Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Broken Hearted


__ADS_3

"Ada apa? Kenapa kau tersenyum seperti itu padaku?" tanya Miabella. Dia merasa heran dengan sikap yang ditunjukkan oleh Carlo di hadapannya. Sedangkan pria itu sendiri masih berdiri dengan tenang. "Ayolah, Carlo. Apa kau menemukan seorang gadis selama pensiun menjadi pengawal pribadiku?" selidik Miabella lagi.


"Tidak juga, Nona. Rencananya besok aku akan mampir ke rumah singgah. Sudah lama sekali aku tidak ke sana. Kemarin-kemarin kudengar Miranda sakit. Aku ingin menjenguknya," terang Carlo.


"Oh, lalu? Nanti sore daddy zio beserta ibuku akan kembali ke Monaco? Kau sendiri kapan akan berangkat ke sana?" tanya Miabella lagi.


"Entahlah, aku tidak tahu. Satu yang pasti, tuan Adriano mengatakan bahwa dia akan menyuruh orang untuk mengantarkan pakaian dan barang-barangku yang lain kemari," jelas pria bertato itu, membuat Miabella seketika tertegun saat mendengarnya.


"Maksudmu?" tanya gadis cantik berambut panjang tadi. Sepasang matanya yang berwarna abu-abu, tampak menyiratkan sesuatu yang ingin dia ungkapkan tapi dirinya merasa bingung. Namun, kebingungan itu akhirnya berubah menjadi sebuah senyuman, tatkala dia melihat Carlo mengangguk dengan yakin. "Sungguh?" tanyanya lagi untuk meyakinkan.


"Itu keputusan terbaru dari tuan Adriano. Sebagai seorang anak buah yang baik, aku hanya berusaha menjalankan apapun perintah darinya. Termasuk ketika diriku ditugaskan untuk kembali menjadi pengawal pribadimu," jelasnya.


"Oh astaga!" Miabella melonjak kegirangan. Refleks dia segera menghambur ke dalam pelukan pria dengan luaran kemeja kotak-kotak itu. Miabella memeluk erat Carlo hingga tubuhnya sedikit terangkat. "Ini sulit dipercaya! Aku harus berterima kasih kepada daddy zio!" ucapnya begitu antusias ketika dia kembali menjejakkan kaki di atas lantai.


"Kenapa kau sangat bahagia?" tanya Carlo.


"Kau pikir saja sendiri," sahut Miabella. Dia kembali memamerkan senyuman manisnya, membuat Carlo tak ingin memalingkan perhatian terhadap hal yang lain. Carlo menatap lekat paras cantik bermata abu-abu itu. Pria dengan rambut hitam tersebut kemudian tersenyum simpul. Dia lalu menggerakkan tangan ke dekat pipi Miabella dan bermaksud hendak menyentuhnya.


Sementara Miabella pun hanya terdiam, ketika punggung jemari tangan pria yang kini menjadi pengawal pribadinya lagi menempel di sana. Miabella bahkan kembali menyunggingkan sebuah senyuman, ketika Carlo semakin mendekat.


"Bella." Suara berat Adriano terdengar dengan jelas, membuat Carlo dan Miabella sama-sama tersadar. Mereka lalu saling menjauh, saat pria bermata biru tadi melangkah ke arah di mana keduanya berada.


"Tuan," sapa Carlo dengan sikapnya yang menjadi salah tingkah.


Sedangkan Miabella segera dapat menguasai keadaan. Gadis itu menggandeng lengan sang ayah sembari menyandarkan kepala pada pundaknya. "Terima kasih, Daddy Zio. Aku senang karena kau telah mengembalikan jabatan Carlo. Setelah ini, aku janji tak akan berulah macam-macam lagi," ucap Miabella manja.


"Apa kata-katamu bisa kupegang, Sayang?" Adriano melirik putri sambungnya. Raut serta nada bicara pria itu menunjukkan rasa tidak percaya.


