
Berhubung kondisi Damiano sudah semakin membaik, Adriano memutuskan untuk mengajak Mia kembali ke Monaco. Selain itu, dia juga harus menghadiri undangan jamuan pesta dari Don Vargas. Akan tetapi, sebelum mereka kembali ke sana, Mia menyempatkan diri terlebih dahulu untuk mengunjungi makam Matteo. Adriano juga kembali lagi ke makam sang ibu dan meletakkan seikat mawar putih di atas pusaranya. Dia berdiri terpaku sambil memandangi nama yang tertera pada batu nisan itu. Pikirannya pun mulai menerawang entah ke mana.
"Kau siapa?" terdengar suara seorang wanita tua yang kehadirannya tidak Adriano sadari. Pria bermata biru itu segera tersadar, lalu menoleh. Dilihatnya seorang wanita dengan rentang usia sekitar tujuh puluh tahun atau mungkin lebih. Wanita tua tersebut mengenakan scraft bermotif yang menutupi rambut dan diikat di bawah dagu. Dia memandang lekat penuh selidik kepada pria rupawan berpostur tinggi tersebut. "Astaga! Adriano? Cucuku?" sambut wanita itu dengan tiba-tiba. Tertatih dirinya menghampiri Adriano yang berdiri dengan rona tak percaya. Samar dalam bayangannya teringat pada sosok sang nenek dahulu kala, sebelum dirinya diserahkan kepada Emiliano oleh ibunya. Akan tetapi, Adriano sendiri belum dapat mengingat hal itu dengan teramat jelas.
"Apakah kau memang Adriano kecilku?" tanya wanita tua itu lagi meyakinkan penglihatannya, meski dirinya telah berdiri dengan jarak cukup dekat dari pria rupawan tersebut. "Ya, itu kau. Ini memang benar dirimu. Aku tahu betul mata biru itu ... ya, kau adalah Adriano kecil ... cucuku," dengan penuh haru, wanita tua tadi semakin mendekat. Sementara Adriano sendiri masih terpaku di tempatnya berdiri.
"Aku sudah biasa kemari setiap hari Kamis untuk membersihkan makam ibumu. Syukurlah, karena setelah Emiliano Moriarty menemukannya, dia memperbaiki tempat peristirahatan terakhir Domenica menjadi seindah ini," ucap wanita tua yang tiada lain adalah Matilda D'Angelo, ibu kandung dari Domenica. Dia masih berumur panjang, meskipun keadaannya sudah terlihat sangat renta dengan kulit keriput dan tubuh yang terlihat sangat ringkih.
"Kau sudah lupa padaku, Nak?" tanya Matilda kembali mengarahkan pandangan kepada Adriano yang masih memperhatikannya dengan begitu lekat, tanpa sepatah kata pun.
"Kenapa kau baru datang sekarang? Padahal sudah sejak lama aku mengharapkan untuk bisa bertemu denganmu, termasuk Domenica dulu. Sebelum ajal menjemputnya puluhan tahun yang lalu, dia selalu meneteskan air mata karena menahan rindu pada putra semata wayangnya yaitu dirimu," tutur Matilda lirih.
"Apa yang terjadi pada ibu setelah dia menyerahkanku ke tangan Emiliano?" tanya Adriano. Akhirnya, pria rupawan itu bersuara juga.
Akan tetapi, Matilda tak langsung menjawab. Dia mendekat pada pusara sang putri, kemudian menyentuh seikat mawar putih yang tersimpan di atasnya. "Domenica menderita sakit keras setelah dia menyerahkanmu kepada Emiliano. Setiap hari putriku menangisimu. Dia begitu cemas dan juga harus hidup dengan menanggung rindu karena berada jauh dengan putra kesayangannya. Beberapa bulan setelah kau tak lagi tinggal bersama kami, kondisinya kian memburuk. Aku kesulitan keuangan dan tak mampu untuk memberikan pengobatan secara maksimal. Namun, aku rasa itu bukanlah sebuah alasan satu-satunya. Diriku sadar betul dengan yang disebut takdir. Ya, itu merupakan takdir dari Tuhan, ketika pada akhirnya Dia merenggut Domenica dariku," Matilda mengusap nisan berlapis marmer hitam di hadapannya. Suara wanita tua itu amat lirih dan juga bergetar, karena menahan pilu dalam hati.
