Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Dimenticalo


__ADS_3

"Tidak, Mia. Kumohon jangan berpikir seperti itu," bantah Adriano, "tidak ada wanita lain yang bisa mengalihkan pandanganku darimu. Itu sudah pasti," lanjutnya.


Dalam hati Mia tersenyum lega. Ada kesungguhan yang terlihat dengan begitu jelas, pada sepasang mata biru Adriano. Namun, saat itu Mia hanya terdiam. Dia ingin agar Adriano sedikit merayunya di hadapan Bianca. Selama ini, pria itu tak pernah menunjukkan sisi romantis dalam dirinya di hadapan siapa pun. Mia memilih untuk memalingkan wajah, dan menoleh kepada Miabella yang masih memeluk pahanya dari belakang.


"Kenapa kau berpikir sejauh itu? Aku berjuang keras untuk bisa mendapatkanmu, mana mungkin kau kuabaikan setelah bisa kumiliki," Adriano meraih wajah cantik Mia dan menangkupnya dengan lembut. Sedangkan Mia masih saja terdiam. Sesekali, ekor matanya melirik kepada Bianca yang saat itu hanya menjadi penonton dengan raut tidak nyaman. Bianca bahkan sampai harus memalingkan wajah cantiknya, ketika melihat Adriano mencium Mia dengan mesra. Wanita muda yang terlihat sangat modern itu, merasa ingin segera pergi dari sana.


“Lalu, apa yang membuatmu menjauhiku?” tanya Mia sesaat setelah Adriano melepaskan ciumannya.


“Ayo, kita bicara di ruanganku,” ajak Adriano seraya meraih tangan Miabella dan merengkuh balita cantik itu ke dalam gendongan. Mereka bertiga sempat melewati Bianca yang masih terpaku di tempatnya.


“Adriano, kau sangat keterlaluan!” desis wanita itu. “Aku tidak mengenalmu lagi. Kau kini terlihat sangat lemah. Kau sungguh mengecewakan,” caci Bianca yang terlihat kecewa.


“Sudahlah, Bianca. Pulanglah. Dinginkan kepalamu dan jangan lupa untuk membersihkan diri,” senyuman Adriano terlihat begitu menawan yang dia tujukan untuk koleganya tersebut.


“Kau .…” Bianca mengarahkan telunjuknya pada Adriano. “Tunggu sampai kuungkapkan semua kebusukan istrimu pada Pierre, Benigno dan seluruh anggota Tigre Nero!” ancamnya.


Untuk kali ini, Adriano tak bisa tetap terlihat tenang. Senyumannya memudar seketika, tatkala Bianca mengeluarkan ancaman yang tadi sempat dia tujukan kepada Mia. “Masuklah dulu, Sayang. Akan kususul sebentar lagi,” suruh pria itu sembari memindahkan Miabella ke gendongan Mia. Dia menunggu sampai istri dan putri sambungnya memasuki ruang kerja, lalu Adriano menutup pintunya.


Setelah itu, Adriano kemudian berjalan mendekat kepada Bianca, sehingga wajah cantik yang tengah mondongak dengan penuh percaya diri itu berhadapan langsung dengan wajahnya. “Dengarkan aku baik-baik, Nona Alegra. Tigre Nero adalah milikku, semua anggotanya tak terkecuali Pierre dan Benigno, harus tunduk padaku. Jadi, sekalipun mereka mengetahui kenyataan tentang apa yang Mia lakukan padaku, maka kujamin mereka tidak akan berani berbuat macam-macam atau mereka akan berhadapan dengan amarah sang penguasa. Sudah jelas, tak ada yang suka melihatku marah,” Adriano menyeringai, lalu meraih dagu lancip Bianca dan menekannya kuat-kuat sampai Bianca meringis kesakitan.


“Biar kutekankan sekali lagi, tidak ada yang boleh menyakiti Mia. Tidak juga kau. Jangan karena selama ini kita sudah berteman dekat, lantas kau bisa berbuat seenaknya terhadap keluargaku. Ingat, aku bisa menghancurkan siapa pun, bahkan jika perlu membumihanguskan Tigre Nero andai orang-orang kepercayaanku termakan hasutanmu. Bagiku, Mia dan juga Miabella adalah segalanya!" tegas Adriano seraya mengempaskan dagu Bianca dengan begitu saja. "Sebaiknya pergilah, karena aku tidak suka berurusan dengan seseorang yang bukan merupakan lawan sebanding denganku!"