"Tentu saja. Setelah ini aku akan fokus pada segala urusan perkebunan. Apalagi paman Ricci akan mulai pindah minggu depan. Itu artinya tanggung jawab besar sudah menungguku," jawab Miabella dengan yakin.


"Baiklah. Kupegang kata-katamu kali ini. Jika kau masih berulah, maka bersiaplah untuk melihat wajah Benigno tiap hari di dekatmu," ujar Adriano setengah mengancam dengan gaya bahasa yang sangat halus. Namun, tetap saja hal itu membuat Miabella ingin melakukan protes keras terhadap sang ayah.

__ADS_1


Akan tetapi, sebelum dia berbuat demikian, dengan segera Adriano menuntunnya pergi. "Kita sudah ditunggu di meja makan," ucapnya. "Kau juga Carlo. Bergabunglah dengan kami." Adriano menoleh kepada Carlo yang masih terpaku di tempatnya.


Beberapa saat setelah sarapan, sang ketua Tigre Nero mengajak Carlo untuk berbincang sambil menikmati cahaya matahari. Sedangkan Marco sibuk berkoordinasi dengan beberapa kolega terdekatnya, untuk membahas organisasi bernama Fedor. Sekecil apapun informasi yang dia dapatkan, akan menjadi sangat berguna bagi penyelidikan selanjutnya.


Adriano melangkah berdampingan dengan Carlo yang berpostur sedikit lebih tinggi dari dirinya. Perbincangan di antara mereka berdua diawali dengan hal-hal ringan, lalu berlanjut pada misi penyelamatan Miabella dan Romeo semalam. Hingga detik itu, Carlo belum tidur barang semenit pun.


"Apakah Anda sudah melihat belati yang aku berikan kepada tuan Marco, Tuan?" tanya Carlo kemudian.


"Ya, sudah," jawab Adriano. "Krasnyy Volk. Dalam bahasa Inggris artinya Red Wolf (Serigala Merah). Aku seperti sudah mendengar nama itu. Seingatku dulu paman Alessandro pernah menyebutnya," terang Adriano lagi.


"Apakah Red Wolf dan Fedor merupakan dua organisasi berbeda atau ...."


"Itu yang sedang aku dan Marco selidiki," potong ayah dua anak itu lagi. "Jadi, kamu sudah memberitahu Miabella tentang yang kita bicarakan tadi?" Adriano mengarahkan pandangannya kepada Carlo. Lekat dan seperti menyimpan banyak sekali tanda tanya.


"Sudah, Tuan," jawab Carlo pelan.


Adriano mengempaskan napas pelan. Dia menghentikan langkah, kemudian memandang lautan pohon anggur di hadapannya. "Entah akan menjadi seperti apa perkebunan ini di tangan Miabella. Meskipun lahan luas ini bukanlah milikku, tapi aku tahu bahwa keluarga de Luca telah sangat bekerja keras untuk menjaga konsistensi mereka. Begitu juga dengan Damiano yang mengabdikan seluruh hidupnya di tempat ini. Aku hanya berharap agar Miabella dapat lebih bertanggung jawab," tutur sang ketua Tigre Nero tersebut.


"Ya, kau sangat mengenal dia. Kalian bersama dari semenjak putriku berusia lima tahun. Jika aku tak mengetahui kedekatan kalian, maka aku pasti akan berpikir bahwa kau telah jatuh cinta kepada putriku," ujar Adriano. Ucapan pria itu membuat Carlo tersentak, dan segera menoleh kepada sang majikan sekaligus ayah asuhnya.


"Ingat, Carlo. Ini adalah sebuah tugas. Kau harus dapat memilah dan memberi batasan antara masalah pekerjaan dengan urusan pribadi. Aku tak akan melarangmu untuk jatuh cinta ataupun lebih dari itu. Namun, kurasa tidak dengan putriku." Pelan dan tenang ucapan Adriano saat itu, tapi terdengar begitu tegas serta menusuk di hati terdalam Carlo.


