
Mendapati sikap nakal Arsen, Olivia segera menjauhkan wajahnya. Satu sentuhan kecil saja dirasa sudah cukup baginya. Wanita itu kemudian berlalu ke dalam kamar, lalu meraih tas jinjing yang tergeletak di dekat koper dan pakaian Arsen lainnya yang belum selesai dibereskan.
"Akan berapa lama kita berada di sini?" tanya Olivia tanpa menoleh kepada sang suami.
Arsen tak segera menjawab. Dia hanya berdiri sambil menyandarkan sebagian tubuhnya pada pagar pembatas. Ada rasa kecewa dalam helaan napas berat yang dia hembuskan. Pria tiga puluh dua tahun itu merenung sejenak. Entah sampai kapan hingga Olivia bisa menerimanya. Akan tetapi, anehnya Arsen tak berniat untuk mencari pelarian. Satu sisi dari sudut hatinya, mencegah dia agar tidak bertindak bodoh, di samping karena ancaman Mia yang tak segan untuk melaporkan perbuatan bejatnya kepada Adriano, andai Arsen berbuat macam-macam terhadap Olivia.
Dengan langkah yang terkesan malas-malasan, pria berparas rupawan itu masuk ke kamar. Dia tak menjawab pertanyaan Olivia tadi. Dia duduk di tepian tempat tidurnya yang unik. "Masukkan saja pakaianmu ke dalam lemariku. Di sana masih ada ruang yang kosong," ujarnya ketika melihat Olivia yang telah selesai merapikan semua pakaiannya dari dalam tas jinjing.
Tanpa banyak bicara, Olivia menurut saja. Namun, alangkah terkejutnya dia ketika melihat isi lemari Arsen yang terbilang berantakan. Melihat hal itu, Arsen segera menghampirinya lalu menutup kembali pintu lemari tadi. "Maksudku pintu sebelahnya," tunjuk dia dengan raut aneh. Rekan dari Adriano tersebut mungkin merasa malu dengan isi lemarinya yang tak beraturan.
Sedangkan Olivia hanya tersenyum geli. Wanita muda itu pun segera merapikan pakaian-pakaiannya yang hanya beberapa potong. "Kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi," ucap Olivia lagi setelah Arsen berlalu dari dekatnya.
"Pertanyaan yang mana?" tanya Arsen seraya naik ke tempat tidur.
"Aku tadi bertanya, akan berapa lama kita di sini?" ulang Olivia sambil terus membereskan pakaiannya.
"Entahlah, memangnya kenapa?" bukannya menjawab, Arsen justru malah balik bertanya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu," jawab Olivia pelan. Wanita muda itu tertegun untuk sejenak, sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya. "Sejujurnya aku sangat merindukan Miabella," gumam Olivia pelan. Suasana hening untuk beberapa saat. Tak terdengar sepatah kata pun jawaban dari Arsen. Olivia menautkan alis serta menoleh. Wanita muda dua puluh empat tahun itu hanya dapat menggeleng pelan, ketika dia melihat pria yang telah dinikahinya kurang lebih satu bulan yang lalu itu ternyata sudah tertidur lelap. Olivia pun terdengar berdecak kesal seraya kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tanpa terasa waktu merayap dengan begitu cepat. Siang pun telah berganti sore. Namun, Arsen masih terlelap dalam tidurnya. Pria itu tampak sangat kelelahan. Olivia yang merasa tak nyaman karena terus berada di dalam kamar, akhirnya memutuskan untuk keluar. Dilihatnya sang ibu mertua yang tengah sibuk di dapur untuk menyiapkan menu makan malam. Olivia kemudian memberanikan diri untuk menghampirinya, meskipun dia tak tahu bagaimana caranya berkomunikasi dengan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.
"Olivia," sapa Eireen hangat. Sementara Olivia membalas sapaan itu dengan sebuah anggukan pelan yang diiringi senyuman lembut. Sesaat kemudian, Eireen menunjuk pada masakan yang tengah dibuatnya. Dia juga memberikan sendok kepada sang menantu.
Arsen merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya telah menikah dan tinggal di kota lain. Karena itulah, orang tua Arsen tampak begitu bahagia saat tau putra bungsunya pulang dengan membawa pasangan. Apalagi, selama ini mereka tahu kehidupan Arsen yang tak pernah serius dengan satu wanita. Namun, kini Olivia telah hadir di dalam hidup pria tiga puluh dua tahun itu, meskipun berawal dari sebuah tragedi memilukan.
Ketika Olivia dan Eireen telah selesai menata meja makan, Arsen pun sudah terbangun dan membersihkan diri. Dia begitu terkejut ketika melihat isi lemarinya yang sudah tertata rapi. Pria berambut gelap itu tersenyum simpul. Setidaknya dia tahu perbedaan sebelum dan sesudah menikah.
