
Mata Adriano nyalang menatap ke arah Juan Pablo yang juga memandangnya tegang. Pria itu sudah dapat menebak apa yang akan terjadi. “Benarkah itu?” sorot mata birunya seakan tengah menuntut sebuah jawaban dari pria Meksiko, yang kini semakin bersikap siaga. Suasana pesta yang meriah dan penuh keceriaan pun seketika menjadi hening dan tegang. Terlebih ketika Adriano berjalan pelan menghampiri Juan Pablo. Semua mata menjadikan dua pria rupawan itu sebagai pusat perhatian mereka, termasuk Francesca dan Coco. Seharusnya hari ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidup keduanya.
Sambil berjalan waspada, satu tangan Adriano bergerak meraba bagian belakang pinggang di mana dia menyimpan pistol kesayangannya. Melihat hal itu, Juan Pablo tak ingin mengambil risiko. Segera saja dia meraih lengan Mia yang masih berdiri di dekatnya dan menarik istri Adriano tersebut hingga bergeser menghalangi tubuhnya. Tangan kiri Juan Pablo melingkar di leher wanita yang dulu pernah menjadi penghias segala angan. Sementara tangan kanannya bergerak meraih pistol yang terselip di punggung. Juan Pablo meletakkan moncong pistol itu ke pelipis Mia dengan jari telunjuk yang siap berada pada pelatuk senjata api tersebut.
“Ibu!” seru Miabella dengan tubuh bergetar, ketika melihat adegan mengerikan yang tersaji di hadapannya. Mata abu-abu gadis kecil tersebut tampak berkaca-kaca dengan bibir melengkung. “Tolong jangan sakiti ibuku,” rengeknya.
“Menjauhlah, Tuan Putri. Aku berjanji tidak akan menyakiti ibumu,” suruh Juan Pablo setengah berbisik sambil melangkah mundur untuk menjauh dari Miabella.
“Bajingan kau, Juan Pablo!” teriakan Adriano membahana menggema di langit Casa de Luca. Seumur hidupnya, dia tak pernah merasa semarah dan sepanik itu. Pembawaannya yang selalu tenang dan tampak kalem, sama sekali tak terlihat saat itu. “Sedikit saja kau menggores kulit Mia-ku, maka akan kukejar kau sampai ke neraka sekalipun!” ancam Adriano seraya berjalan pelan dan waspada. Dia mencoba untuk maju dan semakin mendekat ke arah Juan Pablo yang terus bergerak mundur.
“Aku tak akan menyakitinya jika kau membiarkanku pergi dari sini! Berhenti mengejarku!” tegas Juan Pablo dengan pistol yang masih menempel di dekat kepala Mia. Sementara Mia sendiri merasa tak dapat bernapas dengan leluasa. Pandangan mata wanita itu menjadi buram, karena banyaknya air mata yang menggenang. Satu hal yang dapat dia lihat saat itu adalah sosok sang suami yang terlihat berusaha mendekatinya.
“Tetap di tempatmu, Tuan Adriano D’Angelo! Jika kau masih nekat, maka jangan salahkan aku karena peluru ini akan menembus wajah cantik Mia,” ancam Juan Pablo dengan suara bergetar. Sungguh hal tersebut merupakan sebuah pilihan yang teramat sulit bagi dirinya.
Tubuh tegap Adriano seketika membeku. Demikian pula dengan Marco dan juga Coco. Tadinya mereka bermaksud hendak membantu suami Mia tersebut untuk melumpuhkan Juan Pablo. Semua orang terpaku di tempatnya sambil menahan napas. Tak ada yang dapat mereka lakukan selain membiarkan Juan Pablo berlalu dari sana sambil menggunakan tubuh Mia sebagai tameng hidup, hingga dia menuju ke pelataran parkir.
“Masuklah, Mia,” suruh Juan Pablo. “Aku bersumpah tidak akan menyakitimu,” ujar pria itu meyakinkan Mia, ketika dia hanya terdiam seraya menatap ketakutan.
