Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Tears of Regret


__ADS_3

“Hey, mana mungkin ibumu membenci gadis secantik ini. Dia hanya membutuhkan sedikit waktu. Lihatlah di sana. Ibumu ada di dalam mobil itu. Dia sangat merindukanmu." Adriano menunjuk pada mobil, di mana Mia masih terdiam dan berusaha untuk menumbuhkan keberanian yang telah hilang. Dari balik kaca depan kendaraan itu, Mia melihat Miabella yang berdiri di dekat Adriano. Mereka tengah memandang ke arahnya.


“Bagaimana Anda bisa bertemu dengan Mia, Tuan D'Angelo?” tanya Damiano yang masih dilanda rasa terkejut luar biasa, atas kehadiran pria yang pada malam itu telah mereka perlakukan secara tidak manusiawi.


Adriano kemudian menegakkan tubuh. “Ceritanya cukup panjang, Tuan Baresi. Mia juga sudah mengatakan semuanya padaku. Aku rasa, kita perlu membahas itu dengan serius,” jawab pria tersebut. Dia mengalihkan pandangan pada mobil yang masih terparkir di halaman. Sementara Mia tak juga keluar dari sana. “Mia! Aku harap kau tidak tertidur di dalam mobil,” serunya cukup nyaring.


“Apa ibuku ada di dalam mobil itu, Kakek?” tanya Miabella seraya mendongak kepada Damiano, yang segera tersenyum dan mengangguk. Terlebih, saat dia melihat salah satu pintu belakang mobil mulai terbuka.


Tampaklah kaki jenjang berbalut sepatu cantik keluar dari sana. Tak berselang lama, Mia muncul dengan dress putih yang tadi dia kenakan. Untuk sejenak, wanita itu berdiri dan hanya terpaku sambil memegangi pintu mobil yang masih terbuka.


Sesaat kemudian, Mia menutupnya. Dia mulai melangkah pelan. Makin lama, langkah wanita cantik itu semakin cepat, hingga akhirnya berlari. Mia segera menghambur ke arah Miabella berdiri. Dipeluknya gadis kecil itu dengan erat, serta diciumi tanpa henti wajah cantik bermata abu-abu tersebut. Air mata pun mengalir deras membanjiri pipi Mia.


“Ibu ….” Terdengar suara lembut Miabella yang masih berada di dalam pelukan erat Mia. “Ibu dari mana?” tanyanya polos.


Mia kemudian melepaskan pelukannya. “Aku … tersesat, Nak,” jawab Mia seraya kembali memeluk Miabella. “Mulai saat ini, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku akan membawamu ke manapun,” isaknya.


Mia seakan tak ingin melepaskan pelukannya dari gadis kecil yang selama ini dia abaikan. Dengan alasan terpuruk atas kehilangan sang suami, Mia telah bersikap sangat egois terhadap putrinya. Padahal, Miabella dapat menjadi penawar dari segala sakit, sekaligus kerinduan terhadap Matteo.


Sesaat kemudian, Mia berdiri sambil menggendong Miabella yang sedari tadi menatapnya dengan sorot aneh. Gadis kecil itu mungkin belum dapat memahami, atas apa yang terjadi terhadap kedua orang tuanya.


“Apa kau tidak merindukanku, Nak?” Suara Damiano terdengar di sela-sela isak tangis Mia.


Wanita berambut panjang itu, segera memeluk pria paruh baya yang telah dianggapnya sebagai ayah kandung. Mia kembali menangis dalam dekapan ayah asuh dari Matteo tersebut.


“Ke mana saja kau, Nak?” tanya Damiano yang juga tak kuasa menahan air matanya. Kehilangan Matteo yang teramat dia sayangi, telah membuat dunianya seakan runtuh. Namun, Damiano justru merasa kuat ketika dia bersama Miabella.


“Maafkan aku, Paman,” isak Mia penuh sesal.


“Jangan pergi lagi, Nak. Kasihanilah putrimu,” ucap Damiano pelan dan begitu dalam. Tangan pria tua itu tak berhenti mengelus punggung Mia dengan penuh kasih. Sedangkan, Mia menanggapinya dengan anggukan pelan.

__ADS_1


Sementara, Adriano yang sejak tadi berdiri dan menjadi penonton adegan mengharukan itu, segera mengambil Miabella dari gendongan Mia. Ditatapnya wajah cantik putri semata wayang dari pasangan Mia dan Matteo. Mia benar. Paras Miabella memang cukup mirip dengan Matteo. Dia memiliki iris mata dan senyuman yang sama seperti mendiang ayahnya.


“Aku dengar kau senang bermain piano,” ucap Adriano dengan sikap dan ekspresi wajah yang sangat bersahabat. Miabella mengangguk cepat saat menanggapi ucapan pria itu. “Bolehkah jika kapan-kapan aku mendengarnya?” tanya Adriano tanpa melepaskan senyuman hangat dari paras tampan yang menawan.


Miabella tersenyum. Dia lalu menoleh kepada Damiano, seakan meminta pendapat dari pria yang selama ini telah menjadi pengasuh yang baik baginya. Damiano tersenyum seraya mengelus rambut cokelat gadis kecil itu. Miabella pun mengangguk.


“Zio (paman),” panggil bocah kecil itu.


“Ya, Bella?” sahut Adriano lembut.


“Apakah Zio akan menginap di sini?” tanya gadis kecil itu.


“Tidak, Sayang. Aku akan pulang sebentar lagi,” jawab Adriano seraya mencium pipi gembul itu. “Lagi pula, ibumu harus berisitirahat.” Mata biru Adriano melirik Mia yang tengah menatapnya penuh arti.


