
Coco segera mematikan rokok yang sedang diisapnya dengan menggunakan kaki. Setelah itu, dia berjalan mengikuti pria tadi dengan tetap menjaga jarak aman. Pria itu terus melangkah menuju sebuah bangunan satu lantai. Dia pun masuk ke sana. Rasa penasaran dalam hati Coco, begitu besar. Setelah pria yang dia ikuti masuk, dirinya segera berlari sambil mengendap-endap. Sayup-sayup, terdengar sebuah percekcokan dari dalam. Coco mendengar ada dua suara pria di dalam sana. Dia lalu melihat sekeliling, mencoba mencari celah agar dirinya bisa melihat keadaan yang sebenarnya. Namun, saat itu tiba-tiba pintu terbuka. Pria yang tadi dia ikuti nampak keluar dari bangunan tersebut. Coco segera menempelkan tubuhnya pada dinding dan bersembunyi dalam keremangan.
Pria yang tiada lain adalah Thomas Bolton tertegun sejenak dan melihat sekeliling. Sorot mata curiga terlihat jelas dalam tatap matanya. Namun, tak berselang lama dia pun berlalu dari sana. Sementara di dalam bangunan tadi, terdengar suara benda yang dilemparkan dengan keras, membuat Coco yang tadinya hendak mengikuti Thomas tertegun untuk sejenak dan menoleh. Akan tetapi, Coco lebih memilih fokus pada pria yang masih berada dalam pengawasan radarnya.
Dengan tetap menjaga jarak aman, dia memperhatikan gerak-gerik pria yang diikutinya, hingga pria itu memasuki sebuah bangunan berlantai dua dengan bata ekspose dan pintu berwarna hijau. Coco memotret bangunan itu. Namun, dia tidak memutuskan untuk masuk. Pria berambut ikal itu, masih merasa penasaran dengan pria lain yang tadi ditemui oleh Thomas. Akhirnya Coco kambali ke tempat tadi.
Untuk sejenak dia terpaku dan berpikir. Entah siapa atau seperti apa penyambutan yang akan diterimanya saat di dalam nanti. Dia juga tak bisa memastikan ada berapa orang di sana. Namun, lagi-lagi karena rasa penasarannya yang luar biasa, pria itu rasanya ingin berbuat nekat saja. Coco kembali mendekat. Suasana sangat hening, seakan tak ada orang selain dirinya. Dia sudah merogoh pistol yang terselip di balik punggung, tapi hal tersebut segera diurungkannya. Coco lebih memilih mengetuk pintu bangunan satu lantai tersebut.
Beberapa kali dia mengetuk pintu, tak ada respon sama sekali dari dalam sana. Coco terdiam sejenak dan kembali mengetuk. Untuk yang kesekian kalinya, barulah terdengar suara seorang pria dengan umpatan-umpatan kasar terdengar mendekat ke arah pintu dan membukanya. "Ada apa lagi, Brengsek!" maki pria paruh baya dengan wajah penuh amarah. Namun, seketika dia tertegun tatkala melihat Coco yang tersenyum ramah padanya. "Oh, maaf. Aku pikir kau ...." dia tidak melanjutkan kata-katanya dan hanya memperhatikan Coco dari atas hingga ke bawah.
"Hai, selamat malam. Namaku Nicholas Wilson. Aku baru pindah beberapa hari yang lalu ke daerah ini," Coco memperkenalkan dirinya dengan ramah. Namun, pria berambut pirang itu tidak segera menanggapi. Dia menatap lekat penuh curiga kepada Coco. "Kenapa? Apa aku terlihat aneh atau ...."
"Ada perlu apa? Aku sedang sibuk," sela pria di balik pintu itu tak bersahabat. Dia patut merasa waspada terhadap orang asing. Pria berambut pirang tersebut bahkan bermaksud hendak menutup pintu dengan begitu saja. Akan tetapi, dengan segera Coco menahannya menggunakan kaki, lalu mendorong ke dalam hingga pintu itu kembali terbuka. Kekuatan pria paruh baya tadi jelas tak sebanding dengan Coco yang masih muda lagi bugar. Pria berambut ikal itu memaksa masuk sambil menodongkan senjata tepat pada kening si pria berambut pirang. Coco menautkan alis sejenak. Dia seperti pernah melihat wajah pria di hadapannya, tapi entah di mana.
"Maaf jika aku berbuat tidak sopan. Namun, aku tidak ingin membuang-buang waktu," ujar Coco membuat pria di hadapannya terhenyak dan bergerak mundur. Pria berperawakan agak gemuk itu terus menghujani Coco dengan tatapan tajam penuh selidik.
"Kau bagian dari mereka juga?" tanyanya kecing.
"Mereka siapa?" Coco bertanya balik sambil terus menodongkan pistolnya.