Mia sempat melirik ke arah pistol Juan Pablo, kemudian memasuki mobil lalu duduk di kursi depan. Selesai menutup pintunya, Juan Pablo bergegas ke balik kemudi dan menyalakan kendaraan. Dalam hitungan sepersekian detik saja, mobil sedan hitam milik sang Elang Rimba terdengar meraung dan memutari air mancur menuju gerbang kedua. Para pengawal yang ada di sana sudah diberitahu sebelumnya oleh Marco agar tak menghalangi apalagi sampai menyerang kendaraan itu, karena ada Mia di dalamnya.
Mobil milik Juan Pablo melaju cepat, bahkan hingga menabrak gerbang raksasa yang terbuat dari besi dan bercat emas hingga terbuka lebar. Begitu juga di gerbang pertama, Juan Pablo juga menabraknya sekencang mungkin, lalu berbelok ke arah jalan raya pusat kota. Sesekali, dia melirik Mia yang tengah meremas dadanya kuat-kuat sambil berusaha bernapas secara teratur. Pipi wanita cantik itu sudah basah oleh air mata. Matanya yang indah hanya menatap kosong di depan. “Apa kau baik-baik saja?” tanyanya ragu. Sesaat kemudian, dia menyesali pertanyaan yang terdengar bodoh itu. “Ma-maaf,” ucapnya lagi.
__ADS_1
“Aku sedang hamil,” sahut Mia lirih, “tolong jangan bunuh lagi orang-orang yang kusayangi. Aku tak sanggup jika harus merasakan kehilangan untuk kesekian kalinya,” pinta wanita cantik itu memelas.
“Aku .…” Tenggorokan Juan Pablo tercekat. Dia yang biasanya garang dan tak kenal ampun, harus luluh saat menghadapi wanita yang terlihat rapuh di sampingnya itu. Sejuta sesal pun menggelayuti benak pria tersebut. “Aku tidak bermaksud menyakitimu. Mungkin … mungkin aku bukan orang yang religius, tapi aku berani bersumpah atas nama Tuhan. Tolong percayalah padaku. Aku tidak akan melukaimu sedikit pun,” tuturnya pelan sambil terus mengemudi.
Sementara Mia tak memberikan jawaban atas pernyataan Juan Pablo. Wanita berambut coklat yang kini terlihat acak-acakan tersebut hanya menunduk dalam-dalam sembari terisak.
Juan Pablo pun tak berniat berkata apa-apa lagi, hingga mobilnya memasuki kota Milan. Dia terus melaju menyusuri jalan raya dan berhenti di sebuh katedral besar. Juan Pablo menghentikan kendaraannya di halaman depan katedral tersebut.
Mia yang semula menunduk, segera mengangkat wajah. Dia benar-benar terperanjat ketika pria dingin di sebelahnya itu turun dari mobil dan mengajaknya serta.
“Ikut aku, Mia,” ajaknya demikian lembut. Mia menggeleng kuat-kuat. Air matanya kembali mengalir deras. Bagaimana tidak, gereja tadi adalah tempat di mana Matteo meregang nyawa tepat di atas pangkuannya. Di halaman luas dengan pepohonan rindang itu, semua tragedi berdarah yang memilukan tersebut berlangsung dengan begitu cepat.
“Tidak! Hentikan!” Juan Pablo spontan memegangi bahu istri dari Adriano tersebut. “Ikutlah denganku. Kumohon. Kita masuk ke dalam,” ajaknya.
Mia tak sanggup membuka mulut. Bagaikan sudah terkena hipnotis, dia turun dari kendaraan dan mengikuti langkah gagah Juan Pablo. Mia terus memperhatikan gerak-gerik pria yang tengah membuka pintu masuk katedral, dengan ukuran teramat besar. Pintu berdaun dua itu terbuat dari kayu dan berpilar baja. Butuh tenaga yang sedikit besar dari Juan Pablo untuk mendorongnya agar bisa terbuka cukup lebar.
