
Adriano membuka pintu, kemudian memasuki kamar dengan langkah hati-hati. Dilihatnya Mia yang sudah tertidur lelap di bawah selimut. Ibunda Miabella tersebut masih tampak sangat cantik, meskipun dalam keadaan seperti itu.
Sebuah senyuman kecil tersungging di bibir Adriano. Dia lalu melepas pakaian yang dikenakannya, kemudian berjalan masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajah serta mencuci tangan. Setelah selesai, pria berparas rupawan itu kembali ke dekat tempat tidur.
Sekali lagi, dia menatap wajah polos Mia yang tampak begitu damai. Adriano tersenyum lembut. Hasratnya sebagai seorang pria, tak tertahankan lagi saat melihat lengan mulus sang istri yang tak tertutupi selimut. Adriano pun segera naik ke tempat tidur dan berbaring dengan posisi menyamping di belakang Mia.
Perlahan, disibakkannya selimut yang menutupi tubuh sang istri dengan begitu hati-hati. Apa yang dilakukannya membuat Mia menggeliat pelan. Namun, segera saja Adriano menyentuh lengan itu dan mengusap-usapnya dengan lembut, sehingga Mia kembali tertidur. Dia hanya menggumam pelan, tanpa membuka mata.
Suara gumaman parau Mia, membuat hasrat dalam diri Adriano kian meningkat. Tak kuasa lagi dirinya menahan gejolak rasa yang terus memberontak dan ingin segera dia lampiaskan. Pria tampan berambut gelap itu pun menyibakkan seluruh selimut yang menutupi paha sang istri, sehingga tampaklah tubuh indah Mia dalam balutan baju tidur putih berbahan satin.
“Sayang,” bisik Adriano yang masih merebahkan tubuhnya dalam posisi menyamping di belakang Mia. Dia lalu mencium daun dan bagian belakang telinga wanita yang sejak tadi tak memedulikannya, karena tengah menikmati tidur malam yang lelap. Namun, sesaat kemudian terdengar lenguhan pendek dari ibunda Miabella tersebut, ketika dia merasakan sentuhan nakal pada beberapa bagian tubuhnya yang sangat sensitif.
“Adriano ....” Parau suara Mia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Dia berusaha membuka mata yang terasa begitu lengket, ketika menyadari bahwa wajah tampan sang ketua Tigre Nero sudah berada di atas wajahnya.
"Aku ingin menagih janjimu," bisik Adriano yang berbalas sebuah senyuman dari wajah Mia nan sayu. Wanita itu kembali menggeliat perlahan dengan suaranya yang terdengar parau. “Kau membuatku ingin cepat-cepat pulang, Sayang,” lanjut pria itu lagi dengan setengah berbisik, saat dirinya sudah berada di atas tubuh Mia. Adriano menggunakan kedua lengan sebagai penyangga dan dia letakkan di sisi kiri dan kanan sang istri yang sudah tersadar. Raut wajah Adriano pun terlihat sangat berbeda saat itu. Dia seakan tak kuasa lagi untuk mengendalikan diri dari keinginan untuk segera menikmati malam penuh tetesan keringat.
Sementara Mia kembali tersenyum di sela-sela rasa kantuknya. Dia menangkup paras tampan berhiaskan bulu-bulu halus yang mulai lebat di sekitar dagu Adriano. Lembut, tangan berjemari lentik dengan hiasan cincin kawin berwarna putih itu, menyibakkan rambut sang suami yang basah dan terjatuh ke depan serta menutupi kening. Ditariknya wajah yang terlihat tengah menahan diri, dari luapan perasaan tak karuan yang sangat mengganggu. Mia pun melu•mat bibir Adriano dengan penuh gairah untuk beberapa saat lamanya.
Naluri liar dalam diri wanita dua puluh sembilan tahun itu perlahan hadir, menyingkirkan rasa kantuk yang luar biasa. Mia menahan wajah Adriano agar berhenti menciumnya. Dia lalu bangkit dan mengubah posisi. Kini, dirinya yang berada di atas. Mia berkuasa untuk memegang ritme permainan. Dia kembali tersenyum, saat merasakan tangan nakal Adriano yang kembali menggerayanginya. Tanpa harus diminta, wanita cantik berambut cokelat tersebut segera melepas pakaian tidurnya ke atas.
