
Malam terus merayap menjemput suasana sepi di sekitar Casa de Luca. Namun, hal demikian tak membuat Adriano mengurungkan niat untuk pergi ke kolam renang. Entah kenapa, malam itu udara terasa begitu panas bagi dirinya. Rasa tak nyaman yang mendera, membuat pria tiga puluh dua tahun tersebut ingin segera membasahi tubuh dengan air kolam yang segar.
Berdiri di tepian kolam dengan hanya mengenakan celana renang, tubuh tegap Adriano tampak begitu sedap dipandang mata. Dia tak harus merasa takut lagi akan ada seseorang yang menyembunyikan handuknya, berhubung Coco masih terbaring lemah di atas tempat tidur. Jangankan untuk berbuat usil, pria berambut ikal itu bahkan belum bisa mengambil minum untuk dirinya sendiri.
Dengan lihai, Adriano menceburkan diri ke dalam kolam lalu mulai berenang. Airnya tidak terasa dingin bagi dia yang tengah kepanasan. Untuk sesaat, ingatan akan perbincangannya bersama Juan Pablo kembali hadir, dan menggelitik naluri seorang petarungnya. Beberapa hari terkurung di dalam mansion, Adriano nyatanya tak sanggup menjalani hari-hari hanya menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia butuh yang lain. Ya, sesuatu yang membuat hidupnya menjadi jauh lebih hidup, tentu saja selain dari si pemilik tubuh semampai yang saat itu menghampiri dan duduk di tepian kolam.
Mia memasukan kedua kaki ke dalam air yang berguncang, akibat gerakan yang ditimbulkan oleh Adriano. Dia memperhatikan sang suami yang tengah asyik dengan salah satu aktivitas kesukaannya. "Apa kau tidak kedinginan, Sayang?" seru ibu satu anak itu dengan tidak terlalu nyaring.
Adriano yang sesekali menyelam kemudian timbul lagi, segera berenang ke dekat Mia. Dia berdiri di dalam kolam, kemudian merengkuh pinggul sang istri yang masih duduk sambil memainkan kaki. "Kau tidak ingin berenang bersamaku?" tawar Adriano seraya tersenyum penuh arti. Tatapan matanya sarat akan rayuan yang teramat memabukan.
"Aku takut masuk angin," sahut Mia menanggapi. Dia lalu merapikan rambut basah Adriano, menyisirnya dengan tangan ke arah belakang.
__ADS_1
"Angin dan hawa dingin tidak akan berani mendekatimu, selama kau bersama denganku" rayu Adriano membuat Mia tertawa renyah. Wanita itu kemudian menangkap wajah tampan pria yang selama ini telah berhasil mencuri hatinya.
"Apa yang harus kuberikan untuk membalas rayuan manismu?" tanya Mia lembut.
"Voglio te (Aku ingin dirimu)," bisik Adriano seraya mendekatkan wajahnya kepada Mia, yang segera menyambut sentuhan bibir basah sang suami. Untuk beberapa saat, mereka berdua asyik menikmati kebersamaan yang manis itu, hingga Adriano melepaskan bibirnya dari Mia. "Ayo turunlah," ajaknya seraya menaikkan baju tidur Mia dan melepasnya. Dia membantu Mia masuk ke kolam. "Tidak apa-apa, Sayang. Aku akan terus memelukmu, sehingga kau tak akan pernah merasa kedinginan," ucap pria itu lagi tanpa melepaskan rangkulannya dari tubuh istrinya yang sudah berada di dalam air.
"Apa yang membuatmu tiba-tiba ingin berenang di malam hari?" tanya Mia sambil melingkarkan tangannya pada leher Adriano.
"Untuk menjebakmu," jawab pria bermata biru itu dengan tenang. Sesaat kemudian, Adriano pun tertawa pelan. Makin lama, tatapannya semakin terlihat aneh kepada Mia. Tangannya bergerak nakal menggeserkan penutup segitiga yang Mia kenakan.