"Aku berniat untuk mencarimu, Nak. Namun, Domenica mencegah. Dia ingin kau hidup dengan layak. Setidaknya, meskipun saat itu dia meninggal dalam kesedihan karena tak sempat melihat dan memelukmu terlebih dahulu, tapi dia merasa tenang karena kau telah berada di tangan orang yang tepat, yaitu ayah kandungmu," Matilda kembali menoleh kepada Adriano yang tak mampu berkata apa-apa saat mendengarkan cerita dari sang nenek. Hingga beberapa saat, wanita tua dengan scraft yang menutupi kepalanya itu terus bercerita. Tanpa terasa, hari telah semakin siang. Adriano pun menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang.
Tempat pemakaman itu berada di perbatasan antara kota Milan dan Brescia. Adriano pun mengantar sang nenek yang ternyata tinggal tak begitu jauh dari sana. Waktu yang ditempuh hanya sekitar lima belas menit dengan menggunakan kendaraan. Sesampainya di tempar tujuan, hati Adriano begitu terenyuh melihat rumah yang Matilda tempati. Bangunan itu lebih dari sekadar sederhana dan bahkan terkesan tak layak huni.
"Aku pindah dan sudah tinggal di sini dari semenjak ibumu sakit. Kami menjual rumah yang dulu untuk biaya berobat ibumu," terang Matilda tanpa diminta. Dia mempersilakan Adriano untuk duduk. Akan tetapi, melihat kondisi di dalam sana yang terkesan kumuh, Adriano merasa risih. Dia memilih untuk berdiri saja.
"Dari mana kau mendapatkan uang untuk biaya hidup sehari-hari?" tanya pria bermata biru itu dengan rasa iba.
"Aku biasa membantu tetangga dekat untuk melakukan pekerjaan rumah ...."
__ADS_1
"Di usiamu yang seperti ini?" sela Adriano tak percaya.
"Aku tak ingin menjadi pengemis, Adriano. Namun, setelah Emiliano menemukan keberadaanku, dia kerap memberikan sejumlah uang dan juga kebutuhan pokok lainnya. Dia rutin mengirimkan itu kemari. Aku bersyukur karena masih ada seseorang yang begitu perhatian dan juga peduli pada wanita tua ini," Matilda tertawa getir. Namun, tak lama tawanya berubah menjadi sebuah tangis penuh kepedihan. Dia pun tertunduk dengan dalam.
Spontan saja Adriano menghampiri, lalu duduk bersimpuh di hadapan sang nenek. Lembut dan hati-hati, dia menggenggam tangan keriput itu. “Apakah kau mau ikut denganku?” tawarnya.
Wanita tua itu tak segera menjawab. Dia mengernyitkan kening karena keheranan terhadap Adriano. “Ikut ke mana?” tanyanya.
“Ikut bersamaku. Kau akan tinggal di Monaco. Di sana kehidupanmu akan jauh lebih terjamin,” jelas Adriano yang segera mendapat penolakan dari Matilda.
“Tidak, Nak. Aku tak ingin ke mana-mana. Aku mau tetap di sini, bersama kenangan Domenica. Dia putriku satu-satunya. Aku tidak akan sanggup jika harus berada jauh dari makamnya,” wanita tua itu bersikeras.
"Lihatlah keadaanmu di sini. Tempat yang kau tinggali sangat tidak layak. Bagaimana mungkin aku akan tega membiarkannya," bujuk Adriano lagi.
Dengan segera Matilda kembali menggelengkan kepalanya. Dia tetap menolak ajakan dari sang cucu. "Tidak, Nak. Aku sudah terlalu tua untuk melakukan bepergian. Saat ini, aku hanya ingin menikmati sisa waktuku di kota Milan, dekat dengan Domenica. Namun, itu bukan berarti bahwa aku tak menyayangi dan ingin berada di dekatmu, Cucuku," tangan dengan kulit keriput itu terulur, lalu menyentuh pipi Adriano dengan lembut. "Kau sangat tampan," ucapnya lagi penuh haru, "aku bahagia karena bisa melihatmu terlebih, dahulu sebelum ajal menjemputku," lanjutnya.
