
Adriano sedang melakukan push up di bukaan lantai dua rumahnya, dengan pemandangan yang langsung menghadap ke laut. Di atas punggung dengan tato bergambar seekor black panther itu, Miabella tampak duduk manis. Sesekali, gadis kecil bermata abu-abu tersebut bertepuk tangan sambil tertawa riang, saat tubuhnya bergerak naik turun mengikuti irama yang dihasilkan oleh sang ayah. Sedangkan Adriano seakan tak terganggu sama sekali.
"Astaga, Bella. Apa yang kau lakukan, Nak?" tegur Damiano yang baru muncul di sana. Pria tua itu menggeleng seraya berdecak pelan.
"Tak apa, Damiano. Dia sudah biasa menemaniku seperti ini," ujar Adriano tanpa menoleh. Titik-titik keringat, tampak sudah membasahi tubuh atletisnya saat itu.
"Apa aku sudah bertambah berat, Daddy Zio?" tanya Miabella sambil kembali bertepuk tangan. Entah apa yang membuat balita itu terlihat sangat antusias. Namun, pada dasarnya Miabella memang selalu memperlihatkan sikap yang hangat dan ceria, di hadapan orang-orang yang telah dekat dengannya.
"Ya, Principessa. Kau sedikit lebih berat dari tiga hari yang lalu," jawab Adriano berusaha menyenangkan putri sambungnya, sehingga Miabella kembali tertawa riang. Tawanya terlihat sangat lebar.
"Kakek, ayo kemari," ajak gadis kecil itu sambil menggerakkan tangannya sebagai isyarat. "Ayo ikut duduk di punggung Daddy Zio bersamaku," celotehnya, membuat Damiano seketika terbahak.
"Tidak usah, Nak. Aku duduk di sini saja," tolak Damiano yang kemudian memilih salah satu kursi kayu di dekat meja berbentuk bundar. Untuk sejenak, dia asyik memperhatikan Adriano yang tengah melakukan olah fisik dengan tanpa merasa terganggu oleh sikap iseng Miabella. "Ke mana Mia? Dia belum kelihatan dari tadi," tanya Damiano setelah beberapa saat kemudian.
"Ibuku selalu bangun siang, Kakek," sahut Miabella apa adanya. Sesaat kemudian, dia tiba-tiba turun dari atas punggung Adriano. "Aku akan membangunkan ibu," ucap Miabella lagi sambil berlari ke dalam.
Seketika Adriano tertegun. Dia ingat jika Mia masih belum berpakaian, setelah semalam mereka habiskan dengan beberapa kali permainan. Akan tetapi, dia tidak mungkin pergi begitu saja dari sana, terlebih Damiano sedang memperhatikannya. Adriano pun mengakhiri olah raga ringan yang biasa dia lakukan setiap pagi, kemudian berdiri. Pria bertubuh jangkung itu meraih handuk kecil, yang digantungkan pada sandaran salah satu kursi kayu. Sambil menyeka keringat yang membasahi tubuh, pria bermata biru tersebut duduk berhadapan dengan Damiano. "Bagaimana Yunani?" tanyanya memulai percakapan dengan sebuah basa-basi ringan. Setelah tiga hari berada di sana, Adriano baru terpikir menanyakan hal itu kepada Damiano.
"Sangat luar biasa, Nak. Kau tahu bukan, ini adalah kedua kalinya aku keluar dari Italia, setelah dari Monaco tentunya. Aroma setiap negara ternyata sangat berbeda," sahut Damiano dengan nada bicaranya yang selalu terdengar sangat tenang.
"Ya, kau benar. Itulah yang membuatku senang melakukan perjalanan ke banyak negara," balas Adriano menanggapi ucapan pria tua di hadapannya.
"Apa kau pernah mengajak ayahmu kemari, Nak?" tanya Damiano, membuat pria muda di hadapannya seketika tertegun. Adriano pun menggeleng pelan. "Sayang sekali, Adriano," sesal Damiano dengan diiringi senyuman getir.
__ADS_1
"Aku baru bertemu lagi dengannya kemarin-kemarin. Lagi pula, hubungan kami tidak terlalu harmonis. Ada terlalu banyak rasa canggung di antara aku dan tuan Emiliano Moriarty," tutur Adriano seraya mengempskan napas dalam-dalam.
"Kenapa tidak kau coba untuk memperbaiki hal itu, Nak?" sarannya. "Sebenarnya, aku merasa tak enak hati karena kau begitu baik padaku, tapi bersikap dingin terhadap ayah kandungmu sendiri."
"Ceritanya terlalu panjang, Damiano. Sebuah kisah yang sangat buruk dan meninggalkan jejak mengerikan dalam ingatanku," jelas Adriano dengan tatapan menerawang pada Laut Aegea yang berwarna biru.
"Sepanjang dan seburuk apa kisah antara kau dan ayahmu, tetap saja ikatan darah menyatukan kalian berdua. Hal itu menjadikan dirimu harus selalu dekat dengannya. Andai kau tahu, Adriano. Tuan Moriarty kerap bercerita padaku tentang segala keresahan hatinya selama ini," Damiano masih menatap lekat pria rupawan dengan rambut yang agak basah oleh keringat.
"Usianya sudah semakin tua, sama sepertiku. Aku bisa mengatakan bahwa hidup ini sangat indah. Di saat Tuhan menakdirkanku untuk hidup sendiri, di sisi lain Dia mengirimkan Theo, Coco, dan juga dirimu. Aku merasa seperti memiliki tiga orang putra yang luar biasa. Sedangkan tuan Moriarty, justru sebaliknya. Aku tahu bahwa dia sangat bersedih, Nak," Damiano mengela napas dalam-dalam, kemudian mengempaskannya perlahan.