__ADS_1
"Jangan berpura-pura bodoh! Aku tidak tahu apa urusan kalian, sehingga harus mengusik ketenangan diriku dan keluargaku juga," sinis nada bicara si pria terhadap Coco.
"Perjelas siapa yang kau sebut dengan kata 'kalian', karena aku tidak mengerti," pinta Coco cukup tegas. "Dengarkan aku, Pak Tua. Aku sebenarnya tidak ada urusan denganmu. Aku hanya ingin bertanya tentang pria yang tadi keluar dari sini. Apakah pria itu yang bernama Thomas Bolton?" tanya Coco lagi masih dengan sikap yang awas mengamati pergerakan yang mungkin akan dilakukan pria di hadapannya.
"Jika sudah tahu kenapa harus bertanya?" cibir pria itu sinis, membuat Coco semakin menempelkan moncong pistolnya pada kening si pria. "Apakah anak muda sekarang sudah kehilangan rasa hormat dan sopan santunnya terhadap orang yang lebih tua?" sindir pria itu lagi.
"Terus terang saja, kau mengingatkanku kepada seseorang yang sudah kuanggap seperti ayah. Karena itu, jika kau bersedia untuk bekerja sama, mari kita bicara secara baik-baik," ajak Coco dengan senyum khasnya.
"Apa yang kau inginkan dan dari kelompok mana kau berasal? Aku tidak sudi jika akhirnya menjadi pelanduk yang mati di antara pertarungan dua ekor gajah," ujar pria itu masih dengan nada bicara yang terdengar sinis.
Mendengar ucapan pria itu, Coco mengisyaratkannya agar duduk. Tanpa banyak protes, pria paruh baya tadi menurut saja. "Pertama, aku tidak berasal dari kelompok manapun. Kedua, sebutkan nama dan juga hubunganmu dengan Thomas Bolton," tanpa banyak basa-basi lagi, Coco langsung saja pada inti perbincangan di antara mereka berdua.
"Apa urusanmu dengan si brengsek itu?" Apa kalian sama-sama anggota pembunuh bayaran?" pria paruh baya tadi tertawa renyah dengan nada mengejek.
Pria itu berdecak pelan. "Namaku Timothy Dixon," jawabnya dingin sambil membuang muka ke samping.
"Ah ... pantas jika aku merasa pernah melihat wajahmu sebelumnya. Jadi, kau adalah arsitek yang disewa oleh Don Vargas untuk pembangunan kasinonya di Birmingham?"
"Dari mana kau tahu hal itu? Kau mengenal Don Vargas?" pria yang ternyata merupakan Timothy Dixon yang asli, balik bertanya.
__ADS_1
"Tidak. Aku hanya sekadar tahu. Katakan padaku apa hubunganmu dengan John Dixon? Nama belakang kalian sama," selidik Coco lagi.
"John? Kau mengenal adikku? Rasanya aku ingin menghabisi anak durhaka itu!" geram Timothy seraya mengepalkan tangannya di atas paha.
"Menarik. Jadi, John Dixon adalah adikmu rupanya," Coco memilih untuk duduk pada tangan sofa sambil terus menghadap kepada Timothy. Pria berambut ikal tersebut menggaruk kepalanya untuk sesaat. "Aku sedang mencari John Dixon. Apa kalian sama-sama menjadi anggota Tangan Setan?" cecar Coco lagi. Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin dia ajukan kepada Timothy.
"Kenapa kau banyak sekali bertanya, Anak Muda?" cibir Timothy sinis.
"Tentu saja karena aku ingin tahu," jawab Coco enteng. "Adikmu adalah salah satu anggota dari Tangan Setan yang sering menimbulkan keonaran dan juga membuat teror. Apa kau tahu itu?" selidik Coco.
"Adikku hanya seorang bartender. Itu yang kutahu," sanggah Timothy yakin.
"Kenyataannya tidak begitu, Tuan Dixon. Dia bahkan telah menghabisi seorang pemuda di London, dan entah siapa lagi yang telah dia bunuh selain pemuda itu," terang Coco.
"Astaga!" Timothy mengempaskan napas pendek. "Jadi karena itulah hidupku sekarang dalam masalah besar," ujarnya jengkel.
Coco semakin tertarik untuk mendengarkan penuturan Timothy. "Ceritakan padaku," pintanya dengan sikap yang terlihat sangat tenang.
"Kenapa aku harus bercerita pada orang asing sepertimu?" tolak Timothy dengan setengah mencibir. "Lihatlah, bahkan wajahmu tidak seperti orang Inggris," ujarnya ragu.
__ADS_1
"Alasannya masih sama, karena aku ingin tahu," jawab Coco lagi masih terlihat begitu tenang.
Timothy Dixon mengempaskan tubuhnya pada sandaran sofa yang dia duduki. Raut wajah penuh beban nampak jelas dan membuatnya terlihat begitu rapuh. Sesekali dia memijit kening dengan perlahan.