Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Kamar Kenangan


__ADS_3

"Kau sedang hamil muda, Mia. Tidak dianjurkan wanita yang tengah mengandung untuk bepergian dengan menggunakan pesawat," ujar Daniella saat tiga bersaudara itu tengah berkumpul dan bercengkrama bersama.


"Dani benar, Mia," timpal Francesca.


"Rasanya aku ingin mempercepat waktu pernikahanku dan langsung hamil." Wajah cantik adik bungsu Mia tersebut tampak berseri, saat membayangkan dirinya yang tengah berjalan di altar dalam balutan gaun pengantin. Sebuah mimpi yang awalnya terasa amat jauh, tapi kini sudah di depan mata.


"Bayangkanlah betapa indahnya hal itu dari sekarang, Francy. Kau akan tersadar ketika nanti semua mimpi-mimpi manis tersebut benar-benar terjadi padamu," cibir Daniella. Wanita bertubuh sintal itu mendengus pelan, saat teringat betapa sibuk dia dalam menghadapi kedua putranya.


Sementara itu, Mia justru tengah asyik berbalas pesan dengan seseorang. Tak lama kemudian, wanita yang tengah hamil muda tadi beranjak dari duduknya. "Kalian lanjutkan saja. Aku harus membantu Adriano bersiap-siap," pamit ibunda Miabella tersebut. Tanpa berbasa-basi lagi, dia berlalu dari hadapan kedua saudarinya.


Dengan langkah tenang, Mia menyusuri koridor untuk menuju kamar yang dia tempati dengan Adriano. Namun, langkah kecil wanita dua puluh sembilan tahun itu tiba-tiba terhenti saat dirinya melewati persimpangan menuju kamar yang pernah ditempati sewaktu masih bersama Matteo.


Mia berdiri mematung untuk beberapa saat. Satu sisi hatinya berbisik, menyuruh agar dia melangkah ke dekat kamar itu. Namun, sisi hatinya yang lain melarang dengan keras. "Adriano, izinkan aku ...." Mia kembali terpaku. Sesaat kemudian, langkah kakinya bergerak seiring dengan adanya dorongan yang kuat. Ingatan tentang Matteo, mengalahkan sisi hati yang lain. Dia terus berjalan hingga tiba di depan pintu kamar tersebut.


Berat, Mia menggerakkan tangan untuk meraih handle pintu. Setelah berhasil memegang benda tadi dia lalu memutarnya dengan ragu. Ternyata, pintu tersebut tak dikunci. Mungkin pelayan yang biasa membersihkan ruangan, lupa untuk menguncinya kembali. Namun, akibat keteledoran itu, Mia jadi bisa masuk ke sana.


Mia kembali berdiri mematung. Ditatapnya seluruh sudut kamar yang penuh kenangan tersebut. Sekian tahun dia menempati ruangan tempatnya kini berada. Tak ada yang berubah, meski seluruh barang yang ada di sana ditutupi oleh kain berwarna putih.


Perlahan, dilangkahkan kakinya ke dekat tempat tidur. Bayangan itu kembali hadir, ketika dirinya hendak dan bangun tidur dengan ditemani seorang Matteo. Begitu juga saat dia tengah menjalani masa-masa kehamilannya dulu.


Tangan Mia kemudian terulur pada laci meja di sebelah tempat tidur. Dia menarik susunan laci paling atas hingga terbuka. Di dalam sana terdapat beberapa foto dengan bingkai sederhana. Foto antara dirinya dengan Matteo. Ragu, Mia tak ingin mengambil benda tersebut. Namun, pikirannya kembali melawan rasa takut dalam hati. Perlahan tangan berjemari lentik itu meraih satu dari tumpukkan paling atas.


Ditatapnya untuk beberapa saat paras tampan Matteo, dengan ciri khas rambut hitamnya yang tersisir rapi ke belakang. Si pemilik banyak tato di tubuhnya itu menyunggingkan senyuman yang teramat manis, membuat sang mantan ketua klan de Luca terlihat sangat tampan dan menawan. "Theo ...." Bergetar suara Mia saat menyebutkan nama suami yang dulu amat dia cintai. Jemarinya mengusap permukaan foto tadi dengan gemetaran.


