Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Hidden Love


__ADS_3

Dengan segera, Gianna mendorong tubuh Juan Pablo hingga menjauh darinya. Dia tak peduli meskipun telah membuat pria itu menjadi terlihat keheranan. "Ternyata dugaanku memang benar," ucapnya sinis, "kau memang pria yang tidak normal! Apa yang Carina katakan memang tidaklah keliru. Dasar menjijikan!" Gianna berbalik ke arah sofa dan segera meraih tasnya. Gadis itu bermaksud untuk pergi dari sana.


Melihat Gianna yang hendak pergi, Juan Pablo pun tak tinggal diam. Tangannya sigap meraih pergelangan gadis itu serta memegangi dengan erat. "Kau mau ke mana?" tanyanya dengan penekanan yang cukup dalam.


"Aku tidak ingin berurusan dengan pria sepertimu! Pantas saja kau terus bertanya tentang Adriano! Sekarang aku semakin memahaminya!" Gianna berkata dengan ketus. Dia juga berusaha untuk melepaskan genggaman Juan Pablo dari pergelangan tangannya.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja?" tatapan Juan Pablo kian dalam menembus sepasang mata biru Gianna, yang memandangnya dengan sorot tidak bersahabat. "Aku tidak mengizinkan kau untuk pergi ke manapun," cegah Juan Pablo lagi dengan cukup tegas.


"Lepaskan aku!" sergah Gianna dengan jauh lebih tegas.


"Apa yang akan kau lakukan seandainya aku tidak bersedia melepaskanmu?" tantang Juan Pablo.


Tanpa banyak bicara, Gianna mengangkat lututnya yang dia arahkan tepat di 'jantung pertahanan' Juan Pablo. Namun, tangan pria asal Meksiko itu jauh lebih cekatan dalam bergerak. Baginya yang merupakan seorang anak emas Don Vargas, tak akan sulit untuk menghadapi perlawanan dari seorang gadis muda seperti Gianna.


Juan Pablo menahan lutut gadis itu dan mengarahkannya ke samping. Setelahnya, dia yang masih mencekal pergelangan tangan Gianna segera memutar tubuh gadis tersebut hingga menjadi berbalik dan membelakanginya. Juan Pablo menahan tubuh Gianna yang kembali bersandar padanya. Dia melingkarkan tangan di dekat dada si gadis, sambil menahan sebelah kaki putri Emiliano tersebut. Tenaganya tentu jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan Gianna.

__ADS_1


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Gianna sambil terengah-engah. Dia berusaha melepaskan tangan Juan Pablo yang melingkar di dekat dadanya.


"Kau sudah tahu siapa aku, Nona Moriarty," jawab Juan Pablo tepat di dekat telinga Gianna. "Tak ada gunanya melawan, karena itu hanya akan membuatmu kehabisan tenaga," ucap pria asal Meksiko tersebut.


"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Gianna lagi masih dengan sikap yang tak bersahabat, tidak seperti sebelumnya. "Jika kau memang menyukai Adriano, kenapa kau harus memanfaatkanku untuk mendekatinya? Bukankah kalian adalah rekan bisnis?"


"Apa maksudmu?" Juan Pablo menautkan alis karena tak mengerti dengan ucapan gadis itu.


"Jangan berpura-pura! Carina mengatakan bahwa dia tidak pernah melihatmu dekat dengan wanita manapun. Kau ...."


"Kau juga menolak ajakan bercinta dariku. Itu sudah menunjukkan siapa dirimu dengan sangat jelas," cibir Gianna lagi.


"Jadi itu yang kau pikirkan tentang diriku selama ini? Kau pikir aku bukan pria normal?" Juan Pablo kembali menautkan alisnya. Sedangkan Gianna tidak menjawab. Dia terus berusaha menyingkirkan tangan Juan Pablo yang masih melingkar di dekat dadanya, meskipun ternyata tak semudah seperti yang dia kira. "Mari kita bicara dengan baik-baik," ajak pria bermata cokelat madu itu seraya melepaskan tangannya, dan membiarkan Gianna lepas.