“Baiklah." Adriano menyerahkan Miabella dari gendongannya kepada Mia. “Aku permisi dulu. Selamat malam, Tuan Baresi. Selamat malam, Mia,” pamitnya. Adriano lalu berbalik menuju mobil.


“Ibu tidak ikut?” tanya Miabella dengan polosnya.


“Tidak, Sayang. Aku ingin di sini untuk menemanimu,” sahut Mia seraya mencium pipi putrinya berkali-kali.


“Jadi, bagaimana kalian bisa bertemu, Nak?” Damiano yang sudah penasaran sejak tadi, tak sabar ingin mendengar cerita dari Mia.


“Kita bicara di kamar Miabella, Paman,” putus Mia setelah melihat putri kecilnya yang berkali-kali menguap. Mereka pun memutuskan masuk.


Setibanya di dalam, Mia tertegun sejenak.


“Di mana semua orang?” Dia mengedarkan pandangannya ke segala arah, ketika melintsi ruang keluarga menuju kamar Miabella yang bersebelahan dengan kamar Matteo. Lagi-lagi, Mia tak dapat menahan emosi yang berkecamuk dalam dadanya. Dia kembali meneteskan air mata.


Damiano segera membantu membuka pintu kamar Miabella. Bocah itu sudah tertidur dalam gendongan sang ibu.

__ADS_1


Sementara, tangis Mia tak juga berhenti, meskipun kini dia telah memasuki kamar Miabella dan membaringkan putrinya di ranjang. Mia masih terisak pelan.


“Sudahlah, Nak.” Damiano berusaha menghibur Mia dengan mengusap-usap lembut punggung wanita itu.


“Sudah tiga tahun berlalu, Paman. Akan tetapi, kenapa terasa seperti baru kemarin?” Mia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.


“Segalanya membutuhkan waktu, Anakku. Tidak apa-apa. Kau, aku, Coco, kita semua sama-sama merasa sangat kehilangan. Namun, meskipun ribuan kata sesal kita ungkapkan bahkan hingga meratap ... itu tak akan membuat Matteo kembali. Lihatlah gadis kecil itu, Nak. Rawat dia dengan baik, karena Miabella adalah kenangan tak ternilai yang Matteo tinggalkan untuk kita semua." Damiano masih terus mengusap-usap punggung Mia dengan penuh kasih sayang.


Sementara, Mia sudah mulai dapat menenangkan diri. “Setelah sesi terapi selesai, aku langsung pergi ke Yunani, Paman. Dulu, Matteo pernah berjanji untuk mengajakku ke sana. Tanpa pikir panjang, aku mengemasi semua barang-barang dan pergi tanpa berpamitan dulu kepada kalian,” jelas Mia yang masih sesekali terisak pelan.


“Francy, Dani, serta Coco menjemput ke pusat terapi dan rehabilitasi waktu itu. Namun, mereka tak menemukanmu di sana. Hingga saat ini, mereka masih di Roma. Ketiganya terus mencari keberadaanmu,” tutur Damiano.


“Lalu ke mana Marco?” tanya Mia.


“Marco menyibukkan dirinya dalam organisasi. Dia juga terus melakukan investigasi dalam kasus kematian Matteo. Sampai detik ini, dia tak berhenti mencari keadilan untuk suamimu, Mia,” jawab Damiano lesu.


"Mungkin ada banyak orang yang benar-benar ingin menyingkirkan Matteo. Namun, di lain pihak ada banyak sekali yang merasa kehilangan atas kepergiannya. Tuhan selalu bersikap adil. Kau tak perlu merasa takut ataupun risau. Aku yakin, suatu hari nanti kita dapat mengungkap kasus ini dan memberikan keadilan untuk putraku. Suamimu," tutur Damiano lagi. Dia terus berusaha untuk memberikan semangat kepada Mia.


“Sebaiknya, aku juga tidak hanya berdiam diri selama Theo-ku belum mendapatkan keadilannya, Paman,” ujar Mia lirih.


“Sudahlah, Nak. Serahkan semuanya kepada pihak yang berwajib,” ucap Damiano lagi.


Namun, Mia segera menggeleng cepat. Dia tak setuju dengan saran dari Damiano. “Tidak bisa! Aku yakin, yang membunuh suamiku bukanlah orang sembarangan. Buktinya, polisi tidak juga bisa mengungkap kasus ini. Seperti organisasi kita yang berjalan di bawah tanah, maka begitu pula dengan musuh-musuh Matteo. Mereka tidak tampak di permukaan, Paman. Polisi dan penegak hukum lainnya tidak dapat melihat hal itu,” bantah Mia dengan yakin.


Damiano menghela napas panjang, “Lalu, apa yang akan kau lakukan, Anakku?” tanyanya.


“Aku akan menempuh jalur yang berbeda. Jika malaikat tidak dapat menangkap iblis, maka aku akan meminta bantuan iblis yang jauh lebih kuat dan berkuasa untuk melakukan hal itu,” tegas Mia dengan mata berapi-api.


Semangat membara tiba-tiba hadir dan seakan membakar dirinya. Sesuatu yang selama ini tertidur lelap, kini telah terbangun. Mia meyakinkan diri untuk mengikuti kata hati, meski apapun risiko yang akan dia terima. Segala cara akan dia tempuh, untuk mendapatkan satu kata yang selama ini belum juga mendiang Matteo dapatkan, yaitu keadilan.

__ADS_1


__ADS_2