Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Delirio


__ADS_3


Pria dengan tatapan tajam dan dingin itu mengulurkan tangan kepada Adriano. Dia bermaksud untuk mengajak bersalaman. Tak ada alasan bagi Adriano untuk menolaknya. Pria bermata biru itu pun membalas jabat tangan yang disodorkan oleh Juan Pablo. “Senang berkenalan dengan Anda, Tuan Herrera,” ucap Adriano, meskipun dia merasakan ada sesuatu yang aneh.


“Aku juga,” balas Juan Pablo tanpa ekspresi yang berlebihan. Sepertinya, Juan Pablo merupakan seseorang yang tak suka berbasa-basi.


Don Vargas tampak membisikkan sesuatu di telinga Juan Pablo. Pria bermata cokelat madu itu mengangguk.


Sementara, Adriano masih memperhatikan pria muda tersebut. Perawakan dan juga bahasa tubuhnya, memang begitu mirip dengan Matteo de Luca. Pantaslah, jika Mia bersikap seperti tadi.


“Maaf, Tuan D’Angelo. Tadi, aku ada sedikit urusan,” ujar Don Vargas. Seramah apapun pria Amerika Latin itu menunjukkan sikap, tetapi raut wajah dan sorot mata tajamnya masih terlihat sangat menakutkan. “Aku dengar dari Tuan Redomir, katanya Anda baru meresmikan sebuah resort mewah di Yunani." Dia mulai berbasa-basi.


“Ya. Itu benar sekali,” jawab Adriano.


“Luar biasa,” sanjung Don Vargas sebelum meneguk minuman dalam gelas yang dia genggam. “Sebenarnya, aku juga berniat untuk membangun sebuah kasino lengkap dengan hotel dan segala fasilitas penunjang. Kasino bertaraf internasional dan dikhususkan bagi kalangan kelas atas tentunya. Aku ingin melebarkan sayap bisnisku dalam bidang real estate. Anda pasti mengetahui dengan jelas, jika bisnis dalam bidang tersebut sangat kuat dan stabil. Nilainya pun akan terus meningkat dari waktu ke waktu,” tutur pria itu dengan senyuman dingin.


“Ya. Itu memang benar. Bisnis dalam bidang real estate memang memiliki prospek yang sangat bagus dan menjanjikan, karena bisnis ini tidak terpengaruh oleh inflasi. Meskipun situasi negara berubah, biasanya harga property akan tetap stabil,” terang Adriano terlihat meyakinkan.


“Itu juga yang menjadi pertimbanganku selama ini. Akan tetapi, hingga sekarang aku masih bingung untuk menentukan lokasi pembangunannya,” balas Don Vargas.


“Aku sudah menyarankan Don Vargas untuk membangun kasino di Moskow. Kota kelahiranku,” sela Sergei dengan enteng.


“Aku menerima semua masukan,” sahut Don Vargas kembali meneguk minumannya.


“Eropa adalah pilihan yang bagus. Benua ini seperti menjadi tempat pertemuan antara Amerika, Asia, dan Afrika. Menurutku, Eropa akan jauh lebih strategis,” ujar Adriano, seraya meraih satu gelas sampanye dari nampan pelayan yang lewat di dekatnya. Adriano meneguk sampanye tadi, sambil melihat Mia yang berada agak jauh darinya. Wanita itu duduk di kursi bar, dengan mata menerawang entah ke mana.


Adriano mengembuskan napas pelan, lalu kembali berbincang dengan Don Vargas. Dia tersenyum hangat saat Don Vargas memuji idenya yang brilian. “Kalau begitu, aku akan memilih Eropa. Namun, kira-kira di negara mana tepatnya?” Don Vargas mengusap dagunya yang ditumbuhi janggut tipis.


“Inggris?” cetus Adriano lagi. “Kudengar, harga tanah di daerah Birmingham sangat bersahabat untuk pengusaha seperti kita,” lanjutnya.


Mata Don Vargas berbinar menatap Adriano. “Lo sabia! (Sudah kuduga!). Anda adalah orang yang tepat untuk kuajak bekerja sama." Jari telunjuk Don Vargas mengarah pada diri Adriano. “Anda dan aku. Kita akan membangun kasino dan hotel terbesar di dataran Britania Raya,” tegasnya kemudian. “Aku tidak menerima penolakan!” lanjut Don Vargas saat melihat gelagat Adriano yang hendak membuka mulut dan tampak keberatan.


