
Menjelang malam, Adriano baru kembali ke Casa de Luca. Dia memarkirkan langsung mobil mewahnya ke dalam garasi, yang mampu menampung belasan kendaraan sekaligus. Setelah keluar dari sana, Adriano segera disambut oleh Dante dan Serafino yang masih setia berjaga di perkebunan. Perhatian kedua pemuda itu juga tak pernah luput dari bangunan megah milik mendiang Matteo de Luca, yang telah diamanatkan oleh Adriano.
“Bagaimana keadaan di Roma, Bos?” tanya Dante.
“Semuanya aman. Bagaimana anak-anakmu?” Adriano balik bertanya.
“Mereka semua sehat dan sangat pintar. Aku membantu Dante memasukan semuanya ke dalam kandang,” sahut Serafino.
“Bagus. Apakah semua aman di sini selama kutinggal?” Adriano melontarkan pertanyaan lagi sambil berjalan memasuki bangunan utama. Tujuan pertamanya saat itu adalah kamar Miabella, karena dia telah berjanji untuk mencium kening putri sambungnya tersebut setiap malam menjelang tidur. Sementara Dante dan Serafino terus mengikuti tuannya dari belakang.
“Sejauh ini Casa de Luca aman, hanya saja .…” ragu-ragu Dante melanjutkan kalimatnya.
“Apa?” Adriano segera menghentikan langkah dan berbalik pada kedua anak buahnya.
“Aku melihat seseorang … di luar gerbang paling depan dari Casa de Luca. Dia tampak mencurigakan,” jelas Dante memberikan laporannya.
“Bagaimana ciri-cirinya?” mimik Adriano berubah serius.
“Kami tidak dapat melihat dengan jelas, selain posturnya yang terlihat jangkung, Bos. Dia memakai masker dan topi baseball serta kaca mata hitam,” terang Serafino.
“Apakah kalian sempat mengejar, merekam, atau menanyainya?” cecar Adriano.
__ADS_1
“Tidak, Bos. Ketika kami memergokinya, dia langsung melarikan diri dan menghilang dengan begitu cepat," jawab Dante, "sejak saat itu, kami tak pernah melihatnya lagi di sekitar Casa de Luca," sambungnya.
“Apakah Ricci mengetahui akan hal ini?” Adriano yang tadinya berkacak pinggang, kini memilih untuk bersedekap.
“Ya, kami langsung melaporkan temuan itu kepada Signor Ricci. Dia juga berusaha melacaknya menggunakan kamera drone, tapi tidak menemukan apapun,” papar Dante lagi.
“Baiklah. Kalau begitu, kalian harus meningkatkan kewaspadaan. Jika perlu, aku akan menyuruh Benigno untuk ikut mengawasi di sini,” pungkas Adriano seraya menepuk pundak Dante. Dia lalu pergi meninggalkan kedua pemuda itu menuju kamar putri sambungnya.
Adriano sudah tiba di kamar Miabella. Gadis kecil itu sudah tertidur dengan nyenyak. Sebuah senyuman samar tersungging dari bibir Adriano, yang saat itu melangkah perlahan ke samping ranjang Miabella. Dia duduk di tepian, lalu mencondongkan tubuh dan mencium kening putrinya dengan lembut. “Buona notte, Principessa. Dolce sogno (Selamat malam, Tuan Puteri. Semoga mimpi indah),” bisik Adriano penuh cinta, sebelum kembali menegakkan tubuhnyq lalu keluar dari kamar yang dipenuh oleh boneka.
Setelah dari kamar Miabella, kali ini tiba giliran Mia yang akan mendapat hadiah ciuman darinya. Tentu saja tidak. Mia mungkin akan mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekadar hal itu. Lagi-lagi, Adriano tersenyum dengan pipi yang merona. Dengan hanya membayangkan wanita berambut cokelat itu saja, jantungnya sudah berdebar dengan kencang. Pelan-pelan, dibukanya pintu kamar yang menjadi tempat beristirahatnya selama berada di Casa de Luca. Sedikit terkejut, Adriano melihat Mia masih terjaga. “Kau sedang apa, Sayang?” tanyanya.
“Aku sedang menunggumu pulang,” jawab Mia singkat dan dingin. “Apakah kau bertemu Carina di sana?” tukasnya.
“Aku hanya pergi ke klub dan memberikan sedikit penjelasan kepada Gianna, Sayang. Aku tidak bertemu siapa pun di sana selain Ricci. Apa dia sudah kembali?" Adriano menghampiri Mia dan menatapnya dengan penuh cinta.
“Bukankah Carina juga melakukan syuting di sana? Aku sempat menonton acaranya di televisi. Dia menjadi juri dalam ajang pencarian bakat yang diadakan di gedung teratas klub malam milikmu," Mia masih dengan tempo bicara yang cepat dan tanpa jeda. Dia bahkak mengabaikan pertanyaan dari Adriano tentang Coco.
