
Sesaat setelah Juan Pablo meninggalkan Casa de Luca, Adriano masih berdiri terpaku di tempatnya. Dia sama sekali tak mengira, bahwa mereka bisa kecolongan di tempat yang menurutnya paling aman, yaitu tengah-tengah taman yang dikelilingi oleh penjaga. Selain itu, pengawalan serta pengamanan pun berlapis di setiap sudut area perkebunan.
“Hei! Di mana orang aneh tadi!” seru Marco sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling area tersebut. Dia mencari sosok Jacob yang sudah mengacaukan jalannya pesta. Namun, pria itu kini menghilang. Jacob tak terlihat di manapun. Akan tetapi, Adriano tak memedulikan semua itu. Pikiran sang ketua Tigre Nero hanya tertuju kepada Mia.
“Daddy Zio.” Panggilan memelas dari Miabella menyadarkan Adriano. Balita cantik itu langsung digendong oleh Damiano, sesaat setelah Juan Pablo membawa pergi ibunya.
“Bella,” balas Adriano. Pria rupawan bermata biru tersebut segera menghampiri putri kesayangannya. Dia memeluk serta menggendong Miabella erat-erat. “Aku akan membawa ibumu kembali, Principessa. Aku berjanji,” bisiknya lirih, tepat di telinga gadis kecil yang akan berulang tahun sebulan lagi.
“Bagaimana ini, Amico!” Coco maju, bermaksud mendekati Adriano. Namun, Francesca yang telah sah menjadi istrinya langsung mencengkeram erat lengan sang suami sembari menggeleng. Air mata telah membuat maskaranya menjadi luntur, walaupun sama sekali tak mengurangi kecantikan gadis itu.
“Kenapa hal ini terjadi di pernikahan kita, Ricci? Apa kakakku akan mati?” Francesca tak kuasa menahan keresahan hatinya. Bayangan pernikahan berdarah Mia kembali hadir.
“Jangan bicara sembarangan, Francy! Aku tidak terima!” sahut Daniella setengah berseru. “Kau akan melakukan sesuatu bukan, Adriano?” Istri dari Marco tersebut menurunkan Romeo dan Tobia dari gendongan, lalu berjalan cepat. Dia berdiri di hadapan Adriano yang masih lebih banyak diam. Sungguh Mia adalah kekuatan sekaligus kelemahan terbesar dari sang ketua Tigre Nero. “Lakukan sesuatu, Adriano! Jangan diam saja!” sentak Daniella kencang, sampai-sampai Miabella menangis dan menutup kedua telinganya.
“Tenanglah, Dani!” Marco merengkuh tubuh sang istri, lalu membawanya menjauh.
Sementara Adriano megusap punggung Miabella yang menangis kencang. “Principessa. Biar kakek yang menggendongmu,” bujuknya. Dengan lembut, Adriano mengangkat tubuh mungil Miabella dan memindahkannya pada Damiano. Dia lalu segera berbalik ke arah Marco dan Coco dengan tatapan tajam yang tertuju pada kedua pria itu. Sikapnya yang tenang mulai kembali.
Adriano kemudian merogoh saku celana untuk mengeluarkan ponsel. Dengan tatapan yang tak lepas dari Marco dan juga Coco, dia menghubungi seseorang. “Benigno, kuperintahkan kau untuk mengerahkan semua anggota untuk menghabisi seluruh klan Herrera serta semua organisasi kecil yang berafiliasi dengannya. Sekarang juga!” titah Adriano dengan nada datar dan dingin, lalu menutup teleponnya begitu saja.
“Aku sudah melakukan langkah pertama, kini giliranmu Marco,” desis Adriano dengan raut wajah bengis.
“Baiklah. Kalian dengar bukan apa kata tuan D’Angelo, Anak-anak? Bergeraklah sekarang!” seru Marco pada semua anak buahnya yang berjaga di sana.
Mendengar hal itu, Dante dan Serafino berjalan mendekat dengan wajah sedikit cemas. “Ma-maaf, Bos. Bukannya bermaksud untuk melanggar perintah, tapi … kita belum pernah memetakan kekuatan klan Herrera,” ucap Dante.
“Tidak perlu! Kalian bisa memetakan kekuatan sembari menghabisi mereka satu per satu,” seringai Adriano. Sorot matanya tajam mengarah kepada dua pemuda kepercayaannya itu.