“Seandainya aku menjadi dirimu, maka aku tak akan menolak kerja sama ini,” ujar Sergei yang terlihat jauh lebih bersemangat dari Adriano.


Sementara, Adriano menoleh kepada Arsen. Isyarat mata pria itu seakan ingin meminta saran dari temannya tersebut. “Sepertinya, ini bisnis yang menggiurkan. Terima saja, Adriano,” saran Arsen dengan tenang tapi terlihat yakin.


Pandangan Adriano kembali beralih pada Don Vargas. “Baiklah. Tidak ada salahnya memperluas jaringan dan menambah kolega,” putus pria bermata biru itu pada akhirnya, dan segera disambut wajah ceria dari Don Vargas.

__ADS_1


“Juan," sebut Don Vargas. "Setelah pesta ini selesai, segera urus segala sesuatunya di Inggris,” titah pria itu.


“Maaf, Don. Aku baru bisa bergabung bulan depan, karena beberapa hari mendatang aku akan pergi ke Florida bersama istri dan putriku,” ucap Adriano.


Mendengar hal itu, semua pasang mata mengarah kepada Adriano. “ Oh. Apakah kau juga mulai mengembangkan bisnis di sana?” tanya Arsen penasaran.


“Ah, tidak. Kami hanya melakukan perjalanan bulan madu,” dalih Adriano seraya tersenyum samar. Dia kembali melayangkan tatapannya pada Mia yang ternyata tengah memandangnya dengan tatapan sendu.


“Sekadar berlibur?” tanya Juan Pablo yang sedari tadi lebih banyak diam dan hanya menyimak.


“Ya. Sekadar berlibur," jawab Adriano yakin. "Maaf aku permisi sebentar. Aku harus menghampiri wanita cantik itu,” tunjuk Adriano pada Mia, seraya meninggalkan kolega-koleganya begitu saja.


“Harap dimaklumi, Don. Mereka pengantin baru. Dunia serasa milik berdua,” kelakar Arsen yang segera disambut gelak tawa dari semuanya. Sementara, Juan Pablo hanya menanggapi dengan senyuman simpul.


Sebenarnya, Adriano masih bisa mendengar saat mereka yang tengah berkelakar tentang dirinya. Akan tetapi, dia tak peduli. Perhatian pria itu kini hanya tertuju kepada Mia. “Kau mau kuambilkan sesuatu?” tanyanya setelah berdiri di samping sang istri.


“Tidak usah. Terima kasih." Mia segera menoleh dan tersenyum kaku pada suaminya.


“Apa kau ingin kukenalkan pada Juan Pablo?” tawar Adriano bernada sindiran.


“Siapa?” Mia menggeleng tak mengerti.


Mia tertawa pelan. “Aku tidak ingin berkenalan dengan siapa pun. Aku hanya ingin menyendiri di sini sampai kalian selesai,” tolak Mia.


“Baiklah, jika itu yang kau mau, Mia. Aku akan membiarkanmu menyendiri di sini,” ucap Adriano. Dia berbalik begitu saja dari dekat Mia. Adriano kembali berbincang dengan Don Vargas hingga dua jam kemudian.


Namun, sesekali Adriano memperhatikan Mia yang sudah beberapa kali menguap. Pria itu pun memutuskan untuk berpamitan lebih dulu pada pemilik pesta. “Kita lanjutkan perbincangan ini lewat email atau telepon saja. Arsen bisa mencatatkannya untuk Anda,” ucap Adriano sembari menyalami Don Vargas dan semua yang berdiri di dekatnya.


“Tentu. Aku tak sabar menunggu proyek kita berjalan.” Don Vargas membalas jabat tangan Adriano lebih erat.


Tanpa membuang waktu, Adriano segera menghampiri Mia dan memegang tangannya. “Kita pulang sekarang,” ajak Adriano dingin.


“Sekarang? Apakah sudah selesai?” tanya Mia keheranan.


“Anggap saja begitu,” jawab Adriano tanpa menoleh. Dia terus menatap ke depan dengan genggaman yang tak lepas dari tangan Mia. Adriano menuntun wanita cantik itu berjalan melintasi aula pesta, hingga tiba di halaman depan mansion. Setelah itu, dia segera menghubungi sang sopir untuk menjemputnya di posisi mereka berdiri saat itu.


