
Sementara itu di sisi lain kota Athena yang indah, pada sebuah rumah berlantai dua milik keluarga Moras, ada kehangatan yang berbeda di meja makan. Tak biasanya semua kursi kayu yang melengkapi meja berbentuk persegi itu terisi penuh. "Sudah, Olivia. Ini terlalu banyak," tolak seorang wanita berambut hitam yang disanggul dengan tidak terlalu rapi. Dia adalah ibunda Olivia, Berta Bellamy. Sementara di sebelahnya, duduk seorang pria dengan penampilan yang tak kalah sederhana, yaitu Xaverio Bellamy.
"Ibu dan ayah harus makan banyak. Kalian belum pernah mencicipi sajian khas Yunani, bukan?" bujuk Olivia. Dia terlihat begitu sopan dalam bersikap dan memperlakukan kedua orang tuanya. "Kau juga, Elio. Makanlah yang banyak," perhatian Olivia beralih kepada adiknya yang baru beranjak remaja.
Sementara kedua orang tua Arsen hanya tersenyum saat melihat sikap menantunya. Tak berbeda dengan Arsen. Dia juga mulai menaruh perhatian lebih kepada wanita muda yang dinikahinya tanpa rencana tersebut. "Bagaimana jika kalian tinggal lebih lama di sini," tawar Arsen pada mertuanya.
"Bukannya kami bermaksud menolak budi baikmu, Nak. Namun, kau tahu sendiri jika aku harus bekerja di perkebunan," ujar Xaverio ramah.
"Bukankah kalian sudah meminta izin kepada pemilik perkebunan itu?" tanya Arsen seraya menautkan alisnya. Dia menghentikan sementara suapannya, lalu menatap kepada sang ayah mertua.
"Ya, itu benar," Xaverio mengangguk pelan, "tapi, tuan Baldovino hanya mengizinkan kami selama tiga hari. Tidak boleh lebih dari itu. Jika tidak, maka ... ."
"Yang benar saja," sela Arsen terlihat sedikit kesal. Pria itu mendengus pelan, sehingga membuat Eireen dan Tadeus menjadi heran.
"Apa yang terjadi, Nak?" tanya sang ibu merasa khawatir. Arsen pun menjelaskan pada kedua orang tuanya dalam bahasa Yunani. Sontak, Tadeus dan Eireen juga ikut bereaksi. "Keterlaluan sekali," ujar Eireen seraya menggeleng tak percaya.
Seusai santap pagi, Arsen terlihat sudah rapi. Sepertinya dia hendak pergi, tapi entah ke mana. "Apa kau akan pergi?" tanya Olivia yang baru masuk ke kamar.
"Ya. Aku ada sedikit urusan," sahut Arsen seraya berbalik. Hingga saat ini, pria itu belum dapat mempercayai bahwa dirinya telah menikah dan memiliki seorang istri. Ditatapnya sosok Olivia yang berdiri dengan salah tingkah, dengan jarak tidak terlalu jauh darinya. "Kenapa?" tanya Arsen sambil berjalan mendekat. Dia lalu berdiri di hadapan wanita muda itu. Seperti biasa, Olivia selalu tampak malu-malu. Wanita berambut hitam itu menundukkan wajahnya.
"Kenapa kau selalu menundukkan wajah di hadapanku?" tanya Arsen dengan setengah berbisik.
Olivia tidak menjawab. Dia hanya menggeleng perlahan tanpa memperlihatkan wajahnya, sehingga membuat Arsen harus mengangkat dagu istri yang berusia sekitar tujuh tahun lebih muda darinya. "Apa kau malu?" tanya Arsen lagi. "Apa yang membuatmu merasa begitu?"
Olivia tak segera menjawab. Sorot matanya beradu dengan tatapan nakal Arsen. "Aku selalu merasa gugup jika ... jika ..." Olivia menjeda kalimatnya.
"Jika apa?" tanya Arsen lagi dengan wajah yang semakin mendekat. Tanpa rasa canggung, dia mencium pipi Olivia, tepat di dekat bibir wanita muda itu. Olivia semakin tersipu karenanya.