“Ya, tapi aku tidak mengunjungi lantai teratas. Aku hanya berdiam di kantor dan mengecek kondisi di lantai dasar, sambil memberi pelajaran singkat untuk Gianna. Itu saja, Ratuku," terang Adriano hati-hati dan diakhiri sebuah rayuan.
Kali ini Mia tak menjawab. Dia hanya turun dari ranjang lalu berdiri di hadapan Adriano. Beberapa saat lamanya pasangan suami istri itu saling pandang, tanpa mengucap sepatah kata pun. Namun, tak lama kemudian Mia lalu tersenyum seraya mengecup bibir Adriano. “Aku percaya padamu,” ucapnya pelan.
__ADS_1
“Seharusnya begitu,” tegas Adriano seraya membalas kecupan Mia dengan sebuah ciuman panas dan sedikit kasar. Dia juga menelusupkan tangannya ke balik kimono Mia, lalu sedikit bermain-main dengan dada indah sang istri. Akan tetapi, Adriano langsung berhenti saat teringat bahwa dia harus menyiapkan keperluan untuk berangkat ke Serbia. “Astaga, aku harus berkemas,” ujar Adriano setelah melepaskan tautan bibirnya.
“Kau jadi berangkat?” wajah Mia berbalik murung hanya dalam hitungan detik.
“Aku harus pergi, Sayang. Tidak akan lama, hanya untuk beberapa hari saja. Aku janji,” bujuknya sembari menyentuh ujung hidung Mia. Akan tetapi, tak ada reaksi apapun dari Mia. Wanita cantik itu berdiri mematung sambil mengamati sang suami yang tengah sibuk membuka lemari, kemudian mengeluarkan beberapa potong kaos dan kemeja. Adriano juga sempat mengambil dua buah celana jeans dan celana hitam kesayangannya. Setelah itu, dia membuka rak teratas dan mengeluarkan tas ransel berukuran besar. Tak lupa, pistol kesayangan yang selalu tersimpan rapi di bawah tumpukan baju, dia masukkan pula ke dalam ransel tadi.
“Adriano,” desah Mia yang berdiri di belakang pria itu. Dia bergegas menghambur dan memeluk erat suaminya dari belakang.
“Ya, ampun. Aku tak menyangka jika Miaku ternyata wanita yang sangat manja,” Adriano terkekeh pelan seraya menoleh ke samping.
“Aku bermimpi buruk tadi malam. Beberapa hari berturut-turut, aku bermimpi hal yang sama. Kau datang ke arahku dengan bersimbah darah,” ujar Mia lirih dan mulai terisak.
“Mia,” Adriano buru-buru meletakkan ransel yang dia pegang di atas lantai, lalu berbalik menghadap Mia. Ditangkupnya wajah sang istri. “Kau hanya terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak, Sayang. Mimpi itu hanyalah manifestasi dari rasa takutmu yang berlebihan,” ujarnya lembut.
“Perasaanku sangat tidak enak. Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya,” keluh Mia. Dia merapatkan kepalanya pada dada bidang Adriano, lalu kembali memeluk pria itu dengan lebih erat dari sebelumnya.
Berkali-kali Adriano mengecup pucuk kepala Mia dan menghirup dalam-dalam wangi rambut istrinya yang begitu khas. “Kau yang terbaik, Mia. Aku sangat mencintaimu. Aku begitu bersyukur karena bisa memilikimu dalam hidupku,” bisiknya lembut.
“Jika kau benar-benar mencintaiku, maka kau tidak boleh pergi ke manapun,” balas Mia, membuat Adriano kembali tertawa. Dia terdiam sejenak, kemudian mengurai pelukan sang istri. Adriano menjauhkan tubuh Mia agar dapat memperhatikan wajah cantik itu dengan jelas.
“Kau harus tahu bahwa semua yang kulakukan hanyalah untukmu,” dibelainya pipi halus Mia dengan punggung tangannya yang berotot. Perasaan Adriano selalu saja tak karuan setiap kali berhadapan langsung dengan ibu dari Miabella tersebut.
__ADS_1
“Dirimu tak perlu melakukan apapun lagi untukku, Sayang. Semua yang telah kau berikan untukku dan juga Miabella, sudah lebih dari cukup. Saatnya kita beristirahat dan menikmati hidup,” tanpa aba-aba, Mia melingkarkan kedua tangannya di leher Adriano. Sambil berjinjit, wanita itu melu•mat bibir sang suami seraya menariknya ke tempat tidur.
Adriano selalu saja tak kuasa melawan godaan Mia. Dia hanya bisa pasrah menuruti keinginan istrinya sembari rebah di atas ranjang. “Jangan salahkan aku jika tidak bisa berhenti memakanmu malam ini,” Adriano menyeringai dan membalikkan posisi. Dia yang awalnya berada di bawah Mia, sekarang berkuasa di atas tubuh molek istrinya yang menggoda. Digenggamnya telapak tangan Mia dengan erat, ketika wanita itu kembali mende•sah manja. Untuk kesekian kalinya, Mia kembali merasakan betapa perkasa seorang Adriano ketika di atas ranjang. Malam itu, mereka lalui dengan berbagi kehangatan yang istimewa.