Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Sincerity


__ADS_3

“Adriano,” seru Mia saat melihat suaminya diam terpekur di tengah landasan helikopter. Pria itu tampak serius menunduk sembari menatap lurus pada layar ponselnya. Rasa penasaran yang disertai curiga pun muncul dalam diri Mia, terlebih ketika Adriano terlihat begitu asyik mengoperasikan gawainya. “Pesan dari siapa?” tanya Mia tanpa basa-basi. Dia juga ikut memperhatikan dan membaca rangkaian pesan yang ternyata berasal dari Juan Pablo. “Kau sudah berjanji padaku, Adriano!” tegas Mia setelah membaca seluruh isi pesan yang dikirim ajudan Don Vargas tersebut.


Adriano mengela napas panjang. Belum sempat dia membalas ajakan Juan Pablo, untuk ikut serta ke Amerika dalam mencari Lionel dan keberadaan markasnya. “Aku tahu itu, Sayang. Aku baru saja akan menolak ajakannya. Namun, kau lebih dulu menggangguku,” Adriano tersenyum lebar, lalu mengecup bibir Mia lembut. Beberapa saat lamanya dua orang itu saling menautkan bibir, kemudian mengakhirinya dengan tawa. Adriano menempelkan ujung hidung mancungnya di kening Mia. Napasnya terasa hangat menyapu wajah cantik sang istri.


“Ayo, semua orang sudah menunggu di bawah,” ajak Mia. Jemari lentiknya memainkan kerah kemeja sang suami.


“Ti amo, Mia,” bisik Adriano lirih. Sementara Mia hanya menoleh sambil tersenyum manis. Mereka lalu bergandengan tangan menuruni tangga landasan dan langsung menuju ke kamar Coco.


Di sana, ruangan yang luas itu sudah penuh sesak oleh banyak orang. Di antaranya adalah Arsen dan juga Olivia yang tengah asyik berbincang dengan Coco, walaupun pria berambut ikal itu hanya bisa menanggapi dengan suara lemah. Tampak pula Damiano yang terlihat sangat bahagia menggendong Miabella.


“Apa kabarmu, Ricci?” sapa Mia sambil berjalan mendekati ranjang, di mana calon adik iparnya itu terbaring lemah.


“Tak begitu baik, Mia. Aku bosan di kamar terus. Rasanya ingin menangis, karena yang kulakukan sepanjang hari hanyalah berbaring sambil menonton televisi,” keluh Coco.


“Bersabarlah. Luka robek di usus yang kau alami, sama persis dengan yang kualami dulu. Butuh waktu sedikit lebih lama untuk memperbaiki kondisi ususmu yang telah terpotong,” tutur Adriano kalem. “Kau juga hanya boleh memakan saripati makanan atau bubur selama berbulan-bulan. Masih jauh perjalananmu, Ricci,” Adriano tersenyum puas saat Coco hanya bisa berdecak kesal.


“Di mana Francy?” tanya Mia setelah menyadari bahwa adik tirinya itu tak terlihat berada di dalam kamar Coco.


“Dia ….” belum sempat Coco melanjutkan kalimatnya, pintu kamar mandi di ruangan Coco terbuka. Dengan mata sembab, Francesca keluar dari sana.


“Sepertinya dia kurang tidur,” celetuk Arsen, membuat Olivia segera menepuk lengan suaminya sedikit keras.


“Astaga. Apa kau habis menangis, Francy?” penuh rasa khawatir, Mia menghampiri Francesca, lalu memeluknya erat.


“Oh, tidak, Mia. Tidak sama sekali. Sepertinya aku hanya lapar. Sekarang waktunya makan siang, bukan? Kenapa kita tidak makan siang dulu saja?” Francesca berusaha mengalihkan pembicaraan. “Ayo, aku tadi sempat melihat koki Casa de Luca memasak menu istimewa,” setengah memaksa, dirinya mengarahkan semua orang agar keluar dari kamar.