"Theo ...." Mia menyebut namanya itu sekali lagi. "Aku ... aku sedang mengandung benih Adriano saat ini. Miabella akan segera memiliki adik ...." Mia tak tahu harus berkata apa. Setitik air mata jatuh membasahi pipi serta sudut bibirnya. "Astaga, apa yang kulakukan? Tak seharusnya aku masuk kemari," gumam Mia menyesali apa yang telah diperbuatnya. Dengan segera, dia kembali memasukkan foto tadi ke dalam laci. Setelah itu, Mia bergegas keluar kamar dan menutup pintunya rapat-rapat. Untuk sesaat, ibunda Miabella tersebut berdiri di depan kamar tadi sambil mengusap air matanya hingga tak berbekas.

__ADS_1


Tak ingin berlama-lama di sana, Mia mempercepat langkah menuju kamar di mana Adriano sudah menunggu dirinya. Sebelum masuki ruangan itu, Mia sempat berdiri sejenak sambil menenangkan diri. Setelah merasa siap, barulah dia membuka pintu.


Di dalam kamar, tampak Adriano yang tengah sibuk berbicara lewat telepon. "Jadi, kapan kau akan kembali ke Monaco?" tanyanya pada seseorang di seberang sana. "Oh, baiklah. Sampaikan salamku untuk ayahmu. Aku akan berkunjung nanti jika semua urusan di sini sudah selesai," tutup Adriano karena melihat kehadiran Mia di sana. Pria itu menoleh, lalu tersenyum. Dia melangkah gagah ke arah Mia berdiri. "Pierre. Dia sedang berada di Perancis. Ayahnya sakit keras," terang pria bermata biru itu tanpa ditanya.


"Apakah sakitnya benar-benar parah?" tanya Mia terlihat khawatir.


"Tuan D'aurville sudah berusia senja. Pantas jika dirinya mulai sakit-sakitan. Kapan-kapan aku akan menjenguknya di Paris. Kau boleh ikut jika mau. Kita bisa berkeliling Perancis. Ada banyak hal menarik di negara itu." Adriano tersenyum lembut seraya membelai paras cantik Mia. Sebuah ciuman mesra pun mendarat di bibir wanita itu. "Kuharap kita masih bisa bermesraan, meskipun kau sedang mengandung, Sayangku," godanya membuat Mia tersipu malu.


"Kau ini nakal sekali," balas Mia menanggapi godaan dari Adriano. Dia memilih untuk menghindar, dengan alasan hendak menyiapkan pakaian yang akan dibawa sang suami. Akan tetapi, belum sempat wanita itu melanjutkan niatnya, suara teriakan Miabella sudah terdengar jelas bahkan sebelum anak itu masuk.


"Daddy Zio!" seru gadis kecil berambut cokelat tersebut membuka pintu kamar lebar-lebar. Dia segera menghadap Adriano sambil melipat kedua tangan di dada. "Romeo mengatakan padaku bahwa kau akan pergi ke Inggris. Apa itu benar?" tanyanya sambil memasang wajah marah, tapi masih terlihat menggemaskan.


"Dari mana Romeo mengetahui hal itu?" Adriano balik bertanya.


"Oh, aku baru tahu bahwa Romeo suka menguping," gumam Adriano dengan bola mata yang bergerak tak beraturan. "Apa jadinya jika paman Marco mengtahui hal itu?" pikir pria yang tengah berbahagia tersebut. Sementara Mia hanya tersenyum menanggapi interaksi antara suami dan putrinya. Sesekali, dia menoleh sambil menyiapkan pakaian Adriano. Mia meletakkan beberapa setel kemeja di dekat sebuah tas jinjing yang tidak terlalu besar.


"Itu tidak penting, Daddy Zio. Masalahnya adalah kau akan pergi. Kenapa kau terus saja meninggalkan aku. Apa boleh aku ikut?" pinta Miabella pada akhirnya.


Adriano tersenyum kalem. Dia lalu menurunkan tubuhnya hingga hampir sejajar dengan Miabella. "Dengarkan aku, Principessa. Ibumu juga tidak akan kuajak kali ini. Jadi, sebaiknya kau temani dan jaga dia untukku di sini. Kau tahu bukan jika tak lama lagi dirimu akan memiliki adik?" bujuk Adriano.