"Ah, maaf," Olivia yang baru masuk ke kamar, segera memalingkan wajahnya ketika melihat Arsen tengah mengenakan celana. Tubunya terekspos dengan jelas, sehingga membuat Olivia merasa tak nyaman. "Makan malam sudah siap," ucap wanita muda itu tanpa menoleh.
Perlahan Olivia pun membalikkan badan. "Aku tadi membantu ibumu memasak, tapi kami tidak bisa berbincang-bincang," ucapnya pelan.
"Tak apa. Kalian bisa saling pengertian, atau kau ingin belajar bahasa kami?" tawar Arsen. "Aku akan mengajarimu dengan senang hati," lanjutnya.
"Tentu," sahut Olivia dengan sangat antusias. "Ya, sudah. Sebaiknya kita makan malam dulu," ajak wanita berambut hitam itu. Dia masih terpaku di tempatnya berdiri, sambil memperhatikan Arsen yang tengah mengenakan t-shirt hitam. Namun, lagi-lagi Olivia segera mengalihkan pandangan ketika sang suami menoleh padanya. Olivia tak sadar jika dirinya tengah berhadapan dengan seorang penakluk wanita. Tentu saja Arsen sudah bisa membaca setiap bahasa tubuh dari istrinya. Akan tetapi, pria berbintang Pisces itu hanya menyunggingkan sebuah senyuman.
__ADS_1
Suasana di meja makan terasa berbeda malam itu. Tadeus dan Eireen tak henti-hentinya memamerkan ekspresi bahagia mereka atas pernikahan dadakan putranya. Mereka bahkan mengusulkan untuk melangsungkan sebuah pesta resepsi di sana.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Arsen seusai makan malam. Mereka kini telah berada di dalam kamar.
Olivia yang sudah bersiap untuk tidur, kemudian membalikkan badan kepada sang suami yang malam itu akan tidur di sofa. "Aku setuju saja. Akan tetapi, aku berharap agar kedua orang tuaku juga bisa ikut menghadiri pesta yang akan kita selenggarakan," jawabnya dengan posisi tidur menyamping.
"Aku sudah memberitahu Adriano bahwa kita telah menikah. Jika kau merindukan Miabella, maka kita bisa mengundang mereka untuk datang kemari," ujar Arsen lagi.
Olivia tak segera menjawab. Dia lalu bangkit dan duduk dengan tatapan yang masih tertuju kepada Arsen. "Terserah kau saja," ucapnya seraya beranjak ke kamar mandi. Sementara Arsen tampak asyik dengan ponselnya. Pria itu tampak begitu serius memperhatikan layar ponsel. Sesekali dia menautkan alis, kemudian mengela napas dalam-dalam. Dia bahkan tak menyadari bahwa Olivia sudah berdiri di hadapannya. "Asyik sekali," tegur wanita itu. "Jangan lupa, besok kau sudah janji untuk mengajakku melihat Acropolis dari dekat."
Arsen yang tengah asyik melihat layar ponselnya, segera menoleh. "Tenang saja," jawabnya kemudian kembali pada benda persegi tadi.
Karena merasa penasaran, Olivia kemudian melongo dan melihat apa yang sedang sang suami tonton. Seketika, kedua mata Olivia terbelalak. "Apa itu?" serunya pelan membuat Arsen terkejut. Namun, dengan segera dia menarik lengan Olivia dan mengajaknya duduk bersama. Tanpa sungkan, Arsen merengkuh pundak sang istri dan membuatnya tak bisa ke mana-mana. Mau tak mau, Olivia pun harus ikut menyaksikan adegan yang tersaji dalam video yang tengah Arsen tonton. Pada awalnya, wanita berambut hitam tersebut merasa risih. Namun, pada akhirnya Olivia tampak berbeda. Itu adalah pertama kalinya dia melihat video vulgar. "Seperti itukah?" tanyanya dengan begitu polos.
"Apanya?" Arsen menoleh dan balik bertanya. Namun, Olivia tidak menjawab. Wanita muda itu terlihat gelisah. "Kita sudah menikah. Aktivitas seperti itu merupakan sesuatu yang wajar, bahkan menjadi sebuah kebutuhan," jelas Arsen pelan.
"Tidak. Rasanya terlalu sakit. Aku tidak mau," tolak Olivia polos.
__ADS_1
"Untuk pertama kalinya memang seperti itu, tapi tidak untuk yang kedua, ketiga, atau seterusnya. Aku yakin jika kau justru pasti akan ketagihan," ucap Arsen lagi semakin mendekatkan wajahnya. Akan tetapi, lagi-lagi Olivia segera menghindar. "Baiklah. Aku akan menunggu hingga kau benar-benar siap. Jujur saja, Olive. Aku ingin sesuatu yang baru dalam hidup yang kujalani kali ini. Sesuatu yang jauh lebih baik," ucapnya.