
Kurang dari dua jam perjalanan, kedua pria itu akhirnya tiba di bandara Zagreb, ibukota Kroasia. Menurut alamat yang mereka dapatkan dari link, Andreja Borislav tinggal di Karlovac, yaitu sebuah kota kecil yang terletak agak jauh dari kawasan ibukota. Adriano memulai perjalanannya dengan sebuah mobil sewaan yang berhasil dia dapatkan di luar bandara.
Lagi-lagi, Coco harus mengakui kehebatan pria itu dalam bernegosiasi. Karakter Adriano yang tenang, membuat lawan bicaranya mudah terhanyut oleh perkataan pria bermata biru tersebut. Pantaslah jika Adriano berhasil menjadi seorang pengusaha sukses. Sementara Coco sekali lagi hanya dapat menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sepertinya kau bisa tenang menitipkan Mia pada pria itu, Theo," ucap pria bermata cokelat tersebut dalam hati. Dia lalu mengempaskan napas pelan. Rupanya, selama ini Coco terus mengawasi Adriano hanya untuk menguji kelayakan pria itu. Dia tak akan rela jika posisi Matteo, digantikan oleh seseorang yang dianggapnya tak layak untuk Mia. Bagaimanapun juga, Mia sudah seperti saudari kandung baginya.
Setengah jam sudah mereka lalui, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah padang rumput luas yang berbatasan dengan sebuah sungai besar. Di tengah-tengah padang rumput itu, terdapat rumah dua lantai yang terbuat dari kayu.
“Apa dia tinggal di sana?” Coco menggunakan teropongnya dan mulai mengamati rumah yang terkesan kosong itu.
“Apa kau melihat ada pergerakan?” Adriano balik bertanya.
Coco memutar bagian tengah teropongnya agar mendapatkan gambar bayangan yang tepat, “Tidak terlihat apapun di sana. Bagaimana?” Coco meminta pendapat.
“Kita langsung masuk saja,” Adriano memutar kemudi dan melajukan kendaraan melewati jembatan, lalu melintasi padang rumput hingga berhenti tepat di depan rumah yang terkesan angker tersebut.
Baru saja, Coco membuka pintu mobil, tiba-tiba saja dirinya sudah diberondong tembakan dari bagian atas rumah kayu tadi. Spontan, Coco masuk kembali dan menunduk dalam-dalam demi menghindari peluru yang berterbangan ke arah mereka. Beberapa bagian dari mobil sewaan itu pun berlubang.
Adriano sigap menarik pistolnya lalu memperhatikan sekitar. Dia mencari sesuatu yang bisa dijadikan pengalihan perhatian. “Ada apa di dalam dashboard itu, Ricci? Coba tunjukkan padaku!” perintahnya tegas.
Tanpa banyak bicara, Coco membuka dashboard dengan hati-hati sambil tetap berlindung dari desingan peluru yang seakan tak ada habisnya. Di dalam sana, dia hanya dapat menemukan beberapa lembar kertas dan sebuah boneka teddy bear berukuran kecil. “Kenapa ada boneka di sini?” gumam Coco keheranan.
“Berikan semuanya padaku,” pinta Adriano.
Coco pun menyerahkan semuanya pada Adriano yang tetap berada posisi menunduk, sama seperti dirinya. Adriano lalu mengikat kertas-kertas dan boneka itu menjadi satu, menggunakan gelang paracord miliknya.
“Apa yang kau lakukan?” bisik Coco tak mengerti.
“Lihat saja,” bisik Adriano seraya tersenyum. Dia kemudian membuka pintu mobil lebar-lebar yang segera disambut oleh tembakan sampai pintu mobil itu berlubang hingga tak berbentuk. Tembakan tadi berhenti untuk beberapa saat. Saat itulah, Adriano melemparkan bonekanya ke jendela lantai dua yang kembali disambut sebuah tembakan lagi. Kali ini tembakan tersebut menyasar pada boneka beruang.
“Tembakannya berasal dari atap!” seru Adriano sembari menarik pelatuk dan mengarahkan pistol ke arah atap rumah. Dua kali pistol Adriano menyalak. Namun, tidak ada balasan lagi dari penembak misterius tadi.
