
Helaan napas berat tertahan, meluncur dari bibir Juan Pablo ketika dia memuntahkan sesuatu di dalam mulut Gianna. Sambil terus mengatur napas, Juan Pablo mengelap cairan putih itu dari sudut bibir gadis yang telah memuaskan dirinya. Sebelum dia membuka penutup mata yang tadi dipakaikan kepada gadis bermata biru tersebut, Juan Pablo segera merapikan celana jeans yang dia kenakan.
"Bolehkah kulepas penutup mata ini, Juan?" tanya Gianna sambil duduk bersimpuh di dekat Juan Pablo, yang kembali bersandar pada tumpukan bantal empuk.
"Lepas saja," sahut pria asal Meksiko tersebut dengan datar.
Segera, Gianna melepas kain yang terbuat dari satin halus itu. Sepasang matanya yang berwarna biru, memandang aneh kepada pria tampan dengan rentang usia yang terbilang jauh darinya. Gianna tampak hendak mengatakan sesuatu. Akan tetapi, dia urungkan sejenak karena Juan Pablo lebih dulu merangkul tubuh gadis itu dan membawa dia ke dalam dekapan lengan kokohnya.
"Ada yang ingin kau tanyakan?" Juan Pablo melirik gadis dengan wajah yang sedikit mendongak ke arahnya. Pria itu tahu bahwa ada banyak sekali pertanyaan dalam benak Gianna yang ditujukan untuk dirinya.
"Apakah seperti tadi caramu memuaskan diri, sehingga kau tidak pernah bercinta secara langsung dengan wanita manapun?" tanya Gianna tanpa berbas-basi terlebih dahulu.
"Ya," jawab Juan Pablo singkat.
"Lalu, apa yang kau berikan sebagai timbal balik untuk para wanita yang telah memuaskanmu?" tanya gadis muda itu lagi.
"Uang. Apa lagi yang mereka inginkan selain itu?" jawab Juan Pablo lagi masih dengan nada bicara yang sama.
"Apakah menurutmu semua wanita mengingnkan uang? Tidak adakah dari mereka yang meminta lebih?" pertanyaan dalam benak Gianna ternyata begitu banyak, sehingga dia terus memberondong pria itu dan berharap agar rasa penasarannya segera terjawab.
"Ternyata kau memang sangat cerewet," sahut Juan Pablo seraya melirik Gianna, kemudian mengecup keningnya.
"Kenapa tidak dijawab?" protes Gianna.
__ADS_1
"Karena aku tidak berminat untuk menjawabnya," sahut Juan Pablo enteng. Tanpa banyak bicara, tiba-tiba Gianna mencubit pinggang pria itu dengan kesal. "Hey," kini, giliran Juan Pablo yang protes.
"Kau tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku? Menyebalkan!" sungut Gianna mengempaskan napas kesal. Akan tetapi, kekesalannya tak ditanggapi serius oleh Juan Pablo. Pria itu malah memejamkan mata sambil mere•mas pelan pinggul Gianna, membuat gadis cantik tadi melirik tangan Juan Pablo untuk sejenak. Setelah itu, dia kembali menyandarkan kepala di dada si pria. Gianna bermaksud untuk mengelus pahatan kokoh yang terlihat sangat kuat itu, tapi dengan segera Juan Pablo memegangi pergelangan tangannya. "Jangan menyentuhku atau aku ...." pria yang sejak tadi sudah dalam keadaan terpejam, kini membuka matanya. Dia lalu melirik kepada Gianna.
"Kenapa Juan? Kupikir kau akan mengajakku bercinta," nada bicara Gianna terdengar kecewa.
"Mengapa kau sangat ingin bercinta denganku?" tanya Juan Pablo seakan penasaran, tapi dia utarakan dengan biasa saja. Datar dan tanpa intonasi yang berlebihan.
"Entahlah. Aku hanya merasa penasaran ...." Gianna tidak sempat melanjutkan ucapannya, karena Juan Pablo lebih dulu membungkan gadis itu dengan sebuah ciuman. Hal itu membuat putri dari Emiliano Moriarty tersebut menjadi semakin heran. "Kau ...." gadis itu bermkasud untuk kembali protes.
"Aku tidak pernah mencium seorang wanita lebih dari dua kali dalam satu malam," ujar Juan Pablo membuat Gianna kembali terdiam dan mengurungkan niat protesnya. "Sudahlah, aku ingin tidur," ucap pria itu lagi seraya kembali memejamkan mata. Dia juga segera menahan gerakan tubuh gadis tersebut yang bermaksud untuk melepaskan diri dari dalam dekapannya. "Tetaplah di sini," cegah pria itu sambil merengkuh erat dan kuat lengan Gianna.
Gadis bermata biru itu terdiam sejenak. Sesaat kemudian, Gianna kembali bertanya dengan wajah sedikit mendongak. "Apa kau tidak ingin belajar Bahasa Italia?"
"Kata apa saja yang sudah kau kuasai?" tanya Gianna lagi. Dia seperti tak kehabisan bahan pembicaraan.
