Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Scheming


__ADS_3

Menara Hitam. Sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Adriano, Juan Pablo segera menuju ke tempat tersebut. Untuk sejenak, pria dengan t-shirt panjang berlapis blazer yang dipadukan celana jeans itu, berdiri beberapa saat sambil mengawasi tempat sekitar. Di sana, suasananya begitu sepi. Tak ada pergerakan sedikit pun yang tampak dalam tatapan tajam di balik kaca mata hitam Juan Pablo. Namun, hal itu justru membuat pria tiga puluh lima tahun tersebut menjadi harus semakin waspada.


Hati-hati dan tanpa melepas konsentrasi, Juan Pablo melangkahkan kakinya menuju bangunan dengan pintu yang sudah terbuka lebar. Tepat di depan lawang pintu tadi, pria dengan postur 185 cm itu berhenti dan kembali mengamati situasi. Dia lalu merogoh pistol yang tersembunyi di balik blazer hitam pada belakang punggung. Sambil terus mengawasi keadaan dengan sangat teliti dan penuh waspada, Juan Pablo kembali melanjutkan langkahnya memasuki bangunan tadi.


Tak seperti kebanyakan orang, pria asal Amerika Latin yang saat itu hanya datang seorang diri ke sana, berjalan menyisir setiap bagian dari bangunan tadi dengan tanpa mengokang senjata. Pistol itu masih dia pegang di samping tubuhnya, tetapi selalu siap untuk ditembakan andai ada sesuatu yang membuat dia merasa terancam.


Langkah Juan Pablo kembali terhenti, ketika dia mendapati mayat beberapa anak buahnya yang mati tertembak. Dia dapat mengenali mereka dari tanda khusus yang terdapat pada pakaian masing-masing. Namun, pria berparas rupawan itu tak terlalu memedulikan mayat-mayat tadi, karena tujuan utamanya adalah mencari keberadaan Don Vargas.


Hampir setiap bagian dari bangunan tadi telah dia periksa, hingga akhirnya tibalah pria asal Meksiko itu pada sebuah kamar dengan kondisi yang membuatnya menautkan alis. Lantai dari kamar tersebut terbuka lebar. Ketika Juan Pablo memeriksanya, dia melihat ada sebuah tangga menuju ke ruang bawah tanah. Pria bermata cokelat madu tersebut kemudian memutuskan untuk segera memeriksanya.


Masih dengan langkah yang penuh waspada, Juan Pablo meniti satu per satu deretan anak tangga, hingga tiba pada undakan paling bawah. Suasana temaram dan bau apek berbaur dengan aroma tak sedap yang menyeruak ke dalam indera penciumannya. Dia sangat yakin bahwa itu merupakan bau anyir darah yang meskipun samar, tapi masih dapat tercium. Selain itu, ada juga aroma lain yang membuatnya merasa semakin tidak nyaman, yaitu bau busuk yang sangat menyengat.


Juan Pablo kembali melangkah, tapi tak lama kemudian pria berpostur tegap itu tertegun. Tak jauh dari tempatnya berdiri, tampaklah sesosok jasad berlumur darah yang tergeletak di lantai. Seketika, napasnya seakan tercekat di leher ketika dirinya melihat dua buah cincin pada jari tubuh yang telah menjadi mayat tersebut.


"El Tìo (Paman)," dalam dan begitu berat suara yang keluar dari bibir pria berwajah eksotis itu. Segera dihampirinya mayat tadi. Juan Pablo kemudian menurunkan tubuh dengan bertumpu pada sebelah lutut yang dia tekuk. Ditatapnya tubuh Don Vargas dengan pakaian yang tercabik dan penuh darah. Satu hal yang membuat Juan Pablo langsung mengepalkan tangannya ialah ketika dia mendapati bahwa jasad itu dalam keadaan tanpa kepala.


