
Sesaat Juan Pablo terdiam dan tak percaya bisa menatap Mia dari jarak yang cukup dekat. Dia juga dapat menyentuh wanita berambut cokelat itu. Namun, pria latin tersebut segera tersadar ketika Mia bergegas bangkit dari atas tubuhnya. Mia pun merapikan diri dan tentu saja merasa malu, karena menjadi pusat perhatian para petugas polisi yang ada di sana.
"Ibu!" Miabella berlari ke arah Mia dan memeluknya. Sementara Coco memicingkan mata dengan perhatian yang terus tertuju kepada Juan Pablo. Jelas sekali di telinga pria berambut ikal itu, bahwa Juan Pablo memanggil mendiang istri dari Matteo dengan nama Mia saja. Rasa penasaran dalam hati Coco kembali mencuat, dan menghadirkan sebuah tanda tanya yang semakin besar.
Sementara itu di suatu tempat yang berbeda, dengan jarak puluhan kilometer dari tempat Mia berdiri, mobil yang dikendarai Edward berhenti di depan sebuah rumah kayu berukuran tak terlalu besar. Rumah itu terletak di tepi danau yang dikelilingi oleh pohon pinus. Setengah sadar, Adriano merasa pundaknya disentuh oleh pria tua yang telah membantunya dengan sukarela.
“Apa kau masih sanggup berjalan? Kalau tidak, aku akan mengambilkan kursi roda untukmu,” tawar Edward.
“Kursi roda?” ulang Adriano lirih.
“Ya, keponakanku memiliki beberapa kursi roda di sini,” jelas pria tua itu lagi.
Adriano pun mengangguk. Dia merasa terlalu lemah untuk berjalan, meskipun hanya beberapa langkah. Tenaganya seperti telah terkuras. Belum lagi rasa sakit dari semua luka di tubuh yang mengakibatkannya kehilangan darah cukup banyak. Sebuah keajaiban yang luar biasa karena dirinya belum jatuh pingsan, meskipun Adriano sebenarnya sudah benar-benar tidak kuat lagi.
“Tunggu sebentar,” gerak pria tua itu masih gesit. Dia bergegas keluar dari dalam mobil. Dengan setengah berlari, dia memasuki rumah kayu tadi. Sesaat kemudian, seorang pria muda tampak mengikuti Edward dari belakang sambil mendorong kursi roda yang kosong.
Meskipun saat itu pandangan Adriano mulai terasa kian buram, tapi dia masih dapat memperhatikan pria yang kini tergopoh-gopoh mendekatinya.
“Astaga, Paman! Kenapa kau selalu saja membawakan masalah padaku?” keluh pemuda itu. “Di mana kau menemukannya? Astaga! Sepertinya dia kehilangan banyak darah! Lihatlah, wajahnya pucat sekali!” pemuda itu tampak begitu was-was seraya membuka pintu mobil dan memindahkan tubuh Adriano ke atas kursi roda. Dia kemudian mendorong Adriano yang sudah terkulai lemas, untuk segera masuk ke dalam garasi yang bersisian dengan rumah kayu tersebut.
Di dalam sana, terdapat beberapa buah brankar dan segala macam peralatan kedokteran. Susah payah, pria muda tadi membaringkan Adriano ke salah satu brankar. Setelah itu, pria muda tersebut membuka lemari kaca steril dan mengeluarkan satu wadah cairan infus.
“Apa manusia juga bisa menggunakan infus itu?” celetuk Edward yang merasa ragu.
“Tentu saja, Paman. Ini cairan elektrolit biasa yang berfungsi untuk mencegah pasien agar tidak dehidrasi,” jawab si pemuda menjelaskan.
“Jadi, hewan-hewan juga bisa mengalami dehidrasi. Apa mereka juga mengalami masalah pada berat badan?” tanya Edward tanpa henti, mengganggu si pemuda yang tengah sibuk memasang selang dan jarum infus di punggung tangan kiri Adriano.
__ADS_1
“Sudahlah, Paman. Tidak penting membahas hal itu, karena yang jadi masalah besar sekarang adalah bagaimana caranya kita melakukan transfusi darah untuk pria ini. Aku membutuhkan golongan darah universal,” ucapnya panik.
“Katakan, kau ingin menghubungi siapa? Biar kuteleponkan,” tawar Edward.
Pemuda itu tak segera menjawab. Dia berpikir sejenak, lalu menyebutkan deretan angka. Edward pun menekan tombol di layar, sesuai dengan yang diucapkan oleh keponakannya itu.
“Halo,” terdengar suara wanita di seberang sana.
“Berikan ponselnya. Biar aku yang bicara,” si pemuda merebut telepon seluler dari pria tua itu. “Gladys, bawakan padaku beberapa kantung golongan darah universal!” ucapnya tanpa basa-basi.
“Di sini bank darah manusia, bukan hewan!” sahut seseorang bernama Gladys itu dengan nada kesal.