Selama dalam perjalanan, Adriano lebih memilih untuk diam dan memandang ke luar jendela. Tak dia hiraukan Mia yang sedari tadi memperhatikan dengan diam-diam.

__ADS_1


Setelah tiba di mansion, Adriano keluar dari mobil terlebih dahulu, lalu membukakan pintu untuk Mia. Tak seperti biasanya, dia langsung berjalan mendahului sang istri dan bergegas menuju kamar Miabella. Di sana, dia hanya melihat sejenak putri sambungnya yang sudah terlelap, lalu kembali menutup pintu.


“Apa dia tidur nyenyak?” tanya Mia yang sudah berdiri di belakang Adriano. Membuat pria itu kembali membuka pintumn


“Nyenyak sekali,” jawab Adriano singkat, sebelum berlalu tanpa basa-basi.


“Kau mau ke mana?” Pertanyaan Mia tak mendapatkan jawaban, karena Adriano memilih untuk terus berjalan meninggalkannya tanpa menoleh lagi.


Mia mengembuskan napas pelan, lalu tersenyum melihat putrinya yang terlelap. Dia menutup pintu perlahan, lalu berjalan ke kamarnya. Mia menyalakan lampu dan mendapati tempat tidur dalan keadaan kosong. “Adriano?” panggilnya. Namun, tak ada jawaban.


Mia segera mencari ke ruang ganti, kamar mandi, dan ruangan lain di kamar itu. Namun, Adriano tak ada di manapun. .


Dengan penuh tanda tanya, Mia melangkah ke dekat meja rias dan membersihkan wajahnya. Beberapa saat kemudian, dia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dalam hati kecilnya, Mia berharap Adriano sudah masuk ke kamar saat dirinya selesai mandi. Akan tetapi, harapan Mia tak terkabul. Dirinya yang sudah bersih dan berganti pakaian dengan kimono, masih tak mendapati Adriano di dalam kamar luas tersebut.


Mia tak ingin berpikir terlalu jauh tentang hal itu. Dia langsug membaringkan diri dan menarik selimut. Tidur adalah pilihan yang tepat menurutnya.


Namun, setelah beberapa jam sudah berlalu, Mia tak juga dapat memejamkan mata. Rasa penasaran dalam hati akan keberadaan Adriano, membuatnya terjaga meskipun waktu sudah memasuki dini hari.


Akhirnya, Mia memutuskan untuk menyibakkan selimut. Dia bangkit, lalu berjalan menuju pintu. Mia kemudian membukanya dengan tidak terlalu lebar. Seketika, dia terkejut. Pasalnya, Adriano telah berdiri di luar kamar dengan tubuh limbung.


“Hei, Mia. Kenapa belum tidur? Apa kau menungguku? Ah, tentu saja itu tidak mungkin,” racau Adriano seraya terkekeh. Wajahnya memerah. Aroma alkohol menguar dari dalam mulut pria itu saat berbicara.


“Kau mabuk? Apa kau tidak cukup minum selama di pesta?” tegur Mia. Segera diraihnya tubuh jangkung Adriano yang hampir hilang keseimbangan. Sekuat tenaga, Mia memapah Adriano dan menahannya agar tak ambruk di lantai. Dibawanya pria itu hingga ke dekat tempat tidur.


Adriano langsung berbaring begitu saja. Membuat Mia yang saat itu masih melingkarkan tangan di pinggangnya, ikut tertarik dan jatuh di atas tubuh tegapnya. Setengah sadar, pria bermata biru tersebut memeluk Mia dengan erat.


“Lepaskan aku, Adriano. Ingat perjanjian kita,” tolak Mia sambil berusaha melepaskan diri. Akan tetapi, usahanya hanya sia-sia. Bagaimanapun juga, kekuatannya sangat jauh di bawah Adriano. Mia bagaikan kupu-kupu rapuh yang berada dalam cengkeraman seekor harimau.


“Kau menyakitiku lagi, Mia. Kau menyakitiku. Namun, aku tak pernah bisa membencimu. Aku tak pernah bisa membencimu. Cinta itu menyakitkan sekali, ya?" Adriano tertawa di sela racauannya. Sementara, kedua tangannya masih terus memeluk Mia yang menatap pria itu tak mengerti.


🍒


🍒


🍒


Hi, reader. Sambil menyimak kelanjutan kisah Adriano dan Mia, sempatkan mampir ke novel keren ini.

__ADS_1



__ADS_2