“Aku tidak terbiasa berada di dekat seorang pria,” jawab Olivia demikian lirih sembari memalingkan muka.
“Astaga,” Arsen mulai terbahak hingga memegangi perutnya, membuat Olivia menatap tajam padanya dengan sorot tidak terima.
__ADS_1
“Kenapa kau menertawakanku? Apanya yang lucu? Pasti kau menganggapku sebagai seseorang yang bodoh,” sungut Olivia sambil bersedekap. Dia kembali memalingkan muka dan membalikkan badannya membelakangi Arsen.
“Hei, hei, bukan itu maksudku, Sayang,” rayu Arsen. Dia menyentuh pundak sang istri dengan lembut, lalu menariknya agar wajah cantik Olivia menghadap ke arahnya. “Aku hanya merasa heran karena masih ada gadis sepolos dan selugu dirimu pada zaman modern seperti ini. Kita sudah berkali-kali bercinta, seharusnya kau tak perlu malu lagi,” godanya.
Seketika paras cantik Olivia merah padam. Pipinya merona bagaikan tomat, membuat Arsen begitu gemas sampai-sampai dia menggigit pangkal hidung Olivia yang mancung.
“Arsen! Apa-apaan ini!” Olivia memekik tertahan. Gadis itu segera menutup mulut, ketika dia menyadari bahwa suaranya terlalu nyaring.
“Kau sangat menggemaskan. Rasanya aku ingin memakanmu lagi,” tak puas-puasnya Arsen menggoda Olivia.
“Sudahlah, jangan ganggu aku. Aku akan membantu ibu berkemas,” tolaknya. Dengan sikap yang masih terlihat kesal bercampur malu-malu dan sedikit manja, Olivia membalikkan badan. Dia bermaksud untuk berlalu dari hadapan suami tampannya.
“Tunggu,” Arsen segera meraih pergelangan tangan Olivia dan mencegahnya untuk menjauh. “Ayo, ikut aku,” ajaknya.
“Ke mana?” masih dengan mimik bersungut-sungut, Olivia menoleh pada Arsen.
“Ikut saja, nanti kau akan tahu,” Arsen tersenyum lebar. Dia setengah menyeret Olivia. Pria tampan itu membawa istrinya keluar rumah, kemudian berjalan sekitar lima belas menit hingga tiba di depan sebuah rumah mewah tiga lantai.
“Sudahlah, ayo masuk,” bukannya menjawab, Arsen malah kembali menarik tangan gadis itu dan mengajaknya melintasi halaman depan rumah yang asri. Pria itu kemudian berhenti di depan pintu utama. Arsen pun segera memencet bel yang terletak di samping pintu.
Tak lama kemudian, pintu itu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok seorang wanita paruh baya dengan senyuman ramah. “Ada yang bisa kubantu?” tanyanya dalam bahasa Yunani.
“Ya, aku ingin bertemu dengan Adriano D’Angelo. Katakan padanya jika Arsen telah datang untuk bertamu,” jawabnya.
“Baiklah, tunggu sebentar,” wanita yang tidak lain adalah Orlin itu mempersilakan Arsen dan Olivia untuk duduk di kursi teras.
“Apakah ini rumah milik tuan Adriano?” bisik Olivia setelah beberapa saat terdiam.
“Iya,” sahut Arsen, bersamaan dengan keluarnya Adriano dari dalam rumah. Penampilannya saat itu terlihat sedikit berbeda. Tak seperti biasanya yang selalu tampil rapi dan necis. Adriano hanya memakai kaos tanpa lengan berwarna abu-abu yang dipadukan celana jeans dengan warna biru belel. Rambutnya pun tertata ke samping dan sedikit acak-acakan, bukan lagi ke belakang seperti biasanya.
Olivia tak berkedip melihat Adriano dalam penampilan seperti itu. Pesona dan ketampanannya justru semakin terlihat nyata, meskipun hanya dengan memakai outfit alakadarnya seperti itu. Adriano juga terlihat jauh lebih muda.
__ADS_1
Untuk sejenak, Arsen memperhatikan sikap Olivia. Sesaat kemudian, dia pun tersenyum samar. Arsen menunduk sebentar, sebelum berdiri lalu menyalami Adriano.