“Luar biasa,” ucap Adriano dengan napas berat. Tatapannya terfokus pada wajah Mia yang polos dan tampak sangat alami. Adriano seketika menahan napas, ketika merasakan betapa nakal wanita yang kini duduk di atas tubuhnya itu. Tak berselang lama, Adriano merasakan sebuah hentakan lembut amat memanjakan diri serta jiwa lelakinya. Tak ada satu kenikmatan pun di dunia ini, selain saat dirinya bisa berada dalam satu napas dan satu desa•han pada sebuah penyatuan yang telah sekian lama menjadi angan-angan pria itu.
Kini, segala keindahan dan kenikmatan ragawi Mia telah menjadi miliknya dengan sangat mutlak. Karena itulah, tak akan pernah dia biarkan semua itu terlepas begitu saja dari dalam genggamannya.
“Mia ....” Helaan napas berat Adriano menghangat, ketika Mia merapatkan tubuh mereka. Dia menempelkan dadanya dengan dada Adriano, menyatukan detakan jantung dalam satu debaran penuh irama. Mia pun meringis kecil saat merasakan gerakan cepat sang suami dalam dirinya.
“Kau mengganggu tidurku, Adriano,” ucap Mia pelan, ketika mereka telah mengubah posisi. Adriano kini berada di belakang sang istri. Keduanya berada dalam posisi menyamping.
__ADS_1
“Kau yang lebih dulu ‘membangunkanku’, Sayang,” balas Adriano seraya mencium daun telinga Mia tanpa berhenti bergerak. Sementara Mia lagi-lagi hanya tersenyum. Dia tak ingin banyak bicara, bahkan hingga beberapa saat berlalu dan Adriano pun akhirnya menyelesaikan semua dengan baik. Pria tampan tersebut merasa begitu lelah. Dia membaringkan dirinya sejenak sambil mengatur napas yang terengah-engah.
“Terima kasih, Mia. Selamat tidur kembali, Sayangku,” bisik Adriano saat melihat Mia terkulai lemas dan masih dalam keadaan polos. Adriano sempat mengecup pundak wanita cantik itu, sebelum menarik selimut yang kemudian menutupi tubuh keduanya. Dia lalu mendekap Mia dari belakang, kemudian memejamkan mata. Bagaimanapun juga, dirinya harus segera beristirahat dan melupakan sejenak tentang kematian Ilario, serta urusan yang berkaitan dengan Juan Pablo Herrera.
................
Malam berlalu dengan begitu cepat. Pagi itu cuaca sedikit mendung, membuat siapa pun tak ingin beranjak dari tempat tidur. Namun, tidak bagi Juan Pablo Herrera. Pria tampan berkulit eksotis tersebut sudah sibuk dengan kegiatan olah tubuh di pagi hari yang biasa dia lakukan.
Juan Pablo tengah sibuk melakukan sit up, ketika headset bluetoothnya berkedip sebagai tanda bahwa dia mendapatkan sebuah panggilan masuk. Segera saja dia memeriksa ponsel yang diletakkannya di sebelah matras. Nama Bice tertera di sana. Juan Pablo pun tersenyum. Tak mungkin jika dirinya tak menerima panggilan tersebut. “Bueno. Apa kabar, Sayang?” sapanya saat menjawab panggilan tersebut.
“Hai, Juan. Apa kau baru bangun?” Gianna balik menyapa. “Kabarku baik-baik saja,” jawab gadis cantik itu.
“Tidak. Aku sudah bangun sejak tadi,” jawab Juan Pablo tanpa menghentikan kegiatan olah raganya. “Aku akan datang ke Italia,” ucap pria tampan itu lagi. Titik-titik keringat sudah terlihat membasahi tubuhnya.
“Kapan?” tanya Gianna bersemangat.
“Siapa? Francesca?” tanya Gianna lagi.
“Entahlah. Aku rasa iya. Aku tidak terlalu mengenalnya,” jawab Juan Pablo.
