Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Grow Up


__ADS_3

“Apa kau masih marah padaku, Principessa? Kau tahu aku tak akan bisa tidur dengan nyenyak, jika salah satu dari kau dan Adriana tengah menyimpan rasa marah dan kecewa padaku,” ucap Adriano dengan senyuman lembut. Dia terus mencoba merayu gadis itu agar berhenti merajuk.


Melihat sikap manis dari sang ayah, sikap keras Miabella akhirnya luluh. Dia membuka pintu kamarnya lebar-lebar. “Masuklah,” ucapnya..


“Grazie.” Adriano tersenyum kalem karena telah berhasil membuat putri kesayangannya itu sedikit melunak. Sang ketua Tigre Nero kemudian melangkah gagah ke dalam kamar dengan nuansa warna peach. Dia mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan pribadi putrinya tersebut. “Sekian tahun berlalu. Tak ada yang berubah dari tempat ini, selain boneka-bonekamu saja yang sudah kusumbangkan ke panti,” ucap Adriano pelan. Dia menoleh kepada Miabella yang masih berdiri menatapnya dengan perasaan yang tak karuan.


“Aku masih mengingat saat pertama kali dirimu menempati kamar ini. Kau tak ingin lepas dari gendonganku. Betapa waktu berjalan dengan begitu cepat, Principessa. Beberapa saat yang lalu, aku adalah duniamu. Lalu, tiba-tiba saja kau ingin pergi dan menjauh dari daddy zio-mu ini.” Adriano tersenyum getir seraya menatap tempat tidur sang putri yang tak lagi tampil dengan nuansa negeri dongeng seperti dulu.


“A-aku.” Gadis cantik bermata abu-abu itu tergagap, lalu menunduk lesu. “Maafkan aku," ucapnya pelan. Dua kata itu saja yang dapat keluar dari bibir Miabella. Padahal, awalnya ada ribuan kalimat sudah dia rangkai di dalam kepala, untuk disampaikan kepada pria tersebut.


“Bella.” Adriano berjalan mendekati sang putri, lalu mengangkat dagunya. “Aku dan Mia sangat menyayangimu. Tidakkah kau merasakan hal itu?” tanyanya lembut.


“Ya, aku tahu, tapi ....” Kalimat Miabella kembali terjeda. Untuk sejenak, dia terlalu fokus pada wajah sendu sang ayah yang tak lagi muda meskipun masih terlihat menawan. Apa yang Miabella lihat saat ini, sangat berbanding terbalik dengan cerita Adriana tadi tentang ayahnya yang tengah menghajar seseorang dengan bengis.


Miabella kemudian tersenyum. “Apa kau tidak menyadarinya, Daddy Zio? Coba pikir, siapa yang telah mewariskan sikap liar dan bar-bar seperti tadi kepadaku?” Gadis itu menaikturunkan alisnya, seakan menggoda Adriano.


“Astaga.” Pria bermata biru itu meraup wajahnya kasar. Dia sudah tahu kemana arah pembicaraan Miabella.


“Daddy Zio! Kau sang ketua Tigre Nero yang terkenal. Di saat umur tiga belas tahun, kau bahkan telah berpetualang sendiri ....”


“Aku diusir, bukan berpetualang,” potong Adriano dengan segera.


“Ya, begitulah. Intinya sama saja. Kau keluar dari rumah lalu mendapatkan berbagai macam pengalaman. Lihatlah dirimu sekarang. Kau lebih kuat dari batu karang, karena pengalaman hidup terus menempamu. Aku juga ingin seperti itu, Daddy Zio. Jadi tolong jangan melarang ataupun membatasi, ketika diriku ingin merasakan pengalaman baru. Contohnya seperti menghajar mantan kekasih yang ketahuan selingkuh. Aku harus mengeluarkan segala energi negatif dalam diriku. Begitu, bukan?” ujar Miabella tanpa jeda.


“Itu adalah dua hal yang berbeda, Bella,” sanggah Adriano mencoba tetap tenang dalam menghadapi gadis muda tadi.

__ADS_1


“Ayolah, Daddy Zio. Aku juga ingin merasakan bagaimana dunia luar,” rengek Miabella yang kembali memperlihatkan sikap manja terhadap Adriano.


“Kau sudah merasakannya selama tiga tahun saat kuliah di Inggris, Bella,” tolak Adriano dengan cukup tegas.


“Di Inggris aku seperti tahanan rumah. Kau melarangku pergi ke manapun. Kau bahkan tak memperbolehkanku mendatangi kasino milikmu sendiri. Apa-apaan itu?" Miabella mulai bersungut-sungut. Wajah cantiknya terlihat begitu menggemaskan.


“Karena tempat itu bukan tempat ramah anak gadis sepertimu,” jelas Adriano masih dengan sikap dan gayanya yang tenang serta berwibawa.


“Aku bukan lagi gadis kecil berusia lima tahu,” bantah Miabella. "Mungkin aku akan memilih menjadi biarawati saja," celetuk gadis itu tanpa berpikir.


“Kau yakin?" tanya Adriano menaikkan sebelah alisnya.


"Tidak," jawab Miabella beberapa saat kemudian.


