
Keesokan harinya, Adriano dan Mia sudah bersiap untuk pergi berjalan-jalan dan mengunjungi tempat-tempat yang ikonik dari kota London. Sementara Miabella terlihat begitu antusias, terebih ketika Mia memakaikannya bando berpita besar yang sangat cantik. "Apa aku sudah terlihat seperti seorang putri, Bu?" tanyanya sambil melenggak-lenggok. Sesekali dia memutar tubuh mungilnya, sehingga bagian bawah rok mini yang dia kenakan menjadi terkembang dan memperlihatkan stoking putih yang dia pakai di bagian dalam.
"Tentu saja, Bella. Kau sangat mirip dengan ibumu saat dia masih kecil," jawab Adriano sambil melipat lengan kemejanya. Setelah itu, Adriano lalu memasangkan arloji di pergelangan kiri.
"Jangan mengada-ada, Adriano. Kau tidak tahu seperti apa wajahku saat berumur empat tahun," protes Mia yang seketika membuat pria bermata biru itu tersenyum lebar.
"Kalian berdua membuatku gemas," ujar Adriano. "Terutama kau, Cantik," dia mendekat ke arah Mia kemudian menyentuh wajahnya. Tanpa sungkan, pria itu mencium sang istri dengan mesra. Terpancar rona kebahagiaan yang begitu jelas, pada sepasang mata birunya.
"Sudah, hentikan. Jangan bersikap nakal di hadapan Miabella," Mia menghentikan ciumannya dengan segera. "Apa Ricci akan ikut bersama kita?" tanya Mia setelah benar-benar siap untuk pergi.
"Kau tanya saja sendiri. Aku rasa dia ada di kamarnya. Jika tak ada di kamar, mungkin sekarang calon adik iparmu sedang berjemur di dekat kolam renang," sahut Adriano seraya menuntun Miabella keluar.
Mia menggantungkan tali tasnya di atas pundak sebelah kiri. Setelah itu, dia beranjak ke kamar Coco yang berdekatan dengan kamarnya. Dia mengetuk pintu kamar kekasih dari Francesca tersebut. Akan tetapi, setelah beberapa saat ditunggu ternyata tak ada respon sama sekali dari dalam. "Sepertinya dia sedang tidak ada di kamarnya," ucap Mia sambil menoleh kepada Adriano yang masih menuntun Miabella.
"Sudahlah, Bu. Paman Ricci tidak perlu diajak," ujar Miabella yang sudah tidak sabar untuk pergi.
"Aku rasa, Ricci tahu bagaimana cara menyenangkan dirinya, Mia," timpal Adriano. Sedangkan Mia hanya mengangkat kedua bahu saat menanggapi ucapan sang suami. Sesaat kemudian, diraihnya tangan mungil Miabella dan dituntun keluar.
Miabella berlari melintasi jalanan berlapis paving block seraya memutar-mutar badannya, sampai-sampai Mia harus mencekal lengan gadis kecil itu agar tak tersandung. Adriano hanya tertawa lebar melihat tingkah gadis kecil tersebut. Kebahagiaan jelas terpancar di wajah tampannya. Tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, ketika dirinya dapat melihat wajah ceria Mia dan Miabella, yang merasa takjub karena baru pertama kali ini menginjakkan kaki di kota London.
Hari itu, Adriano mengajak istri dan putri sambungnya mengunjungi akuarium raksasa yang terkenal di kawasan jembatan Wesminster. Lokasinya sangat dekat dengan London Eye, bianglala yang terkenal sebagai simbol kota London. Cuaca saat itu memang cerah, tetapi tak terlalu panas, sehingga sangat mendukung acara jalan-jalan mereka.
“Ayo, Daddy Zio!” Miabella menarik tangan kekar Adriano dengan sangat antusias. Dia menyeret pria berpostur tegap tersebut menuju pintu masuk. Sesekali Adriano melirik Mia yang hanya tersenyum geli. Pria tampan itu menurut dan terus mengikuti Miabella.
Gadis kecil berambut cokelat itu teramat senang dan begitu bersemangat, sampai-sampai dirinya hampir tersandung saat menaiki beberapa undakan anak tangga. Tak ingin ambil risiko, Adriano pun akhirnya berinisiatif untuk menggendongnya sampai di depan loket.
