
Mia menggeliat pelan sambil membuka mata. Bercinta hampir semalam suntuk, membuat tubuhnya terasa begitu lelah. Terlebih, rasa pusing juga masih mendera akibat efek dari minuman beralkohol yang dia tenggak semalam saat di pesta. Setelah mengumpulkan seluruh kesadarannya, Mia lalu menyibakkan selimut kemudian meraih baju tidur. Sayup-sayup, tawa riang Miabella terdengar dari halaman sebelah yang berdekatan dengan kamar. Mia pun membuka pintu menuju balkon dan berdiri di sana.
Benar saja. Pagi itu Adriano tampak sedang melakukan olahraga seperti biasanya. Sedangkan Miabella menemani sang ayah sambung dengan setia. Gadis kecil itu selalu terlihat ceria setiap kali menikmati kebersamaannya bersama Adriano. Melihat hal itu, hati Mia merasa sungguh terharu. Di satu sisi, dia begitu bahagia karena putrinya tak kekurangan kasih sayang seorang ayah. Akan tetapi, di sisi lain tetap saja terasa berbeda.
"Theo, putri kita," gumam Mia dengan tatapan menerawang. Sekilas, bayangan wajah tampan Matteo hadir dan tersenyum padanya. Namun, semua lamunan itu harus terhenti ketika terdengar suara dering ponsel milik Adriano.
Mia memutuskan untuk kembali ke dekat tempat tidur. Dia merasa penasaran dan ingin tahu siapa yang menghubungi suaminya. Namun, Mia yang tadinya sedikit khawatir, akhirnya dapat bernapas lega. Nama Arsen Moras tertera di sana.
Pada awalnya, Mia tidak berani menjawab panggilan tersebut. Akan tetapi, karena ponsel itu kembali berdering bahkan hingga tiga kali, Mia pun meraih dan segera menjawabnya. "Pronto," sapa Mia membuka percakapan.
"Hai, Mia. Di mana Adriano?" suara Arsen dengan aksennya yang khas terdengar di ujung telepon.
"Suamiku sedang berolahraga. Kau bisa menghubunginya nanti sekitar satu jam lagi," sahut Mia seraya duduk di tepian tempat tidur.
"Baikah. Tolong suruh dia untuk menelepon balik, karena ada sesuatu yang ingin kusampaikan padanya," pesan Arsen sebelum mengakhiri perbincangan tersebut. Setelah itu, Mia lalu beranjak, kemudian merapikan tempat tidur. Barulah dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Guyuran air hangat yang mengalir deras dari dalam shower, terasa begitu menenangkan. Mia pun membiarkan rambutnya basah. Sesekali, dirinya mengusap wajah serta menyibakkan rambut yang jatuh di kening. Rasanya benar-benar nyaman saat itu. Namun, tentu saja tak senyaman ketika dirinya merasakan sebuah dekapan yang membuat air dari dalam shower tak terasa hangat lagi.
Tanpa banyak bicara, Mia segera merapatkan tubuh dan merasakan kehangatan yang jauh lebih nyaman. Dia membiarkan pria yang menjadi sandarannya itu meraba setiap lekukan indah dan bagian-bagian sensual dari dirinya. Merasa tak tahan, Mia pun memutuskan untuk berbalik dan bermaksud mencium si pria. Akan tetapi, seketika dirinya mundur dengan mata terbelalak. Wajah tampan Juan Pablo lah yang dia dapati saat itu.
......................
Tersentak, Mia seketika membuka mata. Dia lalu melihat ke sebelah, di mana Adriano tengah berbincang dengan Arsen di telepon. Rupanya, semua hal yang telah dia lalui dan sedang berlangsung pagi itu terserap olehnya hingga masuk ke alam mimpi.
“Buongiorno piccola, dammi un bacio (Selamat pagi, berikan aku ciuman)," sapa Mia dengan suara parau. Dia tersenyum lembut kepada Adriano yang segera menoleh.