“Tumben sekali kau mau datang kemari? Biasanya kau selalu meminta untuk bertemu di klub dengan ditemani ….” Adriano segera menghentikan kalimatnya. Dia lupa jika saat itu Arsen datang bersama istrinya. “Maafkan aku, Arsen,” Adriano meringis kecil sambil menggaruk tengkuknya. “Masuklah kalian,” ajak pria itu.
Olivia berjalan menunduk sambil mengikuti langkah kaki Arsen memasuki ruang tamu, yang tak kalah mewah dari teras depan. Dia lalu duduk di samping Arsen dan melingkarkan tangan pada lengan sang suami. Tak ingin lagi dirinya menatap wajah tampan Adriano. Wajah yang sempat menghiasi mimpi-mimpinya beberapa waktu lalu, karena kini telah ada pria yang tak kalah tampan di sisinya.
“Di mana Mia?” suara Arsen mengembalikan Olivia dari angan-angannya.
“Dia sedang berjalan-jalan ke pantai bersama Miabella dan Damiano,” mata biru Adriano selalu berbinar ketika menyebut nama ‘Mia’. “Ada apa ini? Sepertinya serius sekali?” tanya Adriano seraya duduk di sofa yang berhadapan dengan Arsen. Dia meletakkan kaki kanan di atas paha sebelah kiri. Sesekali, Adriano menyugar rambutnya yang kembali ke posisi semula. Rambut itu tampak sedikit basah.
“Sedikit serius,” Arsen tertawa kecil, lalu menoleh kepada Olivia. “Aku ingin Olivia menghabiskan waktu lebih lama bersama keluarganya di sini,” tatap mata Arsen tak lepas dari sang istri ketika mengucapkan hal itu
“Bukankah itu mudah? Lalu di mana masalahnya?” Adriano mengernyitkan kening karena keheranan.
“Masalahnya adalah … majikan dari orang tuanya tak mengizinkan hal itu. Jadi, kedatanganku kemari adalah ingin meminjam uang kepadamu untuk membungkam tuan tanah majikan tuan dan nyonya Bellamy,” ujar Arsen tegas dan penuh penekanan.
Sontak Adriano menahan tawa. Dia menutupi mulut dengan tangan kanan yang diletakkannya pada pinggiran kursi. Setelah itu, tangannya berpindah pada kening saat Adriano sedikit menunduk karena tak kuasa menahan tawa. Pria bermata biru tersebut menggeleng perlahan.
Sesaat kemudian, ditatapnya sepasang pengantin baru itu dengan pandangan geli. “Masalahnya, seberapa banyak uang yang bisa dipakai untuk membungkam Tuan Tanah itu, Arsen?” tanya Adriano kembali mencoba untuk terlihat kalem.
“Aku tidak tahu. Kaulah yang pebisnis andal. Bagaimana caranya agar tuan dan nyonya Bellamy bebas dari ikatan majikan yang kejam,” dengus Arsen kesal.
“Satu-satunya jalan adalah meminta orang tua Olivia berhenti bekerja dari sana. Dengan cara itu, mereka bisa bebas,” Adriano kemudian mengulum senyumnya.
“Astaga, Adriano. Mudah sekali kau bicara. Mereka bukan jutawan yang tak perlu melakukan apa-apa sedangkan uang bisa datang dengan sendirinya. Mereka tetap membutuhkan pekerjaan,” jelas Arsen.
“Pekerjaan seperti apa yang mereka tekuni saat ini?” tanya Adriano lagi mulai terlihat serius.
“Mereka adalah pekerja perkebunan, Tuan. Perkebunan anggur,” Olivia yang hanya diam, ikut bersuara.
“Hm, kebetulan,” Adriano mengusap janggutnya. “Damiano sedang membutuhkan seorang mandor untuk mengawasi perkebunan Casa de Luca di bagian utara. Suruh saja orang tuamu ke Brescia. Biarkan mereka bekerja di sana. Aku akan menyampaikan hal itu kepada Damiano,” ujarnya dengan enteng.
__ADS_1