“Kau benar. Seperti yang kau katakan sepulang dari Inggris kemarin-kemarin, klan Herrera baru-baru ini saja memasuki wilayah Italia. Aku yakin kekuatan dan kekuasaan mereka masih belum seberapa jika dibandingkan dengan de Luca dan Tigre Nero yang bergabung menjadi satu. Meskipun kita tetap harus selalu waspada dan tidak meremehkan,” timpal Coco yang turut menyampaikan pendapatnya.
__ADS_1
Saat Adriano hendak menanggapi ucapan Coco, ponselnya kembali berdering nyaring. Sebuah panggilan dari nomor disembunyikan yang dia yakini milik Jacob. “Apalagi yang kau inginkan!” bentak Adriano.
“Oh, aku hanya ingin memberitahukan satu informasi penting untukmu, Adriano. Aku yakin kau akan sangat membutuhkannya,” ujar Jacob sembari terkekeh.
“Jangan bertele-tele!” hardik Adriano lagi.
“Aku tahu di mana Elang Rimba menyembunyikan istrimu,” sahut Jacob dengan santainya.
“Katakan!” Satu tangan Adriano terkepal sempurna. Berdebar hatinya menunggu jawaban dari Jacob.
“Elang Rimba menyembunyikan istrimu dalam suatu ruangan, pada sebuah katedral yang berada di kota Milan. Tempat di mana Matteo de Luca menemui ajalnya,” jawab Jacob.
Ponsel yang berada dalam keadaan loud speaker itu membuat semua orang yang mendengarnya menjadi tegang, tak terkecuali Damiano. Dia merupakan saksi hidup atas tewasnya sang putra asuh.
“Pergilah ke sana dan temukan istrimu. Sendirian! Biar kuulangi, datanglah sendirian atau Juan Pablo tak segan-segan bertindak nekat. Terlambat sedikit saja, bisa jadi kau akan kehilangan dua nyawa. Mia dan bayinya,” Jacob tertawa lagi, kemudian mengakhiri panggilannya begitu saja.
“Kau tidak akan melakukan apa yang orang aneh katakan itu bukan, Amico? Bisa saja itu hanya jebakannya untuk memperkeruh suasana,” saran Coco mencoba untuk berpikir jernih.
Dengan yakin, dia menyalakan mesin mobil dan memacunya kencang menuju tempat yang diberitahukan oleh Jacob. Dirinya sempat melirik jumlah pngawal yang tak sebanyak biasanya. Adriano yakin jika mereka pasti sudah bergerak untuk perang terbuka melawan klan Herrera.
Tak membutuhkan waktu lama hingga Adriano tiba di kota Milan. Dia berhenti tepat di pelataran katedral, bersamaan dengan Juan Pablo yang keluar dari lorong. Dia hendak membuka pintu besar yang ada di depannya ketika pintu itu telah didorong dari luar. Juan Pablo melangkah mundur dan siaga, ketika mengetahui Adriano lah yang melakukannya. Dua pria itu saling pandang dan sama-sama tertegun. Akan tetapi, mereka cepat-cepat dapat menguasai diri.
Adriano dengan tenang membalikkan badan, kemudian menutup pintu besar itu. Dia menggunakan balok kayu sebagai penahan, dengan posisi melintang. Adriano kembali menghadap kepada Juan Pablo dengan tatapan membunuh. “Di mana istriku,” desisnya penuh penekanan.
“Akan kuberitahu jika aku sudah meninggalkan tempat ini,” jawab Juan Pablo seraya maju dan berusaha melewati Adriano. Namun, pria bermata biru itu segera mendorong tubuh Juan Pablo kuat-kuat. Pria asal Meksiko yang memiliki tinggi sama dengannya pun mundur beberapa langkah.
“Tak ada satu pun yang akan meninggalkan tempat ini sampai salah satu dari kita mati!” geram Adriano. Tangannya bergerak cepat mengeluarkan pistol dari balik pinggang. Begitu pula Juan Pablo. Dia juga meraih pistol yang selalu tersembunyi di punggung.
“Baiklah jika itu yang kau mau.” Juan Pablo menodongkan pistol tepat di kepala Adriano, sama dengan Adriano yang sudah mengarahkan moncong pistol kesayangannya pada kening Juan Pablo.
__ADS_1
“Aku menolak mati hari ini!” tegas pria berdarah Meksiko itu.
“Kita lihat saja!” Adriano menyeringai dan bersiap menarik pelatuk. Akan tetapi, sebuah gerakan tak terduga dari Juan Pablo telah merebut begitu saja senjata yang berada dalam genggangan Adriano. Dia memutarnya hingga terarah pada si empunya.
