
Setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih sebelas jam, Juan Pablo akhirnya tiba di Bandara Don Miguel Hidalgo y Costilla, yang merupakan bandara tersibuk ke-3 di Meksiko dan menghubungkan ke beberapa destinasi. Contohnya adalah Amerika Serikat dan juga Eropa.
Dengan tampilan kasual dalam balutan celana jeans yang dilengkapi t-shirt dan juga sebuah blazer, Juan Pablo tampak begitu percaya diri sambil menenteng tas jinjing yang tidak terlalu besar. Sepasang sneakers hitam polet putih pun menemani langkahnya yang segera menuju keluar bandara. Di sana, sebuah mobil jemputan telah menunggunya sejak beberapa saat yang lalu. Tanpa berlama-lama, pria yang terus memasang raut datar dan dingin itu segera masuk dan duduk tenang di jok belakang.
"Langsung ke kediaman Anda, Tuan?" tanya sang sopir bersetelan serba hitam.
"Ya," jawab Juan Pablo sambil membetulkan letak kaca mata hitam yang dia kenakan. Setelah itu, dia mengarahkan pandangan ke luar jendela dan menatap jalanan kota Guadalajara. Sepintas ingatannya tertuju kepada Don Vargas, pria tua yang selama ini selalu bersamanya. Perjalanan itu terasa berbeda, karena harus dia lewati sendirian.
Setelah kematian sang ayah, Don Vargas hadir sebagai sosok yang telah dianggap untuk pengisi ketidakhadiran kepala keluarga dalam hidup Juan Pablo. Rasa kehilangan yang teramat besar, tentu saja hadir dan menyisakan sebuah penyesalan yang menyesakkan.
Beberapa saat berada di perjalanan, akhirnya mobil sedan hitam yang membawa Juan Pablo tiba di halaman sebuah rumah megah yang berada di pusat kota Guadalajara. Kendaraan berwarna hitam tadi berhenti tepat di dekat undakan anak tangga menuju teras. Di sana, sudah berdiri seorang wanita paruh baya dengan midi dress lengan panjang yang dilengkapi sepasang kitten heels berwarna cokelat. Wanita dengan rambut hitam sebahu itu memperlihatkan senyuman penuh haru, ketika Juan Pablo menghampirinya. Pria bermata cokelat madu tersebut melayangkan tatapan yang biasa saja pada awalnya. Namun, lama-kelamaan tatapan itu berubah menjadi lebih sendu.
"Juanito. Putraku," sambut wanita dengan penampilan yang elegant tadi. Dia menangkup wajah Juan Pablo, lalu mengecup keningnya.
"Apa kabar, Ibu?" balas Juan Pablo sembari mencium tangan wanita yang telah melahirkannya dengan penuh perasaan.
"Kabarku akan selalu baik setelah melihat kau baik-baik saja, Nak," sahut ibunda Juan Pablo penuh haru. Tak lama, dia segera menuntun sang anak memasuki kediamana mewah mereka. Juan Pablo pun tersenyum kecil ketika sang ibu menggandeng lengannya. "Aku senang akhirnya kau datang juga. Berapa lama kau tidak menemuiku, Nak?" wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu, duduk di sebelah putranya sambil menyilangkan kaki.
"Aku merasa sangat kacau, Ibu," ucap Juan Pablo pelan. "Setelah kepergian el tio, semuanya begitu berbeda. Rasanya seperti saat diriku kehilangan ayah dua puluh empat tahun yang lalu," Juan Pablo mengarahkan pandangannya pada meja persegi berukuran lebar yang seluruhnya terbuat dari kaca. Di sana, terdapat beberapa hiasan sebagai pelengkap dari keindahan rumah yang sekelilingnya terbuat dari kaca pula.
"Aku tidak sempat bertemu lagi dengannya. Sungguh disayangkan. Kuharap kau tidak memperpanjang masalah ini, Nak," pintanya yang seakan sudah dapat menebak apa yang akan putranya lakukan.
"Aku harus menemukan kepala el tio, Ibu. Barulah setelah itu diriku bisa merasa tenang," bantah Juan Pablo seakan menolak permintaan tak langsung dari sang ibu.
"Tidak, Nak. Aku tahu bahwa kau pria yang tangguh dan sanggup menghadapi siapa pun. Namun, tolong pikirkan juga perasaan ibumu ini," pinta wanita itu lagi sambil meletakkan tangannya di atas punggung tangan sang anak. "Selama kau tidak berada di sini, hatiku selalu merasa tak karuan. Aku ingin kau menetap di Meksiko, Juan."
