Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Intuizione


__ADS_3

Beberapa saat suasana hening menyergap ketiganya. Juan Pablo selaku tamu di sana merasa semakin tidak nyaman. Dia menggerutu dalam hati karena telah datang di saat yang tidak tepat. Namun, pada akhirnya Juan Pablo dapat menguasai diri dan mencoba untuk kembali fokus pada tujuannya. Akan tetapi, wajah cemberut Mia terlihat begitu menggemaskan dan sempat membuatnya kembali hilang konsentrasi. Juan Pablo menggeleng, lalu mendehem pelan.


“Jadi, apakah Anda mengetahui keberadaan Sergei Redomir, Tuan D’Angelo?” dia akhirnya memutuskan untuk memecah keheningan tersebut


“Tidak, Tuan Herrera. Aku juga belum bertemu dengannya semenjak kembali dari Inggris,” jawab Adriano tegas. Seutas senyuman tersungging di bibir tipisnya. “Kenapa Anda tidak sekalian saja mencarinya ke Moskow? Setahuku Sergei sering sekali pulang ke negara asalnya,” saran Adriano masih tetap terlihat tenang.


“Begitu rupanya,” Juan Pablo mengangguk pelan. Wajahnya terlihat seperti tengah memikirkan sesuatu.


“Apakah ada masalah yang serius?” Adriano balik bertanya.


“Tidak juga. Don Vargas membutuhkan sedikit bantuannya. Ini hanya masalah seputar proyek. Seharusnya Sergei Redomir sudah mengatasi masalah pembebasan lahan. Namun, dia menghilang sebelum semua pekerjaannya selesai. Merepotkan sekali,” keluh Juan Pablo.


“Selama menjadi rekan bisnisku, Sergei Redomir memang kerap bersikap seperti itu. Dia selalu menghilang sesuka hatinya, lalu akan muncul dengan tiba-tiba di saat tak terduga,” Adriano berkata demikian sambil meraih jemari Mia dan mere•masnya perlahan, membuat Mia segera menoleh padanya. Mia tahu bahwa ada sesuatu yang tak beres. Adriano terkadang melakukan hal tersebut saat dirinya merasa gelisah. Namun, karena sikapnya yang selalu terlihat tenang, maka tak semua orang dapat memahami keresahan yang pria itu rasakan.


“Sepertinya aku harus mencari keberadaan Sergei di tempat lain. Baiklah, akan kucoba menghubungi rekan-rekannya di Moskow,” gumam Juan Pablo. Dia lalu berdiri dan hendak berpamitan. Bersamaan dengan itu, Damiano muncul di ruang tamu. Tangan kanannya memegangi tongkat, sedangkan tangan kirinya digandeng erat oleh Miabella. Gadis kecil itu menuntun sang kakek pelan-pelan.


“Paman? Kenapa tidak beristirahat saja di dalam kamar?” dengan segera Mia berdiri dan menghampiri pria tua itu. Dia memegangi serta memapah tubuh ringkih Damiano.


“Cuaca sedang panas, Nak. Aku ingin merasakan sinar matahari. Lagi pula, aku sudah terlalu lama berada di dalam kamar. Rasanya sangat membosankan. Kebetulan Bella ....” Damiano tak melanjutkan kalimatnya, ketika dia menangkap sosok Juan Pablo. Damiano begitu terpana dengan sosok pria tegap yang berdiri gagah di hadapannya. Seorang pria muda dengan wajah yang mengingatkan dia pada mendiang putra asuhnya Matteo. Untuk sesaat, baik Mia maupun Adriano sempat mengamati perubahan mimik wajah Damiano yang terlihat sedikit aneh.


“Siapa dia?” tanyanya lirih. Sorot mata tua itu tampak sendu.


“Seorang kolega,” jawab Adriano sembari memaksakan untuk tersenyum.

__ADS_1


Melihat keberadaan Damiano di sana, Juan Pablo segera maju kemudian mengulurkan tangan, “Juan Pablo Herrera, Tuan ....”


“Damiano Baresi,” dia memindahkan tongkat ke tangan kiri, lalu membalas jabat tangan yang disodorkan Juan Pablo padanya.


Melihat hal itu, Miabella buru-buru bersembunyi di belakang sang kakek. Gadis kecil tersebut hanya mengintip dari balik tubuh Damiano. Namun, dengan segera dia menarik kepalanya hingga benar-benar tak terlihat, ketika Juan Pablo menoleh dan menatapnya. Pria yang biasa menunjukkan raut dingin itu, kini menyunggingkan sebuah senyuman kecil yang begitu samar atas sikap Miabella.


“Senang bertemu dengan Anda, Tuan Baresi,” ucap Juan Pablo seraya mengangguk pelan. Sesaat kemudian, dia memutuskan untuk segera berpamitan. Pria itu terlihat begitu menawan saat berjalan ke halaman Casa de Luca sambil mengenakan kaca mata hitam yang sejak tadi dipegangnya. Juan Pablo lalu masuk ke mobil. Tak berselang lama, pria bermata cokelat madu itu segera melajukan sedan hitam yang dia kendarai dengan kecepatan pelan.