“Daddy Zio, aku melihat bianglala. Apa kau akan mengajakku ke sana?” tanya Miabella saat Adriano tengah sibuk bertransaksi dengan penjaga loket.
“Tentu, Sayang. Nanti setelah kita pulang dari sini, ya,” bujuk Mia yang berdiri di samping Adriano.
__ADS_1
“Hari ini aku akan membawa ke manapun yang kalian mau,” ujar Adriano dengan senyum yang sejak tadi tak lepas dari paras rupawannya. Dirinya begitu bahagia karena memiliki keluarga kecil itu, pelengkap hidupnya yang telah lama berada dalam kehampaan.
“Horee!” Miabella berseru riang sambil mengangkat kedua tangannya, membuat Adriano merasa gemas dan langsung mencium pipi gembul itu berkali-kali.
“Lihat itu, Bella,” tunjuk Adriano sesaat setelah mereka memasuki gedung akuarium. Ketiganya melewati jalan masuk yang menurun dan lurus, hingga sampai di sebuah terowongan besar berbentuk tabung panjang dengan dinding terbuat dari kaca tebal. Keluarga kecil tersebut begitu terpana saat melihat berbagai macam ikan, tumbuhan serta berbagai biota laut lainnya. Semua yang mengisi akuarium raksasa itu tampak berwarna-warni dan bergerak di sekitar mereka, yang melihatnya dari balik dinding kaca. Miabella langsung terpaku menyaksikan pemandangan indah yang tersaji di sekelilingnya.
“Rasanya seperti sedang berada di bawah air ya, Bella?” bisik Adriano.
Miabella tak menjawab. Sepasang matanya terlihat membulat dan bersinar. “Aku suka di sini. Bisakah kita menginap di tempat ini nanti malam, Daddy Zio?” pinta Miabella yang segera disambut dengan gelak tawa Adriano dan juga Mia.
“Tidak bisa. Kita tidak boleh tidur di sini, Sayang,” sahut Adriano yang lagi-lagi mencium pipi gembul Miabella karena merasa gemas.
Gadis kecil itu sempat merajuk. Namun, tak berlangsung lama, sampai dia melihat seekor hiu berenang melintas di depannya. Muka cemberut Miabella segera menghilang, berganti dengan tawa lebar. Mia juga ikut menikmati keindahan itu sampai seseorang tak dikenal, menabraknya dari belakang sehingga membuat wanita cantik itu hampir tersungkur.
“Kau tidak apa-apa, Mia?” tanya Adriano. Beruntung pria itu sigap memegangi lengan Mia dan menjaganya agar tak terjatuh. Setelah memastikan Mia baik-baik saja, Adriano segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Pencahayaan yang tidak terlalu terang, membuatnya memicingkan mata seraya mengamati satu per satu orang-orang di sekitarnya.
Mia memperhatikan wajah Adriano. Raut pria itu berubah dingin dan tegang. “Adriano, sudahlah. Mungkin hanya anak-anak kecil yang tidak sengaja menabrakku,” ucapnya lembut untuk menenangkan sang suami.
Adriano akhirnya menoleh kepada Mia danl tersenyum lembut. “Apa kita akan melanjutkan perjalanan ini?” tawarnya.
“Tentu saja!” seru Miabella.
“Baiklah, Principessa,” Adriano lalu menuntun Mia dan mendekap Miabella dalam gendongannya. Mereka terus menyusuri terowongan sampai tiba di sebuah ruangan besar penuh dengan akuarium berbagai ukuran. Adriano menurunkan Miabella dan membiarkan putrinya berlarian ke sana kemari. Miabella tampak begitu antusias mengamati hewan-hewan laut.
Adriano tak melepaskan perhatian dari Miabella, hingga mata birunya menangkap sosok mencurigakan di antara akuarium-akuarium tadi. “Bawa Miabella ke dekatmu, Sayang. Aku akan memastikan sesuatu dulu,” bisiknya.
Tanpa banyak bicara, Mia segera melakukan perintah Adriano dan mendekap putri semata wayangnya. “Kenapa, Bu?” protes Miabella. Mia menanggapinya dengan menempelkan jari telunjuk di bibir, lalu mendekap tubuh mungil itu erat-erat.
