
Adriano tak segera menjawab. Dia menatap Mia dengan dalam. Sorot matanya begitu lembut dan penuh kasih. Seperti biasa, percikan-percikan cahaya cinta selalu muncul tiap kali sepasang mata biru itu memandang paras cantik ibunda Miabella tersebut. "Ada apa, Sayang?" tanya Mia lagi. Dia tahu bahwa sang suami tengah dilanda kegalauan.
"Mia, aku ....." Adriano menjeda ucapannya. Ragu bagi pria tiga puluh dua tahun itu untuk bercerita kepada sang istri.
"Katakan saja," pinta Mia. Disentuhnya rahang kokoh Adriano dengan lembut.
"Berjanjilah padaku, Mia," pinta Adriano. Dia menggenggam jemari lentik sang istri yang masih berada di wajahnya. Adriano kemudian mencium tangan yang selama ini selalu membelainya dengan penuh cinta kasih.
"Aku harus berjanji apa padamu?" tanya Mia.
"Berjanjilah untuk tetap di dekatku," jawab Adriano. "Aku ingin agar kau selalu bisa percaya pada cinta dan perasaan yang kuberikan padamu. Aku bersumpah bahwa kau dan Miabella adalah anugerah terbesar dalam hidupku," ucapnya dengan yakin.
"Aku tahu itu. Tidak kau katakan pun hal tersebut sudah terlihat jelas, dari semua yang telah dirimu lakukan untukku dan juga Miabella," balas Mia.
"Akan tetapi, aku kerap membuatmu kecewa dan marah," sanggah Adriano.
"Aku marah karena rasa cintaku yang sangat besar," ucap Mia lirih.
Adriano mengela napas dalam-dalam, kemudian mengempaskannya perlahan. Pria itu kemudian berdiri sambil mengulurkan tangannya kepada Mia. "Mari kita bicara di tempat lain," ajaknya. Dia lalu menuntun wanita cantik berambut cokelat itu keluar dari kamar Miabella. Adriano mengajak Mia ke kamar yang mereka tempati.
Sesampainya di dalam kamar, Adriano segera memeluk Mia, membuat rasa heran dalam diri wanita itu kian menyeruak dalam dada. Dia menatap lekat sang suami yang terlihat tak biasa.
"Aku menginginkanmu saat ini," bisik Adriano dengan napas menghangat di wajah cantik Mia.
__ADS_1
Ibu satu anak itu tersenyum lembut. Tanpa banyak bicara, dia melepas kancing kemeja yang Adriano kenakan satu per satu dan melepasnya. Mia kemudian menyentuh lengan kokoh sang suami hingga jemarinya berhenti dan saling menggenggam dengan jemari Adriano. Wanita dua puluh sembilan tahun itu menjinjitkan kaki sambil mendongak, agar dapat meraih bibir sang suami. Setelah dia dapat menyentuhnya, Mia mulai menunjukkan kebolehan yang dia miliki dalam hal berciuman.
Lembut dan menggelitik, sentuhan lidah Mia dalam mulut Adriano begitu melenakan. Semua itu membuat pria bermata biru tadi tak kuasa menahan hasrat kelelakiannya yang kian menggebu, menguasai seluruh akal sehatnya. Tak ada lagi yang Adriano pikirkan saat itu selain tempat tidur. Namun, sebelum dirinya membawa Mia ke sana untuk menuntaskan semua gejolak yang telah bergemuruh dalam dada, tak ada salahnya untuk melakukan sedikit pemanasan. Padahal, satu sentuhan kecil saja dari tangan Mia, telah langsung memantik naluri liar Adriano.
Adriano menggerakkan kedua tangan Mia yang sedang dia genggam ke balik punggung wanita itu. Pria tampan tersebut melipat dan menahannya di sana, selagi dia menjalarkan ciuman panas yang menjelajahi wajah dan leher Mia. Sedangkan Mia tak bisa berbuat apapun, karena tangannya terlipat ke belakang. Dia hanya tertawa manja ketika Adriano menggiringnya mundur ke dekat tempat tidur.
"Kenapa tiba-tiba kau mengajakku bercinta pada siang bolong begini, Adriano?" bisiknya.
"Tak ada waktu khusus untuk melakukan ini, Sayang. Aku selalu ingin menggodamu," balas Adriano. Dia melepaskan pegangannya dari tangan Mia, kemudian merebahkan wanita itu dengan perlahan di atas kasur. Tanpa melepas pakaian yang Mia kenakan, Adriano masih dapat menikmati raga indah istrinya dengan leluasa. Siang itu pun, keduanya saling meluapkan gairah masing-masing dengan lepas, hingga tak ada lagi beban perasaan yang mengganggu keduanya.