“Sepertinya pelurumu mengenainya!” seru Coco kegirangan.
__ADS_1
“Ayo, cepat!” Adriano memberi aba-aba pada Coco untuk segera masuk ke dalam rumah tersebut. Coco menendang bagian pintu hingga jebol, lalu mendorongnya penuh waspada. Mereka berdua memasuki rumah itu dengan sangat hati-hati dan tanpa suara.
Sementara Adriano sudah bersiap dengan pistol di genggaman dan mengacungkannya ke segala arah. “Lantai satu kosong,” ucapnya.
“Kita ke lantai dua,” ajak Coco sambil merogoh sesuatu. Namun, bukannya mengambil senjata, pria itu malah mengambil ponselnya dan mulai merekam.
“Apa yang kau lakukan?” tegur Adriano dengan suara tertahan.
“Beraksilah, Adriano. Aku akan mendokumentasikannya,” jawab Coco dengan enteng dan tanpa beban sama sekali.
Adriano hanya menggeleng sambil mendengus pelan. Waspada, dia melangkah menaiki tangga menuju ke lantai dua dengan diikuti oleh Coco yang masih terus merekam dengan ponselnya.
Pistol milik Adriano sudah berada dalam posisi siap. Pada anak tangga teratas, Adriano menghentikan geraknya, lalu merunduk. Rupanya ia menghindari tembakan yang tiba-tiba muncul dari seseorang. Adriano pun segera membalas tembakan itu dan tepat mengenai lengan pria misterius yang kini dapat dia lihat dengan jelas sosoknya.
Adalah seorang pria berkulit putih dengan janggut lebat. Pria itu memekik kesakitan sembari memegangi bahunya. Akan tetapi, dia masih tetap memegang senapannya dan mengarahkan moncong senjata itu kepada Adriano, lalu kembali memuntahkan peluru. Tembakan tadi tepat mengenai pistol yang Adriano pegang, hingga benda itu terlempar jauh darinya.
“Gawat!” seru Coco sambil terus merekam.
Satu tangan pria itu membalas pukulan Adriano. Beruntung, suami dari Mia tersebut sempat mengelak. Secepat kilat, dia membalas dengan menumbuk ulu hati pria yang menjadi lawannya menggunakan kepala, hingga pria berjanggut lebat tersebut akhirnya jatuh terjengkang.
Adriano segera duduk di atas perut pria itu dan menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi. Namun, lagi-lagi pria tersebut dapat membalas serangan yang Adriano layangkan, dengan meremas pinggang Adriano sekencang mungkin. Kini, giliran pria bermata biru itu yang memekik kesakitan. Konsentrasinya terpecah. Saat itulah pria berjanggut tadi menekuk lututnya dan menghantam punggung Adriano dengan kuat.
Adriano jatuh tersungkur, tetapi dia berhasil meraih senjata laras panjang yang berada di dekat kakinya. Pria rupawan tersebut melakukan gerakan salto dan berguling ke belakang pria tinggi besar yang saat itu tengah berusaha untuk duduk. Adriano segera mengalungkan senapan tadi ke leher si pria asing dan menekannya keras-keras. Dia berusaha mencekik pria tersebut dengan menggunakan senapan. Akan tetapi, pria itu tak jua mau mengalah. Satu tangannya yang terluka, berusaha menarik senapan yang melintang di lehernya, sementara tangan yang lain terangat dan berusaha memukul wajah Adriano. Pukulan yang dilayangkannya tepat mengenai pelipis dan bibir Adriano hingga sobek.
Darah pun menetes. Adriano juga mulai merasakan nyeri di keningnya. Namun, dia tak berhenti mencekik pria itu dengan sekuat tenaga. “Katakan siapa yang menyuruhmu untuk membunuh Matteo de Luca?” Adriano mengesampingkan rasa nyeri. Nada bicara dan sikapnya terlihat sangat menakutkan. Sisi lain Adriano yang baru Coco ketahui saat itu. Raut wajah yang selama ini selalu terlihat tenang dengan hiasan senyum ramah, tak terlihat sama sekali.