“Jangan bersikap terlalu sombong, Adriano,” Bianca mundur beberapa langkah sembari mengusap dagunya yang terasa nyeri. “Tigre Nero adalah pemberian Alessandro Moriarty. Aku tahu itu! Dia memberikan klan ini di saat ulang tahunmu yang ke enam belas,” giliran Bianca yang tersenyum puas.

__ADS_1


"Lalu, apa masalahnya denganmu?” Adriano kembali tersenyum sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Paman Alessandro memberiku organisasi kecil yang terbengkalai. Namun, sepeninggal beliau aku membawa Tigre Nero ke luar Italia dan lihatlah hasilnya kini. Akulah yang membesarkan klanku hingga berjaya dan berkuasa hingga menjadi seperti sekarang. Seluruh daratan Eropa, kecuali Inggris dan Rusia, sudah berada dalam genggamanku. Mungkin Rusia juga sebentar lagi,” pria rupawan itu tertawa kecil, membungkam keangkuhan Bianca.


Tak terima dikalahkan, Bianca mengepalkan tangan erat-erat. Tubuhnya bergetar menahan emosi. Pria yang menjadi idolanya selama ini, kolega terdekat dan terbaik yang mampu mencuri hati dan membawa seluruh kekagumannya, saat ini berdiri di arah yang berseberangan dengan dirinya. “Aku tak akan membantumu lagi, Adriano. Aku akan mundur dari proyek kerja sama bersama Don Vargas. Mulai detik ini, kita akan mengambil jalan masing-masing. Selamat tinggal,” ucap Bianca dengan nada bergemuruh. Dia membalikkan badan dan meninggalkan Adriano begitu saja.


“Hati-hati di jalan,” ucap Adriano dengan nada santai. Dia lalu memutuskan untuk masuk ke ruang kerja, di mana Mia tengah menunggunya di sana.


“Daddy Zio,” Miabella segera menghambur ke dalam gendongan Adriano begitu pria itu membuka pintu ruang kerjanya. Adriano tertawa ketika Miabella menggodanya dengan menggelitiki leher. Dia sempat kesusahan saat menutup pintu akibat keusilan putri sambungnya tersebut.


“Hentikan, Bella,” tegur Mia. Namun, gadis kecil itu tak menghiraukannya.


“Tidak apa-apa, Mia,” ucap Adriano lembut seraya mengambil posisi di sofa. Dia lalu mendudukkan Miabella di atas pangkuannya.


Mia pun akhirnya mengikuti Adriano dengan duduk tepat di sampingnya. Wanita cantik itu bahkan melingkarkan tangan, menelusup ke belakang pinggang Adriano dan memeluknya erat-erat dari samping.


“Aku benar-benar kalut tadi. Hampir saja aku meninggalkanmu. Tolong, jangan membuatku salah paham lagi, Adriano. Lebih baik kau ungkapkan semuanya padaku. Jujurlah. Jangan ada yang ditutup-tutupi lagi,” pinta Mia sambil menciumi lengan sang suami.


“Kesalahan apa?” desak Mia tak sabar. Sementara Adriano tak kunjung menjawab. Pria bermata biru itu malah menggeser duduknya dan memindahkan posisi Miabella, hingga berada di tengah-tengah mereka. “Katakan Adriano,” pinta Mia lagi.


Adriano menarik napas panjang , lalu mengembuskannya perlahan. “Sergei Redomir, yang dulu pernah bekerja sama dengan mendiang Matteo dalam bisnis senjata .…” dia menjeda kata-katanya dan menatap penuh arti kepada Mia. “Apa kau masih mengingatnya? Sergei Redomir?” Adriano ganti bertanya.


“Tentu saja aku mengingatnya,” jawab Mia dengan menggebu-gebu.


“Kau tentu tahu bukan, jika akulah yang pertama kali mengenalkan Sergei pada mendiang Matteo,” ucap Adriano mengawali ceritanya. Mia mengangguk dan tersenyum. Senyuman yang membuat Adriano memiliki keberanian lebih untuk menceritakan segalanya. Apalagi dilihatnya Miabella yang memandang padanya dengan antusias pula.