“Aku tidak punya waktu untuk berdebat denganmu saat ini,” dengus pemuda itu. “Dengar, ya. Biar kuperjelas. Bawakan aku golongan darah manusia yang bertipe universal! Aku membutuhkan banyak! Secepatnya!” tegas si pemuda lagi.
“Apa ada masalah?” nada suara Gladys berubah menjadi sedikit khawatir.
“Apa dia mati?” Edward memekik kencang.
Si pemuda segera memeriksa denyut nadi Adriano, lalu menggeleng. Dia segera menyambut seorang gadis berambut pirang sebahu yang baru tiba di sana. Gadis itu tampak terkejut melihat sesosok pria yang tengah terbaring dengan tubuh penuh luka.
“Cepat berikan padaku, Gladys!” pemuda tadi memberi isyarat kepada gadis yang segera berjalan cepat ke arahnya sambil membawa kotak steril berukuran sedang. Gadis itu mengeluarkan beberapa kantung darah dan memberikannya pada si pemuda.
“Bantu aku, Gladys. Kita akan melakukan operasi sekarang,” ujar si pemuda lagi. Gadis pirang bernama Gladys itu segera mengangguk dan melakukan apa yang diminta pemuda tadi.
Beberapa jam telah berlalu. Adriano yang sudah mendapat perawatan, baru saja membuka matanya. Lelah dan juga sakit di sekujur tubuh, membuat pria tiga puluh dua tahun itu begitu nyaman di atas pembaringannya dengan napas yang sedikit tak beraturan. Tak berselang lama, seorang pemuda masuk dengan membawa nampan. Di dalam nampan itu, ada sebuah piring berisi makanan dan segelas air putih. Adriano ingat jika pemuda itu merupakan keponakan Edward, pria yang telah membantunya. Namun, Adriano belum sempat berkenalan secara langsung, karena waktu tiba di tempat itu dirinya hampir tak sadarkan diri.
"Hai. Bagaimana keadaanmu?" sapa pemuda itu ramah. Dia duduk di sebuah kursi kayu yang diambilnya dari sudut kamar.
__ADS_1
"Jauh lebih baik," balas Adriano pelan.
"Namaku Russell Walsh. Aku keponakan paman Edward, pria yang telah membawamu kemari. Pamanku sedang pergi. Aku memintanya membeli obat-obatan ke kota," ucap pemuda itu.
“Terima kasih,” jawab Adriano lirih.
Pemuda bernama Russell tersebut tersenyum kecil. Dia masih memperhatikan Adriano dengan lekat.“Jadi, siapa kau sebenarnya? Bagaimana kau bisa terluka separah ini? Apakah kau pria pemilik mobil yang terbakar itu?” cecar Russell.
“Dari mana kau tahu hal itu?” tatapan mata biru Adriano, seketika menajam ke arahnya.
“Beritanya ada di mana-mana,” Russell meraih remote yang tergeletak di atas laci, lalu menyalakan televisi yang letaknya menempel di dinding kamar. Russell mengganti channel secara bergantian. Tampak beberapa stasiun TV menayangkan berita kecelakaan mobil yang dikendarai Adriano. Semuanya menyebutkan bahwa mobil itu kosong dan tidak ditemukan korban jiwa di sana.
“Mia,” desah Adriano pelan.
“Siapa?” Russell menoleh keheranan pada pria rupawan itu.
“Istriku,” sahut Adriano. “Dia pasti sangat cemas saat ini,” ujarnya dengan mata menerawang.
“Apa kau ingin meneleponnya?” tawar pemuda itu.
“Tidak, jangan. Aku khawatir ponselnya disadap. Akan lebih baik jika aku menjauh darinya untuk sementara waktu,” ujar Adriano lesu. Angannya membayangkan wajah cantik wanita pujaan hatinya itu. Teringat jelas dalam ingatannya, ketika Adriano memeluk erat tubuh Mia di atas sofa dalam kamar hotel.
“Kenapa? Siapa kau sebenarnya? Tato yang ada di tubuhmu itu, sepertinya bukan tato biasa,” Russell kembali memberondong Adriano dengan banyak pertanyaan.
Akan tetapi, Adriano memilih untuk tidak menjawab. Dia memejamkan matanya rapat-rapat sambil menarik selimut hingga ke dagu. Beberapa saat kemudian, Adriano membuka mata dan menoleh kepada Russell yang tetap bergeming sambil terus mengamati dirinya.
“Izinkan aku tinggal di sini untuk sementara waktu,” pinta Adriano tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Ya, tentu. Tidak kau minta pun aku tak akan membiarkanmu pergi dalam kondisi seperti ini," balasnya. Dia lalu meraih piring berisi makanan. "Sekarang, sebaiknya kau makan dulu. Cicipilah ini. Aku yang membuatnya," Russell menyodorkan piring berisi bubble and squeak kepada Adriano yang saat itu mencoba untuk bangkit. Bagaimanapun juga perutnya terasa begitu lapar. Adriano harus mengembalikan tenaga yang telah terkuras habis. Dia ingin segera pulih, agar bisa cepat kembali menemui keluarganya.