“Bunuh saja aku!” desis pria yang tak lain adalah Andreja Borislav. Pria itu mulai kesulitan menghirup oksigen.
“Tanpa kau minta pun aku pasti akan membunuhmu, tapi tidak sekarang,” Adriano semakin menekan senapan yang melintang di leher Andreja Borislav dengan kuat. Dia juga melingkarkan kakinya ke atas kaki pria itu untuk mengunci pergerakan yang mungkin saja tak terdeteksi olehnya.
“Katakan atau kau akan menjadi saksi tulang lehermu yang patah sebentar lagi!” ancam Adriano dengan seringainya yang tampak sangat menakutkan. Akan tetapi, pria itu tetap menolak untuk membuka mulutnya.
__ADS_1
“Satu,” Adriano sedikit mengangkat senapan sehingga pria itu mendongak. Otot-ototnya timbul di sekitar pergelangan akibat besarnya tenaga yang dia keluarkan, membuat pria berjanggut tersebut melotot dengan wajah yang memerah. Dia terlihat semakin kesulitan mengambil napas.
“Apa kau sudah merasakan paru-parumu terbakar? Apakah kau sudah mulai berhalusinasi sekarang? Dapatkah kau melihat malaikat maut yang sudah bersiap mencabut nyawamu?” Adriano kembali menyeringai lebar.
Coco semakin tertegun melihatnya. Wajah Adriano saat itu tampak begitu berbeda. Pria tampan itu seolah menjelma menjadi sosok pembunuh berdarah dingin yang amat keji.
“Thomas Bolton yang menyuruhku! Dia yang membayarku! Cari dia di London,” akhirnya pria tinggi besar itu menjawab dengan sisa-sisa napas, sebelum akhirnya dia pun terkulai lemah tak bernyawa.
Adriano akhirnya melonggarkan senapan yang dia gunakan untuk mencekik leher pria itu, kemudian melemparkannya begitu saja ke atas lantai. Dengan terengah, dia bangkit dan berdiri tegak. Tak lupa, pria itu menepuk-nepuk celana hitamnya yang kotor. Wajah pria bermata biru tersebut tampak begitu datar, seolah tak pernah terjadi apapun sebelumnya.
“A-apa dia sudah mati?” tanya Coco terbata sembari menelan ludah. Posisi kamera ponselnya masih mengarah pada jasad yang tergeletak di lantai.
“Sepertinya begitu,” jawab Adriano kalem seraya menyunggingkan senyuman khasnya. Dia berjalan melewati Coco dengan tenang, seakan-akan yang baru saja dia habisi hanyalah seekor tikus pengerat. “Kita kembali lagi ke Palermo dan mengabarkan semuanya kepada Marco. Setelah itu, kita beristirahat di mansionku sambil membahas langkah selanjutnya,” ucap Adriano lagi.
“Langkah selanjutnya?” ulang Coco.
“Ya. Kau dengar bukan apa kata pria itu sebelum dia mati? Thomas Bolton yang membayarnya,” jawab Adriano seraya berjalan menuruni tangga. Tak terlihat rasa lelah sama sekali dalam diri pria itu.
“Apakah itu artinya, kita akan pergi ke London?” tanya Coco lagi.
"Ya, setelah aku bertemu Mia dan Miabella, tentunya” jawab Adriano tenang. Pada anak tangga terakhir, dia menghentikan langkah, kemudian berbalik menghadap Coco. “Kuharap saat di London nanti, kau tak hanya sekadar mendokumentasikan segala sesuatu yang kulakukan. Buatlah Francesca merasa bangga karena telah memilih dirimu,” sindirnya.
“Kita lihat saja nanti. Apakah mood-ku datang untuk membantumu atau tidak,” sekarang giliran Coco yang melewati Adriano begitu saja dengan tenang. Pria itu berlalu tanpa ada beban sama sekali, membuat Adriano kembali mengempaskan napas panjang seraya menggeleng tak mengerti.
🍒
🍒
🍒
Rekomendasi novel keren yang bisa ditambahkan ke rak. Segera cek dan ikuti terus jalan ceritanya.
__ADS_1