Adriano terdiam. Dia mungkin tengah memikirkan semua kata-kata dari pengasuh Matteo tersebut. Namun, dirinya pun belum dapat mememukan rasa itu terhadap sang ayah, meski terkadang dia juga merasa iba kepada pria tersebut.
Sesaat kemudian, Adriano teringat pada percakapannya dengan Arsen kemarin. "Oh ya, Damiano. Bukankah kau sedang membutuhkan seorang pekerja untuk di perkebunan?" tanyanya memastikan.
"Ayah mertua Arsen merupakan buruh pada salah satu perkebunan anggur, yang berada di Piacenza. Namun, majikannya bukanlah orang yang baik, sehingga kerap membuat dia tidak nyaman. Apakah kau bisa membantunya untuk bergabung di perkebunan Casa de Luca?"
"Oh, tidak masalah. Jika memang dia butuh pekerjaan, maka aku bisa memberikan tempat untuknya. Bila ayah mertua Arsen cocok dan memenuhi kriteria menjadi mandor, maka dia bisa mendapatkan posisi itu. Namun, jika dirasa kurang cocok, maka akan kupindahkan ke bagian lain," jelas Damiano. "Senang rasanya jika kita bisa bekerja dengan orang-orang yang merupakan keluarga sendiri," ucap pria tua itu lagi.
"Ya, kau benar," sahut Adriano menanggapi. Akan tetapi, sebelum dia sempat kembali melanjutkan ucapannya, Mia lebih dulu muncul di sana dengan membawa sebuah ponsel yang tak lain milik Adriano sendiri. Wanita cantik itu, selalu saja berhasil mengalihkan perhatian sang ketua Tigre Nero. Namun, Adriano harus mengernyitkan kening, saat melihat raut wajah Mia yang tampak dipenuhi oleh keresahan. "Ada apa, Sayang?" tanyanya seraya berdiri menyambut sang istri.
"Tuan Emiliano Moriarty baru saja menghubungimu, Adriano. Dia mengatakan bahwa ... bahwa ... nyonya Matilda D'Angelo telah tiada," terang Mia dengan agak gugup dan terlihat gelisah.
Seketika, Adriano membelalakan kedua mata karena terkejut. Dia lalu menerima ponsel yang Mia sodorkan padanya, kemudian segera menghubungi sang ayah. Tak membutuhkan waktu yang lama hingga panggilan itu dapat tersambung.
__ADS_1
"Pronto," terdengar sapaan dari ujung telepon.
"Padre?" balas Adriano. Dia terdiam sejenak. “Benarkah yang baru saja kudengar?” suaranya terdengar bergetar, lalu terdiam sejenak. “Tak kusangka akan secepat itu. Baru saja aku berniat untuk memperbaiki tempat tinggalnya,” Adriano mende•sah pelan, lalu kembali duduk di samping Damiano dengan mencondongkan badan. Dia menumpukan siku tangan pada paha dan menatap kosong ke arah lantai.
“Sayang,” Mia mendekat, lalu berlutut di hadapan pria itu. Diusapnya kepala Adriano dengan lembut. Sesaat kemudian, Mia pun memeluknya erat dan hangat.
“Ayo, Bella. Kita mewarnai di kamarmu,” Damiano sangat mengerti jika suami istri itu membutuhkan waktu untuk berdua saja, sehingga dia mengajak Miabella agar berlalu dari bukaan itu. Miabella juga tak banyak bicara, gadis kecil tersebut hanya mengangguk dan menurut. Satu tangannya dituntun oleh Damiano. Pria itu kemudian melangkah masuk bersama sang cucu kesayangan.
“Luapkan semuanya padaku, Sayang. Jangan dipendam sendiri,” hibur Mia. Dia masih dalam posisi berlutut sambil terus mengelus rambut Adriano yang menutupi wajah dengan kedua tangan. Perlahan, disingkirkannya tangan kekar itu sehingga tampaklah pipi sang suami yang telah basah oleh air mata. “Oh, Adriano,” Mia segera memeluk suaminya. "Kau menangis, Sayang?" suaranya terdengar lembut dan juga lirih.
Adriano pun segera membalas pelukan Mia. Dia sangat membutuhkan hal itu.
“Padahal aku baru saja bertemu dengannya. Seseorang yang paling dekat dengan ibuku, Mia,” sesal Adriano dengan suara yang teramat lirih. Air matanya menetes di pundak Mia. “Sekarang tak ada lagi seseorang yang mendekatkanku pada sosok ibu," sesalnya.
“Kau salah, Sayangku. Kau masih memiliki seseorang, tuan Emiliano Moriarty. Seburuk-buruknya dia, tuan Emiliano adalah salah satu pintu yang membawamu hadir ke dunia, selain nyonya Domenica,” tutur Mia lirih.
“Entahlah, Mia,” Adriano menggelang lemah sambil terus memeluk erat tubuh ramping istrinya. “Maafkan jika aku tidak bisa memenuhi janjiku,” ujarnya lagi.
“Janji apa?” Mia mengurai pelukan dan menatap lembut pada Adriano sambil menangkup paras rupawan itu.
“Aku tak bisa mengajakmu berkeliling Yunani kali ini, karena kita harus kembali ke Italia secepatnya,” jawab Adriano lirih.
“Tentu saja, Sayang. Kau tak perlu meminta maaf untuk itu,” tegas Mia, lalu mencium hangat bibir suaminya.
__ADS_1