Kini Juan Pablo memiliki dua senjata yang siap ditembakkan ke kepala Adriano. “Oh, ternyata semudah ini mengalahkanmu,” ejek Juan Pablo. Akan tetapi, kesombongan pria itu harus segera berakhir, tatkala Adriano mengamankan posisi dengan menampik kedua tangan Juan Pablo, sembari mendorongnya ke atas.
Dua pistol itu meletus secara bersamaan, mengakibatkan dua lubang besar di angit-langit katedral. Tak hanya itu lampu bergaya romawi kuno yang berada tepat di atas mereka ikut patah dan terjatuh, bersamaan dengan Adriano yang menendang ulu hati Juan Pablo. Pria tampan dari Meksiko itu terjengkang ke belakang, bersamaan dengan lampu gantung yang menimpa dirinya. Kedua pistol yang berada di genggaman, terlempar entah ke mana.
Adriano tertawa lebar melihat hal itu. Namun, tawa itu harus memudar ketika ujung lampu gantung yang terbuat dari kayu lancip melayang dan menancap di bahu kirinya. Adalah Juan Pablo yang melakukan hal itu. Tumpukan lampu gantung besar di atas tubuh pria itu hanya memberikan sedikit luka yang sama sekali tak berarti.
Juan Pablo bangkit dan menerjang Adriano yang kesakitan. Dia memukul dada suami dari Mia tersebut secara membabi buta. Dia bahkan menghantam kayu yang tertancap di bahu Adriano hingga menghujam semakin dalam. Darah menetes semakin deras, membuat pandangan Adriano sedikit berkunang-kunang. Akan tetapi, dia tak hendak menyerah.
Adriano membalas serangan Juan Pablo dengan pukulan tangan kanan yang tepat mengarah ke rahang Juan Pablo, sampai pria itu jatuh tersungkur di depan kakinya. Tak berhenti sampai di situ, Adriano melanjutkan dengan menghantam ulu hati Juan menggunakan lutut dan kembali menyasar wajah tampannya dengan tendangan di kaki.
Juan Pablo sempat kehilangan keseimbangan untuk sesaat hingga ambruk di lantai. Dia bermaksud untuk berdiri tepat pada saat Adriano hendak menendangnya lagi. Akan tetapi, Juan Pablo yang tangguh segera menghalau tendangan itu dengan kakinya. Adriano ikut terjatuh dalam keadaan tertelungkup.
Melihat kesempatan emas, Juan Pablo segera berdiri dan berada di atas tubuh Adriano. Dengan kekuatan penuh, dia mencengkeram kepala Adriano dan membentur-benturkannya ke lantai. Pria bermata biru itu dapat mendengar bunyi retakan yang berasal dari tulang hidungnya. Sedikit lagi, dia akan kehilangan kesadaran. Beruntung, wajah cantik Mia seakan menyadarkannya bahwa dia tidak boleh mati dengan mudah.
Dengan sisa-sisa kekuatan, Adriano meraih tangan Juan Pablo dan menariknya. Sayang tenaga Juan Pablo terlalu kuat untuk dirinya yang telah kehabisan banyak darah. Pria Meksiko itu masih beringas memukulkan wajah Adriano ke lantai. Sampai ketika pandangan Adriano yang mulai memburam, menangkap serpihan kayu di dekatnya yang berasal dari lampu gantung.
Dia meraih serpihan kayu itu dan menancapkannya di punggung tangan Juan Pablo yang berada di kepalanya.
Juan Pablo yang kesakitan spontan melepaskan tangannya. Tak ingin membuang waktu, Adriano membalikkan badan seraya mencabut kayu yang tertancap di tangan Juan Pablo tadi. Dia segera bangkit walaupun rasa nyeri menyerang sekujur tubuh. Bersenjatakan kayu, Adriano bagaikan kesetanan menerjang Juan Pablo. Dia memukul, menendang, dan menusukkan kayu itu ke dada bidang Juan Pablo. Satu tusukan terakhir mengenai perut Juan, membuat pria itu limbung.
Juan Pablo membungkuk menahan sakit. Dia sudah hendak membalas kembali serangan dari Adriano. Akan tetapi, niatnya itu tak terlaksana ketika Adriano menyarangkan satu pukulan terakhir ke perutnya yang terluka. Suami Gianna itu jatuh telentang. Matanya tajam menatap Adriano yang sudah bersiap menghabisinya dengan kekuatan yang tersisa.
🍒 🍒 🍒
Hai, yang lagi pada tegang. Rileks dulu sambil baca ini.
__ADS_1