__ADS_1


“Sepertinya makan siang adalah ide yang bagus,” Arsen menimpali, kemudian menoleh pada sang istri. “Betul ‘kan, πανεμορφη/ Panemorfi (Cantik)?” godanya pada Olivia yang lagi-lagi hanya tersipu malu.


“Aku ingin ikut bibi berambut hitam, Kakek,” pinta Miabella saat Olivia mulai berjalan meninggalkan kamar Coco.


“Tentu saja, Sayang. Kita akan makan siang bersama,” balas Damiano. “Kau juga, Francy,” pria tua itu mengalihkan perhatiannya pada Francesca.


“Aku akan menyusul. Kalian pergilah dulu,” sahut kekasih Coco itu. Senyumnya terkembang sampai semua orang keluar dari kamar. Kini, di sana hanya ada dirinya berdua dengan Coco. Perlahan, Francesca menutup pintu dan berbalik ke arah ranjang. “Aku akan menyekamu,” ucapnya datar dan tanpa senyum sama sekali. Coco pun hanya mengangguk pelan. Pria itu seakan enggan mengucap sepatah kata pun.


Akan tetapi, Francesca seakan tak terganggu sama sekali dengan sikap Coco yang seperti itu. Dia seakan sudah terbiasa. Semenjak pulang dari Serbia dan dirawat di rumah sakit pusat kota Roma, Francesca tak banyak bicara. Tidak seperti dulu yang selalu bersikap manja pada Coco. Kini Francesca dan juga Coco seolah tengah menjaga jarak, meskipun gadis cantik bermata hazel tersebut masih tetap merawat sang kekasih dengan baik.


Begitu pula ketika akhirnya mereka diperbolehkan pulang ke Casa de Luca, sikap dingin Francesca tak jauh berbeda. Bayangan ciuman panas antara kekasihnya dengan Monique, benar-benar memukul mental gadis itu hingga titik yang terendah.


“Sepertinya bak mandi sudah penuh, Francy,” ujar Coco, membuyarkan lamunan gadis itu.


“Calon istri,” Coco menggumam pelan seraya tersenyum samar. Entah apa yang ada di pikiranya saat itu. Namun, senyumnya harus dia sembunyikan tatkala Francesca sudah berdiri di samping ranjangnya sambil membawa baskom kecil berisi air dan wash lap. “Apa kau masih ingat dengan prosedur membersihkan luka yang telah diajarkan oleh perawat rumah sakit, Francy?” tanya Coco was-was.


“Tenang saja. Aku bukanlah seorang pelupa. Aku mampu mengingat tiap detail semua hal,” jawaban Francesca sekaligus bernada sindiran yang dia tujukan kepada Coco. Pria berambut ikal itu menanggapinya dengan terkekeh pelan.


“Begitu pula diriku, Francy. Aku juga masih mampu mengingat setiap detail penolakan yang kau tujukan untukku,” balasnya.


Francesca terdiam. Dia tak berniat menanggapi kalimat Coco dan lebih memilih untuk membuka perban di perut pria itu dengan hati-hati, sambil mengingat-ingat tata cara membersihkan luka yang telah dibekalkan kepadanya. Beruntung, Fracesca adalah gadis yang cerdas. Dia dapat mempelajari dan menguasai segala sesuatu dengan cepat.


Meskipun membutuhkan waktu yang sedikit lama, tapi pada akhirnya dia selesai juga membersihkan seluruh tubuh Coco hingga ke bagian paling pribadi sekalipun. Sekarang waktunya bagi Francesca untuk memakaikan baju ganti yang sudah dia siapkan sebelumnya. “Aduh!” pekik Coco saat Francesca mengangkat lengannya terlalu tinggi dan kasar.


“Ah, maafkan aku, Ricci!” Francesca ikut memekik panik. “Yang mana yang sakit? Apakah berdarah? Ya, ampun, bodohnya aku,” Francesca begitu heboh mencari bagian tubuh Coco yang mungkin saja terluka karena ulahnya. “Apakah jahitannya terbuka? Aduh, bagaimana nanti jika mengeluarkan darah? Pasti sakit sekali,” racaunya tak karuan.