Adriano yang saat itu sudah selesai berbicara dengan Arsen di telepon, segera memberikan apa yang Mia pinta darinya. "Kau tidur dengan sangat nyenyak seperti bayi," ujarnya sedikit geli.
"Aku sangat lelah dan juga sedikit pusing," keluh Mia seraya membetulkan letak selimutnya.
__ADS_1
"Kau terlalu banyak minum, Mia. Apa kau ingat semalam Juan Pablo mendekatimu?" raut wajah Adriano tiba-tiba berubah datar.
"Dia hanya duduk dan tidak melakukan apapun, justru kau yang menciumku di depan semua orang. Kenapa? Tidak biasanya kau bersikap seperti itu," Mia menggeser tubuhnya sehingga makin merapat kepada Adriano. Dia tahu jika pria di sebelahnya akan langsung luluh dengan sedikit sentuhan lembut. Mia pun bangkit lalu mencium mesra pipi sang suami.
"Sekarang aku tahu seperti apa yang dirasakan oleh Matteo dulu, ketika aku berusaha untuk mendekatimu," ucap Adriano dengan tiba-tiba, setelah dia terdiam untuk beberapa saat. Apa yang Adriano katakan jelas membuat Mia tidak terlalu nyaman. "Aku harap, aku tidak mati terlalu cepat dan harus merelakanmu dengan pria lain, termasuk Juan Pablo Herrera," ucapnya lagi semakin tak karuan.
Dengan segera Mia menangkup serta membalikkan wajah Adriano sehingga menghadap padanya. Sorot mata ibunda dari Miabella tersebut jelas tak setuju dengan kata-kata dari suaminya itu. "Apa yang kau katakan, Adriano? Kau ingin aku kembali terpuruk karena merasa kehilangan?" lirih dan bergetar suara Mia saat menanggapi ucapan pria bermata biru tadi.
"Aku hanya berpikir tentang sebuah karma ...."
"Tidak!" sergah Mia dengan tegas. "Kau bukan Tuhan. Apa yang terjadi kepada Matteo, itu tidak bisa menjadi acuan untuk hidupmu. Sejak kapan kau menjadi melankolis seperti ini?"
"Sejak aku kembali menemukanmu, Mia," jawab Adriano dengan segera.
"Apakah aku menjadi alasan dari kelemahanmu, Adriano? Begitukah?" Mia menautkan alisnya tanda tak mengerti dengan pemikiran sang suami.
Sementara Mia segera menyandarkan kepalanya pada pundak sang suami. Tak lupa, dia juga mengelus lembut dada bidang pria itu. "Tolong jangan berpikir yang macam-macam, Adriano. Aku lelah dan saat ini sudah mulai kembali dapat menikmati hidupku denganmu, karena itulah kuminta agar kau berhenti dari misi ini. Aku sudah merelakannya, aku pun telah menyerahkan diri dengan sukarela padamu. Satu hal yang kuinginkan saat ini adalah kita bisa membangun keluarga yang utuh. Kau, aku, Miabella, dan ... dan mungkin anak-anak kita kelak," Mia tersipu seraya menyembunyikan wajahnya.
Akan tetapi, ucapan Mia tadi telah menarik perhatian Adriano. Pria bermata biru itu menyentuh dagu Mia lalu mengangkatnya perlahan. "Kau ingin anak dariku, Sayang?" tanyanya meyakinkan. Sedangkan Mia hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman. Adriano pun ikut tersenyum. "Aku rasa sebaiknya kita segera mandi dan berpakaian, sebelum Miabella menggedor pintu sambil berteriak-teriak," ucapnya kemudian.
"Selama ada paman Damiano, anak itu akan bersikap tenang," balas Mia. Dia mengikuti Adriano yang beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa saat telah berlalu. Suasana hangat begitu terasa di ruang makan, dengan aneka sajian menu sarapan yang menggugah selera. Damiano pun tampak menikmati hari-harinya di Monaco. Tak ubahnya dengan Miabella yang juga tampak sangat ceria atas keberadaan sang kakek.