"Bajingan mana yang sudah berani melakukan ini padamu, El Tìo?" geramnya. Dengan tatapan tajam dan mata berkilat, Juan Pablo kembali berdiri lalu memeriksa seluruh ruang bawah tanah itu. Akan tetapi, dia tak menemukan apapun di sana. Juan Pablo akhirnya kembali pada mayat Don Vargas. Dia memeriksa setiap bagian tubuh pria yang biasa dipanggilnya dengan sebutan paman.


Tepat pada pergelangan tangan kiri bagian bawah, terdapat luka sayat berbentuk huruf X yang sangat dalam. Selain itu, Juan Pablo juga menemukan sebuah pin dari perak dengan ukiran sebuah tulisan Killer X : Assassin Alliance.


"Lionel!" geram Juan Pablo menahan amarah yang seolah akan meledak saat itu juga. Juan Pablo yang berada dalam posisi duduk bersimpuh, mengepalkan kedua tangan.


Dihantamkannya kepalan tangan tadi pada lantai kotor, hingga menimbulkan gumpalan debu yang terlihat seperti asap tipis.

__ADS_1


Penyesalan besar bercampur dengan amarah, menjadikan sebuah dendam yang sangat luar biasa dalam dirinya.


Tanpa membuang waktu, Juan Pablo segera mengangkat jasad Don Vargas. Tak dipedulikannya bau tidak sedap yang menguar, dari mayat pria yang kini berada di atas pundak sebelah kirinya. Juan Pablo melangkah dengan gagah menuju pintu keluar. Setibanya di dekat mobil, dia segera membaringkan jasad Don Vargas ke dalam jok belakang. Setelah itu, Juan Pablo lalu melepas blazer yang dikenakannya untuk menutupi bagian kepala Don Vargas yang hilang entah ke mana.


Sebelum menyalakan mesin mobilnya, pria asal Meksiko tadi mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. "Arturo, persiapkan prosesi pemakaman. Aku akan tiba di Monaco secepatnya," titah Juan Pablo. Tanpa menunggu jawaban dari lawan bicara di seberang sana, dia segera menutup sambungan telepon. Setelah itu, Juan Pablo bergegas melajukan kendaraan untuk menuju ke Monaco.


Berkendara selama hampir dua belas jam dengan membawa jasad tanpa kepala, merupakan sebuah pengalaman pertama bagi pria tiga puluh lima tahun tersebut. Namun, semua itu tak terasa sama sekali, ketika dirinya tetap berada pada titik fokus, hingga perjalanan panjang itu berakhir di jantung kota Monte Carlo. Kedatangannya pun langsung disambut dengan wajah-wajah yang tertunduk dalam, saat Juan Pablo keluar dari dalam mobil sambil memanggul jasad tanpa kepala. Tanpa banyak bicara, dia melewati para pengawal di sana dengan begitu saja.


......................


Untuk sejenak Juan Pablo melupakan semua kemarahan dan perasaan dendam yang telah menguasai dirinya, saat mengikuti dan mendengarkan khotbah dari seorang pendeta hingga selesai. Pria itu kemudian berdiri dengan khidmat ketika menyaksikan prosesi pemakaman pria yang telah dia anggap seperti ayah kandungnya sendiri.


"Aku turut berduka cita, Tuan Herrera," ucap Adriano yang juga hadir dalam acara pemakaman tersebut. Di sana pun tampak Arsen yang sejak awal memasang raut tak percaya.


"Aku benar-benar tidak percaya dengan semua ini. Bagaimana mungkin Don Vargas ...." Arsen mengempaskan napas dalam-dalam. Dia memilih untuk tidak melanjutkan kata-katanya tadi.


"Apakah Anda telah mendapatkan petunjuk, tentang pelaku yang sudah menghabisi nyawa Don Vargas?" tanya Adriano.


“Ya!” jawab Juan Pablo singkat dengan iris mata coklat madu yang tampak berkilat. “Seorang teman lama,” desisnya pelan, tapi penuh penekanan.