Pria dengan tato yang memenuhi sebagian besar lengannya tersebut, sempat terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. "Anda tidak perlu khawatir akan hal itu, Tuan. Aku sangat menyayangi nona. Dia sudah seperti adikku sendiri. Tidak mungkin diriku jatuh cinta pada seseorang yang merupakan saudara, meski kami tak sedarah. Aku rasa nona Miabella juga demikian terhadapku," balas Carlo meyakinkan Adriano, walaupun saat itu ada semacam pergolakan besar dalam dirinya.


"Baguslah jika kau dapat memahaminya dengan baik. Aku tidak ingin kau salah paham, Carlo. Kau sudah seperti putraku. Mia bahkan selalu mengatakan bahwa dirimu adalah anak laki-laki yang tak pernah dia miliki. Aku ingin kau menjaga Miabella dengan sebaik-baiknya. Kutitipkan dia padamu. Sama seperti saat tiga tahun dirinya berada di Inggris." Adriano menepuk-nepuk pundak Carlo, sebelum dirinya berlalu dari sana.


Sementara Carlo masih berdiri terpaku ditemani sinar mentari musim panas yang mulai meninggi. Sebuah peringatan keras baginya dari Adriano, sesuatu yang tak boleh dia langgar sama sekali. Carlo kemudian mengalihkan perhatian pada bangunan megah Casa de Luca. Italia, kini dia kembali ke negara indah itu dari perantauan setelah bertahun-tahun lamanya.


......................


Menjelang sore, Adriano dan Mia telah siap untuk kembali ke Monaco. Sementara Adriana tampak asyik berdiri di dekat bukaan berlatar perkebunan anggur yang indah. Adriana tengah sibuk dengan ponselnya. Dia mengambil beberapa gambar sebagai kenang-kenangan sebelum dirinya kembali ke Monaco.

__ADS_1


"Asyik sekali," sapa Romeo sambil berjalan menghampiri gadis belia itu.


"Hai, Romeo. Bisa tolong ambil fotoku?" Tanpa menunggu jawaban dari putra sulung Marco tersebut, Adriana langsung saja menyodorkan ponselnya. Mau tak mau, Romeo pun menerima dan menjadi fotographer dadakan.


Adriana sangat cantik dan juga fotogenik. Semua hasil jeperetan Romeo tampak bagus. Gadis belia itu begitu ekspresif dan juga terlihat manis.


"Bagaimana?" tanya adik dari Miabella tersebut.


"Bagus. Lihat saja sendiri." Romeo mengembalikan ponsel milik gadis itu. Sedangkan Adriana memeriksa foto-fotonya.


"Wah, kau berbakat jadi fotographer," sanjung gadis bermata biru tadi sambil tersenyum lebar kepada Romeo.


"Kau memang cantik, sehingga wajahmu bersahabat dengan kamera," balas Romeo, membuat Adriana tersenyum manis. Namun, tak lama senyuman gadis itu memudar, ketika terdengar suara Mia dan Adriano di sana.


"Apa kau sudah selesai, Sayang?" tanya Mia.


"Sudah, Bu," sahut Adriana. "Di mana kakak?" tanyanya yang tak melihat keberadaan Miabella.


"Sebentar lagi dia akan kemari," jawab Mia. Dia lalu mengalihkan perhatiannya kepada Romeo. "Di mana adikmu?"


"Tobia selalu sibuk dengan dirinya sendiri," sahut Romeo.


"Apa kau masih akan di sini atau ikut pulang ke Palermo bersama orang tuamu?" tanya Adriano.


"Aku ingin di sini dulu, Paman." Romeo menoleh kepada Adriano, kemudian tersenyum simpul ketika ayahanda Adriana tersebut mendekat padanya.


"Katakan padaku, Romeo. Dari mana kau mengenal gadis yang malam itu bertemu denganmu?" tanya Adriano terdengar serius.


"Kami berkenalan lewat media sosial. Apakah Paman mencurigai sesuatu?" tanya Romeo.


"Aku akan segera menyelidikinya."

__ADS_1


__ADS_2