__ADS_1
"Aku menghabiskan waktuku di mana-mana, Ibu. Kau sudah mengetahuinya," bantah Juan Pablo lagi.
"Kuharap bukan Italia," ujar wanita bermata cokelat madu itu tiba-tiba terlihat resah.
"Ayolah, Ibu. Kita sudah sering membahasnya," sahut Juan Pablo. Pria berambut gelap itu kemudian terdiam sejenak. "Aku tidak bisa lama di sini, karena diriku masih ada urusan di Amerika," ucap Juan Pablo lagi.
"Selalu saja begitu," protes sang ibu, "Saat tahu kau akan datang, aku langsung mempersiapkan segala hal yang kau sukai. Salah satunya Enchilada. Aku segera menyiapkannya sesaat setelah kau mengatakan sudah tiba di bandara. Kau pasti merindukan masakan ibumu, bukan?"
Juan Pablo mengempaskan napas dalam-dalam seraya menggeleng pelan. Dia juga menatap sang ibu dengan sorot mata yang berbeda. Sedingin apapun sikapnya terhadap orang lain, tapi dia tak dapat bersikap seperti itu kepada wanita yang telah melahirkannya. "Ibu ingin mengurungku di sini? Seharusnya kuajak kau untuk ikut serta ke Monaco dan tinggal bersamaku di sana," ujarnya. Dia lalu mengubah posisi. Juan Pablo kini merebahkan diri dengan kepala di atas pangkuan wanita anggun dan elegant, yang segera mengelus lembut rambut hitamnya. "Aku mengenal seseorang. Dia gadis berambut pirang dan juga bermata biru. Usianya jauh lebih muda dariku," ucap si pemilik tato bergambar kalajengking itu.
"Apa gadis itu tersenyum dengan tulus padamu?" tanya sang ibu tanpa menghentikan belaian lembutnya.
"Aku memanggilnya Bice (Pemberi kebahagiaan). Dia gadis Italia yang sangat manis," sahut Juan Pablo dengan tatapan menerawang. Angannya melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu, ketika dirinya tengah melakukan pergumulan panas bersama Gianna. Namun, sesaat kemudian bayangan itu beralih pada sosok wajah Lionel, si pria Swedia yang bernama asli Melker Eidef Kielman. Raut wajah Juan Pablo seketika berubah.
"Oh, putraku. Aku bahagia mendengar ada seseorang yang berhasil membuat hatimu tersentuh," ucap wanita itu lagi dengan senyuman terkembang. Pasalnya, selama ini Juan Pablo tidak pernah bercerita apapun tentang seorang wanita kepada dirinya.
Keesokan harinya, pada siang yang cukup terik di pinggiran kota Guadalajara. Juan Pablo menghentikan mobil sedan hitam yang dia kendarai di depan sebuah rumah tiga lantai. Dari luar, bangunan tersebut tampak seperti tak berpenghuni. Namun, ketika Juan Pablo menginjakkan kakinya di undakan anak tangga pertama, suara tembakan segera menyambut pria tiga puluh lima tahun itu. "Ini aku, Juan Pablo Herrera," seru pria bermata cokelat madu tersebut dengan lantang.
Tak berselang lama, lawang dengan dua daun pintu di hadapannya pun terbuka. Tiga orang pria berwajah sangar keluar dan menyambut kedatangannya. "Tuan Herrera? Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah seorang dari mereka.
"Bawa aku pada bos kalian," pintanya tanpa ekspresi sama sekali.
"Bos kami sedang ...."
Tanpa menunggu salah satu dari pria tadi melanjutkan kata-katanya, Juan Pablo langsung saja berjalan maju, lalu berdiri di hadapan pria yang sepertinya merupakan ketua dari kedua rekannya. "Suasana hatiku sedang tidak baik, dan aku yakin jika kalian tak akan menyukainya," ujar pria dengan blazer hitam itu penuh penekanan.
__ADS_1
Mendengar nada bicara Juan Pablo yang disertai sorot tajam, pria tadi segera mempersilakannya untuk masuk. Dia mengarahkan pria itu menuju sebuah ruangan yang sepertinya merupakan tempat dari bos mereka. Enrique Espinoza Bravo, ketua dari kartel narkoba paling disegani di wilayah Meksiko. Dia terkenal sangat kejam terhadap lawan bisnisnya. Tak terhitung berapa ribu nyawa yang sudah melayang di tangan pria berambut ikal sebahu itu.