“Atas dasar apakah dia membunuh Don Vargas?” tanya Arsen lirih dan seakan tak percaya.


“Persaingan bisnis, Tuan Moras. Di dunia kami, hal itu telah menjadi sesuatu yang lumrah. Saling berebut wilayah dan juga kekuasaan mutlak dilakukan jika ingin bertahan,” nada suara Juan Pablo terdengar pelan, tapi menakutkan.

__ADS_1


“Lalu, apa yang akan Anda lakukan selanjutnya? Bagaimana dengan proyek kasino maupun proyek bisnis lainnya yang masih berjalan?” kini giliran Adriano yang bertanya.


“Aku yang akan mengambil alih semuanya,” jawab Juan Pablo dengan datar dan terkesan dingin. “Jangan khawatir, Tuan D’Angelo. Proyek kerja sama kasino akan tetap berjalan dan sesuai rencana semula,” sambung pria itu. Setelahnya, Juan Pablo memilih untuk diam dan tak mengucapkan sepatah kata pun. Mata elangnya terus tertuju pada gundukan tanah baru di hadapannya. Peti mati Don Vargas telah terkubur sempurna, menyisakan puluhan tangkai bunga yang dilemparkan ke depan batu nisan. Sesekali, Juan Pablo tersenyum samar sambil membalas ucapan beberapa pelayat yang menyalaminya.


Adriano dan Arsen adalah orang terakhir yang berada di kompleks pemakaman tersebut, sehingga dia memutuskan pamit pada Juan Pablo. “Jangan sungkan menghubungiku jika Anda membutuhkan sesuatu,” ucap Adriano seraya menyalami Juan Pablo dan menepuk lengan pria dingin itu.


“Terima kasih atas kedatangan dan penghormatan terakhir dari Anda berdua untuk Don Vargas,” balas Juan Pablo.


Adriano menanggapinya dengan mengangguk, lalu menoleh kepada Arsen. Seakan mengetahui isyarat dari pria bernata biru itu, Arsen ikut mengangguk dan berlalu dari area pemakaman tersebut bersama sang ketua Tigre Nero. Mereka lalu memasuki kendaraan Adriano yang terparkir di luar gerbang.


“Aku tidak menyangka jika Don Vargas akan mati secepat ini,” ujar Arsen setelah mobil yang dia tumpangi sudah melaju dan meninggalkan lokasi pemakaman.


“Aku juga,” sahut Adriano dengan tangan yang lihai memegang kemudi. Tampak raut tampannya tengah memikirkan sesuatu.


“Kupikir Don Vargas adalah seorang pria yang memiliki kekuatan tak terbatas,” lanjutnya gamang.


Arsen melirik Adriano. Dia dapat merasakan sesuatu yang tersembunyi di balik kalimat pria bermata biru itu. “Instingku mengatakan jika kau mengetahui sesuatu. Benarkah itu?” selidiknya.


Adriano tak segera menjawab. Dia hanya terkekeh pelan sambil tetap fokus mengarahkan perhatian ke jalanan lengang di depannya. “Anggap saja jika aku ingin membereskan sesuatu dengan meminjam tangan Don Vargas,” jawabnya penuh teka-teki.


“Apa maksudmu?” Arsen semakin tak memahami arah pembicaraan teman dekatnya itu.


“Aku tak ingin mengotori tangan dan membahayakan diriku lagi, atau Mia akan benar-benar marah. Setelah penyerangan kemarin yang membuat Ricci terluka, aku harus memutar otak. Jadi, kuputuskan untuk memanfaatkan Don Vargas dalam menghabisi seseorang, tapi ternyata justru dia yang mati,” Adriano mengempaskan napasnya pelan. Dia terpaksa harus mengatur ulang rencananya untuk melenyapkan Nenad dan Lionel.

__ADS_1


__ADS_2