Setelah kembali dari tempat Matilda, Adriano memutuskan untuk bergegas pulang ke Casa de Luca. Rupanya Mia juga telah kembali dari makam Matteo. Namun, Adriano langsung saja menuju ke perkebunan untuk menemui Emiliano yang tengah sibuk memeriksa hasil panen anggur. "Padre!" panggilnya, membuat pria paruh baya itu segera menoleh. Perasaan heran tampak jelas di wajah pria tua tersebut.
"Ada yang bisa kubantu, Nak?" tanya Emiliano dengan nada bicara sangat hati-hati. Pandangan pria itu tak lepas dari sosok tinggi tegap, yang yang tengah berjalan menuju ke arahnya.
"Aku ingin kau mengurus pembangunan rumah untuk nenekku," ucap Adriano tanpa berbasa-basi.
"Jadi, kau sudah bertemu dengannya?" tanya Emiliano. Sesekali dia menoleh pada beberapa pekerja yang tengah menaikkan anggur ke dalam mobil bak terbuka untuk dikirim ke pabrik pengolahan.
"Aku bertemu dengannya tanpa sengaja di makam ibu," tutur Adriano. "Berapapun biaya yang dibutuhkan, aku yang akan menanggungnya. Buatkan nenekku sebuah tempat tinggal yang layak huni. Hatiku tidak tega melihat dia hidup di lingkungan kumuh yang lebih mirip seperti kandang ternak. Kuserahkan semuanya padamu," selesai berkata demikian, Adriano kemudian membalikkan badan. Namun, sebelum melangkah pergi, pria bermata biru itu kembali berkata, "Terima kasih untuk semua rasa pedulimu terhadap nenekku," tanpa menunggu jawaban dari sang ayah, Adriano segera berlalu dari sana dengan diiringi tatapan nanar Emiliano.
__ADS_1
Setibanya di dalam rumah, Adriano segera menuju ke kamar. Di sana dia mendapati Mia tengah mengemas barang-barang mereka ke dalam koper. Tanpa banyak bicara, sang ketua Tigre Nero tersebut langsung saja memeluk tubuh ramping istri tercintanya dari belakang dan mencium pipi Mia dengan lembut.
"Kapan kau datang, Adriano?" tanya wanita cantik bermata cokelat itu sambil tersenyum lebar. Akan tetapi, Adriano tak menanggapi pertanyaannya. Dia malah terus menciumi pipi, leher, dan juga pundak ibunda dari Miabella tersebut. "Hentikan. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku," tolak Mia terhadap sang suami yang terus saja menggodanya.
“Sebentar saja, Mia,” desah Adriano tepat di lehernya, membuat wanita itu membalikkan badan dan menghadap kepadanya.
“Katamu kita harus bergegas untuk kem ....”
Mia tak sempat melanjutkan kalimatnya, karena Adriano lebih dulu melu•mat bibirnya.
Akan tetapi, gerakan itu terhenti saat Adriano berniat merebahkan sang istri di atas ranjang. Sorot mata birunya menangkap sesuatu di jendela kamar. “Apa itu?” desis Adriano sesaat setelah melepaskan tautan bibirnya.
Pandangan Adriano lurus mengarah ke luar jendela. Sementara Mia yang berada di bawah tubuh sang suami, susah payah memutar kembali badannya dan ikut menoleh. Dilihatnya benda kecil berwarna hitam, melayang dengan lensa yang tepat mengarah ke dalam kamar.
“Apakah itu drone?” Adriano bangkit dari ranjang, kemudian segera berlari dan meraih benda yang sepertinya sengaja diterbangkan entah berasal dari mana.
“Lensanya mengarah pada kita. Siapa pun orangnya, dia sengaja melakukan ini,” geram Adriano seraya mencengkeram erat benda itu.
“Lalu bagaimana, Adriano? Siapa dan untuk apa?” cecar Mia was-was.
“Entahlah, Sayang. Kembalilah ke kamar Miabella. Aku akan menemui Coco terlebih dulu,” tanpa menunggu jawaban Mia, Adriano segera mengecup kening sang istri dan berlalu ke luar ruangan itu.
🍒🍒🍒
Hai, ceuceu datang lagi bawa rekomendasi novel keren untuk semua.
__ADS_1