"Tidak banyak," jawab Juan Pablo tanpa membuka matanya.
"Salah satunya apa? Coba katakan padaku," pinta Gianna.
"Kau sungguh mengganggu, Bice," keluh Juan Pablo yang sebenarnya sudah ingin tidur.
"Ayolah," rengek Gianna manja.
__ADS_1
"Sei bellisima (Kau sangat cantik)," Juan Pablo membuka matanya, kemudian melirik Gianna untuk sesaat.
Gadis itu pun tersenyum mendengarnya. Tanpa banyak bertanya lagi, dia terdiam mendengarkan setiap detakan jantung pria dengan wajah dan kulit eksotis di dekatnya. Entah apa yang dia pikirkan, karena satu yang pasti ialah ada masih banyak pertanyaan mengenai pria yang kini mulai terlelap dalam tidurnya.
......................
Matahari mulai menampakkan sinarnya yang hangat. Cahaya itu memaksa masuk melewati jendela kaca dengan tirai yang tidak ditutup selama semalam suntuk. Juan Pablo yang tidur dengan begitu nyenyak, akhirnya membuka mata secara perlahan. Namun, dia tak menemukan sosok Gianna di dekatnya. Juan Pablo pun bangkit dan terduduk untuk beberapa saat, hingga energinya terkumpul dengan sempurna. Setelah itu, dia beranjak turun dari tempat tidur, kemudian masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajah.
Dengan mengenakan t-shirt hitam lengan pendek, Juan Pablo keluar dari kamar. Niatnya adalah untuk mencari keberadaan Gianna di sekitar villa. Namun, gadis berambut pirang itu ternyata tak ada di manapun. "Apa kau melihat gadis yang kemarin bersamaku?" tanya Juan Pablo kepada pelayan wanita yang tengah membersihkan ruangan. Wanita itu biasanya datang di pagi hari, dan akan kembali sebelum petang. Tempat tinggalnya memang berada di sekitar villa, sehingga dia tidak harus menginap di sana.
"Dia berpamitan setelah tadi menyiapkan sarapan untuk Anda, Tuan," sahut pelayan itu berdiri sesaat sambil membungkuk hormat.
Juan Pablo mengernyitkan keningnya saat mendengar penjelasan si pelayan. Tanpa banyak bicara, dia segera menuju ke meja makan. Di sana sudah tersedia menu sarapan sederhana, yaitu Frittata. Di dekat makanan tadi, ada sebuah pesan yang sengaja ditulis tangan. Juan Pablo meraih kertas kecil itu lalu membacanya. I can't find anything else. Sebuah pesan yang dirasa memiliki banyak makna bagi pria tiga puluh lima tahun tersebut. Tanpa sadar, dia tersenyum seraya memasukkan kertas tadi ke dalam saku celana jeansnya.
Ketika hari menjelang siang, Juan Pablo memutuskan untuk ke kota dan menemui Gianna. Gadis itu tengah berada di club. Juan Pablo pun langsung menuju ke sana. Seperti biasa, dia menunggu di luar sambil duduk pada bagian depan mobil sedannya. Namun, pria asal Meksiko itu segera berdiri ketika dirinya melihat Gianna keluar dari dalam bangunan mewah tersebut. Dia menyambut gadis itu dengan sepasang matanya yang berbinar. "Kenapa kau pergi tanpa berpamitan padaku?"
"Kau tidur dengan sangat nyenyak, Juan. Aku tidak ingin mengganggumu," sahut Gianna mengemukakan alasan. Tatap matanya tak lepas dari paras menawan pria yang semalam dia temani. Sementara, tangan gadis muda itu memegang erat tali tas yang menggantung di pundaknya.
"So, you want to find something else? (Jadi, kau ingin menemukan sesuatu yang lain?)," tanya Juan Pablo menatap lekat Gianna. Namun, gadis bermata biru itu tidak menjawab. Dia menanggapi pertanyaan pria asal Meksiko tersebut dengan seutas senyuman. "Help me to show it (Bantu aku untuk menunjukkannya)," lanjut Juan Pablo lagi. Dia semakin mendekat kepada Gianna. Ibu jari dari tangan kanannya lembut menyentuh bibir gadis itu, mengikuti bentuknya yang terlihat masih asli. Tipis dengan polesan warna peach yang membuatnya tampak manis dan natural.
Gianna kembali menyunggingkan sebuah senyuman manis. "Apa yang harus aku lakukan?" tanya gadis itu. Dia seperti mendapatkan sebuah undian berhadiah secara tiba-tiba.
"Apapun yang kau bisa," jawab Juan Pablo. Dia lalu meraih pergelangan tangan Gianna, kemudian menuntun gadis itu untuk masuk ke mobil dan mempersilakannya duduk. Juan Pablo bahkan memasangkan sabuk pengaman untuk gadis tersebut. Tanpa mereka ketahui bahwa ada seseorang yang merekam adegan tadi.
__ADS_1