"Hentikan," pinta Mia setengah memohon. Namun, bukannya menuruti permintaan sang istri, Adriano justru semakin menggila dalam memperlakukannya. "Adriano ...." Mia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Cuma satu yang keluar dari bibir wanita cantik tersebut, yaitu sebuah erangan tertahan. "Kau curang," ucap Mia lagi ketika Adriano akhirnya mengeluarkan kedua jemari tangannya.
__ADS_1
Pria dengan rambut yang masih basah itu semakin merapatkan tubuh kepada Mia. Sorot mata birunya tampak sayu ketika mereka mulai bersentuhan. Sesaat kemudian, penyatuan itu pun berlangsung dengan ditandainya sebuah lenguhan pelan dari Mia. Adriano pun tersenyum puas. Dia menatap untuk sejenak paras cantik sang istri, dengan titik-titik air yang membasahinya. "Berikan padaku, Mia," bisik Adriano dengan suara beratnya, ketika dia sudah menerobos masuk dengan semakin dalam.
Perlahan, Adriano bergerak maju mundur, membuat air di sekitar mereka berguncang. Makin lama, gerakan itu semakin kuat sehingga menimbulkan sebuah riakan yang cukup besar. Sementara dekapan Mia pun bertambah erat kepada dirinya. Sesekali, wanita cantik itu membenamkan wajah pada pudak sang suami yang tengah bergerak sambil menahan tubuhnya.
Malam kian larut. Suasana pun semakin sepi. Cahaya temaram dari lampu-lampu taman yang berwarna kuning, kian menambah kesan sensual yang mengiringi adegan percintaan sepasang suami istri itu. Entah apa yang memengaruhi Adriano, sehingga dia tak dapat menahan diri dan harus melakukannya di tempat terbuka seperti itu. Terlebih, dia juga kini membawa Mia keluar dari dalam kolam. Setelah memastikan tak ada siapa pun di sana selain mereka berdua, Adriano membaringkan diri pada kursi santai pinggir kolam. Sementara Mia duduk cantik di atas tubuhnya.
Tanpa melepas pakaian dalam masing-masing, mereka masih bisa melakukan hal menyenangkan yang akan selalu menjadi candu bagi keduanya. Adriano menatap Mia sambil menahan perasaan yang sungguh sulit untuk dia lukiskan. "Teruskan, Mia," ucapnya sambil menepuk pinggul sang istri, yang tengah berusaha untuk memberikan kepuasan seutuhnya. Sedangkan Mia, meski dirinya merasa lelah tapi ibu satu anak itu merasa senang ketika Adriano menyukai pelayanan yang dia persembahkan. Terlebih ketika suaminya memperdengarkan suara helaan napas yang berat.
Pada detik-detik terakhir, sang ketua Tigre Nero itu menarik tubuh Mia hingga merapat padanya. Dia rupanya sudah tidak dapat menahan gejolak untuk segera mencapai puncak kenikmatan dari permainan itu. Adriano pun mendesis pelan disertai helaan napas berat tertahan, saat dia memuntahkan semuanya hingga tak tersisa di dalam diri Mia.
Terengah-engah, pria bermata biru itu mendekap tubuh ramping istrinya yang juga terlihat kelelahan. Setelah itu, mereka berdua tertawa geli atas apa yang sudah dilakukan barusan. "Kegilaan apa ini, Mia?" bisik Adriano kembali tertawa pelan.
__ADS_1
"Kau sangat nakal," ucap Mia sambil menegakkan badannya yang masih berada di atas tubuh Adriano. Sedangkan pria itu terus terkekeh.
"Turunlah," suruhnya sambil menepuk pinggul Mia dengan gemas. Sesaat kemudian, Adriano kembali mengajak sang istri untuk membersihkan diri di kolam, tanpa adanya kenakalan.