Beberapa saat telah berlalu. Mia tampak sedang merapikan rambut dan pakaiannya yang acak-acakan. Sedangkan Adriano pun telah mengenakan kembali kemejanya. Pria itu berdiri di dekat jendela kaca sambil menerawang ke luar.
"Apa kau baik-baik saja, Adriano?" tanya Mia yang seketika menoleh. "Apa yang mengganggumu?" tanya wanita itu lagi.
"Apa yang membuatmu merasa begitu, Sayang?" tanya Mia lagi.
Raut wajah Adriano tiba-tiba berubah. Dia terlihat sedikit gusar saat itu. Namun, bukanlah Adriano jika dirinya tak mampu menguasai diri dan bersembunyi dalam sikap tenang. "Aku sedang diawasi, Mia," jawab pria itu kemudian.
"Diawasi? Siapa yang mengawasimu?" tanya Mia dengan rona serius.
"Seseorang bernama Jacob," jawab Adriano lagi dengan lugas.
"Jacob? Pria yang berbicara denganku waktu itu?" tanya Mia seraya mengernyitkan keningnya. "Bukankah dia sahabatmu?" tanya wanita itu lagi tak percaya.
__ADS_1
"Sebenarnya ... itu adalah pertemuan pertama kami," jawab Adriano. Mau tak mau dia harus berkata jujur kepada istrinya. "Niat kami ke sana untuk mencari Nenad, tapi aku justru bertemu dengan Jacob. Sejak saat itulah dia mulai mengawasiku," jelas Adriano.
"Apa yang dia inginkan darimu?" selidik Mia.
"Jacob ingin agar aku membantunya melakukan sesuatu, tapi langsung kutolak. Karena itulah, dia terus mencari cara untuk mendesak agar aku menerima tawarannya. Satu hal yang membuatku was-was dan terpaksa mengikuti permainan yang dia lakukan adalah ... adalah setelah dia menitipkan sesuatu kepada Francesca saat di rumah sakit," tutur Adriano lagi.
"Memangnya apa isi amplop itu?" tanya Mia yang memang mengetahui hal tersebut.
"Isinya ... isinya adalah foto-foto Miabella," jawab Adriano yang seketika membuat Mia terbelalak. Wanita itu bergerak mundur dengan raut cemas luar biasa. "Putriku?" gumamnya.
"Tenanglah, Mia. Aku berjanji tak akan membiarkan sesuatu yang buruk menimpa kau ataupun Miabella." Dengan segera, Adriano memegangi kedua lengan Mia dan berusaha untuk menenangkannya. Adriano mengantisipasi agar gangguan kecemasan yang sering Mia alami tak terjadi saat itu. Dia segera mendekap erat tubuh istri tercintanya.
"Jacob adalah orang yang cerdik dan juga licik. Namun, aku akan terus berusaha untuk mencari celah agar dapat menghentikan semua permainannya. Maka dari itu, kuminta agar kau mendukungku." Adriano menggenggam erat jemari Mia yang mulai berkeringat.
"Apa yang bisa kulakukan untukmu?" tanya Mia mencoba menenangkan diri.
"Berikan kepercayaanmu padaku. Tolong untuk tetap memegang teguh itu. Apapun yang kulakukan, semuanya hanya untuk kau dan Miabella. Kalian berdua." Genggaman Adriano terasa semakin erat di tangan Mia.
"Apa yang terjadi, Adriano? Apa yang telah kau lakukan?" tanya Mia lagi semakin khawatir.
Adriano kembali mengela napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Mia. Dia harus mengungkapkan semuanya dengan jelas, agar Mia dapat mengerti akan situasi yang dialaminya. Namun, tentu saja Adriano harus menjelaskan itu dengan sangat hati-hati. "Sayang, aku ...." Pria bermata biru itu menjeda kalimatnya sesaat. "Kepulanganku kemarin ke Monaco adalah untuk bertemu dengan Jacob. Dia mengatakan bahwa kami akan membahas sesuatu. Semuanya sudah kupersiapkan dengan baik dan sempurna. Aku membawa serta Pierre dan juga beberapa anak buah dengan peralatan penunjang lainnya. Kami telah mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang akan terjadi," tutur Adriano menerangkan.
"Lalu, apa yang terjadi?" tanya Mia lagi semakin penasaran.
__ADS_1
"Di saat semua persiapan sudah kuanggap sempurna, aku segera bersiap untuk menemui Jacob di salah satu kamar. Namun, ternyata yang ada di sana bukalah dia, melainkan Christiabel."