"Arsen tadi menghubungiku. Dia mengundang kita semua agar datang ke Yunani untuk menghadiri acara resepsi pernikahannya," Adriano membuka percakapan di meja makan pagi itu.
"Memangnya kapan kita harus ke sana?" tanya Mia yang baru selesai mengisi piring putrinya dengan menu sarapan kesukaan gadis kecil itu.
"Lusa," jawab Adriano dengan segera, "itu artinya kita bisa menyiapkan kado hari ini. Pikirkan kira-kira barang apa yang ingin dijadikan sebagai hadiah pernikahan mereka," pria bermata biru itu menatap Mia yang tampa berpikir. "Aku juga masih penasaran dengan alasan Arsen yang tiba-tiba memutuskan untuk menikah. Terlebih dia memilih Olivia sebagai pengantinnya."
__ADS_1
"Kenapa kau harus merasa heran, Adriano? Cinta tidak pernah bisa diduga akan hinggap kepada siapa. Aku rasa, mungkin Arsen sudah merasa bosan dengan kehidupan bebas yang dijalaninya. Pilihan dia jatuh kepada Olivia, karena gadis itu memang baik dan juga ... dia itu benar-benar naif. Karakternya mengingatkanku pada seseorang," tutur Mia. Dia mulai menyantap makanannya.
"Siapa?" tanya Adriano penasaran.
"Aku sendiri," jawab Mia dengan diiringi tawa renyah, sehingga membuat Adriano hampir tersedak. "Kau dengar itu, Bella? Lusa kau bisa bertemu dengan bibi berambut hitam," Mia kini beralih kepada Miabella yang terlihat makin ceria.
"Benarkah, Ibu?" gadis kecil bermata abu-abu itu tampak sumringah.
"Siapa bibi berambut hitam itu, Bella?" Damiano yang sejak tadi diam dan menikmati sarapannya, ikut bersuara.
"Nanti akan kuceritakan kepada Kakek. Aku akan bercerita sambil bermain petak umpet di taman. Bagaimana, Kakek mau?" tawarnya.
"Oh, ya tentu. Asal kau tidak mengajakku lomba lari lagi seperti kemarin, karena aku pasti akan kalah," Damiano berdecak pelan seraya menggelengkan kepalanya. Sementara Miabella hanya tertawa.
"Kau juga akan ikut bersama kami, Damiano. Jadi, persipakan barang-barangmu. Akan kutunjukkan resort yang telah kubangun di sana. Kau bisa memanjakan diri dengan sepuasnya," ujar Adriano. Nada bicara serta raut wajahnya begitu hangat dia tujukan kepada pria tua itu.
"Oh, terima kasih, Nak. Kau sangat perhatian padaku," Damiano tampak terharu atas sikap baik Adriano padanya. Selama tinggal di mansion, Damiano diperlakukan seperti seorang raja.
"Aku bahagia bisa melihatmu ...," ucapan Adriano terhenti saat melihat kehadiran Pierre di sana. "Kau sudah sarapan, Pierre?" tanyanya.
"Sudah, Tuan," jawab Pierre mendekat. "Ada telepon untuk Anda dari Don Vargas," Pierre menyodorkan ponsel miliknya kepada Adriano. Dengan segera pria itu menerimanya. Sedangkan Pierre memilih untuk berdiri di sebelah sang majikan dengan posisi agak ke belakang.
"Selamat pagi, Don Vargas?" sapa Adriano.
"Selamat pagi, tuan D'Angelo. Bagaimana kabar anda dan istri? Aku harap semuanya baik-baik saja," pria asal Amerika Latin itu tertawa pelan, mengingat semalam Adriano pergi dengan terburu-buru dari pesta dan juga arena meja judi.
"Semuanya baik-baik saja. Maaf, semalam istriku sedikit mabuk," sesal Adriano seraya melirik ke arah Mia yang berpura-pura tak mendengar ucapannya.
"Ya, tak masalah. Bagaimana jika hari ini anda berkunjung ke mansionku. Kita bisa minum kopi bersama dan sedikit berbincang-bincang," undang Don Vargas dengan tulus.
__ADS_1