalnya, Miabella hanya memperhatikan benda yang terlihat sangat mengkilap itu. Lama-kelamaan, rasa penasaran mulai menghampiri. Tangan kecilnya terulur dan menyentuh tempat lilin yang terdiri dari tujuh buah rangkaian, dengan penopang berukir dan berwarna gold.
"Hei! Siapa kau?" tegur sebuah suara yang terdengar cukup tegas, sehingga membuat gadis kecil itu terkejut. Tanpa sengaja, tangannya menyenggol tempat lilin tadi hingga terjatuh dan pecah. Suara nyaring pun terdengar. Sedangkan, Miabella tampak ketakutan menoleh pada wanita berambut panjang, dengan wajah ketus dan tato yang menghiasi tubuhnya.
Mendengar suara ribut di sana, Olivia yang saat itu baru kembali dari membawa buah untuk Miabella, segera menghampiri gadis kecil yang hampir menangis itu. "Astaga, kau memecahkanya?" Olivia tampak sangat terkejut. Pasalnya, kepala pelayan yang bernama Calantha, pernah mengatakan bahwa tempat lilin tersebut Adriano beli dari luar negeri dengan harga yang cukup fantastis.
__ADS_1
"Anak siapa ini?" tanya gadis yang tiada lain adalah Valerie. Dia baru kembali dari perjalanannya. Dalam beberapa tahun terakhir, gadis bertato itu memiliki hobi baru, yaitu panjat tebing. Dia akan pergi berkeliling Eropa, bahkan hingga ke luar benua hanya untuk menuntaskan hasratnya sebagai pecinta kegiatan ekstrim tersebut.
Melihat Miabella yang merasa ketakutan, Olivia segera mendekati gadis kecil itu. Sementara, Valerie masih dengan ransel besar di punggungnya. "Dia ... um ... ini adalah ...." Olivia terbata.
Belum sempat gadis berambut hitam tersebut melanjutkan kata-katanya, terdengar suara halus yang memanggil nama anak kecil itu. Suara yang sudah sangat akrab di telinga Valerie. Gadis berpenampilan eksentrik itu pun segera menoleh.
Mia sudah berdiri di sana dengan raut yang sulit untuk diartikan. Dilihatnya Miabella yang segera menghambur ke arahnya dan memeluk sang ibu.
"Nyonya? Sedang apa kau di sini?" tanya Valerie dengan nada bicara yang terdengar tidak bersahabat.
"Apa kabar, Val?" sapa Mia dengan senyuman lembut, seperti biasa yang selalu dia tunjukkan kepada gadis itu. Sebuah keakraban dan sikap ramah yang membuat Valerie terkesan kepadanya.
Namun, tidak kali ini. Valerie menatap Mia dengan penuh kebencian. "Apa yang kau lakukan di sini, Nyonya de Luca?" tanya Valerie lagi dengan nada bicara yang jauh lebih menakutkan. Tatapan tajamnya membuat Mia teringat akan cerita Adriano, yang mengatakan bahwa hanya Valerie yang mengetahui tentang kejadian penembakan di Pulau Elba beberapa tahun silam. Mia pun dapat memahami sikap tak ramah yang ditunjukan gadis itu padanya.
"Aku baru tiba di sini kemarin," jawab Mia mencoba untuk tidak terpengaruh intimidasi yang dilakukan oleh Valerie terhadapnya.
Sedangkan, Olivia merasa tidak nyaman dengan situasi tersebut. Dia memilih untuk menghindar dan berlalu dari ruangan itu.
"Aku datang kemari bersama Adriano," jelas Mia. Dia dapat memahami tatapan kebencian yang dilayangkan gadis itu kepadanya.
"Apa? Kakakku yang membawamu kemari?" Valerie tergelak. Dia merasa ada sesuatu yang lucu dengan jawaban dari Mia. "Untuk apa kakakku membawa istri pria lain kemari? Kau sungguh mengada-ada," cibir gadis itu dengan ketus.
"Mia adalah istriku sekarang." Suara berat Adriano menyela percakapan kedua wanita itu.
Miabella yang mendengar suara pria yang menjadi kesayangannya ada di sana, segera melepaskan pelukan dari Mia. Dia berlari kepada Adriano dan memeluknya. "Daddy Zio, aku takut," rengeknya seraya melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan kepada Mia. Adriano segera menggendong gadis kecil yang terus menyembunyikan wajahnya.
__ADS_1
Mendengar jawaban yang dirasa lebih mengada-ada dari kakak angkatnya tersebut, Valerie kembali tertawa lebar. "Apa maksudmu, Moy Brat? Jangan gila! Begitu terobsesinya dirimu kepada wanita ini sehingga kau ...."