Gadis bermata biru itu segera berbalik dan menatap tajam Juan Pablo. Dia juga memberi jarak antara dirinya dengan pria tersebut. Gianna bahkan terus mundur ketika Juan Pablo berjalan ke arahnya. Gadis berambut pirang tadi seakan tak ingin lagi berdekatan dengan pria asal Meksiko itu.

__ADS_1


"Kenapa kau harus merasa takut padaku?" tanya Juan Pablo sambil terus berjalan le arah Gianna yang kini tak bisa ke mana-mana lagi, karena punggungnya sudah menyentuh dinding pembatas ruangan.


Gianna bergeser ke samping, hingga tangannya dapat menemukan lawang pintu. Namun, sebelum dia berhasil pergi dari sana, lagi-lagi Juan Pablo berhasil menahannya. Dia meletakkan tangan di samping kepala Gianna sebagai penghalang agar gadis itu tidak ke mana-mana.


"Menjauhlah dariku!" sentak Gianna tegas.


Akan tetapi, hal itu tak dihiraukan sama sekali oleh Juan Pablo. Dia justru semakin mendekat, kemudian mencium gadis bepostur semampai tersebut dengan paksa.


"Ini yang kau inginkan?" bisiknya penuh penekanan, sesaat setelah dia menghentikan ciuman tadi. Juan Pablo mengarahkan tangan Gianna pada bagian bawah perutnya. Dia meletakkan di sana, membiarkan gadis itu memegangnya meskipun Gianna tampak tidak menyukai apa yang Juan Pablo lakukan. Gadis berambut pirang tersebut menggeleng. Sementara Juan Pablo menatapnya dengan sangat tajam, sambil terus menahan tangan Gianna yang masih berada pada alat vitalnya.


"Kau benar-benar menjijikan, Juan! " sentak Gianna dengan sorot penuh kemarahan. Segera dia menarik tangannya. Dengan gerakan cepat gadis itu menampar pipi sebelah kiri pria di hadapannya dengan keras, sehingga Juan Pablo harus sedikit memalingkan wajah ke samping. Setelah itu, dia menyentuh pipinya. Tamparan tadi memang tak terlalu berarti bagi seorang Juan Pablo, tapi ini adalah kali pertama ada seorang gadis yang berani melakukan hal demikian terhadap dirinya. Namun, pria asal Meksiko tersebut tak melakukan apapun, termasuk ketika Gianna kembali mendorong tubuhnya hingga mundur beberapa langkah. Setelah ada sedikit jarak, Gianna pun segera berlari keluar dari ruangan tadi. Dia bergegas meninggalkan villa itu.


Sepeninggal Gianna, Juan Pablo hanya terpaku untuk beberapa saat. Dia tak berniat untuk mengejar gadis tersebut. Juan Pablo justru beranjak ke bagian lain villanya. Dia berjalan menuju sebuah kamar yang berada di dekat halaman samping. Kamar itu terkunci dengan rapat dan juga dibiarkan gelap. Awalnya Juan Pablo berdiri sambil bersandar pada pintu yang langsung dia tutup. Tak lama kemudian, pria itu lalu menyalakan lampu yang berwarna kuning temaram. Namun, pencahayaan remang-remang tadi masih bisa membuat apa yang ada di dalam kamar tersebut dapat terlihat dengan jelas.


Pada seluruh dinding ruangan itu, tertempel foto seorang wanita cantik dalam berbagai pose dan penampilan. Juan Pablo kemudian menarik salah satunya. Dia memandangi paras rupawan di dalam foto tersebut untuk beberapa saat. Tatapannya terlihat begitu tajam dan penuh kemarahan. "Aaaarrrggh, sialan!" emosi yang sejak tadi ditahan kini tak mampu untuk dia kendalikan. Juan Pablo menarik hampir seluruh foto-foto yang terempel di dinding dengan paksa hingga berserakan di lantai. Setelah itu, dia menjatuhkan dirinya. Lesu, pria berambut gelap tersebut duduk bersimpuh. Kembali dipungutnya selembar foto yang menampilkan lekuk indah wanita dengan bikini two piece berwarna putih. Juan Pablo kemudian mengusap foto tersebut. Sementara napasnya masih terengah-engah. "Mia," lirihnya.

__ADS_1


__ADS_2