Miabella tampak memasang wajah cemberut mendengar jawaban dari ayah sambungnya. "Kalau aku punya adik, apa aku akan bertengkar dan berebut mainan seperti Romeo dengan Tobia?" tanyanya polos. Dia sudah terlihat was-was.


"Tentu saja tidak. Pertengkaran antar saudara memang wajar terjadi. Saat aku masih kecil, aku juga sering melihat paman Ilario dan Agustine bertengkar karena sesuatu. Namun, setelahnya mereka akan berbaikan lagi dan kembali bermain bersama. Jadi, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal seperti itu, Sayang. Kau akan menjadi gadis yang kuat dan menjaga saudaramu nanti. Dalam tubuhmu mengalir deras darah de Luca. Itu sesuatu yang membanggakan," tutur Adriano dengan lembut. Dia lalu mengecup kening serta pipi Miabella.


Sementara Mia tertegun sejenak mendengar hal tersebut. Tak dapat dipungkiri, rasa haru itu kian menyeruak dalam dirinya. Dia akan kembali memiliki seorang bayi dari suami yang berbeda. Tak pernah terbayang sebelumnya jika jalan hidup seorang Florecita Mia, yang dulu sangat lugu dan tak mengetahui seperti apa rasanya jatuh cinta, tiba-tiba harus menjalani tiga pernikahan. Dua kali dia melihat suaminya bersimbah darah dengan mata kepala sendiri. Sebisa mungkin Mia mencegah agar hal itu tak terulang lagi. Namun, kehidupan cintanya malah membawa dia pada sosok Adriano D'Angelo yang senang menantang bahaya.

__ADS_1


"Kira-kira kau akan berapa lama di sana, Adriano?" tanya Mia seraya menoleh kepada pria yang saat itu masih berbincang ringan dengan Miabella.


"Tidak lama. Aku rasa mungkin hanya sekitar dua atau tiga hari. Namun, karena ini adalah proyek kerja sama, maka aku tidak bisa lepas tangan dan membiarkan Juan Pablo begitu saja untuk mengurus segala persiapan sendiri," jelas Adriano.


"Daddy Zio, aku ingin kau mengepang rambutku sebelum pergi," rengek Miabella manja. Sebuah permintaan aneh dari gadis kecil itu.


Perhatian Adriano pun kembali kepada Miabella. "Ya, Tuhan. Mana bisa aku mengepang rambut, Sayang," sahutnya menanggapi permintaan tadi. "Bagaimana jika kau minta yang lain saja?"


"Baiklah. Kalau begitu, pasangkan kuteks untukku. Bibi Francy sudah membelikannya kemarin," pinta Mibella. Permintaan yang tak kalah menakutkan bagi Adriano. Pria itu tak langsung menjawab. Dia justru malah menoleh kepada Mia.


"Apakah aman anak sekecil ini memakai kuteks, Sayang?" tanyanya.


"Francy membelikan kuteks dengan formula khusus. Jadi, kau tidak perlu khawatir. Bella ingin tampil cantik seperti para model, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk melarangnya," jawab Mia diakhiri dengan sebuah tawa renyah.


"Oh, jadi sekarang kau mulai akrab dengan bibi Francy rupanya? Itu bagus, Principessa," ujar Adriano kembali mengarahkan pandangannya kepada Miabella.


"Dia mengajariku cara berjalan seperti seorang model," sahut Miabella dengan sikapnya yang sangat menggemaskan. "Ayo, Daddy Zio! Kau harus memasangkan kuteks untukku," ajaknya. Dia menarik tangan Adriano agar mengikutinya.


Sementara itu di salah satu rumah sakit kota Roma, Jacob terduduk dengan kaki yang berbalut perban. Dia sudah menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru dari kakinya. Tak ada yang dapat pria tersebut lakukan, selain menatap hasil perbuatan dari seorang Juan Pablo. Sesuai dengan penjelasan dokter, kaki kanan Jacob akan kehilangan fungsi normalnya, sehingga mau tak mau dia harus berjalan dengan menggunakan tongkat. "Kau akan membayar ini, Elang Rimba."


🍒 🍒 🍒


Hai, hai. Ada satu lagi rekomendasi novel keren untuk semuanya.


__ADS_1


__ADS_2