"Itu kenyataannya, Val," potong Adriano masih terlihat tenang. "Suka atau tidak, Mia memang istriku saat ini. Mulai sekarang, kau harus membiasakan dirimu dengan kehadirannya dan tuan putri cantik ini," ujar Adriano seraya mengecup pucuk kepala Miabella. Dia tak sungkan menunjukan kasih sayangnya terhadap Miabella.
"Bella, ikutlah dengan ibumu. Aku harus bicara sebentar dengan bibi yang sedang kelelahan itu," ucap Adriano lagi dengan lembut. Dia lalu menurunkan Miabella dan memberi isyarat kepada Mia agar membawa putrinya dari sana.
Tanpa banyak bicara, Mia melakukan hal itu. Dia meraih pergelangan tangan Miabella, lalu menuntun gadis kecil tersebut menuju ke kamarnya.
Sementara, Adriano segera memanggil salah seorang pelayan untuk membersihkan serpihan dari tempat lilin yang telah pecah tadi. Tatapannya kini tertuju kepada Valerie, sang adik angkat kesayangan. "Apa kau tidak merasa terganggu dengan ransel itu, Val? Ayo turunkan dan kita bicara sambil minum. Kau butuh relaksasi," ujarnya seraya berlalu mendahului Valerie. Dia meletakkan ransel yang sejak tadi masih menempel di punggungnya. Gadis itu mendengkus kesal. Namun, Valerie segera mengikuti sang kakak menuju ruangan lain yang jauh lebih privasi.
Adriano menuangkan minuman ke dalam gelas kecil, lalu menyodorkannya kepada Valerie. Dia juga meletakkan sekotak cerutu di atas meja. Setelah mengambil dan menyulutnya, Adriano memilih untuk duduk. Hal yang sama pun dilakukan oleh Valerie. Dia ikut duduk, tapi tak menyentuh cerutu yang Adriano suguhkan. Gadis itu sudah mulai mengurangi kebiasaan merokoknya.
"Katakan apa yang terjadi selama aku pergi," pinta Valerie dengan gaya bicaranya yang khas. Terkesan tak acuh dan seakan tanpa aturan.
Sebelum menjawab pertanyaan dari adik angkatnya, Adriano terdiam sejenak seraya mengepulkan asap dari cerutu yang sedang diisapnya. Dia memang harus memberikan penjelasan kepada gadis itu. "Seperti yang telah kau dengar tadi. Aku dan Mia sudah menikah di Italia sekitar beberapa hari yang lalu. Kami menikah di gereja. Di hadapan seorang pendeta tentunya," terang Adriano. Dengan bangga, dia memamerkan cincin kawin yang melingkar di jarinya.
"Oh, luar biasa," keluh Valerie setelah meneguk minumannya. "Kau begitu memaksakan dirimu untuk dapat memiliki wanita itu. Aku sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Kakak!" ujarnya dengan nada protes. Sedangkan, Adriano hanya menanggapinya dengan sebuah tawa pelan. "Bagaimana bisa kau menikahi Mia? Lalu, kau apakan Matteo de Luca, sehingga dia bisa melepas istri tercinta yang selalu diperlakukan bagai sebuah barang pecah belah itu?"
"Aku tak akan mungkin bisa memiliki Mia, andai Matteo masih berada di dekatnya," jawab Adriano menatap lekat adik kesayangannya itu.
Sementara, Valerie tampak menautkan alisnya yang hitam. Dia belum memahami maksud dari jawaban Adriano, yang kini beranjak dari duduknya dan berdiri di dekat jendela. Pria itu menatap ke luar, pada halaman mansion dari sudut yang lain.
"Apa yang terjadi pada Matteo de Luca?" tanya Valerie dengan nada bicara yang terdengar lain dari sebelumnya. Gadis bertato itu mulai penasaran. Dia terus menunggu jawaban sang kakak, yang belum juga menanggapi pertanyaannya. Adriano masih asyik memandang ke luar dengan kepulan asap tipis dari cerutu tadi.
Beberapa saat pria itu terdiam. Pada akhirnya, dia menoleh kepada Valerie dan kembali menatap lekat sang adik. Adriano sangat mengetahui bahwa Valerie memang memiliki ketertarikan yang besar terhadap Matteo de Luca. Dia tak dapat menebak bagaimana respon gadis itu, seandainya Valerie mengetahui kenyataan yang telah terjadi kepada mantan dari ketua Klan de Luca tersebut.
__ADS_1
Namun, tak ada alasan bagi pria bermata biru itu untuk merahasiakan hal itu. Valerie harus mengetahui alasannya, menikahi dan membawa Mia ke dalam mansion mewahnya.
Dengan langkah tenang dan terlihat sangat gagah, Adriano mendekat kepada sang adik yang masih duduk dalam posisi kaki kiri yang diletakannya di atas paha sebelah kanan. Pria itu menyandarkan sebagian tubuh pada pinggiran meja. "Matteo de Luca, telah mati terbunuh satu tahun yang lalu."