“Apa kau baik-baik saja, Paman?” tanya Mia setelah memperhatikan Damiano yang lebih banyak diam setelah kepergian Juan Pablo.


“Ah, iya te-tentu. Aku baik-baik saja, Nak,” Damiano tersadar. Dia juga tergagap dalam menjawab pertanyaan Mia. Pria tua tersebut kemudian mengarahkan pandangannya pada Miabella. Dia lalu mengangguk sebelum meninggalkan Mia berdua dengan Adriano di ruang tamu. Damiano kembali melanjutkan langkahnya bersama Miabella untuk berjalan-jalan di dekat perkebunan.


Mia masih merasakan ada sesuatu yang aneh dari Damiano. Akan tetapi, saat itu dia lebih memilih untuk mengalihkan perhatiannya kepada Adriano yang tampak dipenuhi beban. “Kenapa lagi, Adriano?” wanita itu rupanya masih menyimpan kekesalan terhadap sang suami. Itu terbukti dari nada bicaranya yang terdengar ketus.


“Apa maksudmu?” tanya Mia. Nada bicaranya mulai melunak, terlebih saat melihat tatap mata Adriano yang kian sayu.


Adriano mengela napas dalam-dalam, kemudian mengempaskannya perlahan. Dia memilih untuk kembali duduk dengan posisi setengah membungkuk. Pada awalnya, pria itu merapatkan kedua telapak tangan dan menggosok-gosokannya perlahan. Tak lama, dia meletakkan telapak tangan yang masih saling menempel itu di depan bibir. Tatap mata Adriano pun tampak menerawang.


“Katakan ada apa, Adriano?” tanya Mia lagi yang melihat gelagat tak biasa dan begitu aneh dari sang suami. Dia duduk di sebelah pria itu sambil menghadap padanya. Melihat sikap Adriano yang demikian, Mia pun menjadi ikut cemas. Disentuhnya punggung tegap pria tiga puluh dua tahun itu, kemudian dia usap-usap perlahan. Mia lalu memindahkan sentuhan lembutnya pada rambut belakang Adriano yang tidak tersisir rapi seperti biasa.


Mendapat perlakuan lembut seperti itu dari sang istri, Adriano merasa sangat istimewa. Dia segera menoleh, kemudian meraih wajah cantik Mia. Kembali diciumnya bibir merah wanita itu untuk beberapa saat, hingga semua keresahan dalam dirinya luruh dan sirna seketika. Setelah itu, barulah Adriano melepaskan ciumannya.


“Ada apa, Sayang?” tanya Mia lagi seraya mengusap lembut bibir sang suami.

__ADS_1


“Juan Pablo datang menemuiku untuk mencari seseorang yang telah mati,” jawab Adriano lirih.


“Apa?” mata indah Mia membulat dengan rona tak percaya.


“Ya, Mia. Aku sudah membunuh Sergei Redomir. Aku harus melakukan itu demi membalaskan dendam Matteo,” ungkap Adriano membuat Mia semakin terbelalak dengan mulut sedikit terbuka.


“Adriano, ke-kenapa?” Mia terbata. “Sudah kukatakan hentikan semua ini. Aku mengikhlaskan segalanya tentang Matteo. Biarlah orang-orang itu mendapat karmanya sendiri dari Tuhan. Kau tak perlu ikut campur lagi. Berapa kali harus kukatakan padamu,” mata coklatnya berkaca-kaca hingga sebutir air bening meleleh di pipi mulus itu.


“Aku sudah bersumpah padamu, Mia. Ingatlah perjanjian kita sebelum menikah dulu ...."


“Perjanjian itu batal, Adriano!” tegas Mia memotong perkataan suaminya begitu saja.


“Perjanjian itu batal sejak aku dengan sukarela menyerahkan diri dan cintaku hanya untukmu,” Mia menangkup wajah tampan Adriano dan terisak. “Tolong jangan berbuat sesuatu yang sekiranya bisa membahayakan dirimu. Aku sungguh-sungguh tak sanggup lagi. Jika kau mati, maka saat itu juga aku akan membunuh diriku sendiri dan ....”


Adriano menghentikan kalimat mengerikan yang meluncur dari bibir Mia dengan sebuah ciuman. “Berapa kali harus kukatakan jika aku tak akan mati semudah itu, Mia? Lagi pula, bukan itu yang kutakutkan,” ujarnya sesaat setelah melepaskan ciuman.


“Lalu, apa?” tanya Mia. Pipinya kini telah basah oleh air mata.


“Jika, suatu saat Juan Pablo menemukan bukti-bukti bahwa aku terlibat dalam pembunuhan Sergei, mungkin Don Vargas akan dengan mudah menjebloskanku dalam penjara,” jawab Adriano.


🍒🍒🍒


Satu lagi rekomendasi novel keren dari ceuceu. Jangan lupa dicek.

__ADS_1



__ADS_2