__ADS_1


Coco yang awalnya diam, akhirnya tak mampu menahan tawa. Dia terbahak dan langsung berhenti saat itu juga ketika rasa nyeri di bagian perutnya melanda. “Aduh,” pria tampan itu meringis sampai kedua matanya terpicing.


“Kau mengerjaiku, ya!” gerutu Francesca. Di mata Coco, gadis yang tengah bersungut-sungut itu tampak sangat menggemaskan.


“Supaya kau tidak terlalu serius, Francy. Di mana tawamu? Apa kau mulai bosan merawatku?” ucap Coco santai.


Mendengar hal itu, Francesca terpaku. Wajahnya terlihat penuh emosi. “Asal kau tahu, Ricci! Tak ada satu hal pun yang bisa membuatku bosan padamu! Jangan samakan diriku denganmu yang dengan mudahnya berpindah ke lain hati. Aku sudah membuang segalanya hanya untukmu! Mimpiku, cita-citaku, segalanya demi kau!” nadanya semakin lama terdengar semakin meninggi.


“Aku tidak memintamu melakukan hal itu. Kau bisa berhenti jika menyesal .…”


“Aku tidak pernah menyesali keputusanku, Ricci! Berapa kali harus kukatakan hal itu! Aku tak peduli meskipun pada akhirnya kau tak jadi memilihku, karena yang penting adalah bahwa aku sudah menunjukkan kesetiaanku padamu. Aku tak pernah berpaling. Aku tetap mencintaimu meskipun kau menolakku. Lagi pula, banyak yang mengatakan jika cinta tak harus memiliki,” Francesca terisak, lalu menunduk. Berkali-kali dia harus mengusap pipinya yang basah oleh air mata.


Sementara Coco hanya terdiam. Perlahan, tangannya terulur hendak menyentuh pipi Francesca. Namun, sebelum hal itu terjadi, pintu kamarnya terbuka tiba-tiba. Adalah Mia yang menyembulkan kepala dan tersenyum ceria pada dua sejoli itu. “Kenapa kalian lama sekali? Hidangannya sudah hampir habis, Francy,” ujarnya.


“Sebentar lagi, Mia. Sedikit lagi selesai,” sahut Francesca tanpa menoleh, karena menyembunyikan tangisnya.


“Baiklah, akan kutunggu. Jangan terlalu lama,” tanpa menunggu jawaban adik tirinya, Mia buru-buru menutup kembali pintu itu, kemudian berbalik menuju ruang makan.


Di sana, suasana terasa begitu hangat. Canda tawa berbaur dengan celotehan Miabella. Damiano juga sangat terhibur dengan tingkah lucu balita cantik tersebut. Sorot mata Mia lalu berpindah pada Adriano yang sedang serius menatap layar ponselnya. Wanita itu mengembuskan napas panjang. Kali ini, dia tak ingin tahu siapa yang menghubungi suaminya itu dan memilih untuk mendekat pada Miabella yang duduk bersebelahan dengan Olivia.


Beberapa saat kemudian, terdengar nyring dering telepon yang ternyata berasal dari ponsel Adriano. Dengan segera, pria bermata biru teraebut menerima panggilan dari seseorang yang tidak lain adalah Juan Pablo. “Bagaimana, tuan Herrera?” tanyanya. Mendengar nama ‘Herrera’, Damiano segera mengalihkan perhatiannya pada Adriano, demikian pula dengan Mia.


“Ajakanku masih berlaku, tuan D’Angelo,” jawab Juan Pablo.


“Keputusanku juga masih tetap tidak bisa, tuan. Amerika terlalu jauh. Sudah pasti Mia tak akan mengizinkan,” ucap Adriano seraya melirik pada Mia yang ternyata juga tengah memusatkan perhatian padanya.

__ADS_1


__ADS_2