Sesaat kemudian, mereka berdua terdiam. Gianna seperti bingung harus berkata apa. Sementara Juan Pablo baru mengakhiri kegiatan olah raganya. Dia meraih handuk kecil untuk mengelap keringat. “Bice? Apa kau masih di situ?” tanya pria asal Meksiko tersebut yang merasa heran karena Gianna cukup lama terdiam.
“Iya, Juan. Aku ... aku hanya sedikit lemas saat bangun tidur. Sepertinya aku harus membeli suplemen khusus,” sahut Gianna seraya tertawa pelan.
“Banyak-banyak beristirahat. Aku harap Adriano tidak memaksamu untuk bekerja terlalu keras di sana.” Nada bicara Juan Pablo menyiratkan sebuah rasa khawatir yang dia tujukan untuk sang kekasih.
“Tentu saja tidak. Semalam dia menghubungiku. Itu sesuatu yang jarang sekali dia lakukan, tapi aku senang karena hubungan kami bisa menjadi lebih dekat. Bagaimanapun juga, aku dan Adriano memiliki ayah yang sama,” tutur Gianna.
__ADS_1
Juan Pablo terdiam sejenak mendengar ucapan gadis yang sangat dicintainya tersebut. Perasaan galau mulai menggelayuti. Entah sikap apa yang akan pria itu ambil terhadap sang ketua Tigre Nero. Di satu sisi, dia ingin sekali menghabisi Adriano setelah menyadari keterkaitan suami Mia tersebut dengan beberapa pentolan Killer X, yang telah membuat Don Vargas meregang nyawa dengan cara yang sangat tragis. Akan tetapi, di sisi lain dirinya tak bisa mengabaikan rasa bahagia Gianna yang mulai dekat dengan kakak tirinya tersebut.
“Bice.” Juan Pablo menyebut nama itu dengan dalam, beberapa saat kemudian.
“Ya, Juan,” sahut Gianna.
“Ibuku ingin agar aku mengajakmu ke Meksiko untuk bertemu dengannya. Apa kau bersedia?”
“Kenapa kau harus bertanya. Tentu saja aku mau. Aku sangat menyukai ibumu. Aku senang jika dia ....”
“Ibuku juga menyukaimu,” potong Juan Pablo kemudian. “Kita akan pergi ke sana untuk bertemu dengannya. Nanti. Jika saat itu tiba,” ucap pria dengan rambut gelap tersebut.
“Aku akan siap kapanpun kau mengajakku,” sahut Gianna.
“Baiklah, aku ingin mandi dulu. Jika sempat kuhubungi lagi nanti. Have a nice day,” tutup Juan Pablo. Dia lalu beranjak keluar dari ruangan gym pribadinya. Pria itu melangkah gagah menuju kamar. Dia ingin segera membersihkan tubuh.
Setibanya di dalam kamar, Juan Pablo termenung untuk beberapa saat. Dipandanginya foto cantik Gianna yang tersimpan pada galery ponsel. Juan Pablo tersenyum kecil. Ini adalah kali kedua dirinya merasakan jatuh cinta selain terhadap Mia.
Angan pria itu kembali pada beberapa tahun silam. Bayangannya menembus batas tirai masa lalu, lalu membawa dirinya pada saat pertama kali dia mulai mengintai seseorang bernama Matteo de Luca. Hampir dua tahun lamanya Juan Pablo terus mengawasi mantan ketua klan de Luca tersebut. Dari sana, dia kerap melihat sosok Mia. Wanita itu telah begitu memikat hati seseorang seperti dirinya yang kerap menutup diri dari dunia dan pergaulan.
Juan Pablo terlalu malas untuk berbasa-basi dengan siapa pun. Karena itulah dia menyerahkan segala tampuk kekuasaan kepada Don Vargas untuk menjadi wakilnya.
Juan Pablo kembali tersadar dari lamunan panjang itu. Dia lalu beranjak dari duduknya. Pria tadi bermaksud untuk menuju ke kamar mandi. Namun, langkah tegap sang Elang Rimba harus terhenti, ketika terdengar dering panggilan. Pria itu pun kembali ke dekat tempat tidur. Dia segera memeriksa ponselnya. Nama D’Angelo muncul sebagai pemanggil.
🍒 🍒 🍒
Hai, readers. Jangan bosan ya ceuceu suguhi rekomendasi novel lagi.
__ADS_1