__ADS_1


“Tujuan awalku mempertemukan Sergei dengan Matteo de Luca adalah supaya mereka menjalin hubungan bisnis. Dengan begitu, aku dapat memerintahkan Sergei dengan mudah sehingga dapat menghancurkan Matteo dari dalam. Saat itu, aku begitu berambisi untuk membalas dendam dan membunuh Matteo, agar kematian kedua sepupuku Vincenzo dan Silvio Moriarty tak sia-sia,” tuturnya perlahan sambil memperhatikan Miabella. Gadis kecil itu tengah asyik bermain kotak tisu yang berada di atas meja.


“Aku tahu itu. Theo pernah bercerita tentang hal tersebut kepadaku,” sahut Mia dengan senyuman yang tetap menghiasi wajah cantiknya.


“Akan tetapi, ternyata aku tak sanggup melukai Matteo. Itu semua karena dirimu, aku tak bisa melihatmu bersedih seandainya aku merenggut Matteo. Kau selalu di dekatnya dan mengaburkan konsentrasiku, sehingga pada akhirnya aku mengurungkan niat untuk membalas dendam. Terlebih setelah tragedi malam itu. Ketika kau ….” Adriano menghentikan penjelasannya saat dia melihat perubahan pada raut Mia. Wanita itu menjadi murung seketika. “Ah, tragedi malam itu sungguh tak penting, Mia. Kau tahu kenapa?” tanyanya. Sementara Mia segera menggeleng saat mendengar pertanyaan Adriano.


“Karena aku berhasil memilikimu. Aku sama sekali tidak mendendam. Aku malah merasa begitu bahagia,” jelasnya.


“Lalu, bagaimana jika anak buahmu mengetahui yang sebenarnya tentang aku?” tanya Mia was-was.


“Mereka tidak akan berani macam-macam terhadapmu, Sayang. Percayalah padaku. Perintahku adalah mutlak dan mereka tahu bahwa kau dan Miabella adalah harta yang paling berharga dan selalu akan kujaga meskipun nyawa taruhannya,” tegas Adriano.


“Akan tetapi, Mia ... ternyata ….” Adriano kembali berhenti.


“Ternyata apa?” tanya Mia. Wanita itu sungguh-sungguh merasa penasaran.


“Sergeilah yang menjadi jalan masuk bagi pembunuh-pembunuh itu untuk menghabisi Matteo. Oh, Mia, seandainya aku tidak masuk ke dalam kehidupan kalian sejak awal. Seandainya aku tak mengenalkan Sergei pada kalian, tentu kau masih memiliki keluarga yang bahagia bersama Matteo,” sesal Adriano. Dia menunduk dalam-dalam, menumpu siku pada paha dan menopang kepalanya.


Mia terdiam untuk beberapa saat lamanya. Diperhatikannya pria itu dengan lekat. Sesaat kemudian, Mia mengusap bahu Adriano dengan lembut. “Apa kau menyesal telah menikah denganku, Adriano?” tanyanya lirih.


“Bagaimana aku bisa menyesal. Kau adalah seseorang yang selalu kucari sejak masih remaja. Aku hanya menyesali keadaan yang sepertinya tak memihak padaku. Aku berada di tempat dan waktu yang salah. Seharusnya kau dan Matteo .…”


“Tidak ada kata seharusnya, Adriano. Aku memang begitu terpuruk atas kematian Matteo, terlebih karena dia mengembuskan napas terakhirnya di atas pangkuanku. Saat itu, kulihat dia begitu kesakitan. Namun, aku juga tak pernah menyangka jika akan kembali merasakan jatuh cinta. Kuhargai semua hal yang telah kau lakukan selama ini. Segala luka yang telah kau alami, pertaruhan nyawa dan apapun itu yang telah kau tunjukkan sebagai rasa cinta dan sayangmu untuk kami berdua ...." Mia terdiam sejenak sambil menatap Miabella yang masih asyik sendiri.

__ADS_1


"Kau adalah pria terbaik. Kau merupakan suami dan juga ayah yang hebat. Tak ada alasan bagiku untuk memberikan sebuah hukuman bagimu, karena aku sadar bahwa setiap orang pasti akan melakukan kesalahan. Jangankan dirimu, bahkan untuk seseorang sepertiku ...." Mia kembali terdiam merenungi semua yang telah terjadi pada lalu mereka berdua.


"Aku mencintaimu, Mia," ucap Adriano dengan dalam. Segera diraihnya wajah sang istri. "Mulai saat ini, kita bisa saling membebaskan beban masing-masing. Lupakan semua hal di masa lalu," ucapnya.


__ADS_2