"Itulah mengapa bagiku kau masih tetap seperti gadis kecil yang berusia lima tahun. Namun, lihatlah sekarang. Padahal aku tak memperbolehkanmu ke mana-mana, tapi nyatanya kau masih bisa memiliki seorang kekasih,” ujar Adriano sambil mengulum senyumnya.


“Apa?” desis Adriano seraya menautkan alis. Raut bengisnya pun muncul seketika. “Jadi, dia memang berniat untuk menyentuh dan berlaku kurang ajar padamu,” geram pria yang masih terlihat begitu menawan di usia empat puluh sembilan tahun. “Jika memang begitu, maka akan kubiarkan saat tadi kau menghajarnya,” sesal Adriano masih dengan mimik tak suka.


“Salah siapa kau malah mencegahku?” Miabella tersenyum sinis sambil melipat kedua tangan di dada. “Sekarang, apakah aku boleh mengejar dan melanjutkan menganiaya Lucas?” tanyanya.


“Tidak! Kau akan tetap di kamarmu," titah Adriano. “Perbincangan tentang Lucas kita akhiri sampai di sini. Aku tak ingin mengingatnya lagi. Semoga pria itu tidak akan pernah muncul di hadapanku, karena aku bisa berbuat jauh di luar kendali padanya," tegas ayah dua anak tersebut.


“Lalu, bagaimana denganku sekarang?” tanya Miabella.


“Kau tetap di sini dan nikmatilah hari-harimu di Monaco. Kau bisa mengajak ibumu berbelanja atau berjalan-jalanlah ke pantai bersama Adriana,” saran Adriano. "Ada banyak hal yang menarik juga di Monte Carlo. Semua orang dari penjuru dunia menganggap negara ini seperti surga."

__ADS_1


“Aku menginginkan pengalaman yang mendebarkan, Daddy Zio!” Miabella setengah berseru karena putus asa dengan sikap tegas Adriano.


“Kau bisa mendapatkan pengalaman dari mana saja, bahkan dari dapur saat kau memasak berdua dengan ibumu,” ujar Adriano.


“Astaga.” Miabella memegangi kepalanya yang mulai berdenyut. Sungguh berat sekali ketika dia harus beradu pendapat dengan sang ayah. Bisa dipastikan jika dirinya akan kalah. “Kau tahu jika bukan pengalaman seperti itu yang kumaksud,” keluh Miabella seraya mengempaskan napasnya pelan.


“Kau jauh lebih aman berada di dekat kami.” Adriano mengulurkan tangan dan merengkuh tubuh Miabella. Dipeluknya gadis itu dengan erat.


“Kau membuatku tidak bahagia, Daddy Zio,” ujar Miabella lirih, membuat Adriano begitu terperanjat sampai harus melepaskan pelukannya.


“Kau tak bahagia berada di dekat kami, Principessa?” ulang Adriano setengah tak percaya.


“Bukan itu maksudku. Aku tidak bahagia ketika kau membatasi kebebasanku, Daddy Zio.” Mata Miabella mulai terlihat sendu. “Aku juga ingin bebas, pergi ke manapun yang kumau. Lagi pula, ada Carlo yang senantiasa menemaniku,” imbuhnya.


Adriano menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Putrinya sudah semakin dewasa. Adriano sadar sepenuhnya, bahwa dia tak bisa menahan Miabella agar tetap menjadi gadis kecil menggemaskan. “Kau baru saja pulang setelah menyelesaikan studimu selama tiga tahun, Principessa,” ucap Adriano lirih.


“Selama tiga tahun itu pula, aku banyak berpikir, Daddy Zio. Puncaknya adalah ketika kau memarahiku tadi,” sahut Miabella.


“Jadi, ini semua gara-gara aku memarahimu,” ujar Adriano penuh sesal. Dia lalu mundur dan duduk di tepi ranjang.


“Bukan ... maksudku ... aduh, kenapa sulit sekali?” Miabella mengacak-acak rambutnya. Setelah terdiam beberapa saat, Miabella akhirnya memutuskan untuk duduk di samping ayah yang teramat dia sayangi. “Aku juga ingin mencari jalan sendiri, Daddy Zio. Izinkan aku mencari pengalaman berbeda,” pintanya dengan tatap mata penuh harap. “Aku juga ... ingin mengenal lebih dekat sosok Matteo de Luca, ayah kandungku,” ucap Miabella hati-hati.


Adriano pun menoleh dan menatap putrinya penuh arti.


“Kau sering menceritakan padaku tentang sosoknya, tapi aku jarang sekali mendatangi makam atau berada lebih lama di perkebunan,” lanjut Miabella.

__ADS_1


“Kenapa kau tidak mengatakan dari tadi bahwa kau ingin pergi ke Casa de Luca, Sayangku? Kalau untuk ke sana, aku pasti akan selalu mengizinkanmu.” Pandangan mata Adriano mulai melunak. Tangannya terulur dan mengusap lembut pipi Miabella.


“Lagi pula, seluruh bangunan dan kawasan perkebunan Casa de Luca adalah milikmu,” ujarnya lagi.


__ADS_2