Juan Pablo berdiri tak jauh dari pria yang tengah asyik bermesraan dengan seorang wanita yang hanya mengenakan pakaian dalam tanpa bra, sehingga dadanya yang bagaikan buah pepaya mentah terekspos dengan sangat jelas. Wanita penghibur itu duduk di atas pangkuan Enrique sambil memainan kalung rantai yang menghiasi leher pria berambut gondrong tadi. Sementara Enrique tertawa dengan tangannya yang bergerak liar pada area-area tertentu. Namun, pria itu segera menghentikan aksi nakalnya, ketika dia menyadari kehadiran Juan Pablo di sana. Dia segera menurunkan wanita itu dari atas pangkuan dan menyuruhnya untuk pergi dari ruangan tersebut.
Wanita berambut pirang tadi menurut. Tanpa merasa risih sama sekali, dia berjalan melewati Juan Pablo sambil melayangkan senyuman serta tatapan nakal penuh godaan. Akan tetapi, Juan Pablo tak memedulikannya sama sekali. Pandangannya terus tertuju pada Enrique, tak menoleh sedikit pun kepada wanita yang hampir telanjang itu.
"Juan Pablo Herrera. Suatu kehormatan kau bisa berkunjung kemari," sambut Enrique sambil berdiri, lalu menaikkan resleting celananya yang terbuka.
"Kebetulan aku sedang berada di Meksiko. Jadi, kuputuskan untuk menemuimu," balas Juan Pablo biasa saja. "Tidak perlu berbasa-basi. Kau tahu apa maksud kedatanganku kemari," ucap pria itu lagi.
"Ayolah. Aku sudah meminta perpanjangan waktu kepada Don Vargas," sahut Enrique memasang wajah aneh.
"Don Vargas sudah menyerahkan seluruh tanggung jawab padaku. Segala sesuatu yang berhubungan dengan bisnisnya telah kuambil alih. Kami sudah terlalu lama memberikan jangka waktu agar kau bisa melunasi sisa pembayaran pesanan senjatamu. Aku tidak ingin menunggu lagi," tegas Juan Pablo.
"Ayolah, uangku belum cair," kilah Enrique.
"Kalau begitu berikan sebelah tangan dan kakimu untukku, baru aku akan menganggap semuanya lunas," seringai Juan Pablo. Gerakannya begitu cepat mencengkeram serta memelintir tangan ketua dari kartel narkoba itu. "Aku tahu kau orang yang sangat berbahaya, tapi jangan pernah lupa tentang siapa diriku," ancamnya kembali menyeringai. Tenaga Juan Pablo semakin kuat memelintir tangan Enrique, hingga pria berambut gondrong tadi meringis kecil.
"Baiklah, baiklah. Akan segera kutransfer sisa pembayarannya," ucap Enrique dengan terpaksa.
"Aku ingin uang tunai. Sekarang juga!" desak Juan Pablo. "Jangan khawatir, aku akan menunggu selagi kau menghitung uangmu," ucapnya lagi sambil mengempaskan tangan Enrique dengan kasar. Dia lalu duduk di sofa sambil meletakkan kaki kiri di atas paha sebelah kanan. Tatapannya tajam terarah kepada Enrique yang tengah memutar brankasnya.
Tampaklah beberapa tumpuk uang dalam bentuk dollar Amerika di dalam sana. Itu hanya sebagian kecil dari kekayaan milik Enrique. Diambilnya uang tadi, kemudian pria itu masukan ke dalam sebuah tas. Setelah selesai, segera dia sodorkan kepada Juan Pablo yang telah berdiri dan langsung menerima tas itu. "Pastikan jumlahnya telah pas, karena aku terlalu sibuk untuk menghitung ulang uang ini," tegasnya.
"Tenang saja, aku tidak akan berani berkhianat padamu," sahut Enrique meyakinkan.
__ADS_1
Tanpa berbasa-basi lagi, Juan Pablo segera berlalu dari hadapan Enrique. Dia melangkah gagah keluar dari bangunan tadi. Juan Pablo mengendarai mobilnya ke arah lain. Tujuan dia saat itu adalah tempat pemakaman khusus militer. Setelah memarkirkan kendaraannya, pria itu pun turun tanpa melepas kaca mata hitam yang dia kenakan. Berdiri di depan salah satu pusara, mata Juan Pablo menatap nanar nama yang tertera di sana. Sebastian Naldo Quentiero.