Setelah Mia berada di dalam, Juan Pablo menutupnya lagi. Dia lalu mengarahkan Mia ke bagian dalam gereja yang tampak lengang. Tak ada siapa pun di sana. Tidak juga pendeta atau pastor yang biasanya bertugas jaga. “Hari ini katedral ditutup. Ada perbaikan di bagian atap. Aku tahu karena anak buahku turut menjadi pekerja bangunan yang memperbaiki,” jelas Juan Pablo tanpa diminta. “Ayo,” ajaknya. Tanpa sungkan, Juan Pablo meraih pergelangan tangan Mia lalu memegangnya. Dia menuntun wanita yang tengah mengandung itu berjalan lurus sampai tiba di depan altar, kemudian berbelok ke lorong di sampingnya.
Lorong itu terlihat begitu gelap, sehingga Juan Pablo harus menyalakan lampu senter pada ponsel. Beberapa langkah kemudian, dia berhenti dan menghadap pada tembok lorong yang berada di sebelah kiri. Juan Pablo meraba permukaan dinding itu sampai menemukan satu buah batu bata yang agak menonjol ke depan. Dia menekan bata itu hingga dinding di depannya bergeser dan terbuka. “Masuklah,” suruhnya lagi. Mia menggeleng lemah dan berniat untuk menolak.
“Aku bersumpah bahwa kau akan aman sampai Adriano menjemputmu nanti.” Juan Pablo meletakkan tangan kanannya di dada. Sebagai tanda bahwa dia bersungguh-sungguh. “Maaf, jika aku menyanderamu, tapi aku harus menyelamatkan diriku. Aku tidak boleh mati dalam waktu dekat karena … karena ….” Juan Pablo tampak sedikit ragu. Namun, pada akhirnya dia melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
“Gianna hamil … anak kami. Aku juga telah menikahinya beberapa hari yang lalu. Itulah kenapa aku tidak boleh mati. Aku tidak bisa meninggalkan Gianna sendirian.”
Mata indah Mia terbelalak sempurna mendengar hal itu. Dia sempat mendengar kabar bahwa adik tiri Adriano tersebut memang dekat dengan Juan Pablo. Akan tetapi, Mia tak pernah menyangka jika hubungan keduanya sampai sejauh itu. “Gianna hamil?” Mia akhirnya membuka suara. “Apakah Adriano tahu akan hal ini?” tanyanya kemudian. Lambat laun, rasa takut dalam diri Mia perlahan menghilang.
“Tidak. Tidak ada yang tahu akan hal ini. Aku baru memberitahukannyahanya padamu. Sekarang masuklah. Ada dipan sederhana yang dilengkapi selimut di sana. Kau bisa beristirahat untuk sementara.” Selesai berkata demikian, tangan Juan Pablo kembali meraba dinding dan menekan saklar, membuat Mia dapat melihat jelas ruangan kecil berdinding batu yang ada di hadapannya itu. Dia mendongak melihat lampu kecil berwarna kuning yang menggantung di tengah langit-langit ruangan .
“Tempat apa ini?” tanya Mia sembari melangkah masuk. Pandangannya menyapu ke setiap sudut tempat itu.
“Tempatku bersembunyi saat mengawasi suamimu kala itu,” jawab Juan Pablo dengan raut yang terlihat penuh sesal. “Aku tak mengira jika tindakanku yang hanya didasari oleh emosi dan dendam bisa berdampak sedemikian besar pada orang lain.” Juan Pablo menunduk dalam-dalam, mencoba menghindari tatapan Mia yang terus terarah kepadanya. Dia lalu berbalik dan berniat untuk meninggalkan Mia begitu saja.
“Kau akan ke mana?” seru Mia was-was.
“Aku harus menjemput Gianna dan membawanya pergi jauh dari negara ini,” jawab Juan Pablo tanpa menoleh. Dia berdiri membelakangi Mia. “Aku akan menyuruh anak buahku untuk menghubungi Adriano dan memberitahu posisimu, setelah aku dan Gianna berada di tempat yang aman,” sambungnya lagi tanpa mengubah posisi. Baru satu langkah kakinya bergerak meninggalkan ruangan kecil tadi, terdengar Mia kembali memanggil namanya.
“Aku memaafkanmu, Tuan Herrera,” ucap Mia yang seketika membuat Juan Pablo begitu emosional. Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, pria tampan itu menitikkan air mata.
🍒 🍒 🍒
Hilangkan dulu ketegangan sejenak, dengan membaca novel di bawah ini.
__ADS_1