Sementara Adriano berjalan cepat, memutari akuarium demi akuarium. Namun, dirinya tak menemukan yang dia cari. Tanpa sadar, langkah gagahnya membawa pria itu keluar dari ruangan besar dan berhenti di cafetaria.
__ADS_1
Tempat itu begitu ramai pengunjung, sehingga Adriano kehilangan jejak. Merasa dirinya terlalu jauh dari istri dan anaknya, Adriano langsung berbalik dan setengah berlari menuju Mia. Pria itu dapat bernapas lega, ketika dilihatnya Mia masih berada di tempat tadi.
“Ada apa, Adriano?” Mia begitu keheranan melihat sikap sang suami.
“TIdak apa-apa. Ternyata aku hanya salah lihat,” Adriano menyunggingkan senyum lembut pada Mia. “Apa kalian lapar?” tanyanya kemudian.
“Ya, aku ingin es krim,” sahut Miabella cepat.
“Baiklah, kalau itu yang Tuan Putri inginkan,” Adriano membungkukkan tubuh jangkungnya di depan Mia dan Miabella. Dia mengarahkan mereka ke kafetaria. Beruntung, saat itu ada satu meja yang kosong. Adriano mengajak Mia dan Miabella untuk duduk di sana. “Tunggu di sini, aku akan membuat pesanan untuk kalian. Kau ingin makan apa, Mia?”
“Apa saja, terserah. Sama dengan pilihanmu,” jawab Mia sumringah.
Adriano mengangguk pada istrinya sebelum menghampiri meja pelayan yang sedikit jauh dari mejanya. Tak berapa lama, dia kembali sambil membawa beberapa buah es krim. “Makanannya akan diantar sebentar lagi,” ujarnya. Dia kemudian membagi es krim itu pada Mia dan Miabella serta dirinya sendiri.
Adriano mulai menjilati es krimnya ketika terdengar keributan dari kejauhan. “Suara berisik apa itu?” tanya Mia.
“Entahlah, mungkin pengunjung anak-anak tengah bermain,” jawab Adriano sekenanya. Akan tetapi, apa yang dia ucapkan tak seperti kenyataannya. Suara bising yang samar-samar itu mendadak berubah menjadi teriakan nyaring. Terdengar pula beberapa letusan senjata di udara. Dari jauh, terlihat beberapa orang berpakaian serba hitam dan memakai topeng tengkorak, berlarian ke segala arah sambil memegang pistol masing-masing. Satu dari mereka terus-menerus menembakkan senjatanya ke udara.
“Tangan Setan?” Adriano terbelalak. Instingnya bekerja cepat, menggendong Miabella dan membawa Mia berlari menjauh. “Jangan lepaskan tanganku, Mia!” serunya sembari terus berlari. Mia mengangguk dan ikut berlari di sisi suaminya. Wanita itu sempat menoleh ke belakang dan mendapati salah seorang pria bertopeng memandang ke arahnya, lalu mulai mengejar mereka.
“Adriano, orang itu mengejar kita!” pekik Mia ketakutan.
Pria gagah itu berhenti sejenak sebelum memutuskan untuk membawa Mia dan juga Miabella ke kantor polisi terdekat. Sebelum berangkat, Coco tadi membekalinya dengan GPS yang memuat informasi tentang lokasi-lokasi penting, seperti rumah sakit dan kepolisian. “Mia, bawalah Miabella berlari lurus, lalu kau ambil jalan ke kanan. Di sana kau akan melihat kantor polisi. Masuklah ke sana, kalian akan aman,” suruh Adriano.
“Bagaimana denganmu?” wajah Mia terlihat begitu was-was.
“Aku akan menyusul sebentar lagi. Cepatlah, Mia!” titah Adriano.
Mia terpaksa menuruti perintah suaminya, ketika Miabella mulai menangis ketakutan. Sedangkan Adriano terus memandang istrinya hingga tak terlihat dari pandangan. Pada akirnya, dia menoleh dan mendapati salah satu pria bertopeng itu sudah berdiri di depannya dan menarik pelatuk pistol tanpa ragu.
__ADS_1